10. Harapan Ayah

1273 Words
Flora menikmati makan malamnya bersama dengan Javier dan Tendra di salah satu kedai sea food yang tak jauh dari hotel tempat mereka bertemu Kiara tadi. Mereka makan dengan lahap, terutama Flora. Javier sampai tak henti-hentinya tersenyum melihat Flora makan selahap itu, bahkan Flora meminta nasi tambahan yang sebelumnya Flora tidak lakukan itu. Flora biasanya tak dapat menghabiskan satu porsi makanannya dan harus berbagi dengan Javier ataupun Jeffran. Namun, perihal sea food Flora akan menjadi Flora yang berbeda. "Flo, pelan-pelan makannya." Javier mengambil tisu dan mengusap suduh bibir Flora yang terkena saus dari sea food nya itu. Hal ini biasa untuk Javier dan Flora. Namun tidak dengan Tendra, melihat Javier memberikan perhatian seperti itu pada Flora membuat Tendra cukup terkejut, bahkan dia mematung beberapa saat karena keterkejutannya. "Gue gak yakin kalian dari dulu cuma temenan. Atau sekarang mungkin gak temenan, pacaran misalnya," celetuk Tendra. Javier dan Flora hanya terkekeh mendengarnya. "Lo orang ke sekian ratus yang bilang gitu," balas Flora. "Emm … anyway Flo, cewek tadi itu—" ucapan Tendra terpotong oleh Javier dan Flora. "Ceweknya Jeffran." Flora dan Javier bahkan mengatakan hal ini secara bersamaan. Tendra yang mendengarnya langsung tersedak karena posisinya dia sedang mengunyah makanannya. Bukan tersedak karena kaget Flora dan Javier kompak berbicara hal sama. Namun, Tendra terkejut karena mengetahui bahwa perempuan tadi—Kiara— adalah pacar dari Jeffran. "Hahahaha kaget ya lo bang? Iya itu dia pacarnya abang gue, Kiara namanya, emang tenggil anaknya, pengen gue jambak rasanya kalau liat muka dia, enggep banget gue," cerocos Javier. "Sabar pakk sabar!" seru Flora. "Gak bisa, kesabaran gue cuma setinggi pohon toge!" Tendra meletakan minumnya usai meneguknya untuk meredakan rasa yang menyangkut di tenggorakannya. "Jadi, itu cewek pacarnya Jeffran? Yang Senja pernah cerita?" tanya Tendra. Flora dan Javier kompak mengangguk. "Oh my goshh … gak nyangka gue ketemu sama orang yang pernah ngerusak hubungan adek gue sama calon suaminya. Tau gitu tadi gue bantu Javier jambak dia." Tendra, dia memang kakak kandung dari Senja. Dia tau perempuan yang membuat hubungan Senja dan kekasihnya selesai adalah pacar Jeffran, namun, dia tidak pernah tau wujud atau wajah dari pacarnya Jeffran. "Dia tadi udah mikir negatife ke lo, Flo. Kenapa tadi lo gak bilang aja lo di hotel ngapain?" ujar Tendra. "Ngapain? Repot amat, lagian kalau dia nyebarin berita yang jelek tentang gue perihal gue berbuat hal yang enggak-enggak di hotel, siapa yang bakal percaya? Orang yang dikenal di kampus dengan reputasi seperti itu mau nyebarin berita seperti itu juga? Bakal banyak orang yang lebih percaya sama gue," balas Flora dengan santainya. "Oke, dia gak ngadu ke temen-temen kampus, tapi … gimana kalau dia ngadu ke Jeffran?" tanya Tendra lagi. "Punya bukti apa dia?" cerca Javier. Flora meneguk es jeruknya sebentar. "Bagus dong, bilang aja ke Jeffran, mau dia ngasih bukti juga, silahkan bilang. Gue mau lihat si Jeffran ini bodoohnya seberapa? Dia percaya gue atau Kiara. Kita lihat aja ntar, gue mau nguji sekalian nih tingkat kepercayaan Jeffran ke gue." "Udah jelas dia sebego itu, masih aja mau di uji, udah jelas abang gue tuh bego karena bucin, Flo. Lo tau sendiri." "No problem. Terserah dia mau nanggapin apa. Bukan urusan gue." "Kalau lo jadi musuhan sama bang Jeffran gimana? Ntar lo gak bisa main ke apartemen karena canggung?" tanya Javier. Flora terkekeh mendengarnya. "Gue masih temenan sama lo, itu apartemen gak sepenuhnya punya Jeffran, tapi punya lo juga. Gue kan mau main sama lo, bukan sama Jeffran, ngapain bingung. Hidup sekali dibikin repot." Tendra tepuk tangan sambil tersenyum, benar-benar tak percaya dengan jawaban santai Flora. "Ini nih! Cewek kaya gini yang harusnya di pertahanin. Cowok yang ninggalin lo pasti nyesel sih, Flo." "Gue gak pernah ditinggalin cowok, yang ada gue yang ninggalin dia." Mereka bertiga tertawa. "Besok libur apa ada jadwal?" tanya Flora. "Ada lah. Besok sore. Btw, kita mau pindah tempat sih, gak di hotel itu lagi. Mulai gak kondusif di situ, lo tau sendiri beberapa bulan terakhir itu hotel suka di grebek, ya meskipun kita gak kegrebek kan tetep gak nyaman aja buat client kita ya makannya habis kontrak ini bakal pindah tempat aja. Biar kondusif, lagian sekarang jumlah anggotanya makin nambah, disitu tempatnya kecil," tutur Tendra. "Gue saranin kalau mau pindah nih, cari deh tempat yang deket-deket situ aja. Lingkungannya disitu bagus, strategis juga. Dari pada lo nyari tempat yang gede tapi gak strategis, yaaa sepi dong. Tinggal berapa bulan lagi kontraknya?" tanya Flora. "Em … kayaknya 4 bulanan lagi sih, ntar gue coba tanya ke Darwin deh, dia owner nya anjir. Bukan gue." "Oh iya, kadang suka lupa kalau si bang Darwin ownernya, orang lo suka yang aktif sampai promosi tuh tempat," celetuk Javier. "Ya emang itu job gue disitu si elah." "Oh ya Flo. Gimana soal bahasan kita? Keramik dan lukisan," tanya Javier. "Gue pengen nuangin lukisan itu ada ceritanya, jadi kaya membawa slice of life dari seseorang itu kedalam bentuk lukisan, jadi bukan cuma sekedar menggambar doang." "Gak ekstrim gak Flora, bro," bisik Tendra pada Javier namun Flora masih bisa mendengarnya dan langsung memberikan tatapan tajam pada Tendra yang berhasil membuat Tendra tertawa. "Jangan ribet-ribet dah, Flo. Hidup gue udah ribet hahaha!" tawa Javier lepas setelah mengucapkan kalimat tersebut. Flora hanya dapat menggelengkan kepalanya sama melihat kelakuan sahabatnya ini. "Lo langsung pulang habis ini?" tanya Tendra pada Flora. "Heem, gue balik ke rumah sih, gak ke kos. Makanya gue gak bawa mobil, tadinya mau naik bus aja, tapi si manusia satu bernama Javier ini ngintilin gue. Yaudah lumayan ada tebengan." "Pulang ke rumah gue antar aja sekalin, Flo." "Gak usah, lo antar gue balik ke halte deket hotel aja. Gue naik bus dari sana, jauh kalau lo nganter gue balik ke rumah. Santai aja, gue gak bakal kenapa-kenapa meskipun balik sendiri, Flo. Justru gue khawatirnya lo yang kenapa-kenapa." Ucapan Flora berhasil membuat Tendra tertawa, karena memang di antara mereka bertiga, Javier lah yang selalu mengkhawatirkan, belum tentu dia dapat menerapkan ilmu bela dirinya saat ada orang jahat menghampirinya karena Javier akan ketakutan terlebih dahulu. Inilah mengapa, Flora dianggap Jeffran lebih sering melindungi Javier dibandingkan Javier melindungi Flora. *** Flora memasuki rumahnya setelah dia berjalan kaki dari gang menuju rumahnya. Alasan Flora tak membawa mobilnya ke rumah adalah dia sedang malas untuk menyetir hari ini dan ingin menaiki kendaraan umum saja. Dilihatnya sang ayah masih duduk di ruang tengah dan menonton tv dengan sang ibu di sebelahnya. Flora berjalan mendekat dan duduk di dekat kedua orang tuanya. "Ayah belum tidur?" tanya Flora. "Ayah nunggu anak ayah pulang." Flora tersenyum mendengarnya. "Lain kali jangan, Flo selalu pulang malam, ayah jangan nungguin. Gak baik buat kesehatan ayah. Flo, gak bakal kenapa-kenapa." "Tuh kan, dengerin Flo ngomong. Tadi tuh udah ibu suruh tidur, gak mau, katanya mau nunggu kamu," timpal ibunya Flora. Flora terkekeh mendengarnya. "Mumpung ayah masih bisa lihat anak ayah, jadi ayah mau nunggu anak ayah pulang, ngobrol sebentar sama dia, nanti kalau ayah udah gak ada, ayah gak bisa ngobrol sama kamu lagi kan?" ujar ayahnya Flora. Flora terdiam mendengarnya begitupun sang ibu. "Ayah gak boleh ngomong gitu," lirih Flora. "Penyakit ayah ini jelas bisa merengut nyawa ayah kapan aja, Flo. Makanya ayah gak mau sia-siain waktu sama kamu, sama ibu juga. Harapan ayah, ayah bisa nemenin kamu pas kamu nikah nanti. Kamu satu-satunya anak ayah, jadi ayah pengen banget lihat kamu nikah." Flora menahan air matanya, bukan sekali dua kali ayahnya mengatakan hal demikian, namun tetap saja, Flora selalu ingin menangis mendengarnya. "Makanya, ayah harus sehat terus, panjang umur biar bisa nemenin Flo nikah nanti. Jangan ngomongin soal kematian terus. Kalau ayah mau lihat Flo nikah." Flora kemudian mendekati ayahnya dan memeluknya. Ayah tersenyum kala merasak pelukan anaknya yang kini telah seutuhnya menjadi perempuan dewasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD