Indra mengajakku untuk bertemu di lapangan golf hari ini. Fiks dia benar-benar orang kaya! Dari lagaknya saja kelihatan begitu. Kalau begitu ini kabar baik. Benar-benar kabar baik. Aku bisa pamer dengan maksimal pada Ilham kalau diriku memiliki suami yang jauh-jauh lebih baik. Setidaknya dalam konteks visual dan finansial. Soal kelakuannya? Aku tidak tahu. Kita pikir itu saja nanti. Yang jelas aku ingin segera membalas dendamku sekarang.
Aku tidak pernah main golf dan juga tidak pernah pergi ke lapangan golf. Aku sudah nego pada Indra supaya bertemu di restoran saja atau kafe. Akan tetapi lelaki itu tetap bersikeras agar bertemu di lapangan golf. Aku jadi tidak punya pilihan lain.
Sekarang aku sedang menunggunya datang. Aku tiba lebih dulu dibanding dia. Jadi sekarang nasibku seperti orang hilang yang kebingungan di depan bangunan. Tadi sudah ada staf yang dengan ramah bertanya padaku jika aku butuh bantuan. Hanya saja aku tolak halus dan bilang kalau sedang menunggu teman. Jelas aku bingung harus berbuat apa setelah masuk ke dalam. Jadi lebih baik menunggu Indra saja. Meski harus pelanga-pelongo disini.
Tidak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam datang. Aku merasa lega karena itu Indra. Dua orang staf langsung menghampiri Indra yang saat ini sedang membuka bagasinya. Satu orang membantu membawa tas dan satu lainnya masuk ke dalam mobil, sepertinya akan memarkirkan mobil.
Indra akhirnya menghampiriku.
“Semangat banget kayaknya mau revenge ke mantan,” sindirnya.
Mungkin karena aku datang lebih awal dari jam janjian.
Lelaki itu kemudian mengernyitkan keningnya.
“Ngapain pake kacamata item?” tanya Indra kemudian.
Aku langsung membuka kacamataku. Dia kemudian tersenyum meledek. Aku kembali memakai kacamata hitam. Mataku bengkak karena seharian menangis kemarin. Menangisi kandasnya hubunganku bersama Ilham dengan cara yang mengenaskan. Ternyata air mataku mau keluar untuk menangisi si b******k itu. Ya bagaimana tidak. Empat tahun berpacaran ternyata kandas dengan cara menyakitkan.
Indra tidak bicara lagi. Dia langsung masuk ke dalam dan aku pun hanya mengikuti. Di lobi, Indra langsung melakukan registrasi. Dari sikap para staf, sepertinya Indra langganan disini.
Aku hanya berdiri menyaksikan Indra berbincang dengan resepsionis. Aku sempatkan untuk mengintip papan harga yang tertera di resepsionis. Ternyata masih cukup terjangkau. Di pikiranku olahraga golf itu olahraga mahal dan hanya untuk orang kaya.
Indra telah selesai dengan urusannya dan kemudian lanjut melangkah.
“Ayo,” ajaknya.
Aku mengikuti langkah Indra percis seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Sayup-sayup aku dengar pembicaraan resepsionis.
“Itu pacarnya nggak sih?”
Karena mereka bilang begitu, aku jadi sedikit bangga. Berarti dari segi penampilanku ini, bisa dibilang cocok bersanding dengan Indra. Baguslah kalau begitu. Jangan sampai timbul perbincangan aku memakai pelet jadi Indra mau. Ya bagaimana ya. Kan rencananya kami akan menikah.
Kami menuju loker. Disana Indra minta aku meletakkan tasku. For your information, Indra minta aku bawa tas berukuran agak besar. Jadi aku bawa backpack lengkap dengan pakaian ganti di dalamnya. Percis seperti arahan yang Indra berikan kemarin.
“Lo mau ganti apa pake baju itu aja?” tanya Indra.
“Pake ini aja. Tunggu. Ini kita mau obrolin soal itu kan? Kenapa harus main golf sih?” tanyaku.
Indra tidak menjawab. Lelaki itu kemudian memakai kacamata hitam yang dibawanya dan mulai memakai topi.
“Mau sarapan dulu nggak?” tanya lelaki itu.
“Gue mau langsung bicarain soal itu.”
Aku sudah tidak bisa menahan kesabaran sejak kemarin. Aku ingin tahu apa yang harus aku lakukan supaya bisa segera memanas-manasi Ilham dengan memanfaatkan Indra. Sekarang aku tidak ingin mengulur waktu dengan sarapan dulu.
“Lo udah makan?” tanya lelaki itu.
“Belum.”
“Ya udah sarapan dulu. Emang lo bakal kuat nanti di lapangan?”
“Lo lagi nggak berencana nyiksa gue kan?” tanyaku berani.
Sebenarnya aku tipikal yang akan berhati-hati dengan orang asing. Seharusnya begitu juga terhadap Indra. Akan tetapi semenjak lelaki itu tahu banyak tentangku, aku pikir tidak perlu menjaga sikap lagi. Lagi pula Indra sudah tahu apa yang aku inginkan darinya. Sekarang tinggal aku harus tahu syarat apa yang dia berikan dan kesepakatan apa yang ingin dia bicarakan disini.
“Rencananya gitu. Makanya gue ngajak sarapan dulu.”
“Oke kalo gitu bicarain sambil sarapan.”
“Kita sarapan tapi omongan tentang itu, tetep di lapangan.”
Aku pun mengepalkan tangan gemas. Sebal rasanya dipermainkan begini. Aku pun menghentakkan kaki karena benar-benar kesal tapi tidak bisa melakukan apapun.
“Kenapa harus banget di lapangan sih?!”
Indra tidak menjawab. Dia menutup pintu loker dan kemudian melangkah. Mengabaikan pertanyaanku.
“Oke tapi gue mau lo yang traktir sarapan. Karena lo yang ngajak ketemuan disini,” ucapku kemudian.
Aku bahkan tidak pernah minta Ilham menraktirku selama pacaran. Akan tetapi baru dua hari mengenal Indra, aku dengan tidak tahu malunya sudah meminta dia membayar untukku.
Langkah kaki Indra terhenti, ia menoleh padaku.
“Calon istri gue ternyata matre ya.”
“Lo sendiri yang bilang udah cukup yakin buat menikahi gue.”
Kan Indra sendiri yang duluan memberikan penawaran. Jadi dia harus terima konsekuensinya.
Indra mengangkat sudut bibirnya. Ia kemudian melanjutkan langkah dan aku mengikutinya.
***
Aku makan dengan cepat. Selain pada dasarnya aku memang orang yang cepat kalau makan, Juga aku sengaja supaya kami cepat ke lapangan. Sebab aku sudah sangat penasaran syarat apa yang akan Indra berikan.
Masalahnya sekarang si Indra itu masih makan. Sepertinya dia sengaja makan dengan santai.
Aku sudah menyilangkan tangan depan d**a dan menatap lelaki itu. Supaya dia sadar kalau aku menunggu agar dia bisa cepat melakukan pergerakan.
“Santai aja dulu kali,” ucap Indra yang sepertinya paham isi kepalaku.
Aku menghela napas. Lelaki itu sepertinya suka sekali membuat aku menunggu. Sama seperti kemarin, untuk menghilangkan rasa bosan menunggu aku pun mengedarkan pandangan ke sekiling. Ada banyak sekali bapak-bapak disini. Aku yakin mereka semua orang kaya. Tempat yang strategis kalau mengindar sugar daddy. Akan tetapi tidak perlu karena sudah ada Indra.
“Kacamata lo nggak mau dilepas aja biar lebih jelas ngeliat mangsa?”
Aku mengangkat satu alis.
“Pardon me?”
“Lo kayak lagi nyari sugar daddy. Kenapa? Lo nggak yakin sama gue?”
Indra kemudian dengan santai menggigit potongan daging dari garpunya.
Aku benar-benar tidak paham apa maksud si Indra itu.
“Lo emang suka nuduh gini ya? Siapa juga yang nyari sugar daddy? Gue lagi mengoptimalkan fungsi mata gue untuk melihat. Orang cuma liat-liat jugaan."
Indra tidak menjawab. Ia hanya menatapku sambil mengunyah. Aku merasa seolah sedang ditantang oleh lelaki itu.
“By the way. Baguslah kalo lo kaya. Cita-cita gue jadi trophy wife bisa tercapai.”
Indra hanya mengangkat sudut bibirnya. Apa dia bermaksud menertawakanku tapi menahannya?
***
“Oke kita udah di lapangan. Sekarang kasih tahu gue syaratnya.”
“Pemanasan dulu,” ujar Indra santai.
Aku pun mengepalkan tangan di depan wajah Indra. Menunjukkan betapa aku sangat gemas padanya dan sedang menahan emosi saat ini.
“Kalo mau dapet suami yang ngasih uang bulanan dua digit, lo harus sabar. Itu syarat kedua.”
“Sini pemanasan. Ikutin gue,” ucap Indra.
Aku tidak punya pilihan selain menuruti ucapannya. Padahal aku tidak ikut bermain golf.
“Good girl,” ucap Indra.
Selesai pemanasan aku langsung mencecarnya.
“Oke kita udah pemanasan. Sekarang udah bisa bahas?”
Indra hanya menggeleng.
“Kan gue udah bilang sabar.”
Tiba-tiba ada lelaki paruh baya yang mendekat. Aku tidak kenal namun Indra akrab dengannya.
“Lo belajar main golf dulu ya. Ini coach Heri. Beliau yang bakal ajarin teknik dasar buar pemula.”
Aku rasanya ingin menjerit sekarang namun emosi itu aku tahan demi menjaga namabaik di depan coach Heri.
Sepertinya wajahku memerah sekarang karena menahan emosi. Aku bersalaman dengan coach Heri sebagai tanda perkenalan kami. Setelah itu aku mepet ke Indra agar bisa berbisik.
“Gue nggak minta belajar golf.”
Indra pun jadi ikut berbisik.
“Syarat ketiga. Lo harus bisa main golf. Abis diajarin coach baru nanti kita obrolin soal nikah.”
Aku langsung menggertakkan gigi karena kesal.
“Oh dan nggak perlu khawatir. Urusan golf gue yang bayarin.”
Indra sudah hendak melangkah namun aku langsung menarik tangannya.
“Lo bukan lagi mainin gue kan?” tanyaku.
Setelah aku pikir-pikir. Indra ini aneh dan misterius. Aku tidak tahu apapun tentangnya. Selain dia orang kaya dan bekerja di bidang IT.
“Kalo nyokap gue nanya dimana kita ketemu. Gue nggak mau jawab kita ketemu di klub, tapi di lapangan golf," ujar Indra.
Indra kemudian menarik paksa tangannya sehingga terlepas dari cengkramanku.
“Hobi gue main golf. Bukan mainin cewek," imbuhnya.