Stella menatap pintu gerbang rumahnya. Pintu itu otomatis terbuka seperti biasanya. Jadi kapanpun dia pulang, Kent juga demikian, tidak perlu mengandalkan Lula membuka pintu gerbang. Jadi, rumahnya malam ini baik-baik saja, tidak ada hantu yang membukakan pintu gerbang rumahnya.
“Come on Stella, kamu harus bisa bertahan bersama Kent!” ucap Stella pada dirinya sendiri, sengaja mengeraskan suaranya. Toh hanya dia sendiri yang mendengarnya di dalam mobil. Dilihatnya, lampu kamarnya terang benderang, Kent pasti sedang menunggunya.
Tadi siang, suaminya mengomentari foto pernikahan yang dipostingnya ulang. Dia bilang, menunggu Stella pulang nanti malam. Stella nyaris tak menggubris karena masih kesal, tapi mau tak mau dia harus pulang. Kent adalah mutiaranya, tidak akan dilepasnya begitu saja. Soal tulang belulang itu, dia akan meminta Agency tempat Kent bekerja untuk mengangkutnya ke sana--apapun yang terjadi.
Donita benar. Oke, untuk beberapa saat rumahnya akan menjadi kuburan. Tapi dia punya Kent yang tidak akan membiarkannya dalam bahaya. Semua hantu tidak ada yang membahayakan, kata Donita. Buktinya waktu kejadian prototipe tengkorak manusia di Lab Biologi SMA mereka, dia hanya berpindah-pindah saja--tebar pesona. Tidak ada siswa yang ditemukan tewas atau mati ketakutan.
Jadi, benda mati itu tetap mati, tidak akan bisa hidup.
Meski Stella tidak semudah itu sepakat dengan Donita, karena ketakutan masih menjalarinya. Dia bahkan sedikit tersentak ketika Lula tiba-tiba muncul dari dalam garasi. Jantungnya serasa hendak lepas, padahal biasanya Lula juga demikian. Menyambutnya pulang dan mengatakan kalau sudah menyiapkan makan malam. Melaporkan apa saja yang terjadi dan siapa saja yang datang ke rumah mereka--selama majikannya tidak ada di rumah.
“Lula …” desis Stella, hendak memarahi tapi tidak jadi. Karena Lula sama sekali tidak bersalah dengan kemunculan tiba-tibanya.
“Ya, Nyonya?” tanya Lula sembari membantu Stella menutup pintu mobil. Dia lalu menutup pintu garasi.
“Apa wanita itu datang lagi?” tanya Stella sembari masuk ke dalam rumah, melepas sepatu dan melempar tasnya ke atas kursi tamu. Memindai sekeliling rumah, memastikan tidak ada gerakan halus dan mengejutkannya tiba-tiba.
“Nona Hope?” tanya Lula. “Tidak ada tamu hari ini, Nyonya. Tuan Kallen seharian di rumah saja.”
“Dia ke gudang bawah tanah?” tanya Stella sembari duduk selonjor di sofa. “Ambilkan aku minum dan makan sebelum kamu pulang.”
Lula mengernyit kening, namun kemudian teringat bahwa dua majikannya ini sepertinya bertengkar semalaman. “Makan malam sudah saya siapkan di meja makan, Nyonya. Saya panggilkan Tuan Kallen? Dia juga belum makan, menunggu Nyonya katanya.”
“Tidak, aku mau makan sendiri,” sergah Stella kesal.
“Saya siapkan meja makan untuk Nyonya sendiri.”
“Tidak,” sergah Stella lagi. “Aku tidak mau makan di meja makan.”
Tentu saja karena bila berjalan dari ruang tamu menuju meja makan, akan tampak pintu gudang bawah tanah dari arah ruang makan. Stella ingin menghindari itu semua, sampai dia benar-benar berani bahkan lupa kalau di bawah sana ada kuburan dadakan. Mungkin menunggu Donita mempertemukannya dengan dukun yang bisa membuatnya mengatasi hal ini.
“Baik, Nyonya,” ucap Lula sembari membalik badan menuju meja makan. Apapun perintah majikannya, sebaiknya dia menurutinya. Karena statusnya hanyalah seorang pembantu, jadi pekerjaannya adalah melayani majikannya. Tiba-tiba dia teringat pertanyaan majikannya yang belum dijawabnya. “Oh, iya. Tadi Tuan Kallen tidak ke gudang bawah tanah, Nyonya. Gudang itu dikunci, jadi saya tidak bisa membersihkannya lagi.”
Stella tidak menjawab. Dia merebahkan badan di sofa, sembari memijat keningnya. Kepalanya sedikit pusing. Setelah mengisi perutnya yang melilit karena sejak siang tidak terisi apapun, dia anak masuk ke kamar dan pura-pura tak peduli pada Kent. Kent akan merayunya seperti biasa bila dia ngambek. Dan dia harus merespon tidak terlalu lama, atau Kent tidak akan melanjutkan rayuannya. Dan Donita sudah memperingatkan dirinya.
Jadi, mau tak mau, dia tetap harus membersamai Kent--meski bayang-bayang tulang belulang itu berlarian di pelupuk matanya.
Ingat Stella, ada Kent yang akan selalu melindungimu. Jadi jangan sampai dia meninggalkanmu hanya karena kamu menolaknya, atau kamu akan jadi gelandangan di jalanan. Itu pesan keji dari Donita.
Dan itu bisa benar-benar terjadi padanya, karena dia tidak punya apa-apa untuk dijadikan pelarian. Langkahnya untuk menjadi Direktur BnY adalah berkat Kent yang tidak berminat pada bedak dan lipstik. Jadi, mau tak mau dia harus mempertahankan kehidupannya saat ini, meski ketakutan membayanginya. Dia harus bisa berdamai dengan ketakutan ini.
*
“Stellaaa ….”
Stella berusaha membuka matanya yang masih terasa berat. Suara asing itu membangunkannya. Dia merasa tubuhnya kaku dan berat. Kepalanya seperti ditekan oleh benda yang sangat berat.
“Stellaaa ….”
Perlahan, Stella membuka mata. Mendapati dirinya tertidur di sofa. Dia menoleh dan mendapati makanan terhidang di meja tamu. Rupanya dia tertidur dan Lula meninggalkan makanan dan minuman untuknya. Siapa yang memanggilnya tadi? Sepertinya bukan Lula ataupun Kent.
“Stellaaa ….”
Stella menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan berambut sebahu dan tampak acak-acakan, berdiri di dekat pintu, menuju ruang makan. Memakai pakaian biru dengan bunga-bunga putih. Dia tampak pucat dan wajahnya menyiratkan kesedihan yang sangat dalam.
“Siapa kau? Kenapa bisa masuk ke sini?” tanya Stella terkejut, lalu segera duduk dan menunjuk perempuan yang kantong matanya tampak sangat hitam. Dia pasti tidak pernah mengenal make up BnY yang bisa menghilangkan kantong mata sehitam apapun.
“Suamimu yang membuka pintu untukku,” jawab perempuan itu, lalu duduk di seberang Stella, berbatas meja dengan berbagai hidangan.
“Tidak mungkin Kent melakukannya,” sergah Stella kesal. Bisa-bisanya ada perempuan muda berada di rumahnya, saat dia sedang bertengkar dengan suaminya. Kenapa dugaan Donita bisa secepat itu terbukti, padahal dia belum hendak meninggalkan rumah ini, hanya mengancam Kent. Tapi sudah ada wanita yang dimasukkan Kent ke dalam rumah mereka, saat dia tertidur. Jangan-jangan, seharian wanita ini berada di rumah, menyenangkan dan menghibur Kent. Tapi Lula tidak mengatakan apapun tadi.
“Lulaaaa!” panggil Stella. Tapi tidak ada sahutan, meski Stella memanggilnya berkali-kali.
“Dia sudah pulang,” jawab perempuan itu dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
“Siapa kau?” gertak Stella marah.
“Grace Jenning. Di mana anakku, Stella?” tanya wanita yang mengaku bernama Grace.
Stella semakin terpancing emosi. Wanita di hadapannya berparas di atas rata-rata, meski tampak pucat, mungkin karena ekspresi sedihnya. “Keluar kau dari rumahku! Apa yang kaulakukan di sini hah?”
“Di mana anakku, Stella?” tanya Grace tak peduli. “Kau menyembunyikan anakku.”
“Bukan urusanku!” teriak Stella. “Keluaarr!”
Baru saja Stella berteriak mengusir wanita yang diduganya telah merayu suaminya dan kini hendak menghinanya dengan mengatakan kalau dia punya anak dan menuduh Stella menyembunyikannya--tahu-tahu wanita itu melompat, tidak … dia terbang menuju Stella dan mencekik lehernya.
“Kau mengambil anakku!” geram Grace dengan mata merah dan kantung mata semakin hitam pekat dan wajah semakin memucat. “Kembalikan padaku!”
Stella terjatuh kembali ke sofa. Dia berusaha melepaskan cekikan Grace yang menaiki tubuhnya, membuatnya susah bernapas. Tapi tangan Grace yang dipegangnya begitu dingin dan keriput. Wanita itu mendekatkan wajah mengerikannya ke wajah Stella. Stella hendak berteriak, tapi suaranya sama sekali tidak bisa keluar dari kerongkongannya.
“Stella … Stella … bangun sayang!”
Stella sontak terduduk dan terbatuk-batuk. Kent berada di sebelahnya dan menyodorkan segelas air. Stella menangkis tangan Kent hingga gelas itu jatuh di karpet. Terdengar suara Lula memekik pelan. Mendengar pekik tertahan Lula, Stella sontak memindai ruangan dan hanya mendapati Kent dan Lula yang menatapnya khawatir. Tidak ada siapapun selain mereka bertiga. Stella tiba-tiba merasa tubuhnya gemetar dan dingin. Sepertinya tadi dia telah didatangi hantu.
“Tenangkan dirimu, Stella. Kamu mimpi buruk,” hibur Kent sembari meraih tangan Stella yang masih gemetar dan perlahan berusaha menarik Stella dalam dekapannya. Lula dengan sigap membereskan gelas di karpet.
Tahu-tahu Stella mendorong bahu suaminya. “Tidak, itu bukan mimpi!”
“Stella, ini aku Kent. Kamu tertidur sebelum makan. Lula baru saja memanggilku dan kau mimpi buruk, berusaha mencekik dirimu sendiri.”
“Wanita itu yang mencekikku, Kent!” seru Stella, masih merasa wanita bernama Grace masih di ruangan ini, berusaha membunuhnya. Dia kembali menoleh ke segala arah, tapi tidak menemukan siapapun selain suami dan pembantunya. “Dia mau membunuhku.”
“Kau hanya mimpi buruk, sayang.”
Kent menjejeri posisi duduk Stella. Istrinya itu kini tepekur dengan menutup wajah. Setelah agak tenang, Lula menjulurkan minuman. Dua orang itu sedikit lega ketika Stella menandaskan air yang disodorkan Lula. Dan dia menjadi lebih tenang dan bisa menarik napas lebih panjang.
Kent merapikan dan mengelus rambut istrinya. Berusaha membuatnya nyaman.
“Dia hendak membunuhku, Kent,” ucap Stella lirih. Kent menoleh ke arah Lula, memberinya kode untuk membereskan makanan. Tidak akan ada makan malam kali ini, Stella hanya butuh untuk ditemani, ditenangkan dan ditidurkan di kamar mereka.
Lula mengangguk tanda mengerti kode dari majikannya, lalu mulai membereskan makanan. Dia melakukannya dengan bergegas, karena dia harus segera pulang.
“Ayo kita ke kamar. Kamu habis dari jalan, belum membersihkan diri, sudah tidur di sofa,” ucap Kent sembari berusaha memberdirikan Stella. Stella menurut, sembari menyandarkan kepala di bahu suaminya dan Kent merengkuh badannya, menuntunnya menuju kamar.
“Lula, kau kunci pintu dari luar ya?” perintah Kent yang dijawab dengan anggukan oleh Lula. Kent tidak akan sempat mengecik semua pintu dan jendela sebelum tidur. Biasanya memang Lula yang melakukan semuanya, kecuali mengunci pintu depan. Kali ini, dia tidak akan meninggalkan Stella seorang diri, makanya menyuruh Lula yang mengunci pintu.
“Sepertinya dia hantu, Kent. Wajahnya mengerikan. Aku takut, Kent,” bisik Stella ketika Kent sudah mendudukkannya di ranjang..
“Siapa, Stella?” tanya Kent berusaha memahami. “Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada Lula.”
“Grace. Dia mencari anaknya. Dia tadi … memakai baju biru, bunga-bunga putih!”
Seketika Kent Kallen tertegun. Wanita yang memakai baju biru dengan bunga-bunga putih, adalah memory dari tengkorak di gudang bawah tanah. Dia mencari anaknya--pasti anak yang baru dilahirkannya.