Jeffran langsung menghampiri Flora. Dia mencoba membangunkan Flora, namun Flora masih terlelap, tak seperti biasanya Flora susah dibangunkan. Melihat hal ini Jeffran jadi tak tega membangunkan Flora.
Dia menghela nafasnya. "Flo, Sorry kalau gue lancang." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Jeffran dengan hati-hati membopong tubuh Flora dan memindahkannya ke kamar milik Javier. Membiarkan Flora tetap terlelap disana. Tepat setelah itu, suara bel apartemennya berbunyi. Jeffran segera membukakan pintu dan memang benar ada Kiara disana.
"Masuk, Kia." Kiara menerobos masuk dan langsung menelisik keadaan sekitar Jeffran, rasa curiga terlanjur menyelimuti perasaan perempuan ini.
"Kamu mau minum apa?" tanya Jeffran. Kiara menatap Jeffran sejenak kemudian duduk di sofa.
"Apa aja." Jeffran mengangguk dan mengambilkan minuman botol untuk Kiara. Mata Kiara menangkap benda diatas meja, ada buku berisi coretan-coretan gambar dan tulisan, serta ponsel milik Flora yang lupa Jeffran sembunyikan.
"Ini di minum." Kiara masih diam dan menerima minuman dari Jeffran.
"Kamu kenapa tadi larang aku kesini?"
"Kan udah aku bilang tadi kan? Kita cuma berdua disini." Tak lama setelah perdebatan kecil itu, Javier datang.
Dia tak menyapa Kiara sama sekali, malah menganggap seolah-olah tak ada Kiara disana. Dia langsung ke dapur dan meneguk segelas air kemudian berjalan ke kamarnya. Sebelum membuka pintu kamarnya dia berbalik ke arah Jeffran yang tengah duduk di ruang tamu.
"Flora dimana bang? Udah pulang?" pertanyaan Javier sontak membuat Kiara menoleh kemudian menatap Jeffran tajam. Jeffran hanya bisa pasrah sekarang, memang dia lupa briefing dengan Javier dulu tadi. Seolah paham dengan situasinya, Javier langsung masuk ke kamarnya. Tak memperdulikan jawaban dari kakaknya.
"Flora?" tanya Kiara.
"Kia, Sorry."
"Jadi karena Flora?" Tanya Kiara lagi dengan lebih tegas. "Ck, karena dia ya?"
"Kia, denger dulu. Iya aku larang kamu kesini karena ada Flora. Kenapa aku larang? Karena aku gak mau kamu ribut-ribut sama dia. Dia sahabat aku, dan kamu pacar aku. Dia ada kepentingan juga disini. Aku gak bisa dong usir dia gitu aja?" tutur Jeffran panjang kali lebar.
Kiara tersenyum sinis ke arah Jeffran. "Kamu larang aku kesini dengan alasan gak mau kalau cuma berduaan disini sama aku karena kamu cowok dan aku cewek. Tapi apa bedanya kamu sama Flora? Dia cewek Jeff! Kamu gak takut juga berduaan sama dia? Cuma kalian disini loh. Gak ada Javier."
"Keadaan dan suasananya beda, Kia. Pas Javier baru pergi pun tadi ada temen-temen aku kesini. Habis itu mereka pergi, aku sama Flora berdua disini gak lama kok, cuma sebentar habis itu kamu datang. Flora kesini karena dia emang ada bahasan sama Javier buat pameran. Dia nunggu Javier balik dari kampus, dia ketiduran disini, dia ada di kamar Javier sekarang. Apa aku tega bangunin perempuan yang baru saja selesai rawat orang tuanya yang sakit bahkan dia kekurangan waktu tidurnya? Apa aku tega?" Jeffran tak kalah emosi dengan Kiara, nadanya meninggi saat mencoba membela dirinya dan Flora.
"Nah apalagi itu, dia sampai ketiduran dan kalian cuma berdua disini. Apa kamu yakin gak bakal terjadi apa-apa?"
"Lo mikir apa sih, Ki? Emangnya Jeffran sebrengsek itu? Dia gak sebrengsek yang lo pikirin!" Jeffran dan Kiara menoleh ke sumber suara. Flora dan Javier yang baru saja keluar kamar karena mendengar keributan antara Kiara dan Jeffran.
"Abang gue juga mikir kali, ya kali cewek sebaik dan sejujur Flora mau di sakitin. Lo mending ngaca aja, berapa banyak lo membodohi dan menyakiti abang gue!" Javier berjalan mendekat ke arah Kiara dan membuat Kiara berjalan mundur dengan pelan. Namun langkah Javier berhenti didepan meja ruang tamu, dia memungut ponsel Flora dan beberapa alat tulisnya, kemudian dia mengambil tas Flora dan memasukan barang-barang milik Flora kedalamnya.
"Yuk, Flo cabut."
"Mau kemana lo berdua?" tanya Jeffran.
"Gue sama Flora keluar dulu bang. Biar lo bisa buktiin ke nih cewek kalau lo gak sebangsat yang dia pikirin meskipun ada kesempatan buat lo berdua berbuat hal yang tidak-tidak. Ayok lah, Flo!" ajak Javier. Flora berjalan sambil mengikat rambutnya asal.
"Gue pamit ya, Jeff," ujar Flora sambil mengikuti langkah Javier.
Flora dan Javier berjalan memasuki lift menuju ke basement. Sepanjang jalan tadi mereka tak henti-hentinya membicarakan Kiara. Bahkan Javier tak henti-hentinya mengumpat karena tak terima dengan pandangan Kiara ke kakaknya.
"Lo mau kemana, Flo?" tanya Javier saat berada di dalam lift.
"Hotel lah. Ada job gue."
"Berhenti dari pekerjaan lo itu deh, Flo. Lo mau ngapain sih pakai kerja disitu? Gue takol juga nih si Tendra, pake segala ngasih lo kerjaan," balas Javier. Flora terkekeh mendengarnya.
"Ya buat bantu nyokap bokap juga sih, Jav. Ya gue tau, nyokap bokap gue gak kekurangab duit. Tapi setidaknya gue bisa bantu kurangin pengeluaran mereka buat gue biar duitnya buat pengobatan ayah." Javier lagi-lagi menghela napasnya. Tak sanggup berkata-kata lagi. Hanya Javier yang tau tentang pekerjaan Flora ini.
"Yaudah gue ikut," celetuk Javier.
"Biasanya juga lo ngintilin gue kalau kesana."
"Ya nemenin lo lah anjir."
***
Flora baru saja keluar dari lobi hotel bersama dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu terlihat merangkul Flora dan tertawa bersama Flora, sesekali dia membenarkan hoddie yang dikenakan Flora karena tertiup angin. Mereka berhenti di depan hotel untuk menunggu Javier yang masih berada di dalam hotel.
"Lo tuh ngapain sih langsung mandi disini? Kenapa gak di kos lo aja?" tanya laki-laki ini pada Flora.
Flora meregangkan tubuhnya sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya. "Udah keringetan, lengket semua. Lagian juga gue gak langsung balik jadi yaudah sekalian aja gue mandi dulu. Hari ini mereka aktif banget, makanya gue sampe keringetan kaya tadi, mana tadi acnya mati satu, gerah anjir," tutur Flora. Selama menunggu itu, Flora melihat dua orang perempuan berjalan ke arahnya. Dia adalah Kiara dan Vera—sahabat Kiara— yang melihat Flora dengan tatapan tajam.
"Oh jadi ini kelakuan lo, Flo? Suka ngatain Kiara gonta ganti cowok dan selingkuh, tapi lo sendiri mainnya di hotel sama cowok?" celetuk Vera. Flora dan Tendra—laki-laki yang bersama dengan Flora—menatap Vera dengan tatapan bingung sekaligus aneh.
"Emang biasanya yang suka koar-koar tuh malah yang suka ngelakuin. Masih mau bilang gue cewek gampangan yang suka gonta-ganti pasangan dan nyebarin beritanya di kampus?" tanya Kiara. Flora tak terlihat takut, dia malah bersedekap dan terkekeh.
"Gue nyebarin berita ginian di kampus? Gak berkelas banget. Sorry, gue mainnya berkelas, Ki. Dan soal lo suka gonta-ganti cowok, itu bukan fitnah, tapi fakta. Kalau lo bertanya-tanya kenapa berita jelek itu bisa nyebar ke seluruh kampus, ya karena cara lo selingkuh gak cantik, makannya sering ke-gep sama anak-anak kampus. Bukan gue yang nyebarin, tapi lo sendiri."
Kiara berdecih. "Tapi liat aja kelakuan lo sendiri, lo keluar dari hotel sama cowok ini. Bukannya lo lebih parah dari gue?"
Tendra menyipitkan matanya dan mengerutkan dahinya, heran dengan ucapan Kiara. "Maaf mbak, lo kalau gak tau apa-apa mending diem. Emang kenapa kalau kita main di hotel? Suka-suka kita lah duit kita banyak," celetuk Tendra, Flora langsung menginjak kaki Tendra sampai Tendra mengaduh kesakitan.
"Flo, Tendra, sorry lama tadi—" Javier menghentikan ucapannya saat melihat ada siapa dihadapannya.
"Wow, Javier juga? Jadi ini alasan lo berdua tadi pamit pergi dari apartemen pakai ngehina gue dulu lagi. Ternyata gini mainnya kalian? Kotor juga ya?" Javier mendorong peran bahu Kiara.
"Kotor kotor, sembarangan lo. Otak lo tuh yang kotor. Lo kira konteks hotel selalu berhubungan sama hal kotor? Cuci tuh otak lo, biar bersih dan ngembang, biar mindset lo juga gak sempit! poor mindset banget dah!" bentak Javier.
"Udah ketangkap basah masih juga ngelak," celetuk Vera.
"Percuma ngomong sama orang kaya mereka. Ayo Jav, Ten, cabut, laper gue," ujar Flora kemudian menerobos Kiara dengan sengaja menyenggol bahunya cukup kencang.
"Mbaknya cantik, tapi sayang otak lo kotor." Tendra juga ikut meninggalkan kalimat akhir sebelum pergi meninggalkan Kiara dan Vera yang mematung melihat kepergian Flora, Javier, dan Tendra.