Pagi ini aku sudah siap untuk pergi ke Bogor. Berbekal saldo di aplikasi ojek online sebesar 98 ribu rupiah, uang tunai yang jumlahnya tidak sampai lima puluh ribu, dan kartu KRL yang saldonya cukup untuk pulang pergi Jakarta Bogor tujuh hari berturut-turut. Aku mulai berpikir apa saldo kartu kereta ini bisa dicairkan? Lumayan untuk makan.
Sudah sarapan mie instan ditambah nasi, aku pergi dengan semangat menggebu di hati. Supaya lebih hemat kali ini aku pergi ke stasiun dengan angkot. Sayang kalau naik ojek online. Itu nanti saja waktu di Bogor. Setelah sampai, aku di stasiun Tebet aku langsung bergegas masuk.
“Boleh minta waktunya sebentar, Kak? Kami dari-”
“Enggak!” sahutku cepat. Malas menanggapi.
Biasanya penipuan berkedok donasi.
Aku masuk setelah mentap kartu kereta. Melangkah dengan tergesa supaya bisa masuk kereta yang sekarang nangkring menunggu penumpang. Aku harap dapat tempat duduk tapi saat ku lihat orang-orang yang nampak berdiri, saat itu aku langsung berdecak.
Tidak terlalu ramai tapi kalau aku masuk kereta ini, aku harus berdiri. Jadi aku pilih untuk menunggu kereta berikutnya saja.
Sambil menunggu, aku memeriksa pesan yang ku kirim pada Anjas. Masih ceklis satu. Berarti dia memang sedang bertugas. Entah kapan akan dibalasnya. Aku kemudian membuka roomchatku dengan Indra. Pesan semalam dari lelaki itu, belum aku balas.
Aku :
Harus banget lari? Gue nggak bisa lari. Gue ngikut sambil jalan aja gimana?
My Future Husband :
dateng aja dulu besok
Iya, aku menamai kontak Indra dengan nama ‘my future husband’. Anggap saja manifestasi. Supaya dia sungguh menjadi suamiku. Entah seperti apa kepribadiannya, yang jelas aku butuh suami berduit. Belum genap sehari aku merasa begitu miskin, aku jadi sadar kalau memang memiliki uang bisa memberi ketenangan dalam hidup. Setidaknya menangis karena masalah sambil makan makanan enak lebih baik daripada meratapi masalah sambil makan mie instan karena tidak punya uang.
Jadi aku sudah yakin dengan keputusanku, memastikan Indra menjadi suamiku. Visual menawan, finansial mapan. Itu sudah cukup. Cukup untuk dipamerkan dan membuat Ilham sama Meri kepanasan karena iri.
Saat aku sedang merenung, ponselku bergetar karena pesan masuk. Pesan dari Indra.
“Nih orang cenayang apa gimana sih?” gumamku.
My Future Husband :
typing apaan lama banget?
Aku mengangkat satu alis. Dia ini, apa sedang memantau roomchatku?
My Future Husband :
besok bisa ga?
Aku menghela napas. Kalau mau pergi ke area Gelora Bung Karno (GBK), aku harus merogoh kocek. Juga harus bangun pagi, ditambah lari. Melihat Indra yang kemarin tiba-tiba menyuruhku belajar golf. Aku curiga kalau lari itu hanya satu hal yang dia minta lakukan. Bisa jadi ada hal lain.
My Future Husband :
Gue nunggu Anjas dulu. Kalo dia kirimin gue duit, ya udah gue nggak jadi pinjem ke lo
Lebih tepatnya malas lari. Apalagi pagi-pagi harus pergi ke GBK. Kalau Indra mau menjemput, bagus. Tapi kalau tidak mau, aku jadi repot sendiri.
My Future Husband :
kirim no rek, gue tf sekarang
“Idih kemaren sok sokan nggak mau minjemin.”
Aku hendak membalas chat si Indra itu namun kereta tiba-tiba datang. Isinya masih tetap ramai.
“Ini apa penuh terus ya?” gumamku.
Kalau terus menunggu begini, kapan aku berangkat dan sampai di Bogornya? Jadi aku masuk saja meski harus berdiri. Meskipun kedatangan kereta berikutnya cukup cepat, tapi kalau terus menunggu aku malah jadi membuang waktu. Apalagi Arianti kan sudah meluangkan waktunya.
Aku masuk kereta dan ya aku berdiri. Sialnya terlalu ramai jadi cukup berdesakkan. Kalau penumpang kereta yang baru-baru naik kereta, berpegang pada iman dan takwa di kondisi seperti ini tidak memungkinan. Minimal berpegangan pada besi tiang sebelah kursi atau pada gantungan berbentuk segitiga yang disediakan. Hanya saja berhubung aku sudah cukup sering naik KRL dan berdiri, aku bisa berdiri dengan gagah sambil memeluk tasku. Tas yang aku kedepankan demi keamanan.
‘Pintu akan ditutup.’
Tubuh orang-orang akan terhuyung saat kereta baru berjalan, tapi aku dengan santainya masih bisa berdiri tegak tanpa berpegangan. Jam terbang memang membuktikan.
Selama perjalanan, aku merenung. Merenungi nasibku yang menjadi seperti ini. Yang berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat. Diselingkuhi, dikhianati sahabat sendiri, dipecat dari agensi yang ku bangun, dan juga tidak punya uang. Aku jadi berpikir kalau aku menulis thread tentang masalah ini, pasti akan viral. Siapa tahu dengan viral aku bisa diundang podcast sana-sini, masuk televisi, atau bahkan dilirik penerbit agar kisahku diadopsi jadi buku. Mungkin saja juga buku itu jadi best seller dan dijadikan film layar lebar. Ah menyenangkannya menghalu.
Ada banyak hal yang aku pikirkan sepanjang perjalanan. Begitu banyak hal sampai yang paling random. Penjual ikan lele langganan dekat kostku itu kenapa sudah tidak pernah buka lagi ya? Aku juga berpikir bagaimana kalau misalnya semut ikut naik kereta ini. Saat kereta berhenti, dia menginjakkan kakinya di tanah yang berbeda. Kira-kira dia bingung tidak ya? Atau apakah dia akan sadar seberapa jauh dirinya telah terpisah dari koloninya?
Stasiun Cawang, Duren Kalibata, Pasar Minggu Baru, Pasar Minggu, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, Pondok Cina, hingga akhirnya sekarang kereta berhenti di Stasiun Depok Baru. Begitu banyak penumpang yang turun. Isi gerbong langsung terasa lengang dan banyak tempat duduk kosong. Baguslah. Aku rasanya sudah pegal berdiri sejak tadi. Pinggangku yang rasanya ingin patah itu sekarang bisa bersandar nyaman di kursi.
Baru juga duduk, mataku yang sudah sejak tadi mengantuk, akhirnya terpejam. Aku terlelap.
***
“Mbak. Sudah sampe, Mbak.”
Aku dibangunkan oleh petugas KRL.
“Oh iya terima kasih, Pak.”
Dengan kesadaran yang masih setengah sebab baru bangun tidur, aku langsung melangkah keluar dari gerbong.
Aku menguap begitu menghirup udara luar. Melangkah dengan perlahan sambil mengucek mataku. Aku terus saja melangkah lurus hingga kemudian kesadaran ku mendadak jadi penuh saat merasakan ada yang berbeda.
“Perasaan Stasiun Bogor kagak kayak begini bentukannya,” ucapku pada diri sendiri.
Mataku menatap sekeliling dan kemudian mataku melotot melihat papan nama yang tertempel pada tiang besi.
Nambo.
Nama itu aku baca berulang kali untuk memastikan aku tidak salah. Itu benar-benar tertulis Nambo.
“Bukannya gue..”
Aku merasa aku naik kereta tujuan Bogor. Akan tetapi aku baru sadar kalau itu kereta pertama. Kereta kedua yang aku naiki itu, aku tidak lihat tujuannya kemana. Jika saja aku tahu tujuan akhir kereta yang ku tumpangi adalah Stasiun Nambo. Setidaknya aku tidak akan tidur tadi supaya bisa transit di Depok atau Citayam untuk ganti kereta.
Suara kereta berangkat terdengar olehku bagai alarm darurat.
“Gawat! Tunggu!”
Aku membalikkan tubuh namun sudah terlambat. Aku bahkan berlari mengejar kereta yang sudah pergi itu.
Nambo itu bagian dari Bogor memang. Tepatnya sebuah desa di Kabupaten Bogor. Masalahnya Nambo itu sangat jauh dari rumah Arianti. Juga sepengetahuanku, kereta yang datang ke Nambo itu dua jam sekali, bahkan bisa lebih lama. Yang artinya kalau ada penumpang tujuan Bogor tapi menyasar kemari, rasanya sudah seperti mimpi buruk. Dan sekarang aku bukan sedang mimpi buruk. Ini kenyataan, kenyataan yang benar-benar buruk.
Aku langsung menghampiri petugas yang berjaga.
“Pak, kereta berikutnya jam berapa ya?” tanyaku penuh harap.
“Waduh masih lama, Mbak. Dua jam itu udah paling cepet. Bisa lebih lama lagi. Nyasar kesini ya?”
Aku mengangguk kaku.
“Ya udah terima kasih ya, Pak.”
Tubuhku rasanya lemas. Pikiran langsung kosong. Dua jam mau melakukan apa disini? Memikirkan konspirasi Atlantis? Dua jam itu adalah waktu yang lebih dari cukup untuk sampai di rumah Arianti dan memasak ayam kecap.
Aku berdiri dengan pandangan kosong menatap peron kereta.
“Semuanya gara-gara Ilham sama Meri,” ujarku kesal sambil mengepalkan tangan. Ingin teriak tapi takut dikira gila dan diusir. Jadi aku hanya bisa bicara dengan nada rendah. Daripada tiba-tiba viral diberitakan dengan headline ‘Perempuan gila di Nambo sudah diamankan petugas’.
“Pokoknya gara-gara Ilham sama Meri,” ucapku lagi sambil menangis.