4. Pertengkaran Tak Terelakkan

1514 Words
Kent merebahkan badan perlahan, sembari menghela napas panjang. Dia baru saja mandi, membersihkan semua hasil pekerjaannya di gudang bawah tanah tanpa melibatkan pembantunya. Setelah menyiapkan makan malam, Lula--pembantunya yang sebaya dengan ibunya itu pun pulang. Sebentar lagi Stella datang. Dia mulai sibuk dengan urusan menjadi tangan kanan Kent Kallen, calon pewaris Beauty and Young. Bagi Kent, itu akan memudahkan semuanya. Menyerahkan urusan BnY pada istrinya, membiarkan mereka sibuk sehingga tidak merecoki pekerjaannya. Kepemilikan tetap ada padanya, dia cukup menerima laporan dan tanda tangan. Sederhana dan membuat senang semua orang, termasuk ayahnya. Biasanya Kent akan mudah terlelap bila sudah membau bantal. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya kali ini lebih lelah. Rasa penasaran meledak-ledak dalam jiwanya, ingin menyentuh tengkorak wanita yang melahirkan anak Jackson Kallen lagi dan mengetahui siapa dia sebenarnya, apa yang menyebabkan dia terbunuh dan apa saja yang telah dialaminya. Rasa seperti ini, tak akan pernah dia dapatkan bila mengurusi bedak dan lipstik. Tak ada sensasi yang akan memacu adrenaline. Dia tahu, Mary ketakutan melihatnya saat membeku. Lebih tepatnya dia tertegun dalam stadium empat. Mary Hope, rekan kerjanya itu bukan wanita penakut seperti Winn Zachary, bos mereka. Sebagai seorang wanita single, dia justru sangat pemberani. Mungkin karena tuntutan ekonomi. Biasanya manusia akan sanggup bertahan demi kebutuhan dasar hidupnya : makan dan bernapas. Namun sungguh, dia tak pernah berniat membuat Mary ketakutan. Dia hanya sangat terkejut, hal yang seharusnya bisa dia kuasai setelah lama bergabung dengan Bone Agency. Tapi tetap saja, perilaku manusia kerap tak dimengertinya. Kenapa mereka begitu keji memangsa species sendiri, padahal binatang saja tidak ada yang demikian. Hal yang mengejutkan dari tengkorak itu adalah sebuah ucapan wanita yang baru saja melahirkan dan semua itu terekam kuat di memorinya, sehingga bisa terbaca jelas oleh Kent. Siapa bayi merah itu yang baru dilahirkan itu, dirinyakah? Kalau memang itu dirinya, berarti tengkorak itu adalah ibunya. Tapi, bukankah ibunya adalah Molly Kallen? Sejak kecil, hanya wanita itu yang dikenalnya sebagai ibu yang melahirkannya. Apakah ayahnya mempunyai wanita lain, selain ibunya. Dan anak yang dilahirkannya itu entah berada di mana sekarang. Atau …. Kent tiba-tiba duduk, menegak punggung. Bukan karena sorot cahaya lampu mobil beserta derumnya dari luar kamar, pertanda istrinya datang. Tapi sebuah kemungkinan pemikiran yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Apakah tengkorak panjang itu adalah anak yang dilahirkan wanita itu? Anak Jackson Kallen adalah seorang alien? Lalu kenapa ada sebuah informasi bahwa itu adalah makam Mike O’Hara? Apakah itu hanya jebakan atau benar-benar petunjuk akurat? Satu-satunya yang bisa membuktikan pemikirannya hanyalah satu, yaitu mengetahui berapa usia tengkorak itu. Lebih tepatnya kapan dia mati. Yang jelas, ingatan terkuat dari tengkorak itu adalah saat baru saja melahirkan anak Jackson Kallen. Bila dia sudah tahu berapa lama dua tengkorak itu terkubur, maka satu pintu akan terbuka dan seluruh isi memory akan bisa dikaitkan dengan mudah. Suara langkah Stella terdengar, Kent hanya diam menunggu sembari duduk di tepi ranjang. Sepertinya dia tidak akan bisa terlelap malam ini, karena rasa penasarannya semakin menguat, untuk kembali ke ruang bawah tanah dan mengetahui semua memory tengkorak itu. Namun, dia harus menahan diri, hingga Stella tertidur. Atau menunggu besok pagi saat Stella sudah berangkat ke BnY. Dia tidak ingin memulai pertengkaran. Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, dan Stella berdiri dengan stelan blazer merah muda--warna kesukaannya. Dia luar biasa cantik, apalagi dengan make up eksklusif BnY, yang tidak luntur meski sudah dipakai sejak dua belas jam yang lalu. “Apa yang dilakukan Mary Hope di sini?” tanya Stella dengan nada tajam dan tatapan menusuk. Kent terperangah. Kenapa Stella tahu-tahu menanyakan soal Mary Hope? Padahal selama ini dia tak pernah mau peduli dengan pekerjaannya di BnY, bahkan Kent tidak mengira Stella tahu nama partner dan bosnya--meski kadang Kent mengundang mereka untuk makan malam bersama keluarga besarnya. Bone Agency memang cuma punya tiga personnel, dan nama ketiganya memang tidak sulit untuk diingat. Tapi Stella mempertanyakan apa yang dilakukan Mary Hope itu artinya dia tahu kalau … Kent menarik napas pendek ketika teringat bahwa Mary Hope sempat berkenalan dengan Lula, pembantu mereka. Bahkan Lula sempat menawari Mary untuk pulang setelah dia selesai menyiapkan makan malam. Tapi dia menolak karena adiknya minta dijemput pulang kuliah. “Dia membantuku membawa barang,” jawab Kent. Dia tak perlu menjelaskan panjang lebar, karena Stella pasti bisa mengecek di CCTV. Istrinya tidak akan semudah itu cemburu, apalagi pada wanita dengan strata sosial jauh di bawahnya. “Barang?” “Ya, aku taruh di gudang bawah tanah.” Stella duduk di kursi di hadapan suaminya, sembari melipat tangan. “Barang apa yang membuat kalian berdua harus berdua di gudang bawah tanah? Lebih dari setengah jam?” Kent menatap Stella. Sepertinya di BnY ada beban pekerjaan yang begitu berat, sehingga masalah Mary Hope mengangkut karung saja sudah membuat istrinya berbicara dengan nada meninggi dan tatapan penuh tuduhan. “Come on Stella, kau tahu apa pekerjaanku, kan? Mary hanya membantuku membawa barang. Tidak usah kau besar-besarkan. Lagipula ada Lula selama Mary di sini, dia tahu apa yang kami lakukan.” Stella terdiam, tapi Kent yakin istrinya tidak akan semudah itu percaya pada kata-katanya. Dia akan menginterogasi Lula lebih dalam, mengecek CCTV dan bisa jadi akan mendatangi Mary Hope. Pertanyaannya sudah menunjukkan bahwa kedatangan Mary sudah merupakan ancaman bagi keberadaannya sebagai istri Kent Kallen. “Aku tidak suka urusan pekerjaan dibawa ke dalam rumah!” sergah Stella sembari bangkit dari kursi. Kent mendengus pelan. “Lalu BnY? Itu selalu menjadi pembicaraanmu menjelang tidur.” “Itu beda, Kent! Itu perusahaan keluarga besar kita!” Stella meninggalkan kamar dengan menghentak kaki. Untunglah dia sudah melepas sepatu high heel-nya, kalau tidak pasti sudah patah. Kent tiba-tiba merasa kepalanya berat. Sepeninggal Stella dia langsung merebahkan diri, dan membaui aroma bantal. Dalam hitungan detik dia pasti akan terlelap. Dan besok akan mendapati Stella memeluk punggungnya. Wanita itu, cepat meledak dan cepat mereda. Dan Stella tak akan bisa meninggalkannya begitu saja. Wanita posesif itu akan selalu kembali padanya, meski Kent sudah membuatnya kesal setengah mati. * Kent berada antara sadar dan terlelap, tubuhnya sudah rilex dan nyaman, dengan aroma bantal. Ketika dia mendengar Stella berteriak memanggil namanya. Seolah dia memakai pengeras suara, dan panggilan itu menggema ke seluruh penjuru rumah. “Kenttttttt!” Kent terduduk seketika dan mendapati dirinya sendirian di ranjang. Itu suara Stella yang histeris memanggilnya, bukan mimpi antara lelap dan sadar. “Kenttttttt! Kemari kau!” Benar, itu Stella. Kent bergegas turun dari tempat tidur dan mencari sumber suara. Jangan-jangan ada penjahat masuk rumah gara-gara Stella lupa mengaktifkan alarm dan istrinya itu sekarang dalam ancaman. Namun dia mendapati setiap ruangan di rumahnya kosong melompong. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur dan … “Kentttt!” Kent terkesiap. Gudang bawah tanah. Pintu gudang itu ada di sebelah lemari dapur dan dalam keadaan terbuka. Suara Stella berasal dari bawah sana dan sudah pasti itu amat sangat gawat sekali. Kent menarik napas panjang, berusaha mengatur napas, lalu menuruni anak tangga menuju gudang bawah tanah. Dan dugaannya benar. Stella berjongkok di mulut gudang, dengan wajah pucat sembari memeluk tembok. “Ada apa, Stella?” tanya Kent sembari berusaha mengangkat tubuh istrinya, membantunya untuk berdiri. Dan dirasakannya lutut istrinya itu gemetar. Rasa cemburunya pasti membuatnya nekad turun ke gudang bawah tanah, untuk menyelidiki apa yang dilakukan Mary Hope dan suaminya. “Buang itu semua, Kent! Buaannng!” teriak Stella histeris, sembari memukuli bahu Kent. Kent berusaha menghentikan istrinya yang histeris dengan memeluknya erat. “Stella, itu hanya tulang belulang orang mati!” “Buaangg!” “Stella, tenangkan dirimu. Itu hanya tulang, tidak akan mengganggumu. Ini hanya pekerjaan yang terpaksa harus aku bawa pulang, karena di kantor sudah penuh dengan tulang belulang. Tidak ada tempat, jadi aku bawa pulang. Please, mengertilah!” Stella mendorong bahu suaminya kuat-kuat. Lalu berlari menaiki anak tangga. “Aku tidak mau melihat itu di sini, ini bukan kuburan!” “Stella!” panggil Kent. Dia hendak berlari menyusul istrinya, tapi dia harus memastikan lebih dulu bahwa tulang belulang di atas meja tenis itu tidak dihempaskan semua oleh Stella. Ternyata aman, semuanya tetap dalam posisi semula. Kent pun berlari menyusul istrinya yang berlari kencang menuju kamar mereka dan dia mendengar suara mendebam pintu kamar dibanting. Kent membuka pintu perlahan dan mendapati Stella sudah menggelung diri di atas ranjang dan menutup kepalanya dengan bantal. “Stella ..” panggil Kent perlahan, sembari menyentuh punggung istrinya. Stella menjengit dan beringsut menjauh. Dia juga berteriak di dalam bantal, menyuruh Kent pergi. Suara terdengar jauh, dan Kent menjadi khawatir istrinya kehabisan napas. Dia lalu menarik bantal yang menutupi wajah istrinya, namun istrinya malah mempertahankan bantalnya. Ujung-ujungnya karena Kent lebih kuat, Stella melepaskan bantal itu, lalu meraih bantal-bantal lain dan melemparkan ke arah Kent. Saat mereka baru menikah, lempar bantal ini menjadi kegiatan mesra mereka hampir setiap malam dan diakhiri dengan saling melempar baju yang sedang dipakai. Tapi malam itu, itu tidak akan terjadi. “Singkirkan semua tulang itu dari rumah ini, Kent!” teriak Stella. “Atau …” “Atau?” tanya Kent sembari merangkak di atas ranjang mendekati istrinya yang melotot marah ke arahnya. Sepertinya Stella tidak akan bisa dirayu dalam kondisi ini, tapi Kent selama ini Kent selalu berhasil dalam kondisi apapun. “Atau aku yang pergi dari rumah ini!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD