3. Membawa Pulang Tengkorak

1510 Words
“Kent! Kau bisa merusaknya!” pekik Mary. Meski demikian dia tak hendak mengambil tengkorak itu dan menyelamatkannya. “Bos bisa memecat kita bila tengkorak itu rusak, tahu!” Tidak ada sahutan dari Kent Kallen, membuat Mary menarik bahu lelaki itu agar meresponnya. Namun yang didapatinya ketika Kent menoleh adalah wajah pucat Kent Kallen seolah habis melihat hantu. “Kent, kau jangan menakut-nakuti aku!” seru Mary. Namun Kent tetap pada kondisinya. Membeku menatap tengkorak di pojok liang kuburan itu, bibirnya malah mulai gemetar. Mary semakin ketakutan melihat Kent. Sepertinya Kent mengalami shock, pasti karena memory dari tengkorak itu sempat terbaca olehnya. Mary ingat, partner kerjanya ini pernah mengalami hal yang sama saat membaca tengkorak pelaku pembunuhan berantai. Dia seperti manusia yang baru dikeluarkan dari freezer, membeku, pucat dan tangannya dingin. Sampai berhari-hari dia belum mau menceritakan apa yang sudah diketahuinya dari tengkorak pelaku tersebut. Dan saat dia sudah pulih dan mulai menceritakan pada Mary, Mary pun sampai muntah mendengarnya. Benar-benar mengerikan. Pelaku pembunuhan berantai itu memang terkenal mengerikan dan tak pernah tertangkap polisi selama bertahun-tahun. Dia tidak hanya membunuh dengan sadis, memutilasi, tapi juga memakan daging korbannya saat masih hidup. Beberapa korban yang ditemukan malah ada yang tinggal bagian kepala dan perut yang masih utuh, selebihnya tinggal tulang karena daging yang dipotong sedikit demi sedikit--saat masih hidup. Memang akhirnya pembunuh bengis itu terbunuh oleh korban terakhirnya--rupanya korban ini berani dan sukses melawan. Tapi akhir hidup pembunuh berantai ini benar-benar mengerikan. Sembari menanti ajal karena tusukan besi panjang korban terakhirnya, dia mulai memakan sendiri dagingnya, bahkan menjilati darahnya. Tubuhnya yang sudah menjadi tulang belulang ditemukan setahun kemudian di sebuah gubug di tepi hutan, tempat dia biasa membantai korbannya. Waktu itu, Bone Agency mendapat pekerjaan besar karena Kent bisa memberikan keterangan dengan tepat apa yang berhasil dibacanya dari tengkorak pembunuh berantai itu, berikut korban-korbannya yang bergeletakan di tepi hutan. Sejak itu, sepertinya Kent mulai terbiasa dengan pekerjaan mereka. Begitu juga Mary. Kini, ekspresi itu muncul lagi di wajah Kent, pastinya apa yang dialami tengkorak itu di akhir hidupnya sangat mengerikan. Beberapa lama, akhirnya Mary memutuskan untuk keluar lebih dulu dari liang, dan hendak memanggil bos mereka. Setidaknya, bos bisa mengatasi apa yang terjadi pada Kent. Mary melongokkan kepala dari liang dan tidak lagi mendapati bos dan adik Mike O’Hara di tepi kuburan. Rupanya mereka pulang lebih dulu, meninggalkan mereka berdua di dalam liang. “Sialan!” maki Mary, lalu kembali masuk kembali ke dalam liang. Baru kali ini dia tiba-tiba merasa begitu takut berada di liang kubur, seolah kematian adalah miliknya sekarang. Kent masih berdiri, tidak mengubah posisi. Juga tidak memegang tengkorak yang dilemparkannya tadi, untuk mengetahui memory lebih banyak lagi. Maka Mary pun memukul punggung Kent Kallen sekeras-kerasnya. “Kent! Ayo pulang!” Sontak Kent terperangah seperti disadarkan dari lamunan. Dia menoleh pada Mary, tapi tidak marah dengan pukulan sekeras itu, padahal Mary sudah khawatir akan mendapat balasan pukulan, sehingga dia menyembunyikan tangan yang sudah digunakannya untuk memukul Kent, di belakang punggungnya. Bila di kantor, Kent akan membalas menimpuknya dengan apapun yang ada di sekitarnya. Tapi Kent malah menatap Mary seolah ada ribuan pertanyaan hendak meluncur dari bibir pucatnya. “Ayo … pulang …” ucap Mary setengah berbisik sekaligus bergidik, tapi dia yakin partner berambut keriting di hadapannya itu mendengar dengan jelas. Lelaki itu mengangguk. “Kau yang masukkan semua tengkorak itu!” ucapnya datar, lalu mendahului keluar dari liang. Mary mendelik, memanggil-manggil nama Kent, tapi tidak ada jawaban. “Sialan kau Kent!” maki Mary sembari menatap dua tengkorak di hadapannya, juga karung di tangannya. Meski dia paham kenapa Kent menyuruhnya. Karena setiap sentuhan Kent di tengkorak itu akan membuatnya mengetahui apa saja isi memory si pemilik tengkorak semasa hidupnya. Kent pernah berkata, bahwa ingatan yang paling jelas adalah saat kematian, dan semakin ke belakang semakin memudar. Namun beberapa ingatan yang sangat kuat akan terbaca oleh Kent, terutama ingatan yang paling berkesan, menyenangkan dan menyedihkan. Ingatan yang memberi dampak kuat pada emosi. * “Kau yakin?” tanya Mary ketika Kent minta diturunkan di depan rumahnya, bersama dua karung tengkorak di bagasi. “Bukannya istrimu …” “Dia tidak akan tahu, dia masih di luar kota,” sela Kent. Stella tidak pernah menyukai pekerjaan Kent yang berurusan dengan tengkorak. Bagi Stella, itu sama saja dengan berurusan dengan dunia hitam, sihir, mistis atau sejenisnya. “Akan kusimpan di gudang bawah tanah.” Mary mengernyit kening. “Kau punya gudang bawah tanah, apa saja yang kau simpan di sana? Tengkorak? Kau benar-benar aneh, Kent.” Mary memencet tombol di dashboard dan pintu bagasi terlihat terbuka di belakang. Mary sedikit merasa lega, setidaknya dia tidak ada pekerjaan besok pagi di Bone Agency, karena tidak ada tulang yang harus ia susun. Namun dia kemudian teringat sesuatu. “Tapi kalau Bos nanya gimana?” “Kan sudah kita bilang kalau itu bukan makam Mike O’Hara,” jawab Kent Kallen sembari turun dari mobil dan menutup pintu. Mary mengikutinya berjalan ke belakang mobil. Keduanya menatap dua karung berisi tulang belulang yang mereka bawa dari makam Mike O’Hara. Satu karung tampak lebih besar dari yang lain, tentu saja karena satu karung itu berisi tulang belulang alien--kata Kent. Tulangnya lebih panjang dan lebih besar. Sedangkan karung lain, besarnya standar, karena berisi tulang manusia. “Menurutmu, mana yang Mike O’Hara?” tanya Mary hati-hati sembari melirik Kent. Dia lega, Kent bisa dengan mudah menguasai dirinya, tidak lagi pucat dan membeku. “Yang ini,” sahut Kent sembari mengambil karung yang besar dan membawanya lebih dulu ke dalam rumahnya. Mary pun membawa karung satunya. Mengikuti Kent berjalan menuju rumah besarnya, rumah yang sama sekali tidak cocok untuk seorang profiler bergaji kecil seperti Kent. Seharusnya dia menerima saja warisan dari ayahnya, mengurus perusahaan yang asetnya tidak akan habis tujuh turunan. Tapi lelaki ini lebih suka masuk ke liang kubur dan membawa pulang tengkorak. Mary bersyukur, lelaki ini sudah kawin, kalau tidak bisa-bisa dia jatuh cinta--maklum Kent Kallen lebih cocok jadi artis daripada jadi tukang gali kubur. Kalau mereka berdua menjadi suami istri, bisa-bisa seisi rumah mereka berhias tulang belulang manusia. Gudang bawah tanah rumah Kent Kallen jauh dari bayangan Mary. Sebuah ruangan pengap berdinding bata dengan lampu remang-remang. Gudang bawah tanah milik Kent, nyaris sama dengan kamar tidurnya. Rapi, bersih, luas, terang dan hanya ada beberapa lemari kuno. Ada sebuah meja tenis bekas di tengah ruangan. Juga beberapa alat olah raga tak terpakai di sudut ruangan. “Jadi ini yang kau sebut gudang bawah tanah?” tanya Mary sembari meniru Kent, meletakkan karung tulang belulang yang dibawanya di atas meja tenis. “Kau menuruni tangga tadi,” sahut Kent datar. Mary mengangguk. Menuruni tangga, berarti menuju ruang bawah tanah. Penjelasan yang masuk akal, meski ruangan ini tidak bisa dikatakan gudang. Ini sebuah kamar yang cukup menyenangkan untuk menghindar sejenak dari hiruk pikuk dunia di atas sana, karena suara sepertinya teredam--membuat ruangan ini sangat senyap. Kent membuka ikatan karung yang dibawa Mary dan mulai mengeluarkan tulang belulangnya ke atas meja. Dan dia membiarkan karung yang lebih besar tetap di atas meja, terikat. Mary sudah bisa menduga, tengkorak manusia itu lebih menarik bagi Kent, karena sudah membuatnya shock dan membeku. Namun saat tinggal tengkorak, dia menyuruh Mary yang mengeluarkannya dari dalam karung. Meski menduga bahwa Kent tidak ingin membeku lagi, Mary menurut. Dikeluarkannya tengkorak itu dari dalam karung, dan tanpa disuruh, dia mulai menyusunnya di atas meja tenis. Seperti halnya bila hendak memulai pekerjaan di Bone Agency--menyusun tulang belulang. “Tidak usah terlalu akurat,” perintah Kent. “Asal cukup membentuk susunan tulangnya. Nanti aku yang akan menyusunnya sendiri.” Mary mengangguk. Kent menurunkan karung besar dan meletakkannya di sudut ruangan. “Kent, bagaimana dengan Mike O’Hara? Bukankah kita harus membawanya ke Agency?” Kent terdiam sejenak. “Kata bos, akan lebih baik bagi Minnie untuk terus berharap kakaknya hidup dan akan kembali suatu saat nanti. Dia tidak akan sanggup menerima kalau kakaknya seorang alien. Dan bila tulang itu berada di Agency, habislah kita. Pemerintah tidak akan tinggal diam.” “Maksudmu?” “Urusan makhluk luar angkasa itu di luar wewenang kita. Selalu menjadi rahasia di dalam rahasia, meski banyak media mengungkap. Kau ingin aku tidak di Bone Agency lagi?” Mary mengendik bahu. “Kurasa Bos yang akan kehilangan, kau tahu kan kalau aslinya dia hanya bisa melobi proyek ke mana-mana.” Kent mengangguk. “Itu keahliannya. Makanya dia jadi bos, atau kau tidak akan digaji. Dan adikmu tidak bisa kuliah.” Mary mengerucutkan bibirnya. Bagi Kent, uang bukan masalah penting, tidak seperti Mary. Bila dia telah gajian karena dana proyek belum turun dari pemerintah, bisa-bisa untuk makan dia akan selalu ngutang pada Kent--meski Kent kerap mentraktirnya. Tapi adiknya yang kuliah yang menjadi beban pikirannya. “Jadi, apa yang akan kita katakan pada Bos soal Mike O’Hara?” tanya Mary sembari membersihkan bekas-bekas tanah di tulang belulang tak dikenal di atas meja tenis ini. Untuk sementara, baru Kent yang mengetahui siapa dia, dan Mary tidak ingin terburu-buru mengetahuinya. Apalagi ekspresi Kent sudah membuatnya bergidik tadi. Biarlah, partnernya itu akan mengatakannya, mungkin beberapa hari lagi. “Salah kuburan. Bos tidak akan mengecek, lagipula Minnie juga tidak akan membayar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD