5. Foto Pernikahan

1478 Words
“Kau tahu kan aku paling takut sama mayat!” seru Stella dengan suara berusaha ditahan, agar seluruh pengunjung cafe tidak mendengarnya. Sejak tadi dia sudah uring-uringan dan menarik perhatian beberapa pengunjung. Donita, karibnya sejak kuliah berkali-kali berusaha membungkam mulut Stella yang sangat berisik, khawatir mereka diminta pergi oleh pemilik Cafe karena mengganggu pengunjung yang lain. Cafe yang hanya berjarak satu kilometer dari gedung BnY ini menjadi destinasi Stella bila hendak bertemu dengan teman-temannya--selain dari BnY, di jam istirahat atau sepulang kerja. Suasananya nyaman dan kopinya sesuai dengan selera lidahnya. “Kau tadi bilang tulang belulang?” tanya Donita setengah berbisik. “Bagiku tidak ada bedanya, mereka semua menakutkan bagiku,” keluh Stella. Hari ini meski dia memesan Cappucino kesukaannya juga beberapa muffin kacang, tapi sejak tadi tak ada yang tersentuh. Dia berkali-kali menutup muka dan mengusap kening, pertanda dia sedang galau. “Lalu, apa kata Kallen, suami tampanmu itu?” Donita sengaja hendak menyindir Stella. Sahabatnya itu, berhasil menikah dengan Kent Kallen, setelah melalui perjuangan panjang untuk dekat dengan keluarga The Have tersebut. Mustahil dia meninggalkan Kent begitu saja, hanya karena dia ketakutan pada tulang belulang yang menjadi hobi suaminya. Dia tidak akan mendapatkan sepeser pun bila meminta cerai terlebih dulu. Stella menelungkup wajah di atas meja, membuat cangkir Cappucinonya miring dan hampir tumpah. Donita buru-buru menyelamatkan semua pesanan makanan, meminggirkannya ke tepi meja. Hari ini Stella tidak ingin makan, dia hanya ingin mencurahkan kegalauannya. Dan untuk itu Donita terpaksa harus menunda menjemput anaknya pulang sekolah. Atau Stella bisa-bisa ikut ke sekolah dengannya, dan itu akan merepotkannya. Jadi, lebih baik wanita di hadapannya ini mencurahkan semua uneg-unegnya sebelum dia kembali ke BnY. Donita cukup mendengar dan memberi saran. “Dia mengunci pintu gudang bawah tanah.” Donita mengangguk setuju. “Itu solusi paling tepat, kan? Dia mencegahmu masuk ke sana. Itu artinya, dia tidak ingin kau pergi dari rumah. Selesai?” Stella mengangkat wajahnya dan menatap kesal pada Donita. “Rumahku bukan kuburan!” “Lalu? Kau mau pergi dari rumah itu?” tantang Donita. “Jangan berharap dia akan mengejarmu, kau sendiri tahu bagaimana tipe Kallen. Mereka tidak pernah mengejar wanita, karena semua wanita mengejar mereka. Kau hilang sehari saja dari sisi Kallen, besok bisa-bisa sudah ada selusin wanita mengantri di depan rumahmu. Kent tinggal menjentik jari.” Stella menggeleng. “Dia tidak akan mengkhianatiku dengan wanita lain, Donita. Kau jangan membuatku ketakutan dua kali. Kent tipe lelaki setia.” Donita menghela napas panjang. Setia adalah kata untuk menenangkan diri sendiri, karena tak mau tahu kenyataan di luar sana. Mudah-mudahan saja Kent Kallen hanya menduakan Stella dengan tulang belulang, bukan dengan wanita hidup. Kali ini Donita sepertinya tidak bisa memberi saran bagi Stella untuk tetap tinggal di rumahnya, menjaga suaminya agar tidak diincar wanita lain. Tapi dia juga tidak ingin Stella ketakutan setiap hari. Bagaimanapun juga, tidak semua orang mudah menghilangkan ketakutan dengan logika. “Apa kau mengungsi di tempatku untuk sementara?” Stella menggeleng. “Kent akan diincar selusin wanita, kau tadi bilang begitu.” “Kau tadi bilang Kent tipe lelaki setia, gimana sih?” keluh Donita. Dia melirik jam, anaknya sudah setengah jam yang lalu keluar dari kelas. Pasti sebentar lagi gurunya menelpon. Dia harus segera memberikan solusi pada Stella. “Kent baru saja mempercayakan posisi Direktur BnY padaku, jadi sebaiknya demi posisiku aku jangan sampai keluar dari rumahku, Donita. Atau mertuaku akan turun tangan. Dan kau tahu sendiri, Kent diijinkan menyerahkan posisi itu padaku, karena Jackson Kallen, si milyuner itu memaklumi hobi anaknya.” Donita terdiam. Tiba-tiba terlintas sebuah ide singkat di kepalanya. Dia menatap Stella yang tampak kuyu dengan kantong mata menghitam. Semalam, katanya dia sama sekali tidak bisa tidur, meski Kent Kallen memeluk punggungnya rapat. Bayangan di pelupuk matanya masih saja pada tulang belulang di gudang bawah tanah. Bagaimana bila tulang-tulang itu berjalan seperti prototipe tulang manusia di Laboratorium Biologi saat mereka SMA? Donita jadi mengingat kejadian itu ketika Stella ketakutan hal itu akan terjadi di rumahnya. Kejadian di Laboratorium Biologi SMA itu, akhirnya membuat sekolah mengambil keputusan untuk membakar prototipe tulang manusia itu dan membeli yang baru. Karena hampir setiap malam, prototipe itu berpindah-pindah tempat, dari kelas ke kelas. Membuat banyak siswa absen setiap hari, termasuk Stella--si penakut. Entah kejadian perbuatan siswa yang iseng, atau ada hantu yang merasuki tulang itu. Yang jelas, sakhirnya sekolah memanggil dukun dan dukun itu memberi solusi yang disepakati seluruh dewan guru. Membakar prototipe tulang. Belakangan para siswa mendengar rumor bahwa prototipe tulang belulang itu ternyata asli tulang manusia. Bukan dari plastik atau gypsum seperti yang selama ini mereka kira. “Aku tahu solusinya,” ucapnya sembari menjentik jari di depan hidung Stella. “Apa?” “Kau akan kubawa ke dukun. Hanya dukun yang bisa membuatmu lupa, atau tidak terpengaruh oleh keberadaaan tulang belulang, mayat atau hantu semacamnya.” * Stella memposting foto pernikahannya dengan Kent di akun medsosnya, membuat Kent tersenyum melihatnya. Dia yakin, Stella tidak akan membuktikan ancamannya, untuk meninggalkan rumah ini bila tulang belulang itu masih disimpan Kent di gudang bawah tanah. Stella tergila-gila padanya, dan apa yang telah dilakukannya untuk memikat Kent, telah membuat Kent akhirnya menyerah dan menikahinya. Stella tak pernah tahu sebelumnya mengenai pekerjaan sekaligus hobinya. Karena memang Kent tak pernah mengoleksi apapun di rumahnya yang berkaitan dengan hobinya. Karena Jackson dan Molly pun tidak suka, meski tidak pernah melarang. Setelah menikah, tidak ada yang bisa dilakukan Stella selain menerima kenyataan bahwa Kent bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan tulang belulang daripada dengan dirinya. Dan semalam adalah puncak kemarahannya, yang diyakini Kent adalah protes kerasnya terhadap pekerjaan suaminya saat ini. “Maafkan aku, Stella,” gumam Kent sembari meletakkan ponselnya. Sejak pagi hingga menjelang siang, Kent masih berada di meja makan, sembari menangkup tangan. Sesekali menjawab beberapa chat di ponselnya bila terdengar notifikasi. Lula berkali-kali mondar mandir membereskan rumah, tapi Kent seolah tak melihatnya. Wanita itu juga menghidangkan beberapa makanan di hadapannya, tapi juga tak disentuhnya. Bisanya Lula hanya memahami bahwa dia dan istrinya bertengkar semalam, karena Stella pergi tanpa sarapan. Hanya membuatkan roti panggang dan telur dadar yang sengaja dibuat sangat gosong untuk Kent. Lula sudah menggantinya dengan yang lebih layak untuk dimakan oleh majikannya. “Tuan, saya tidak bisa masuk gudang bawah tanah,” ucap Lula yang tiba-tiba berada di hadapannya. “Mau apa kau ke sana?” tanya Kent, karena dia sudah mengunci pintu menuju gudang dan menyimpan kuncinya di tempat tersembunyi, agar Stella tidak bisa menemukannya. “Saya mau membersihkan gudang.” Kent menggeleng. “Tidak usah dibersihkan.” Lula tampak heran, tapi kemudian dia mengangguk lalu berlalu. Membiarkan majikannya kembali sibuk dengan pikirannya. Sepertinya, hari ini majikannya akan berada seharian di rumah, karena sesiang ini masih memakai piyama. Namun tak lama setelah Lula berlalu, Kent berdiri dan menghadap ke arah dapur. Pintu gudang yang tertutup tepat lurus di hadapannya, dan Lula lalu lalang di depannya dengan penyedot debu. Langkahnya ingin menuju ke gudang, tapi ditahannya. Dia belum siap mengambil memory dari tengkorak itu, bila belum mengetahui dengan pasti apakah Jackson Kallen yang dimaksud wanita itu adalah ayahnya. Meski selama ini data yang dibacanya selalu akurat, tapi kali ini dia khawatir tidak yakin pada dirinya sendiri, karena menyangkut nama Kallen. Mary mengirim pesan kalau Winn menanyakannya kenapa tidak hadir di Agency. Kent beralasan bahwa dia sedang tidak enak badan, dan Mary memakluminya karena dia kemarin melihat Kent begitu pucat saat berada di liang kubur Mike O’Hara. Dan benar prediksi Kent, Minnie O’Hara tidak membayar Agency karena makam itu dinyatakan oleh Agency bukan makam Mike O’Hara. Winn dengan sangat terpaksa mengatakan bahwa itu adalah bantuan sesama alumni saja, jadi tidak usah berharap upah--meski menggali kubur bukan hal yang mudah. Namun Winn ingin menindaklanjuti kasus ini, jadi dia menyuruh membawa semua tulang ke Agency. “Tulang itu tidak boleh keluar dari rumahku, Mary. Kau carilah alasan pada Winn.” “Kau benar-benar menyulitkanku, Kent!” “Aku akan membayar biaya kuliah adikmu.” Tidak ada lagi chat dari Mary setelah itu, membuat Kent bisa berpikir lebih tenang. Saat hendak menuju kamarnya, dia menatap foto pernikahan megahnya terpajang di dinding. “Foto pernikahan, hmmm …” gumamnya. Bila ada anak Jackson Kallen, berarti ada pernikahan antara Jackson Kallen dan wanita itu. Atau bila tidak ada pernikahan, setidaknya ada bukti bahwa ada hubungan antara Jackson Kallen dengan wanita yang melahirkan itu. Jalan pintasnya adalah tinggal menyentuh tengkoraknya dan semua akan terbaca. Kent membuka kedua telapak tangannya, lalu mengamati setiap garis-garis tangannya. Tidak ada yang istimewa di sana, tapi kedua tangan ini berhasil memecahkan banyak kasus yang membeku bertahun-tahun. Yang tak bisa terjamah oleh ahli forensik secanggih apapun. Tapi kali ini, Kent membutuhkan ahli forensik terlebih dulu. Dia tidak ingin menuduh ayahnya menjalin hubungan gelap dengan wanita selain Molly Kallen--wanita yang melahirkannya. Selama ini, hanya itu yang diketahuinya. Bahwa dia punya keluarga yang hangat dan selalu mendukung dan mencintainya. Dia tidak ingin ada kisah lain yang bila dia tahu kebenarannya, akan membuat ibunya sakit hati dan memporakporandakan keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD