"Kalian berdua memang gila."
Kent dan Mary tak mempedulikan makian bos mereka. Lelaki itu sebenarnya sama penakutnya dengan Stella, tapi selalu pintar menyembunyikan di hadapan kedua anak buahnya. Dengan posisinya sebagai atasan, memudahkannya melakukan hal itu.
Lihat saja, dia hanya berdiri di luar liang dan berkacak satu pinggang sembari memberi penerangan dengan senter kecil pada dua anak buahnya. Kent dan Mary sedang menyusun kerangka pengganti Mike O'Hara di dalam liang kuburnya.
Bila dalam posisi seperti ini, baik Winn maupun Mary benar-benar lupa bahwa Kent Kallen adalah pewaris BnY bila ayahnya sudah meninggal. Dan itu akan membuatnya menjadi milyuner, mustahil baginya untuk bermain di liang lahat di tengah malam. Setidaknya sebelum masa itu tiba, mereka masih bisa saling mengejek dan memaki, meski bukan dengan tujuan menghina. Selama ini, ketiganya merasa, makian itulah yang membuat ketiganya kompak berurusan dengan tulang belulang.
"Yang gila itu Minnie, Bos." Mary akhirnya selesai menyusun tulang belulang korban pembunuhan berantai di dalam liang kubur Mike O'Hara. Dia meyakinkan diri bahwa tidak ada susunan tulang yang terbalik, meski cahaya senter dari Winn sama sekali tidak membantu. Mary hanya mengandalkan pengalamannya menyusun kerangka, layaknya anak kecil bermain puzzle.
"Minnie hanya perempuan sederhana dengan mimpi besar," bela Winn. "Dia berharap kakaknya bisa pulang dan menemaninya di usia senja, mengurus peternakan warisan orang tua mereka."
"Makanya itu, kubilang kalau dia gila," ucap Mary sembari menjulurkan tangan meminta Winn menariknya keluar dari liang. "Segala macam petunjuk diikutinya. Kau akan bilang apa padanya, Bos? Bahwa kakaknya diculik alien?"
Winn dan Mary sudah ada di atas liang, sementara Kent masih merunduk-runduk, membetulkan posisi tengkorak. Sejatinya pasangan tengkorak dengan tulang belulang lainnya bukanlah dari satu tubuh manusia. Tapi dari beberapa rangka manusia yang berbeda, sisa-sisa yang ditemukan di Agency. Dari kasus-kasus yang mereka tangani sebelumnya. Semuanya adalah dari kerangka tanpa identitas di kepolisian, meski Kent sudah menyampaikan identitas berdasarkan hasil membacanya. Setidaknya bila ada orang iseng yang mencari-cari masalah, mereka akan kesulitan menyatukan puzzlenya. Selama ini, Divisi forensik di kepolisian tidak akan mau bersusah payah meneliti sampai demikian detil.
"Kent, ayo cepat. Kita masih harus menutup liangnya," ucap Mary sembari mendorong tanah ke dalam liang dengan sepatunya. Entah sudah berapa kali kuburan Mike O’Hara ini digali dan ditutup lagi. Yang jelas, yang pertama melakukannya adalah yang menguburkan Mike. Yang kedua adalah Bone Agency. Yang ketiga adalah orang yang mengirim surat kaleng ke Polisi--bila siapapun dia memang menggalinya. Dan yang keempat adalah Mary dan Kent.
“Kira-kira apa masih akan ada yang menggali lagi makam ini?” tanya Mary pada Winn yang dijawab dengan endikan bahu. Sebegitu tenarnya Mike O’Hara sampai harus digali berkali-kali makamnya.
Kent masih merunduk di dalam liang. Tanpa diketahui oleh dua orang di atas liang, dia menemukan benda berkilat di sela-sela tanah. Sebuah anting dengan bandul bintang. Dan dia berusaha menemukan pasangannya. Anting ini berada di posisi tengkorak Grace, jadi sudah pasti adalah milik Grace yang tidak dilepas saat dimakamkan.
"Kent!" bentak Winn. Dia tak mau lebih lama lagi di area makam, bulu kuduknya sudah meremang sejak tadi. Banyak suara-suara aneh tertangkap telinganya, meski dia berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara angin. Nisan-nisan dalam keremangan lampu dari luar makam terasa mengerikan baginya.
Kent pun keluar dari liang tanpa bicara. Sejak awal, dia memang lebih banyak diam. Mary khawatir Kent kembali membeku dan memucat seperti sebelumnya.
"Kau kenapa? Masih tidak enak badan?" tanya Winn sembari menyerahkan satu sekop pada Kent. Sejurus kemudian, mereka berdua mulai menutup liang dengan tanah. Mary bertugas memadatkannya nanti dengan melompat-lompat di atasnya.
"Aku harus segera bertemu dengan Mom," ucap Kent sembari merapatkan mantel dan mengibas tanah di bajunya.
"Kau seperti anak Mama yang terlambat pulang malam, ini masih jam sebelas," ejek Winn. Mereka sudah selesai menutup liang. Tinggal Mary bertugas, seperti wanita yang menari di hadapan dua lelaki. Menghentak kedua kakinya yang mengenakan sepatu bot. Kuburan ini harus kembali padat, atau akan ada lagi yang menggalinya.
"Masalahnya tidak sesimple itu," keluh Kent. "Aku boleh mengambil cuti besok? Aku tidak tahu berapa lama."
"Dari tadi minta cuti terus, kenapa memangnya?" tanya Mary sembari melompat-lompat dan berpindah-pindah posisi.
"Stella sudah tidak tahan lagi dengan pekerjaanku. Kali ini, dia pergi dari rumah. Dan Mom menyuruhku menjemputnya malam ini."
Winn tidak punya jawaban. Dia memang keras dan disiplin pada anak buahnya. Tapi bila sudah mempertaruhkan Kent, dia mati gaya. Tak punya cara selain melonggarkan aturan, agar Kent tetap bersama Agency.
Kent menendang kerikil, mendahului Mary dan Winn meninggalkan makam Mike O'Hara palsu. Dua orang itu pun bergegas mengikutinya, seolah dia adalah bosnya.
*
Molly mematikan televisi dan memutar badan, menghadap ke arah Kent yang baru saja memasuki ruangan tanpa bersuara. Kent hanya berdiri di tepi sofa, tidak memeluk ibunya, apalagi mencium pipi kiri dan kanannya--seperti biasa bila dia berkunjung ke rumah orang tuanya.
Molly pun menyadari bahwa suasana hati anak dan menantunya sedang panas, sehingga berpengaruh pada tindak tanduknya yang tidak seperti biasa. Wajah Kent juga tampak dingin, bahkan dia tak menatap wajah Molly sejak berdiri di tepi sofa.
“Ada yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Molly, melembutkan suaranya.
Kent tetap berdiri, bergeming. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel selututnya. Dan saat Molly memindai anaknya dari ujung kepala sampai ujung sepatu, dia mendapati sepatu anaknya tampak dikotori oleh lumpur.
“Kau habis menggali kuburan lagi?”
“Itu pekerjaanku, jadi Mom tidak usah bertanya.”
Molly mengangguk. Kent masih belum bisa dilumerkannya malam ini, apalagi tak ada satupun telponnya yang diangkat. Tapi untunglah anak ini masih patuh padanya, untuk datang ke rumah ini, memenuhi pesannya untuk menjemput istrinya.
“Stella ada di kamar tamu.”
Kent hanya melirik ke arah pintu kamar tamu yang tertutup.
“Kau akan menjemputnya pulang, atau ikut menginap di sini?”
Kent masih terdiam. Dia yakin Stella tidak akan mau pulang, bila masih ada kerangka Grace di rumah mereka. Dan Kent merasa tubuhnya memerlukan kehangatan di tengah malam seperti ini, terlebih setelah pekerjaan berat satu jam yang lalu. Bagaimanapun juga, dia tak bisa lepas dari aroma Stella setiap malam.
“Aku mau bicara dengannya dulu,” ucap Kent sembari melangkah menuju kamar tamu. Molly hanya mengangguk mengiyakan. Dia sendiri juga akan berangkat tidur. Sengaja menunggu Kent datang sampai tengah malam, meski anak itu tidak mengabarinya sepatah katapun. Tapi dia yakin, Kent pasti datang menemui istrinya. Mereka baru dua tahun menikah, pasti tidak akan tahan untuk berpisah semalam saja--meski sedang bertengkar.
Saat Kent berjalan menuju kamar tamu, dia melintasi foto keluarga yang dipajang di dinding. Dicetak sesuai ukuran asli yang berada dalam foto. Jackson, Molly dan Kent. Dalam balutan pakaian serba hitam dan tampak elegan.
Kent berdiri dan menatap foto keluarga itu lekat-lekat. Memindai wajah ayah dan ibunya, juga dirinya. Apakah Molly benar ibunya? Apakah dia adalah bayi merah di tangan Grace? Ataukah ada wanita lain dengan anak lain di balik foto elegan di hadapannya ini.
“Kalian akan mempunyai banyak anak,” ucap Molly yang tiba-tiba berada di sebelah Kent, ikut menatap foto keluarga mereka. “Pernikahan, seperti biasa akan diwarnai dengan pertengkaran dan perselisihan. Tapi anak yang akan menguatkan dan mengikat semuanya.”
Kent menoleh ke arah Molly yang tampak begitu mengagumi foto di hadapan mereka. Anak akan menguatkan dan mengikat. Kata-kata entah kenapa menjadi bermakna lain di telinganya.
“Kalian berdua harus segera punya anak, jadi bila ada sedikit masalah, tidak usah sampai kabur ke rumah orang tua.”
Molly meninggalkan Kent setelah mengelus lengan anaknya. Malam ini, belum ada pembahasan kenapa Stella bersikukuh untuk tidak tinggal di rumah Kent sementara waktu. Dan Molly berhasil membujuknya agar Stella mau tidur di rumahnya. Setidaknya, dia bisa memastikan bahwa tidak ada orang ketiga dalam kehidupan pernikahan anaknya. Kesempatan seperti itu sangat mungkin terjadi bila suami istri tidak lagi tidur seranjang.
*
Winn sampai di rumahnya lewat tengah malam. Istri dan dua anaknya sudah tidur. Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, dia pun bersiap naik ke atas ranjang. Tentunya setelah mengganti semua bajunya dan membersihkan diri. Dia tidak mau semua hal berbau kuburan dibawanya sampai ke rumah.
Sebelum merebahkan diri, dia mengecup kening istrinya dan hal itu membuat istrinya terbangun.
“Kau sudah datang, Babe?” tanya istrinya, membuka mata sebentar lalu memejam lagi. “Ada surat buatmu di meja makan.”
“Surat?” tanya Winn heran.
Istrinya tidak menjawab karena sudah kembali terlelap. Penasaran, Winn turun dari ranjang dan menuju meja makan yang memang tadi tidak dihampirinya saat masuk ke dalam rumah. Dia meninggalkan rumah setelah makan malam, demi menutupi kasus Mike O’Hara, yaitu mengganti kerangkanya. Ide dari anak buahnya itu terpaksa diturutinya setelah melihat foto kerangka alien di ponsel Mary, sebelum dia memerintahkan untuk menghapusnya.
Bone Agency harus diselamatkan dari hal berbau alien, atau dia tidak akan punya sumber penghasilan lagi. Terkadang meski pemerintah begitu baik memberi proyek, mereka bisa begitu kejam bila sudah terkait rahasia negara.
Winn mendapati amplop berperangko itu di atas meja. Tanpa pengirim. Istrinya pasti tak menaruh perhatian, saking lelahnya mengurus dua anak mereka yang masih balita. Padahal, jaman sekarang sudah sangat jarang orang berkirim surat dengan perangko. Setelah membolak balik amplop surat itu, dia pun menyobek bagian tepinya untuk mengeluarkan isinya. Ada serpihan hitam keluar dari dalamnya.
Heran, Winn meraih serpihan itu yang ternyata tanah. Tanah ini sepertinya tidak asing, seperti tanah yang dibersihkannya barusan dari bajunya--sebelum memasukkan ke dalam mesin cuci. Kenapa harus memasukkan tanah ke dalam amplop surat?
Merasa ada yang tidak beres, Winn bergegas membaca tulisan pada selembar kertas dari dalam amplop. Hanya ada sebuah tulisan tangan, yang membuatnya seketika gemetar.
“Aku tahu apa yang kau lakukan pada makam Mike O’Hara.”