Chapter 4 Bisa Masak

1257 Words
Siapa sangka bermain golf akan semelelahkan ini. Baiklah, aku akui memang diriku ini jarang olahraga. Hanya saja kenapa golf rasanya jadi semenyiksa ini. Pinggangku rasanya ingin patah karena terasa pegal. Kakiku juga terasa sakit karena pukulanku sendiri tadi—karena kebodohanku. Aku tidak tahu berapa lama tepatnya coach Heri mengajariku cara memukul bola yang benar. Rasanya waktu berjalan sangat lama. Selesai diajari oleh coach, Indra mengajakku pergi ke restoran yang pemandangan danau yang cantik. Tempat ini masih dalam area tempat golf namun berbeda dengan tempat yang tadi saat kami sarapan. Begitu duduk, aku menghela napas panjang. Saat itu juga aku melihat Indra mengeluarkan botol minuman dan membukanya. “Wah, thanks parah…” Ucapanku terhenti karena saat tanganku hendak menyambut botol minuman itu, Indra ternyata tidak memberikannya padaku. Melainkan meminumnya. “Apa?” tanyanya seolah tidak merasa berdosa setelah minum. Bahkan tanganku masih tetap pada posisinya. Menadah di udara. “Beli sendiri,” ucap Indra kemudian. Tanganku yang masih menadah itu aku gerakkan. “Mana duit?” tanyaku tanpa rasa malu. Aku masih cukup kesal dengan gagasan mendadak tentang belajar golf. Indra mengeluarkan kartunya dan meletakkannya di tanganku. “0893 kan?” tanyaku. “Bukan,” sahutnya. Aku langsung mengernyitkan kening. Ku tatap kartu yang dia berikan. Ternyata berbeda dengan yang kemarin. Kesamaannya hanyalah sama-sama kartu prioritas. Aku langsung menatap takjub pada Indra. Apa ini benar-benar sebuah anugrah? Aku langsung ingat pada mimpinya Ilham yang ingin menjadi nasabah prioritas. Akan tetapi belum terwujud sampai sekarang. Kalau dia tahu calon suamiku itu menjadi nasabah prioritas dari dua bank berbeda. Kira-kira reaksinya akan seperti apa ya? Oh aku yakin Indra pasti punya lebih dari ini. “0291” ucap Indra. Untung disini sepi. Hanya ada kami. Tunggu! Hanya kami? Aku baru sadar ini seperti tempat privat. Apa ini tempat untuk member VIP? “Kenapa? Haus lo mendadak ilang?” Aku tidak menyahut dan tiba-tiba jadi teringat. “Bentar. Ini bayar duluan atau totalan diakhir?” tanyaku. “Diakhir.” “Ya terus ngapain lo ngasih gue kartu?” “Karena lo minta.” Rasanya emosiku kembali tersulut. Bagai api yang disiram oleh bensin. “Ya kan tinggal bilang. Vira, bayarnya di akhir. Lo mesen tinggal angkat tangan aja. Kenapa nyebelin banget sih jadi orang!” pekikku kesal. Indra itu masih saja kelihatan tenang. Seolah teriakan ku tadi bukan apa-apa baginya. Yang ia lakukan justru meletakkan botol minuman tadi di depanku. “Nih minum dulu.” “Ogah banget bekas lo.” Aku langsung mengangkat tangan dan menatap ke waiter yang berjaga. Begitu beliau menghampiri, aku langsung pesan es teh. Setelah waiter itu pergi, hanya ada keheningan antara aku dan Indra. Aku tatap dia dengan tajam. “Apa lo liat-liat?” tanyaku. Indra masih saja tetap menatapku. Tatapannya itu seolah menantang. Aku jadi kesal sendiri melihatnya. “Apa sih liat-liat? Cakep gue?” Jujur sebenarnya jadi salah tingkah juga. Biar bagaimana pun Indra itu kan laki-laki. Sebagai perempuan normal, siapa yang tidak salah tingkah kalau ditatap begitu. “Kita bahas sekarang,” ucap Indra kemudian. Akhirnya! “Tapi kayaknya makan dulu aja nggak sih? Lo keliatan kehabisan tenaga gitu.” Aku langsung membuka kacamataku. “Indra! Please banget sumpah! Lo ngerjain gue ya?” Kesabaranku itu sudah sangat tipis. Semakin tergerus karena lelaki itu tidak kunjung berhenti membuatku kesal. “Oke. Abis lo minum kita bahas.” Aku langsung mengambil botol minuman yang tadi diberikan Indra. Minuman yang aku tolak karena Indra minum dari sana secara langsung. Alias bibirnya menempel di pinggiran mulut botol. Aku tidak minum tanpa menyentuh mulut botol. Jadi dengan terpaksa aku minum air itu. Dari botol yang sama dengan Indra. “Gue udah minum. Sekarang kita bahas. Syarat ketentuan, apapun itu.” “Lo ngebet pengen nikah sama gue?” Aku meremas botol air itu. “Iya! Makanya cepet kita omongin.” “Lo yakin mau nikah sama gue?” Pertanyaan sialan apalagi ini. Jelas-jelas aku sudah membulatkan keputusan. Aku akan menikah dengan Indra. Venue pernikahan, destinasi honeymoon, bahkan tinggal di rumah sebesar istana sudah ada di dalam pikiranku. Aku ingin semua itu segera terjadi. Biar Ilham dan Meri lihat. Kalau kehidupanku jauh lebih baik dibanding mereka. “Kalo nggak yakin, gue nggak akan telpon lo. Kalo nggak yakin, gue udah posting video Ilham sama Meri dari kemaren. Kalo nggak yakin, gue nggak akan dateng kesini. Kalo nggak yakin gue nggak akan menahan kesabaran sampe sini!” Mata Indra menatap ke tanganku yang meremas botol air minuman itu. Lalu tiba-tiba minumanku datang, diantar waiter. Aku jadi malu karena kacamataku sudah aku lepas. Aku mengucapkan terima kasih setelah tadi berteriak. Astaga memalukan juga rasanya. Aku menghela napas dan mulai minum es teh. Rasanya menyegarkan. Lumayan meredam emosiku sejenak. “Lo nggak bisa masak,” ucap Indra. Pasti aku mengatakan itu saat mabuk. Aku memang tidak bisa memasak. Satu-satunya pencapainku dalam kegiatan memasak adalah berhasil menggoreng telur tanpa gosong. Itu pun hanya beberapa kali. Lebih sering gosong. Selama hidup merantau juga aku lebih sering beli makanan. Terima kasih kepada bapak dan ibukku yang memberi cukup uang sehingga aku bisa membeli makanan. Well mungkin tepatnya aku malas memasak. “Dan itu syarat yang harus lo penuhi. Bisa masak.” “Sebentar. Kayaknya lo harus jelasin dulu dari awal deh. Tentang lo siapa. Kenapa lo nyari istri kayak nyari partner ONS. Ya apa gitu kek kenalan. Nggak fair banget karena lo tau banyak hal tentang gue tapi gue nggak tahu apa-apa tentang lo.” “27 tahun dan gue udah bilang kalo nyokap gue nuntut gue untuk segera nikah.” Demi apa Indra 27 tahun? Tampangnya memang muda sih. Hanya saja itu usia yang belum terlalu tua. Lalu kenapa ibunya Indra itu mendesak untuk menikah sampai Indra seperti orang putus asa begini mencari istri? Mulutku seketika menganga lebar. Aku langsung mendekat agar bisa berbisik. “Lo belok?” tanyaku kemudian. Indra tidak menjawab. Jadi aku kembali menganga karena terkejut. Oke berarti Indra mencari istri hanya untuk menutupi kedoknya? Ya ampun. Aku jadi bingung harus bereaksi bagaimana sekarang. Apa ungkapan itu benar? Bahwa si tampan itu milik si tampan? “Hah seriusan lo belok?” tanyaku lagi. Indra menatapku kemudian menjawab. “Gue normal, nggak perlu khawatir.” Aku mengernyitkan kening. Mulai memicingkan mataku yang bengkak itu dan menatap Indra penuh curiga. Mari kita rinci. Indra itu masih berusia 27 tahun, usia yang belum terlalu tua. Kecuali dia sudah berusia 40 tahun, baru wajar kalau ibunya mendesak untuk segera menikah. Lalu Indra itu normal dan yang jelas dia kaya. Penampilannya juga menarik. Tubuhnya kekar dengan pas, tinggi, dan dia juga wangi. Usia aman, preferensi seksual aman, visual aman, finansial aman. Jadi apa masalahnya? Kenapa Indra tidak pergi mencari perempuan untuk diajak berkencan? Atau perempuan yang bisa dia ajak menikah dengan rasa cinta. “Wait. Ini lo lagi nggak nipu gue kan?” Jaman sekarang kan penipuan itu makin canggih sistemnya. “Gue serius gue normal. Lo mau pembuktian?” “Bukan itu. Maksudnya keseluruhan. Tawaran nikah. Kenapa lo nggak nyari cewek bener-bener yang bisa diajak nikah?” “Lo cewek bener-bener.” Aku mengepalkan tangan gemas. “Maksud gue ya kencan gitu lo. Jatuh cinta terus nikah karena sama-sama cinta.” “Ribet. Gue mau hidup tenang.” “Oke kita lanjut ke syarat kedua. Kenapa harus bisa masak?” “Itu skill penting untuk bertahan hidup kali.” “Kan lo banyak duit. Tinggal beli aja.” “Gue mau makan masakan rumahan.” “Kalo gitu bayar Mbak. Tinggal cari Mbak yang pinter masak.” Indra mengangkat sudut bibirnya. “Gue maunya dimasakin istri. Jadi lo harus belajar masak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD