7. Terpaksa Mengungsi

1644 Words
Kent tak bisa menyusun kata-kata lagi untuk menenangkan Stella. Sepanjang malam, istrinya itu dalam ketakutan. Setiap dia menutup mata, hantu yang mengaku bernama Grace Jenning itu selalu muncul di hadapannya dan berusaha memaksanya mengaku di mana anaknya. “Grace Jenning, apa benar itu namanya?” batin Kent. Stella sudah mengeluarkan koper dan memasukkan sebagian pakaiannya. Tanpa mendapat persetujuan suaminya, dia memutuskan untuk mengungsi ke hotel. Dia tidak akan membuat Donita kerepotan meski sahabatnya itu menawarinya tempat sementara. Yang jelas dia harus pergi dari rumah ini, atau dia bisa mati ketakutan. “Aku akan …” “Tidak ada akan!” sela Stella sembari menutup kopernya yang sudah penuh. “Selama tengkorak itu masih di rumah ini, jangan harap aku pulang!” Kent terdiam. Sebenarnya solusi pertengkaran ini sederhana. Tengkorak di gudang bawah tanah itu dibawanya ke kantor dan hantu Grace tidak akan mengganggu istrinya lagi. Kent tidak bisa membayangkan, berapa banyak hantu gentayangan di kantornya, selama ini sudah puluhan tengkorak bersemayam di sana. Dan Mary Hope sama sekali tidak dihantui. Kenapa justru Stella yang baru sekali saja melihat tulang belulang justru dihantui. “Aku akan menyingkirkannya setelah semua selesai, Stella.” Brak! Stella membuka daun pintu kamar dan membantingnya ke dinding. Lalu menyeret kopernya dengan langkah lebar, keluar kamar. Kent menghela napas panjang, tak hendak merayu istrinya--karena sudah semalaman dilakukannya. Stella benar-benar ketakutan semalaman, dan tak ada yang bisa dilakukan Kent untuk menghiburnya. Istrinya itu hanya meringkuk di sudut ranjang, menahan diri untuk tidak menutup mata. Memukuli Kent dengan bantal bila hendak mendekat. Menurutnya, Kent adalah penyebab kedatangan hantu Grace ke rumah ini. Mungkin ini adalah solusi sementara, biar Stella lebih tenang. Dan dia juga bisa fokus menangani tulang belulang Grace Jenning. Terdengar suara mobil Stella dihidupkan. Kent akhirnya keluar dari kamar dan menyusul ke garasi. Matahari baru saja terbit, pasti Lula sudah ada di depan gerbang. Dia yang mengunci pintu dari luar semalam, jadi dia harus membuka pintu lebih pagi. Dan benar saja, gerbang sudah terbuka ketika Kent sampai di garasi. Dia mendekati jendela mobil Stella. Istrinya sama sekali tidak mau melihatnya. Bisa jadi karena amarahnya, bisa jadi karena takut melihat Grace Jenning muncul dari belakang punggung suaminya. Dan tak sampai hitungan menit, mobil Stella sudah menderum kencang meninggalkan Kent dan Lula yang berdiri di depan garasi. “Nyonya pergi pagi sekali, Tuan? Nyonya belum makan malam dan sarapan.” Kent mengusap wajahnya beberapa kali. “Biarkan dia, Lula. Entah hantu apa yang menganggunya. Mungkin beberapa hari dia akan menginap di hotel.” Lula terkejut. Sedemikian ketakutan majikan perempuannya, dan majikan lelakinya ini kok malah bertahan di rumah ini, tidak mengantar istrinya mengungsi ke hotel? Lula yakin, tidak hanya masalah mimpi buruk Stella, tapi pertengkaran suami istri yang dia tidak ingin tahu lebih dalam. “Saya akan membuatkan sarapan.” Kent tidak menjawab, tapi langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kamarnya. Lula tak mau ambil pusing dengan tingkah kedua majikannya. Yang penting baginya adalah bekerja sebaik mungkin dan menyelesaikan semua tugasnya. Saat dia menuju dapur, tatapannya tertuju pada pintu gudang yang masih tertutup. Sepertinya, permasalahan muncul semenjak Nona Hope--rekan kerja Tuan Kent Kallen datang membawa sesuatu dan diletakkan di dalam gudang bawah tanah. Lula hanya mengetahui kalau mereka datang membawa karung yang kotor, sehingga dia harus membersihkan tanah yang berceceran di lantai. Selama setengah jam di gudang bawah tanah, Lula yakin majikannya tidak akan berbuat macam-macam dengan Mary Hope, karena dia membiarkan pintu gudang terbuka. Dan terdengar mereka tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam karung yang terdengar seperti benda yang keras. Lula memegang handle pintu gudang bawah tanah. Dia yakin, meski Stella mengungsi ke hotel, dia akan meminta laporan padanya--terutama tentang aktivitas suaminya. Dia begitu posesif pada suaminya, tapi rupanya kali ini dia kehilangan karakternya dalam semalam. Semudah itu meninggalkan suaminya dan mengungsi ke hotel. Perlahan Lula menurunkan handle pintu. Terkunci. “Kau tidak usah membersihkan gudang.” Lula terkejut dan seketika membalik badan. Mendapati majikannya berkacak pinggang di dekat kulkas dan menatapnya sekilas. Lalu membuka kulkas dan mengambil sekotak s**u cair. “Siapkan sarapan, aku mau mandi dulu.” “Baik, Tuan.” Lula segera menuju kompor dan mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam lemari. Diliriknya Kent yang tampak tidak merasa galau karena ditinggal istrinya. Menenggak s**u dengan santai sembari berjalan menuju kamar mandi. Lula melihat sendiri koper Stella saat dimasukkan ke bagasi mobil, sudah pasti majikannya akan pergi lebih dari satu atau dua hari. Pasti, apa yang ada di dalam gudang bawah tanah, menjadi pemicu pertengkaran majikannya. * Baru saja Kent selesai mengisi perutnya yang kosong sejak semalam, ponselnya berdering. Molly Kallen menelpon. Kent melirik jam dinding. Pasti ibunya sudah mendapat laporan dari Stella, dan bisa jadi istrinya itu sedang menangis di pangkuan ibunya--di ruangan Direktur yang sejatinya milik Kent. Dibiarkannya ponsel itu berdering beberapa saat. Dia merasa gamang melihat nama “Mom” tertera di sana. “Apa benar, Molly Kallen ini adalah ibu yang melahirkannya?” Pertanyaan itu menderanya berkali-kali, membuatnya ragu mengangkat ponselnya. Yang saat ini sangat ingin diketahuinya hanyalah Grace Jenning. Karena tidak mendapatkan sambungan telepon yang diinginkannya, Molly menelpon ke telepon rumah. Deringnya dari ruang tengah, terdengar keras sampai ke dapur. Dan Lula yang menghentikan dering yang tak kunjung berhenti itu, dan sejurus kemudian wajahnya muncul dari balik pintu daput. “Tuan Kallen, Nyonya Molly menelpon. Dia sangat mengkhawatirkan Tuan karena tidak mengangkat telepon.” Lula melihat ponsel Kent ada di sebelah piringnya, tapi lelaki itu sedang asyik menyesap kopinya. Dia pasti sengaja tidak mengangkat ponselnya, atau malah mematikannya. “Bilang aku masih mandi,” ucap Kent datar, lalu meraih ponselnya. Lula mengangguk, meski dia tahu kalau Kent sudah mandi dan berjas rapi. Lelaki itu sudah siap berangkat bekerja seperti biasanya. Namun dia tak bertanya, lalu kembali ke ruang tengah. “Tuan Kent sedang mandi, Nyonya,” ucap Lula melaporkan pada ibu dari majikannya. “Dia tidak mau mengangkat telponku kan? Katakan padanya, sekarang juga kutunggu di BnY. Jemput istrinya pulang!” Sambungan terputus sebelum Lula sempat mengiyakan. Dia lalu kembali ke ruang makan dan tidak lagi mendapati majikannya di sana. Dan pintu menuju gudang bawah tanah terbuka. Merasa yakin majikannya berada di sana, Lula pun perlahan masuk dan menuruni anak tangga. Dia sengaja membunyikan langkah kakinya dan memanggil majikannya--agar majikannya tahu kalau dia tidak dalam rangka mengendap untuk mencuri rahasia. “Lula?” tanya Kent dari dalam gudang bawah tanah. “Ya, Tuan. Ada pesan dari Nyonya Molly yang harus aku sampaikan.” Lula menghentikan langkah. Anak tangga menuju gudang bawah tanah ini menikung setelah anak tangga ke sepuluh. Lula berdiri di sana, menunggu majikannya mengijinkan dia turun. Ada cahaya terang dari arah pintu menuju gudang, di bawah anak tangga. “Turun dan masuklah. Aku memerlukanmu untuk membersihkan tempat ini.” Lula sedikit heran, tapi kemudian dia kembali naik untuk mengambil sapu dan tempat sampah. Semula dia tidak boleh membersihkan gudang, sekarang malah disuruh. Orang yang sedang bertengkar memang kerap tidak bisa memegang prinsip--jadi dia pun memaklumi sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman untuk urusan rumah tangga. Tak lama Lula membawa sapu dan tempat sampah, masuk ke dalam gudang bawah tanah. Dia melihat punggung majikannya yang sudah berjas rapi, menghadap meja tenis di tengah ruangan. Di lantai ada tanah berceceran, tanah yang tidak jauh berbeda dengan yang dibersihkannya kemarin saat majikannya dan Mary Hope datang membawa dua buah karung. “Tuan Kent …” sapa Lula. Kent menoleh dan melihat sapu di tangan Lula. Dia lalu menggeser badan sehingga Lula bisa melihat apa yang ada di atas meja tenis. Tulang belulang manusia yang sedang disusun oleh Kent Kallen. “Ya Tuhaaaan!” pekik Lula terkejut, dan dia jatuh terduduk. Kent hanya menoleh, tak merasa bahwa keterkejutan pembantunya adalah hal yang wajar. “Bersihkan tanah-tanah ini, Lula. Kau tahu aku tidak suka kotor.” Lula memejam mata, ketika melihat Kent menyapu tanah-tanah yang melumuri tulang belulang di atas meja dengan kuas di tangannya--sehingga tanah-tanah itu berjatuhan di lantai. Seketika dia pun memahami kenapa Stella mengungsi dari rumah ini dengan koper sebesar itu. “Lula, ayolah. Jangan seperti istriku. Ini semua benda mati, tidak akan melompat dan mencekikmu,” ucap Kent mulai kesal, melihat Lula tampak lemas dan menyandarkan kepala di dinding. Perlahan dilihatnya Lula berdiri dengan gemetar dan meraih sapunya. “Bersihkan semua tanah di bawah saja. Jangan sentuh yang di atas meja,” perintah Kent, tanpa menatap pembantunya. Dia asyik membersihkan sela-sela tulang belulang itu dengan kuasnya dan mengarahkan tanahnya ke lantai. Lula melirik tengkorak yang seolah menatap ke arahnya. Bila dia jadi istri Kent Kallen, dia akan melakukan hal yang sama dengan Stella. Rumah ini bukan kuburan. Tiba-tiba dia merasa majikannya begitu mengerikan dan membuatnya bergidik dan gemetar. “Kau tidak usah takut, Lula. Ini memang pekerjaanku,” ucap Kent datar. Mendengar nada bicaranya yang tampak tenang, kelihatan kalau majikannya sudah terbiasa dengan tulang belulang, tengkorak dan segala hal berbau kematian. Apakah BnY punya bidang pekerjaan seperti ini? Apakah bedak dan lipstik laris manis dan populer BnY dibuat dari tulang manusia? Ini benar-benar mengerikan. Dan rupanya Kent memahami pikiran campur aduk pembantunya. Karena Lula hanya menyapu sedikit tanah sembari membelakangi meja. “Sebaiknya kau perhatikan apa yang aku lakukan, Lula. Karena Stella pasti akan meminta kau melaporkan semuanya selama dia mengungsi ke hotel. Jadi, aku katakan padamu, bahwa mungkin Mary Hope akan kusuruh datang ke mari, karena dia lebih paham susunan tulang belulang ini daripada aku. Aku hanya bisa … memahami tengkoraknya saja. Jadi, jauhkan pikiranmu dari segala macam prasangka buruk. Atau istriku bisa tambah ketakutan.” “Ba-baik, Tuan,” jawab Lula, tanpa membalik badan. “Oh iya, apa pesan dari ibuku?” tanya Kent kemudian, sembari mengibas tanah yang mengenai jasnya. “Nyonya Molly meminta Tuan Kent ke BnY sekarang, menjemput Nyonya Stella.” Kent mendengus pelan, lalu mendekatkan wajahnya menghadap tengkorak. Menggoyang-goyang kepalanya seolah menggoda tengkorak itu. “Kita ketemu nanti malam. Ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu dengan para wanita itu.” Lula bergidik melihat tingkah majikannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD