Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang begitu tiba di kost. Udara dari AC yang baru saja aku nyalakan terasa kurang. Jelas, karena baru dinyalakan. Aku pun menghela napas. Hari ini melelahkan karena aku bermain golf seharian. Padahal baru juga latihan memukul saja. Mungkin karena aku juga jarang olahraga.
Sambil rebahan aku mulai memainkan ponsel. Aku langsung menuju aplikasi i********:. Mataku langsung memicing saat melihat Ilham update instastory. Emosiku langsung naik saat ia mengunggah foto pegangan tangan.
“Dih. Nggak punya malu!”
Meskipun tidak terlihat wajahnya, sudah jelas itu tangan si pelakor. Aku masih tidak habis pikir Ilham upload foto seperti ini padahal baru juga kemarin dia memutuskan hubungan. Bagi teman-teman pasti mengira itu tanganku.
“Duh. Lagian kenapa si Indra pake nggak ngebolehin upload itu foto sih!” pekikku kesal.
Melihat foto itu seolah membangkitkan api kekesalan yang masih membara dalam hatiku. Detik kemudian aku langsung ingat syarat yang Indra ajukan. Aku harus bisa masak dalam waktu dua bulan. Iya, dua bulan! Jadi kami bisa menikah dalam waktu tiga bulan.
Aku pun berdecak. Rasa ingin posting fotoku bersama Indra tadi saat sedang bermain golf, semakin meninggi.
“Tahan-tahan. Biar orang tahu kalo Ilham ada gandengan duluan.”
Meski aku tidak bisa menunjukkan pada dunia kalau Ilham dan Meri selingkuh, namun ku harap mereka sendiri yang membongkar itu.
Aku kemudian mulai mencari tempat les memasak di Jakarta. Apapun itu akan aku lakukan demi mendapatkan suami kaya seperti Indra.
Cukup lama aku mencari informasinya di internet. Aku juga langsung chat ke contact person yang tersedia untuk bertanya. Ada tiga tempat belajar memasak yang aku hubungi karena tertarik. Setelah bertanya-tanya akhirnya aku sudah memilih. Tinggal transfer saja untuk booking. Aku bahkan bisa mulai besok. Sengaja aku pilih kelas privat.
Ketika hendak transfer, muncul notifikasi gagal.
“Saldo Anda tidak mencukupi.”
Aku mengernyitkan kening. Bagaimana bisa saldoku tidak cukup? Aku punya uang tabungan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar lunas kelas privat ini bahkan untuk durasi satu tahun.
Khawatir ada error, aku langsung periksa jumlah saldoku.
Mulutku menganga lebar saat melihatnya. Rasanya lebih mencengangkan dan menyakitkan dibanding melihat Ilham dan Meri selingkuh.
“Duit gue! Kemana duit gue?!”
Saking terkejutnya aku langsung terduduk. Aku ulang login ke aplikasi m-bankingku. Aku ulang semua prosesnya. Akan tetapi hasilnya tetap sama. Nominal uang di rekeningku itu bahkan kurang dari serratus ribu.
Dengan panik, khawatir, dan jemari yang mulai bergemetaran. Aku langsung memeriksa mutasI rekening. Saat itu juga aku langsung mengumpat merutuki kebodohanku.
“Vira! Lu gila Vira!”
Mataku bahkan masih bengkak karena menangis kemarin. Akan tetapi sekarang aku kembali menitikkan air mata.
Uangku yang susah payah aku kumpulkan, habis tidak bersisa karena aku bodoh.
Aku langsung mengacak rambutku frustrasi. Semua uang itu lenyap aku belanjakan minuman untuk mabuk dua hari lalu. Iya, untuk mabuk! Aku tidak sadar saat menggunakannya.
“Udah diselingkuhin, diputusin, dipecat, nggak punya duit lagi!”
Tangisanku semakin menjadi. Entah harus bagaimana sekarang. Menangis juga tidak ada gunanya. Uangku sudah pergi, tidak akan kembali. Bahkan sekarang aku pengangguran.
Tangisanku kemudian berubah menjadi tawa.
Aku langsung mengirim pesan pada Anjas. Aku pilih untuk kirim voice note saja.
“Agar persaudaraan tetap terjaga, pinjam dulu dua juta.”
Sayangnya hanya ceklis satu. Tandanya adikku Anjas itu sedang bekerja. Kemungkinan ia akan menjadi slow respon. Yang artinya aku tidak bisa mendapatkan dana cepat.
“Masak pinjem si kembar?”
Selain Anjas, aku punya adik lagi. Kembar, lelaki dan perempuan. Mereka masih kuliah. Baru semester 1. Tidak mungkin aku pinjam uang mereka. Pinjam ke teman pun rasanya gengsiku selangit.
“Indra!”
Entah kenapa aku merasa tidak terlalu gengsi pada Indra. Padahal kami juga baru kenal. Aku bahkan tidak sepenuhnya tahu dia orang yang bagaimana. Sepertinya aku terlalu putus asa dalam menjalani hidup. Lagi pula dia juga sudah tahu cerita nahasku. Jadi tidak perlu jaga image depan dia.
Aku langsung menelpon Indra dan dengan cepat diangkat.
“Indraa,” panggilku manja.
“Apa?”
Intonasinya datar saja. Seperti biasa.
“Agar silahturahmi tetap terjaga, pinjam dulu dua juta.”
Tidak terdengar respon apapun.
“Buat bayar kelas masak.”
“Gue kan udah bilang soal kelas masak itu urusan lo.”
“Duh kalo gitu gue intinya minjem duit. Please.”
“Enggak. Nanti lo kabur. Selain itu juga gue nggak bakal minjemin duit. Nanti kalo udah pacaran, bukan minjem tapi ngasih pun gue nggak masalah. Tapi kalo sekarang nggak.”
Aku mengepalkan tangan. Jadi kesepakatanku dan Indra adalah kami akan pacaran kalau aku sudah sedikit bisa memasak. Nantinya kami akan bertemu seminggu sekali untuk memeriksa sejauh mana perkembangan kemampuan memasakku. Aku merasa ini konyol tapi sungguh begitulah kesepakatan kami.
“Dua juta aja sumpah! Gue dipecat sama si Ilham. Terus duit gue abis buat mabok waktu itu. Tolong banget ini buat gue bertahan hidup aja nggak ada. Gue baru sadar tadi pas cek rekening.”
Aku tidak berbohong saat suara tangisanku terdengar.
“Adek gue masih tugas ni. Tolong banget!”
Urgensinya adalah aku harus segera masuk kelas memasak. Supaya cepat bisa. Ya itu intinya.
“Enggak. Gue tutup.”
Sambungan telepon itu benar-benar berakhir.
Aku langsung jungkir balik di atas ranjang dan memukul-mukul boneka. Melampiaskan rasa kesalku.
“Terus gimana yang belajar masak?”
Air mataku kembali turun karena memikirkannya.
“Apa minta ajarin si kembar?” tanyaku.
Setidaknya mereka bisa memasak. Akan tetapi masalahnya adalah, mereka di Yogyakarta. Tidak mungkin aku tinggal bersama di kost mereka. Kost mereka kecil dan kehadiranku pasti akan cukup mengganggu mereka yang masih kuliah.
“Arianti!” pekikku.
Aku ingat teman kuliahku yang jago memasak. Dia menikah di Bogor dan aku berani jamin dia mau mengajariku memasak. Setidaknya aku hanya perlu pulang pergi naik kereta Jakarta Bogor.
Sebelum aku menghubunginya, aku memeriksa saldo aplikasi ojek onlineku dulu. Sejak dulu aku memang sering top up dalam jumlah banyak.
“Oke masih ada sembilan puluh delapan ribu.”
Aku juga bangkit untuk mengambil dompet. Memeriksa jumlah uang tunai yang kumiliki. Astaga aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Semoga saja Anjas segera membalas dan mengirimkan uang padaku.
Aku mengeluarkan uang tunai. Sayang sekali jumlahnya tidak terlalu banyak. Akan tetapi setidaknya cukup untuk aku makan selama beberapa hari, dengan mie.
Langsung aku hubungi Arianti dan menanyakan kesediaannya untuk mengajari memasak. Dia fast respon dan dia bertanya mengenai Ilham. Arianti ini ternyata sadar kalau hubunganku dan Ilham tidak baik-baik saja.
Aku diminta datang ke Bogor besok untuk belajar. Baguslah kalau begitu, lebih cepat lebih baik.
Katanya alat dan bahan aman. Aku bisa mulai dari yang sederhana. Ayam kecap. Aku tidak paham kenapa bisa disebut sederhana. Bagiku memasak ayam itu termasuk rumit. Yang sederhana itu ya, memasak mie dan telur.
“Oke, deal. Jadwal belajar masak aman. Sekarang tinggal bilang minta maaf ke kelas masak dan minta penundaan bayar.”
Saat aku mengetikkan pesan untuk membatalkan kelas memasak yang aku booking tadi, muncul pesan dari Indra.
Lusa lari bareng gue di GBK. Pagi-pagi. Gue pinjemin dua juta setelah itu