Berbeda dengan Jeffran yang menemani ayahnya Flora di kamar rawat inap. Flora dan Javier menikmati makan siang mereka di kantin rumah sakit. Hanya Flora yang makan, Javier hanya membeli camilan dan minum saja. Flora pun tak memaksa sahabatnya itu untuk makan seperti dia. Flora dengan lahap menyantap menu sederhana yang ada di kantin rumah sakit. Sejak pagi memang dirinya belum sempat sarapan.
"Jav, gak habis," keluh Flora. Javier melirik sekilas kemudian kembali fokus ke ponselnya tanpa memberi respon ke Flora.
"Jav, ih!"
"No, kali ini nggak ya, Flo. Harus lo habisin. Lo belum sarapan dari pagi kan katanya? Jadi harus lo habisin. Beda cerita kalau lo udah makan dari tadi pagi." Memang sudah bukan rahasia lagi jika mereka saling berbagi makanan mereka seperti ini. Biasanya saat makan bersama Javier atau bersama Jeffran, sebelum Flora makan, dia akan membagi makanannya ke piring milik Jeffran atau Javier karena Flora tau bahwa dirinya tidak bisa menghabiskan makanannya sendiri.
"Tapi gue udah kenyang, Javierrr."
"Yaudah tunggu dulu agak lapar ntar dimakan lagi." Jawaban asal keluar dari mulut Javier. Flora langsung mengerucutkan bibirnya, tidak puas dengan jawaban Javier.
"Oh iya, Flo. Kemarin-kemarin gue udah survey sih buat bahan keramik yang mau kita bikin. Gue nemu beberapa tempat yang mereka keramiknya bagus-bagus dan mereka juga jual bahan bakunya. Nih lihat ada beberapa fotonya." Javier menyerahkan ponselnya pada Flora. Flora duduk lebih dekat ke arah Javier dan ikut menatap ke arah layar ponsel Javier.
"Swipe aja ke kiri," ujar Javier. Flora mengangguk sambil fokus melihat hasil survey Javier. Sedangkan Javier, dia akhirnya mengambil pitinh Flora dan menghabiskan sisa makan Flora. Tidak heran, karena ini Javier.
"Lo diem-diem aja survey-nya? Tau-tau udah nemu beberapa tempat gini?" celetuk Flora.
Javier menelan makanannya. "Ya karena gue tau, lo lagi sibuk juga. Gue kan masih gabut, jadi ya sadar diri aja sih gue." Flora hanya mengangguk sambil terus melihat hasil survey milik Javier. Saat dia sedang mengeser-geser foto-foto yang ada di ponsel milik Javier, tidak sengaja dia melihat sebuah foto yang menarik.
"Eh, sorry kebablasan. Ini siapa? Lucu banget, pake seragam bela diri gini, seragam taekwondo kan ini? Ini bukan lo kan, Jav? Kalau lo pasti udah pakai seragam judo.
Javier ikut melihat ke arah ponselnya. "Oh ini si abang, si Jeffran. Dia dulu sempat ikut taekwondo sih. Gue foto soalnya niatnya mau gue kumpulin foto aib dia, tapi kaga ada yang aib. Mana dia nyimpen banyak foto aib gue. Kan gue mau balas dendam ke dia ya?" balas Javier.
Flora terkejut mendengarnya, ini kali pertama dia mendengar bahwa Jeffran pernah belajar seni bela diri. Flora pikir selama ini Jeffran hanyalah anak yang peduli pada seni musik saja. "Gue kaget loh, Jav. Serius ini Jeffran?"
"Iya itu bang Jeff. Gak percayaan banget. Dia tuh emang dulu ikut taekwondo. Tapi berhenti."
Flora mengerutkan dahinya. "Why? Kenapa dia berhenti?"
"Pernah cidera katanya. Kecelakaan sih dulu dia, pernah ditubruk motor. Emang dari kecil dia udah kebanyakan main debus, Flo. Dia sih dulu kata mama emang ambis taekwondo gitu, katanya mau jadi atlet. Tapi habis cidera itu kan dia harus istirahat dulu, karena ada tulangnya yang patah kalau gak salah. Nah selama dia istirahat itu dia malah belajar soal musik, tertarik gitu dia, akhirnya dia jadi bucin sama musik dan move on dari taekwondo," tutur Javier panjang dan lebar. Flora terdiam mendengarnya, dia cukup kaget dengan fakta yang baru saja dia ketahui soal Jeffran. Laki-laki yang takut pada serangga itu ternyata pernah menyelam untuk belajar ilmu bela diri. Seperti halnya Flora dan Javier yang juga sama-sama belajar ilmu bela diri.
Setelah makan, Flora dan Javier kembali ke kamar rawat inap ayahnya. Disana sudah ada ibunya Flora bersama dengan kedua orang tua Jeffran dan Javier.
"Lah ma? Pa?" Javier juga cukup terkejut melihat kehadiran kedua orang tuanya disana.
"Ibu kok balik lagi? Kan Flora udah suruh istirahat dulu di rumah. Ayah disini sama Flora," ujar Flora.
"Ibu kamu kesini bareng tante sama om kok. Tante sama om emang mau kesini dan sekalian aja bareng. Nanti kalau emang kamu mau ibu pulang yaudah nanti ibu pulang sama tante sama om," sahut mamanya Jeffran.
Jeffran yang ada di sebelah Flora pun menyenggol tangan Flora. "Gak usah marah mulu. Ibu lo juga khawatir kali kalau lo sendirian disini," lirih Jeffran. Flora hanya diam saja.
"Ibu kalau mau disini, gak apa-apa disini aja. Kalau misalnya pulang juga gak apa-apa. Nanti Flora biar Jeffran sama Javier yang temenin disini," sahut Javier. Flora hanya bisa pasrah setiap kedua sahabatnya ini sudah bertindak. Memang mereka berdua selalu seperti ini setiap ayahnya Flora dirawat. Baik Javier maupun Jeffran.
"Bener tuh. Gak usah khawatir. Flora disini ditemenin juga kok sama Jeffran sama Javier." Mamanya Jeffran mengusap bahu ibunya Flora.
"Ya kan aku gak enak, mbak. Ngerepotin mbak mulu."
"Haduh kaya sama siapa aja. Kita udah kaya keluarga, apa sih yang repot? Apa perlu nih Flora nikahin dulu sama salah satu anak aku, milih aja Javier atau Jeffran, biar kita beneran jadi keluarga?" Mamanya Jeffran awalnya hanya bercanda. Namun ketiga anak ini menanggapi dengan serius.
"Gak mau!" sahut Flora, Javier, dan Jeffran bersamaan. Sahutan kompak itu berhasil membuat para orang tua disana tertawa.
***
Flora berada di apartemen milik Jeffran dan Javier. Tadi ada juga beberapa teman Jeffran tetapi sudah pamit pulang. Setelah beristirahat dari pencarian ide karyanya selama kurang lebih tiga hari karena ayahnya sakit dan Flora harus pulang ke rumah untuk merawat ayahnya. Sekarang keadaan ayahnya sudah membaik sehingga Flora bisa pulang lagi ke kosnya. Dan hari ini dia berada di apartemen Jeffran karena memang tujuan awalnya untuk bertemu Javier dan membahas rencana mereka namun Javier justru ada kelas mendadak dan harus ke kampus.
"Flo, lo tau gak kalau—" Jeffran menghentikan ucapannya karena melihat Flora tertidur dengan kepalanya yang dia tompangkan di meja ruang tamunya. Posisinya Flora kini memang duduk di lantai karena meja ruang tamu cukup rendah. Jeffran menghela nafasnya kemudian pelan-pelan membangunkan Flora.
"Flo, pindah ke sofa gih. Jangan disini, nanti badan lo sakit semua," ujar Jeffran lirih. Dia bisa melihat jika perempuan ini tampak kelelahan. Flora mengerjapkan matanya dan mencoba menegakan tubuhnya untuk berpindah ke sofa. Jeffran tak tinggal diam. Dia membantu Flora untuk duduk di sofa.
"Flo, sini deh." Jeffran menarik Flora pelan dan meletakan kepala Flora diatas pahanya, menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk kepala Flora.
"Ntar lo kesemutan, Jeff," ledek Flora. Jeffran langsung menyentil kening Flora.
"Gak lah. Emangnya lo! Udah tidur aja. Lo kelihatan kecapean banget." Flora juga tak mau bila harus berdebat atau ribut-ribut dengan Jeffran karena yang dia butuhkan sekarang adalah tidur. Dia memejamkan matanya dan menyamkan posisi kepalanya di atas paha Jeffran. Jeffran menatap wajah teduh Flora dengan seksama hingga membuat senyuman manis pria ini menghiasi wajahnya. Aktivitas Jeffran terhenti saat ponselnya berbunyi. Di layar ponselnya tertera nama Kiara. Jeffran memejamkan matanya sejenak, mengambil ponselnya dan menatapnya cukup lama hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Namun tak lama setelah itu, Kiara kembali menelfonnya. Jeffran mengangkat pelan kepala Flora dan meletakan bantal di bawahnya untuk menggantikan pahanya. Setelah itu dia berjalan ke arah balkon apartemennya dan mengangkat telfon dari Kiara
"Gimana, Ra?" tanya Jeffran menekan ikon telfon berwarna hijau di ponsel pintarnya.
"Kamu dimana? Aku telfon dari tadi gak diangkat."
"Sorry, tadi hpnya aku tinggal di kamar. Aku di dapur. Jadi gak kedengeran."
"Aku ke apartemen kamu ya?"
"Eh? Mau ngapain? Gak usah, aku aja yang ke rumah kamu." Jeffran biasanya mengijinkan Kiara jika mau ke apartemennya, namun kali ini tidak, karena ada Flora di apartemennya dan posisinya mereka hanya berdua disana, jelas akan menimbulkan pikiran negatif Kiara. Meskipun di apartemen Jeffran bersama Flora dan Javier saja Kiara bisa saja marah pada Jeffran, apalagi sekarang mereka hanya berdua. Jeffran tau bahwa kekasihnya ini tidak bisa menerima kehadiran Flora karena Flora tau semua kartu as Kiara.
"Aku udah di basement apart kamu loh. Kenapa sih? Biasanya juga aku main biasa aja. Kenapa?"
"Gak gitu, lagi gak ada Javier. Gak enak kalau cuma kita berdua aja disini."
"Biasanya di rumah aku juga cuma kita berdua kamu oke aja. Lagian kamu juga gak akan macem-macem ke aku kan? Aku kenal dan tau kamu kok, Jeff." Jeffran mengusap wajahnya kasar, kemudian masuk ke dalam apartemen dan melihat Flora masih terlelap.
"Beda, Kia. Pokoknya jangan deh. Aku aja yang ke rumah kamu. Kamu di basement kan? Tunggu disana aku jemput kita jalan di luar aja ya?"
"Jeff? Aneh, kamu aneh. Kalau kaya gini aku malah curiga, kamu nyembunyiin apa di apartemen kamu? Sampai kamu nolak aku gini?"
"Gak gitu—" ucapan Jeffran terpotong.
"Aku udah mau naik lift. Tunggu disana." Ucapan terakhir Kiara cukup tegas sebelum dia mengakhiri telfonnya.