Chapter 7 Jemputan Mendadak

1637 Words
Aku mengusap air mata setelah sejak tadi hanya merenung sambil menangis. Rasanya hidupku ini begitu penuh penderitaan. Rasa sakit karena pengkhianatan Ilham dan Meri belum sepenuhnya pulih, aku merasa seperti ditimpa bertubi-tubi masalah. Aku menghela napas setelah itu. Mengambil ponsel dari dalam tas dan bermaksud untuk memberitahu Arianti jika aku mendarat di Nambo. Yang artinya aku akan tiba lebih lama dari jam perjanjian kami. Mau bagaimana lagi. Uangku tidak cukup untuk ongkos pergi ke Bogor kalau naik ojek dari sini. Saat itu juga ku lihat pesan dari Indra. Pesan yang sudah dikirimkan sejak tadi namun aku belum memeriksanya karena tidak memegang ponsel saat di dalam kereta. ?? Aku langsung bertanya apakah boleh menelponnya untuk bicara, namun tidak kunjung ada balasan. Jadi aku langsung mengirim pesan pada Arianti. Sehabis mengirim pesan pada Arianti, ku periksa roomchat dengan si tampan Anjas. Masih tetap ceklis satu. Aku kemudian kembali merenung memikirkan hidup ini. Kalau kemungkinan terburuk Anjas tidak merespon pesanku dalam satu minggu, harus bagaimana ya? Dia pernah selama satu bulan tidak merespon. Jadi aku mulai was-was. Ponsel di genggaman tanganku itu bergetar. Membuatku kaget. “Buset langsung nelpon aja si Indra.” Aku langsung mengangkat telepon darinya. “Halo. “Kenapa?” “Pinjam seratus.” “Nggak jadi dua juta?” Aku tadinya ingin pinjam untuk bayar ongkos menuju rumah Arianti saja. Supaya tidak terlalu menunggu disini. Hampir terlupa kalau Indra memang sudah menawarkan untuk transfer dua juta. “Seratus dulu aja deh.” Aku masih bersikeras ingin menunggu keajaiban si Anjas tiba-tiba transfer. “Buat apa seratus?” “Gue ketiduran di KRL. Niat ke Bogor eh turun di Nambo deh.” “Ngapain ke Bogor?” “Belajar masak ke temen gue! Gue kan nggak ada duit buat bayar kelas,” sahutku kesal. Kalau dipikir-pikir, alasan ku pergi ke Bogor kan karena Indra. Rasa dongkol di hatiku tiba-tiba ingin ku lampiaskan pada si Indra ini. “Lo di St Nambo?” “Iya. Gue minjem mau buat bayar ojol ke rumah temen gue.” “Gue aja yang anter.” Aku tertawa seketika. Aneh rasanya tertawa padahal baru beberapa menit lalu menangis. “Lo gila ya? Ini Nambo. Kapan gue nyampe rumah temen gue kalo nunggu lo dulu.” “Gue di Nambo sekarang. Sepuluh menit aja sampe ke Stasiun Nambo.” “Hah?” Aku melongo. “Tunggu disitu. Gue kesana.” *** Mobil ganteng Fortuner hitam dengan plat B 1 NDRA berhenti tepat di depanku. Rasanya seperti dijemput oleh taksi online saja. Kaca jendela terbuka dan aku bisa melihat Indra yang menyetir di balik kemudi. Aku masih tidak percaya kalau dia benar-benar sedang ada di Nambo. Disaat seperti ini. Maksudku adalah, dari sekian banyak daerah di Jabodetabek yang mungkin ia jangkau. Lelaki itu berada di daerah yang berdekatan denganku saat aku tersasar disini. “Ini beneran lo?” tanyaku saking tidak percayanya. Indra tidak menyahut. Ekspresi wajahnya datar. Kalau begini aku jadi merasa dia seperti keberatan dan aku begitu merepotkannya. Akan tetapi aku tidak peduli. Aku buka pintu dan langsung masuk begitu saja. Pintu ku tutup dan ku pakai sabuk pengaman. “Gilak bisa banget kebetulan lo di Nambo. Dari semua daratan yang ada di muka bumi.” Mobil mulai melaju meninggalkan area stasiun. “Lo lagi ada urusan apa di Nambo?” tanyaku kemudian. “Survei tanah.” Jawabannya membuat Indra terlihat seperti orang keren. “Wow. Sendiri banget?” “Lo liat ada orang lain emang?” Aku perhatikan ekspresi wajah si Indra. Ganteng-ganteng dingin. “Idih kan gue nanya baik-baik. Galak banget sih calon suami.” “Mana alamat temen lo?” tanya Indra kemudian. Aku mengeluarkan ponsel dan segera memeriksa lokasi yang dishare Arianti padaku. Akan ku tunjukkan jalannya dengan melihat Maps. “Kayak bisa baca maps aja. Sini.” Ponselku tahu-tahu sudah diambil oleh Indra. Aku langsung menatapnya kesal. Bisa-bisanya dia meremehkanku begitu. Aku biarkan saja dia membaca mapsnya sendiri. Lumayan aku jadi bisa bersantai sepanjang perjalanan. “Lo ada air nggak? Haus banget gue.” “Nggak ada.” “Dih. Mobil doang keren plat 1 NDRA. Air nggak ada.” Reflek aku mengatakannya, reflek juga mobil Indra itu berhenti. Membuatku terhuyung ke depan namun tidak terlalu terhuyung karena tangan Indra ternyata menahan tubuhku. Entah kapan dia sempat merentangkan tangan kirinya itu untuk menahan tubuhku agar tidak terlalu membungkuk sampai menghantam dashboard. “Ngapain-” Aku hendak protes namun aksiku terhenti karena Indra langsung bicara. “Beli air sana.” Dagunya menunjuk ke luar dan karena itu aku jadi menatap ke luar. Rupanya Indra berhenti tepat di depan sebuah warung. Aku menatapnya dengan pandangan aneh. Matanya jeli juga melihat warung. Indra kemudian memberikan dompetnya. “Pake duit gue aja. Beli apa aja bebas. Tolong beliin minuman dingin buat gue.” “Sedompet-dompetnya banget?” tanyaku. Indra hanya menggerakkan dompetnya agar segera aku ambil. Tanpa pikir panjang aku lepas sabuk pengaman dan mengambil dompetnya. Membuka pintu mobil dan kemudian turun untuk segera membeli minuman. Aku hanya perlu membeli satu botol air mineral saja. Lalu untuk Indra, aku belikan tiga botol air mineral dingin. Saat hendak membayar aku buka dompetnya. Lumayan tercengang melihat isinya. Ada banyak kartu. Uang tunainya tidak terlalu banyak tapi merah semua. ‘Ini kayaknya beneran tajir deh.’ Kalau Indra sengaja memberi dompetnya hanya untuk pamer, niatnya tercapai. Sebab aku jadi tahu kalau dia benar-benar kaya. Lalu ada foto Indra di dalam sana. Foto formal kelihatannya tapi di foto itu rambutnya rapi. Tidak segondrong sekarang. Fotonya juga tersenyum dan lesung pipinya kelihatan. Dia terlihat tampan di foto itu. Senyuman dan rambutnya yang rapi membuatnya jadi kelihatan semakin tampan. Setelah memberikan uang seratus ribu kepada pedagang, aku menunggu kembalian dengan tenang. “Terima kasih ya, Bu.” Aku menerima kembalian itu dan segera memasukkannya ke dompet Indra sambil melirik foto itu lagi. Dengan cepat aku masuk ke mobil dan menyerahkan dompetnya. “Lo beli itu aja?” “Tiga botol buat lo. Kurang?” tanyaku. “Lo cuma itu? Kenapa nggak beli lebih?” “Gue cukup ini. Lo mau beli apa emangnya?” tanyaku. Aku sudah ingin turun lagi dari mobil tapi Indra menggeleng. Indra membuka tutup botolnya begitu pun aku. Kami sama-sama minum terlebih dahulu. Begitu air itu melewati kerongkonganku rasanya begitu lega. “No rekening,” ucap Indra tahu-tahu menyodorkan ponselnya padaku. “Lo kenapa tiba-tiba mau ngasih gue pinjem duit dah? Padahal lo sendiri yang bilang nggak mau.” “Tinggal kasih no rek aja.” “Gue harus tau dulu alasan kenapa lo berubah pikiran. Kayak agak mencurigakan gitu,” ujarku penuh selidik. Lucu memang rasanya. Satu sisi aku percaya sepenuhnya pada Indra untuk menikah dengan dia. Tapi sisi lain aku masih tidak percaya. Rasanya mencurigakan saja kalau dia berubah pikiran secepat ini. Indra diam saja dan dia kini meletakkan ponselnya. Mobil pun mulai melaju. “Tuh kan. Kenapa diem aja?” tanyaku. “Ya udah kalo nggak jadi minjem.” Aku pun memilih diam saja. Tidak membahas lebih lanjut. Dalam hati mulai khawatir kalau Anjas lama mengirimkan uang, aku berharap Indra masih akan tetap memberi pinjaman uang nanti. “Lo survei tanah buat apaan? Kerjaan?” “Mau beli tanah.” “Di Nambo?” Pertanyaanku itu memang aneh, dan ya Indra tidak menjawabnya. Aku memilih untuk menyandarkan tubuh saja. “Lo nginep di temen lo ini?” “Iya.” “Temen lo cewek apa cowok?” “Cowok.” “Ngapain nginep di rumah cowok?” “Lah kenapa emangnya?” tanyaku seolah menantang. Indra diam. Aku juga diam. Aku memang hanya berbohong saja saat mengatakan temanku lelaki, juga mengenai menginap. Tidak tahu juga kenapa aku asal menyahut begitu. Iseng saja. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk di ponselku. Telepon dari Arianti. Aku langsung mengambil ponselku itu yang otomatis tanganku melewati wajahnya Indra. “Permisi,” ucapku mengambil ponsel tergesa. “Halo,” ucapku. “Udah aman kok. Ini lagi otw kesana.” Rupanya Arianti itu ketiduran karena menungguku. Dia baru bangun dan terkejut saat membaca pesanku yang mengatakan bahwa aku tersasar di Nambo. Aku juga lupa tadi untuk beritahu dia kalau aku sudah berangkat dari Stasiun Nambo. Niatnya ku beritahu saat aku sudah benar-benar semobil bersama Indra, takutnya dia hanya menipu kan? Ternyata setelah masuk mobil, aku malah lupa mengirim pesan untuk Arianti. Indra tiba-tiba saja batuk dan suaranya cukup keras. Aku langsung meliriknya. Dia tidak terlihat seperti punya penyakit batuk. Batuknya juga terdengar seperti disengaja. “Oh iya ini supir taksinya batuk. Udah ya nanti gue kabarin lagi.” “Supir taksi?” tanya Indra seolah tidak terima. “Ya masak gue bilang lo. Repot lagi dong jelasinnya.” “Tinggal bilang aja dianter gebetan. Supir taksi?” Indra menggelengkan kepalanya. “Gue baru abis diputusin Ilham. Yakali udah ngaku punya gebetan.” “Lo harus banget belajar masak di dia?” tanya Indra tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Ya mau gimana lagi. Nggak ada duit buat ikut kelas.” “Di rumahnya ada siapa aja?” “Dia aja.” Indra mengangkat satu alisnya. Menatap heran padaku. “Kita balik Jakarta aja. Gue cariin kelas masak, bayarin juga.” Aku mengangkat satu alisnya. “Eh, enak aja! Gue udah buat janji, udah bikin nunggu. Masak tiba-tiba batalin.” Indra sudah ingin putar balik. Aku berusaha mencegah. “Duh! Eh ini cewek. Nih lo liat kontaknya nama Arianti. Cewek woi.” Indra menoleh sejenak padaku kemudian kembali fokus ke jalanan. “Ngapain bilang cowok tadi?” “Iseng doang. Lagian lo kepo banget nanya-nanya. Demi lo nih, gue belajar masak sampe bela-belain ke Bogor.” Aku tidak terlalu yakin tapi aku lihat sudut bibir Indra sedikit terangkat. Apa dia baru saja senyum? “Nggak sih. Demi balas dendam ke Ilham, gue lakuin apa aja pokoknya!” Itu dia tujuan utamaku. Pokoknya Ilham dan Meri harus sampai gigit jari melihat kehidupanku nanti. Dan sejauh ini hanya Indra yang bisa membantu mewujudkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD