2. Makam Mike O'Hara

1777 Words
“Ini bukan hobi, Mary, kau tahu kan?” Mary Hope cukup mengangguk berkali-kali untuk menyenangkan hati Kent Kallen. Kalau tidak rekan kerjanya itu hanya akan melipat tangan seharian sembari mengerut wajah. Sifat mudah tersulut emosinya tak jauh beda dengan Molly Kallen. Mary sesekali diajak makan malam oleh keluarga Kallen, dan dia nyaris bisa membaca semua karakter anggota keluarga konglomerat kosmetik itu. Yang disukainya dari Kent Kallen adalah wajah tampannya. Manik mata hitam pekatnya seperti Jackson Kallen, hanya saja dia punya senyum yang berbeda. Jackson tampak penyabar dan bijaksana. Kent lebih spontan, mungkin karena masih belia. Kent datang dengan segunung kekesalan. Bahwa dia ternyata sudah didaftarkan oleh ayahnya sebagai pewaris tunggal perusahaan kosmetik milik ayahnya. Dan mau tidak mau dia sudah harus masuk ke perusahaan, meski kata Stella tak satupun Direktur ada yang mendukungnya, selain istrinya sendiri. Dan yang menambah kekesalannya adalah ayahnya mengatakan kalau pekerjaannya saat ini hanyalah hobi untuk menambah pengalaman. “Aku mencintai pekerjaan ini. Meski Bos memecatku, aku tetap akan mencari tengkorak-tengkorak di luar sana. Kau tidak tahu bagaimana mereka menangis meminta pertolongan saat ajal menjemput mereka.” Mary menelan ludah. Sumpah dia tidak ingin tahu. Segala hal tentang menjemput kematian, selalu mengingatkannya pada mendiang ayah dan ibunya. Dia berada di samping mereka saat meregang nyawa. Dan dia tidak pernah ingin tahu apa yang ada dalam pikiran mereka saat itu. Biarkan mereka damai di alam sana, tak perlu diusiknya. “Kalau begitu, sebaiknya kau tingkatkan kemampuanmu. Bos ingin menunjukkan pada Divisi Forensik bahwa kita bukan Agency abal-abal. Kami mengandalkanmu.” Kent menatap Mary Hope. Gadis seperempat abad itu menatapnya penuh harap seolah mengatakan bahwa dia juga punya kehidupan di luar Agency. Dia sudah menghabiskan masa lajangnya dengan tulang belulang. Kent meraih sebuah tulang lengan dari tulang belulang yang sudah tersusun berdasarkan urutan tulang manusia. Mendekap tulang itu di dadanya, sembari memejamkan mata. Lalu mengelus-eluskan jemarinya di permukaan tulang. Ritual ini, tak pernah diganggu oleh Mary, karena Kent akan marah bila dia mendengar yang merusak konsentrasinya. Winn Zachary memasuki ruang Lab dan Mary langsung memberi kode pada bos-nya untuk tidak bersuara, dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya. Winn memelankan langkahnya mendekati Mary yang berdiri di hadapan Kent, berbatas meja yang dipenuhi tulang. “Dia bisa melakukannya?” bisik Winn sepelan mungkin di telinga Mary. Mary hanya mengangguk. Sepuluh menit, terasa begitu lama bagi Winn. Divisi Forensik sudah akan mengirim tulang belulang baru, dan dia belum bisa mengidentifikasi satu tulang pun di ruangan ini. Klontang! Winn dan Mary melongo melihat tulang yang dipegang Kent tahu-tahu masuk ke dalam baskom di atas meja. Kent melemparkannya dengan tatapan putus asa. “Sudah kubilang, aku tidak bisa tanpa tengkorak!” Kent mendengus marah. Winn hendak membuka mulut, tapi Mary menarik tangannya dan menggelengkan kepala. Jangan pernah membuat masalah baru bila Kent sedang dalam mode kesal. Atau Agency mereka kehilangan satu-satunya orang yang bisa menghasilkan uang. “Baiklah, aku akan memberimu tengkorak.” Winn memberi kode pada Kent untuk mengikutinya ke ruang pertemuan, atau lebih tepatnya sebuah ruang tamu dengan satu sofa menghadap televisi. Tentu saja karena Bone Agency menempati lantai bawah rumah Winn Zachary. Mary benar-benar putus asa. Menatap meja dengan tulang belulang di atasnya dan tidak berhasil mengidentifikasi apapun. * Winn melemparkan sebuah dokumen ke pangkuan Kent. Sejenak teringat bagaimana dia melempar dokumen pengajuan susunan Dewan Direktur baru yang dibuat oleh Stella dan menempatkan namanya di sana. Ternyata, ayahnya punya keputusan yang lebih mengejutkan. Kent perlahan membuka lembar demi lembar dokumen di tangannya. Sebuah pas foto yang tampak buram dilekatkan dengan klip di atas lembar dokumen yang lain. “Mike O’Hara?” Suaranya terdengar sedikit riang saat membaca profil pemilik foto, membuat Winn menghela napas lega. Biarlah tulang belulang di Laboratorium itu akan dipikirkannya kemudian, yang jelas bulan ini Agency-nya harus mendapatkan penghasilan. Dan kasus Mike O’Hara adalah kasus yang bisa ditangani Kent dengan mudah. “Dia sahabatku. Aku tak pernah mendengar kabarnya sejak tiga puluh tahun lalu. Kupikir dia ke luar negeri atau sudah kaya sehingga melupakan teman. Ternyata dia sudah mati.” “Terus?” Winn mengulas senyum. Lelaki ini memang mudah berubah suasana hatinya, asal menemukan kasus. “Adiknya datang menemuiku. Dia akan menjual rumahnya, sehingga dia membongkar barang-barang peninggalan Mike. Mike pergi tanpa kabar tiga puluh tahun yang lalu, dan keluarga O’Hara masih menyangka kalau dia masih hidup dan akan kembali suatu hari nanti. Nah, di antara tumpukan barang, dia menemukan sepucuk surat yang ditujukan pada mendiang ayah dan ibu Mike O’Hara. Isinya adalah lokasi makam O’Hara.” Kent menutup dokumen itu dan memasang wajah serius menghadap atasannya. Dia siap mendengarkan dengan seksama. Hal yang sangat disukai oleh Winn. Kent selalu antusias bila Winn mendapat kasus, asalkan tulang belulangnya ada tengkoraknya. “Lanjutkan, Bos.” “Minnie O’Hara menemuiku kemarin. Waktu reuni SMA-ku, aku pernah memberinya kartu nama, dengan logo lama sih …” “Mary tidak suka logo yang baru, Bos,” sela Kent, mumpung atasannya menyinggung logo yang baru. “Dia merasa seperti bajak laut.” “Oke, aku akan menggantinya setelah kartu nama kalian habis.” Bagi Winn itu bukan masalah besar, tapi demi agar anak buahnya bekerja dengan baik dan cepat, dia harus memenuhinya. “Jadi Minnie ingin aku memastikan bahwa yang berada di dalam makam itu, bukan jasad Mike. Karena Minnie masih mengharapkan kakaknya kembali, utuh dan hidup.” Kent manggut-manggut. “Kenapa dia tidak lapor polisi? Bukankah laporan kehilangan itu pasti masih tersimpan di sana?” Winn mengendik bahu. “Dia sudah terlalu sering kecewa. Sudah puluhan mayat yang ditunjukkan polisi dan tak satupun dari mayat itu adalah Mike O’Hara. Dan baru kali ini dia menemukan petunjuk sebuah kuburan. Dia hanya tidak ingin kecewa lagi, meski dalam setiap kekecewaan itu dia merasa lega bahwa masih ada harapan kakaknya hidup dan kembali.” “Kenapa surat itu menunjukkan kuburan?” Winn menepuk bahu Kent. “Bukankah kau akan mengetahuinya setelah menyentuh tengkoraknya? Aku harap tulang belulangnya lengkap dengan tengkoraknya.” * Minnie O’Hara berdiri di sebelah Winn sembari memeluk dirinya. Dia sungguh tak berharap, makam yang sedang dibongkar oleh tim penggali kubur Bone Agency adalah makam Mike, kakak yang selalu dirindukannya. Setelah tukang gali kubur menemukan peti mati, Kent dan Mary pun masuk ke dalam liang, siap melaksanakan tugasnya. Perlahan Kent membuka peti dengan sebilah besi andalannya. Sementara Mary mengambil video. Video yang diambil di setiap pembongkaran makam sangat penting untuk mengetahui apa saja yang ada di dalam makam yang kadang luput dari perhatian mereka. Jika benar ini adalah kuburan Mike O’Hara, maka siapapun yang menguburkannya, tidak melalui prosesi pemakaman yang layak. Jasadnya dibungkus plastik, dan pakaian yang dikenakannya berupa celana jeans dan jacket team Football dengan logo sekolah. Bahkan dia masih mengenakan topi dengan logo Team Football. Semua ciri kostumnya sesuai dengan ciri yang diberikan Minnie. Perlahan Kent menyobek plastik dan membuka topi itu, lalu memberi ruang pada Mary untuk mengambil gambarnya. Namun sejurus kemudian dia tertegun. “Mary, apa kau melihat apa yang kupikirkan?” Mary menegang, terutama ketika Kent mulai membuka baju dan jacket yang mulai lapuk. “Tengkoraknya lonjong ke belakang, tulang belakangnya panjang melengkung dan berekor panjang. Tulang belulang ini seperti …” Mary tidak meneruskan kalimatnya. Dia berusaha menggali ingatannya pada mata kuliah Anatomi yang pernah diambilnya. Dan semua ingatannya tentang materi kuliah tiba-tiba saja lenyap tak berbekas. “Reptil,” bisik Kent. “Ini bukan manusia. Ini alien.” Mary nyaris melompat keluar dari makam kalau saja Kent tidak memegang tangannya. Kalimat Kent begitu mengerikan baginya. Bahwa dia sedang berada di makam alien. “Mary, dengarkan aku,” bisik Kent dan merasakan tangan Mery gemetar. Gadis ini tak pernah nampak sepucat ini saat menggali makam. Dia jauh lebih pemberani daripada Winn yang tak pernah mau melongok ke dalam liang saat mereka menggali. “Kent? Sudah selesai?” teriak Winn. “Kent?” Kent menatap Mary lekat-lekat dan mencengkeram lengannya yang sedang memegang kamera. Lengan itu gemetar. “Ingat Mary, ada wanita yang tidak ingin makam ini adalah makam Mike O’Hara. Meski baju terakhir yang dipakai Mike O’hara adalah baju yang dipakai makhluk ini, apa kau tega mengatakan bahwa kakaknya ternyata alien?” Bibir Mary masih gemetar dan dia hanya bisa mengangguk pelan. Kent berdiri di tepi peti dan melambai ke arah Winn dan Minnie. “Ini bukan Mike O’Hara. Ini makam seorang perempuan!” teriak Kent. Dan dia tersenyum selebar-lebarnya ketika melihat Minnie langsung memeluk Winn sembari menangis lega. Krak! Kent terjatuh, menimpa tulang belulang Mike O’Hara alias alien bertengkorak lonjong. Mary merekam semuanya, dan menyaksikan bagaimana peti lapuk itu pecah di bagian tepi-tepinya. “Lagian kenapa kamu berdiri di atas peti?” sergah Mary, tanpa berusaha menolong. Dia fokus merekam semuanya meski tangannya tak berhenti bergetar. “Kita harus membawa semua tulang ini ke Lab, Mary. Tanpa sisa. Aku tidak tahu makhluk apa ini, yang jelas dia bukan manusia. Kita angkut setelah Minnie pulang.” “Kau akan membaca tengkoraknya di sini?” tanya Mary. Kent menggeleng. “Aku belum siap untuk tengkorak Alien. Kurasa aku akan membacanya di Lab, dan kau harus merekam saat aku membacanya. Dan ingat, tidak boleh ada yang tahu perihal rangka alien ini, Mary. Atau Agency kita dalam masalah besar, berurusan dengan negara, Area 52 dan protokol medis, keamanan, politik dan t***k bengek lainnya. Kita bisa kehilangan Bone Agency dalam hitungan menit.” Mary mengangguk. Dilihatnya Kent tampak antusias dengan rangka alien di hadapan mereka. Biasanya dia akan langsung membaca rekaman tengkorak di tempat dan meminta Mary merekamnya. Mary lalu menarik kantong yang biasa mereka pakai untuk mengumpulkan tulang dan melemparkannya ke arah tengkorak makhluk alien itu. Ketika kantong itu menutupinya, Mary sedikit lega karena ketakutannya sedikit berkurang. Meski dia sudah puluhan kali bersama Kent bergelut dengan tulang belulang, tapi tulang alien entah kenapa membuatnya ngeri. Takut tiba-tiba mereka bangkit dan berjalan seperti replika tulang Dinosaurus di museum. “Kali ini, kau bungkuslah sendiri,” ucap Mary. Kent melemparkan pecahan peti ke luar makam. Winn yang melihatnya dari kejauhan, bergegas mengajak Minne meninggalkan area makam. Seperti biasa--dan dia menganggap patut sebagai Bos, dia tidak perlu menunggu pekerjaan anak buahnya. Meski sebenarnya karena dia sendiri tidak berani melihat bagaimana tulang-tulang itu bangkit dari kubur. “Tunggu, apa ini? Mary, sorot ke sini.” Mary menyorotkan kameranya ke bagian luar peti yang kayunya sudah dibuang Kent ke luar makam. Ada tengkorak lain yang menyembul dari tanah di sana. “Ada manusia di kubur di lobang yang sama,” ucap Mary ketika Kent menggali sekeliling tengkorak itu dengan cangkul kecilnya. Perlahan Kent berusaha mengeluarkan tengkorak itu dari timbunan tanah, dan seketika dia mendengar suara-suara dari memory tengkorak yang disentuhnya. Kent memejam dan melihat bayi merah yang baru dilahirkan dalam pelukan pemilik tengkorak. “Dia anak Jackson Kallen,” ucap si pemilik tengkorak, membuat Kent melempar tengkorak itu saking terkejutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD