8. Surat Ancaman

1568 Words
Kent melajukan mobilnya dengan tenang menuju BnY. Dia sengaja membisukan ponselnya agar Molly Kallen tidak membuatnya berdering berkali-kali. Toh dia pasti sudah memastikan pada Lula bahwa Kent sudah meninggalkan rumah. Benar saja, sepanjang perjalanan di jalan tol--Molly menelponnya berkali-kali. Kent biasanya berdalih tidak akan mengangkat telepon saat menyetir karena itu sangat berbahaya. Molly sendiri yang mengajarkan padanya agar selalu mengutamakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Molly pasti hendak mengabarkan betapa kacaunya Stella pagi ini, karena semalaman tidak tidur. Tapi Kent yakin, di tangan Molly, Stella akan baik-baik saja. Ponselnya kembali menyala. Mary Hope. Kenapa dia menelpon padahal Kent sudah menyampaikan ijin kalau tidak masuk hari ini. Kent menekan tombol untuk menyambungkan pembicaraan. “Kau di mana?” tanya Molly di seberang sana. “Kau tahu aku di mana,” sahut Kent sembari sedikit batuk, agar terdengar tidak enak badan. Hari ini, dia hanya akan mematuhi perintah ibunya. Bagaimanapun juga tanpa Stella nanti malam, akan membuat ranjangnya dingin. Jadi sebaiknya, dia menjemput Stella, atau ikut mengungsi ke hotel. Semua akan dibicarakan baik-baik. Dan kedua wanita itu akan memahami pekerjaannya, seperti sebelumnya. Keduanya membutuhkan dirinya, terutama tanda tangannya. “Kau di mobil, kan? Kalau kau sudah mendingan, sebaiknya kau membantuku menghadapi Minnie O’Hara. Dia mengamuk di kantor.” “Minnie? Serahkan saja sama Bos. Bukannya mereka satu alumni?” Terdengar suara teriakan di belakang Mary. Rupanya pertengkaran memang sedang terjadi di kantor. “Sebaiknya kau cepat ke mari, Kent. Atau Bos akan memecatmu.” “Hei, kau pikir berapa gajiku di Agency sampai dia berani memecatku?” keluh Kent. Gajinya memang tidak seberapa, malah sering habis untuk mentraktir Mary dan adiknya. Tapi segala yang kata orang gila (terutama Stella dan hari ini bisa jadi bertambah dengan pembantunya), itu adalah kepuasan dalam hidupnya. “Bukankah itu kata-kata sakti Winn Zachary? Dia sudah tiga kali mengatakannya padaku hari ini.” Kent mendengus. “Oke, aku ke sana. Tapi sebagai gantinya, aku mau cuti besok!” “Kau pikir Agency ini punyamu?” jerit Mary kesal. “Seenaknya saja cuti!” * Herannya, Minnie O’Hara langsung bungkam begitu melihat Kent memasuki ruangan. Winn merungut dalam hati. Kent memang punya pesona untuk menundukkan hati wanita, hanya dengan menarik sudut bibirnya satu centimeter saja. Wanita secerewet apapun bisa langsung bungkam dan terpana melihat wajah tampannya. Dan tentu saja dia tidak akan memecat Kent bila lelaki itu mangkir, karena dia aset paling berharga bagi Agency-nya. Lelaki yang hanya membutuhkan passion, bukan uang. “Maaf, aku sedang tidak enak badan, Bos,” keluh Kent sembari menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Winn mengangguk. Minnie mulai mengatur napas, dan dia tampak tenang. “Baiklah, katakan pada orangnya langsung, Minnie. Dia sudah di sini.” Winn menyilakan Minnie bicara. Wanita berpipi laksana bakpao itu pun menatap Kent--yang tampak sehat wal afiat. Dia tidak kelihatan sedang tidak enak badan seperti yang disampaikan Winn. “Mana tulang belulang kakakku?” Kent mengangkat kepalanya dari sandaran kursi. Dari balik jendela kaca, dia melihat Mary melintas. Mereka bertatapan beberapa detik, lalu Mary menghilang. Wanita itu pasti biang keladinya. “Mike O’Hara?” tanya Kent berlagak tidak tahu apa-apa. Dia lalu melirik Winn yang tampak sudah kenyang mendapat semprotan kata-kata melengking seperti yang didengarnya di telepon tadi. “Makam itu bukan makam Mike. Sudah aku katakan padamu, kan Winn?” Winn mengangguk. “Aku juga sudah bilang padanya. Itu makam seorang perempuan. Sudah pasti bukan Mike.” “Lalu?” Kent menatap ke arah Minnie. Wanita itu tampak sangat gusar. “Kalian pasti salah. Itu makam Mike. Kemarin ada seorang polisi datang ke rumah dan mereka membawa hasil penyelidikan mereka selama ini.” Ini baru menarik. Di makam itu ada dua makhluk yang dikuburkan, entah bersamaan atau tidak. Satu manusia dan satunya alien. Kent sungguh tidak berharap Mary menceritakan hal ini pada Winn. Atau Agency mereka akan ditutup oleh pemerintah dalam sekejap. Semoga wanita itu tidak segegabah itu, atau adiknya akan putus kuliah. “Apa hasil penyelidikannya?” tanya Kent. “Mungkin kami bisa menindaklanjuti.” Minnie menjeda napas sejenak, lalu menarik secarik kertas yang sejak tadi ada di hadapan Winn. Lalu memberikan kertas itu pada Kent. “Polisi mendapat kiriman surat, bacalah.” Kent menerima kertas dari Minnie. Sebuah surat yang ditulis tangan, dan tampak masih baru. “Ada yang membongkar makam Mike O’Hara dan membawa semua tulangnya.” Kent mengibaskan kertas itu di udara, lalu menatap Minnie. “Kau percaya dengan surat kaleng semacam ini? Tanpa nama dan alamat? Ada yang sedang memanfaatkan kebimbanganmu, Minnie. Hati-hati, orang semacam ini bisa jadi akan memerasmu.” “Tapi semua tulang di kuburan itu memang menghilang! Aku sudah ke sana dan membuktikannya.” teriak Minnie. “Kalian pasti yang membawanya.” Kent menelan ludah. Skenario ini menjadi kacau. Dia harus mempertahankan tulang belulang Grace Jenning tetap berada di rumahnya, berikut tulang alien penyertanya. “Kan sudah kubilang kalau itu makam perempuan, bukan laki-laki. Jadi sudah pasti bukan Mike.” Minnie hendak membuka mulut lagi, tapi Kent mendadak berdiri dari duduknya dan memeluk Minnie dengan lembut. “Minnie, tenangkan dirimu. Kau hanya terbawa emosi. Pasti kemarin ada orang yang melihat kita membongkar makam dan mereka hendak memerasmu. Percayalah padaku, itu bukan makam Mike O’Hara. Mike masih ada di luar sana. Bisa jadi, dia sedang hidup bahagia dengan anak-anaknya dan dia tidak ingin kau bersedih.” Winn tak percaya Kent bisa berlaku selembut itu pada Minnie, bahkan mengelus dan mengusap air mata wanita sebayanya itu, seolah kekasihnya sendiri. “Benarkah?” tanya Minnie sembari terisak, dan tanpa ada yang mengira, wanita itu malah balas memeluk Kent dan menumpahkan tangis di dadaa bidang lelaki itu. Winn langsung melengos, membuang pandangan matanya yang tiba-tiba membuatnya mual. Dilihatnya Mary di luar kaca membekap mulut tak percaya. “Tentu saja, Minnie. Kau tahu kalau Tuan Winn Zachary, bosku ini akan melakukan apapun demi kamu--sahabat terbaiknya. Jadi, percayalah pada Bone Agency. Bila kami menemukan makam Mike, pasti kami akan memberitahumu. Bagaimana, hm?” Minnie mengangguk-angguk, melunak dan melumer seketika karena pelukan dan elusan Kent Kallen. “Dan kau tidak usah membayar, benar kan Bos?” Kent melepaskan pelukannya, lalu memutar badan Minnie supaya menghadap Bosnya. “Terima kasih, Winn. Kau memang teman terbaik,” ucap Minnie sembari menyusut air mata dan ingusnya. “Tapi, di mana tulang belulang di makam itu?” Kent dan Winn saling melirik. Winn seolah mengatakan kalimat yang sama, dan menuntut penjelasan. “Kami masih menyimpannya, karena bisa jadi dia adalah orang hilang dari keluarga lain. Jadi kau abaikan saja apapun dan siapapun yang mengungkit masalah Mike selain kami. Bagaimana?” Minnie mengangguk-angguk. “Terima kasih, Kent.” Sebuah kecupan mendarat di pipi Kent dan lelaki itu tak sempat mengelak. * “Sebuah kecupan membuatmu sembuh.” Sindiran Mary Hope tidak direspon oleh Kent. Kent masih duduk diam, saling menautkan tatapan dengan Winn. Suasana kantor menjadi tegang kembali setelah Minnie pulang. Mereka bertiga berada di ruangan Winn dan Winn belum berucap apapun sejak pintu keluar tertutup. “Di mana tulang belulang itu?” tanya Winn dingin, sembari melipat tangan. Tatapannya tak lepas dari Kent. Mary memilih untuk menunduk. Bagaimanapun, dia juga bersalah telah menyetujui Kent membawa tulang itu ke rumahnya. “Kau tahu prosedurnya kan, kenapa malah kau bawa pulang? Apa kau mulai jadi kolektor tulang sekarang?” Kent melirik Mary. Sudah pasti Mary terpaksa mengatakan pada Winn di mana tulang-tulang berada, apalagi Minnie sudah meledak seperti itu. Partnernya itu masih belum bisa dipercayanya seratus persen. Dia masih sama seperti Lula yang selalu menceritakan apa saja pada Stella. “Di rumahku.” Akhinya Kent menjawab setelah beberapa detik membungkam mulut. “Kenapa?” “Aku berusaha menyelamatkan Agency ini.” Winn mendengus kesal. “Apa yang harus kau selamatkan? Agency kita sudah di ujung tanduk, karena pemerintah belum juga mencairkan dana dari proyek terakhir. Katakan padaku, apa tengkorak itu memberitahumu bahwa dia adalah Mike O’Hara.” “Aku belum membacanya.” Mary membuka mulut, namun kemudian mengatupkannya lagi ketika Winn meliriknya tajam. Belum saatnya Mary bicara. “Kenapa? Kau punya waktu dua puluh empat jam untuk melakukannya. Dan Minnie tidak akan berkoar-koar seperti tadi kalau aku sudah punya jawaban.” Kent menarik napas sepanjang-panjangnya, lalu menepuk meja. “Agency ini sudah pasti akan ditutup bila pemerintah mendengar apa yang kita temukan di makam Mike O’Hara.” “Apa yang kalian temukan? Kenapa aku harus menjadi orang terakhir yang tahu.” “Kerangka alien,” sahut Mary tak tahan untuk tidak membuka mulutnya. Lalu tanpa diminta dia pun menceritakan kondisi tulang belulang yang bertengkorak lonjong, bergigi geraham sangat banyak dan berderet dan gigi taring yang lebih panjang dari manusia normal. Dia menceritakannya sembari menggerak-gerakkan tangannya ke sana ke mari, berusaha mengilustrasikan dengan sejelas-jelasnya. Kent menepuk kening, baru menyadari bahwa Mary seperti ledeng bocor kalau sudah dibuka kerannya. Dan sisi positifnya adalah, Winn terduduk diam. Bungkam tanpa suara. “Kalian yakin?” tanyanya setelah Mary mengusap mulutnya yang berbusa, tanda dia sudah selesai bicara. “Bos mau melihat fotonya?” Mary menyodorkan ponselnya. Kent kembali menepuk kening, semoga saja Mary tidak memposting foto itu di medsos. Habislah mereka. “Hapus semua fotonya,” perintah Winn, membuat Kent merasa lega. “Sekarang, kita harus waspada karena sudah ada yang tahu soal penggalian kuburan Mike O’Hara. Surat kaleng itu, bisa jadi surat ancaman bagi kita semua.” “Aku akan membereskan bersama Mary, Bos.” Kent berusaha mencari solusi terbaik. Rahasia ini harus mereka jaga bertiga. “Caranya?” “Kita kubur kerangka tidak terpakai di makam Mike O’Hara. Malam ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD