Jeffran yang baru saja kembali dari mengantar ibunya Flora pun menutup pintu ruang rawat pelan-pelan karena melihat Flora tertidur lelap di sofa. Jeffran berjalan mendekatinya, menatap wajah teduh Flora saat sedang tertidur. Wajah cantiknya terlihat kelelahan memang, namun Flora tak pernah mengeluhkan hal tersebut. Jeffran melepas jaket yang dia pakai dan menyelimutkannya pada tubuh bagian atas Flora kemudian dia duduk di space yang tersedia di samping Flora. Tangannya terulur merapikan anak rambut Flora yang sedikit berantakan. Dengan pelan juga Jeffran mengusap pipi Flora dan menyentuh bagian bawah matanya yang nyaris membentuk kantung panda. "Pasti berat ya, Flo? Lo perempuan paling kuat yang pernah gue temui, setelah mama gue."
Flora mengerjapkan matanya saat Jeffran mengusap rambutnya, matanya perlahan terbuka sempurna, dia dapat melihat wajah tampan Jeffran dalam jarak cukup berdekatan. Jeffran juga tidak buru-buru menjauhkan dirinya. Manik keduanya bertemu dan bertatapan cukup lama.
"Lo pasti capek, tidur lagi aja. Gue yang nemenin ayah," ujar Jeffran sambil menjauhkan tangannya dari kepala Flora. "Jangan di singkirin, di pakai aja." Jeffran menahan tangan Flora yang hendak menyingkirkan jaket Jeffran dari tubuhnya. Akhirnya Flora hanya menurut saja.
"Bangunin gue 10 menit lagi, Jeff. Gue mau tidur bentar," pinta Flora. Jeffran tersenyum sambil mengangguk kemudian membiarkan Flora terlelap kembali. Tak lama setelah itu pintu kamar kembali terbuka, kali ini terbuka dengan cukup kasar dan menampakan sosok Javier yang terlihat nggos-nggosan, pria ini baru saja berlari menyusuri lorong rumah sakit. Jeffran langsung memberikan instruksi pada Javier agar tenang karena Flora baru saja terlelap dan ayah Flora perlu istirahat. Javier mengusap peluhnya di kening kemudian dia duduk di kursi yang tersedia.
"Lo kesini naik taksi online kan, Jav?" tanya Jeffran.
"Iya, kan kata lo gue harus bawa balik mobil Flora. Makanya gue kesini. Gue panik habis lo kabarin kalau ayahnya Flora masuk rumah sakit lagi. Baru kemarin gue sama Flora ngomongin ayahnya Flora." Jeffran hanya diam menatap ayah Flora yang kini berbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya seteduh Flora saat tidur, mereka berdua sangat mirip.
"Tunggu sampai Flora bangun, lo nanti bawa aja mobil gue. Gue ambil mobil Flora sekarang, sekalian mau jemput Kiara gue," ujar Jeffran kemudian dia mengambil kunci mobil Flora yang memang tadi Flora titipkan ke Jeffran untuk berjaga-jaga kalau Javier datang.
"Kenapa gak kita tunggu Flora bangun bareng-bareng aja? Nanti gue yang bawa mobilnya Flora, sesuai instruksi awal?" Javier sebenarnya tidak masalah mau siapa saja yang akan membawa mobil Flora, namun Javier hanya berusaha menahan kakaknya agar tetap disana dan tidak menemui Kiara, Javier memang tidak menyukai Kiara karena sikap Kiara yang semena-mena pada kakaknya.
"Gue harus jemput Kiara dulu. Nanti gue kesini lagi. Flora minta di bangunin 10 menit lagi, tapi biarin aja, jangan dibangunin, biar dia bangun sendiri. Kalau dia ngomel bilang aja gue gak ngasih tau lo buat bangunin Flora. Lo ngerti kan maksud gue?" Javier akhirnya hanya mengangguk dan membiarkan kakaknya pergi.
***
Jeffran turun di depan gerbang gedung departemen seni tempat Flora kuliah. Dia menaiki taksi online menuju kesana untuk mengambil mobil Flora dan menjemput Kiara. Definisi bucin yang mendekati bodoh mungkin memang cocok disematkan untuk Jeffran. Berkali-kali dia diberitahu tentang keburukan Kiara bahkan sampai dia tau sendiri bagaimana sikap asli Kiara, tetapi Jeffran tetap mempertahankan hubungannya dengan Kiara. Jeffran melangkahkan kaki menyusuri lorong departemen seni rupa. Hampir seluruh mahasiswa disana juga mengenal Jeffran mahasiswa seni musik. Popularitas Jeffran tidak hanya dalam lingkup seni musik saja, tetapi dia juga dikenal oleh mahasiswa dan mahasiswi di seni rupa bahkan seni tari.
"Kiara udah keluar belum?" tanya Jeffran pada seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang menjadi ruangan tempat Kiara kuliah tadi karena dia memang ada pengulangan mata kuliah hari ini, berbeda dengan Flora yang mana dia di setiap semester tidak pernah ada mata kuliah yang harus mengulang.
"Belum kok, dia baru nyuci kuas sih tadi, masuk aja." Jeffran mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Masih terdapat beberapa mahasiswa disana namun Jeffran biasa saja. Beberapa pasang mata juga menatap ke arah Jeffran, bagaimana tidak? Seorang laki-laki tampan yang bukan jurusan mereka memasuki ruangan mereka dengan santainya dan gaya cool yang dia miliki. Jeffran menghampiri Kiara.
"Kia …."
"Hei? Udah sampai? Bentar ya aku mau selesai nyucinya," jawab Kiara. Jeffran mengangguk saja sambil menunggu Kiara menyelesaikan kegiatannya.
"Kia, habis makan kita langsung pulang gak apa-apa kan? Aku ada urusan soalnya," ujar Jeffran. Kiara mengambil tasnya kemudian menghampiri Jeffran. "Ya gak apa-apa sih. Urusan apa? Kayanya mendadak banget?"
"Emm … aku harus nemuin Flora, ayahnya masuk rumah sakit. Mama papa aku minta diantar kesana buat jenguk ayahnya Flora." Perubahan ekspresi dari wajah Kiara terlihat jelas. Jeffran tau hal ini akan terjadi, tetapi Jeffran tetap memilih untuk jujur dibandingkan harus menutup-nutupinya meskipun dia tau Kiara dan Flora tidak pernah akur.
"Flora? Oke."
"Jangan marah ya? Aku sama Flora emang sedeket itu, kita tetangga dan sahabat sejak dulu." Kiara mengangguk cepat. "Ayo balik."
Jeffran mengandeng Kiara menuju tempat parkiran mobil, mencari dimana letak mobil Flora berada. Setelah menemukannya, mereka langsung naik ke mobil tersebut.
"Kamu ganti mobil lagi?" tanya Kiara.
"No, ini mobilnya Flora. Mobil aku dipakai Javier, tadi Flora keliatan panik gitu pas dikabarin ayahnya masuk rumah sakit, jadi gak mungkin dong dia aku biarin nyetir sendiri? Yaudah aku antar dia, makanya mobil dia aku bawa. Aku cerita apa adanya ke kamu. Gak ada yang aku tutupin, tadi aku emang sempet nemenin Flora dulu sampai Javier datang," ujar Jeffran.
"Santai aja, aku gak marah. Ngapain aku marah disaat pacar aku berbuat baik kan?" Jeffran tersenyum mendengarnya kemudian dia mengusap pelan rambut Kiara. Berbeda dengan Kiara yang mood-nya berubah usai mendengar Jeffran menceritakan kejadian yang sebenarnya, meskipun Kiara mengatakan dia tidak marah, namun mimik wajahnya berkata lain.
***
Flora bangun dari tidurnya usai mendengar suara tawa dua orang di dekatnya. Bukan hanya suara tawa, namun juga terdengar suara orang mengobrol didekatnya. Saat dia membuka matanya, dia melihat Javier yang sedang mengobrol dengan ayahnya. Bahkan posisi ayahnya kini sudah berubah menjadi duduk. Bukan hanya itu, Flora juga melihat Javier baru saja selesai menyuapi ayahnya.
"Kok gue gak dibangunin?" Suara Flora berhasil mengalihkan atensi ayahnya dan Javier.
"Jeffran mana, Jav?" tanya Flora kemudian dia meneguk sebotol air mineral yang disediakan oleh rumah sakit.
"Balik bentar, ambil mobil lo." Flora hanya mengangguk.
"Ayah udah selesai makan?" tanya Flora sambil mengusap tangan ayahnya.
"Udah, barusan kan selesai disuapin Javier. Dia gak tega mau bangunin kamu."
"Ibu pulang ke rumah bentar, aku gantiin dulu. Nanti ibu kesini lagi. Biarin ibu istirahat dulu," tutur Flora menyampaikan kabar ibunya pada sang ayah karena dia tau pasti ayahnya juga bertanya-tanya.
"Iya, ayah tau. Syukur ibumu mau pulang. Tadi pagi ayah suruh pulang dulu gak mau." Flora terkekeh pelan mendengar penuturan sang ayah kemudian dia menatap ke arah Javier.
"Makasih ya, Jav?"
"Yaelah, kaya sama siapa aja sih, Flo!" balas Javier.
Tak lama dari obrolan ringan mereka yang berlangsung cukup lama, Jeffran kembali memasuki kamar. Melihat ayahnya Flora yang sudah bangun, Jeffran mendekat dan salim dengan ayahnya Flora. "Gimana keadaannya, Yah?" Jeffran dan Javier yang dekat dengan orang tua Flora hingga memanggil ibunya Flora dengan panggilan ibu, mereka juga memanggil ayahnya Flora dengan panggilan 'ayah' karena memang mereka sudah seperti keluarga.
"Udah baikan kok dibanding kemarin."
"Ayah sama ibu, besok-besok kalau ada kaya gini lagi, misalnya gak mau membebani Flora, bisa kabari Jeffran atau Javier aja ya? Biar gak kaya gini lagi. Kasihan juga kalau cuma ayah sama ibu sendirian," ujar Jeffran dengan nada rendah dan sangat terdengar tulus. Ayahnya Flora sampai tersenyum lebar mendengar penuturan sopan Jeffran.
"Flo, lo belum makan siang kan? Makan dulu sana, gue yang temenin ayah. Gue tadi udah makan," ujar Jeffran. Flora malah menghela nafasnya dan duduk di sofa, terlihat jelas Flora sedang malas untuk makan, namun Jeffran tetap memaksanya.
"Makan Flo, sama gue. Gue juga belum makan." Kini Javier ikut buka mulut. Sebenarnya bohong jika Javier belum makan, karena tadi sebelum kesini, posisi Javier sedang nongkrong dengan teman-temannya.
"Ya lo aja sana, Jav. Lo yang makan. Gue males."
Jeffran menatap Flora tajam. "Flo, makan! Lo harus makan. Cukup ayah yang sakit, lo jangan sampai ikutan sakit. Siapa yang bakal bantu ibu buat jagain ayah nanti kalau lo sakit?" pertegas Jeffran.
"Yaelah, gak makan sekali gak bakal sakit, Jeff." Jeffran langsung mengalihkan tatapannya pada Javier. Dan kebetulan Javier juga sedang melihat ke arah Jeffran. Melihat tatapan Jeffran dia seolah paham dengan kode yang diberikan Jeffran. Javier tanpa aba-aba langsung menarik Flora dan membawanya keluar ruangan untuk mengajaknya makan. Ayahnya Flora tertawa melihat kelakuan ketiga anak-anak yang mulai beranjak dewasa itu.
"Jeffran ...." Jeffran kembali menoleh ke ayahnya Flora.
"Makasih udah bantu jagain Flora ya?" Jeffran terkekeh mendengarnya kemudian mengusap pelan tangan ayahnya Flora.
"Flora banyak melindungi Javier, jadi gak ada alasan buat Jeffran gak lindungi Flora. Bisa dibilang ini Jeffran balas budi ke Flora."
Ayahnya Flora menggeleng. "Flora yang harusnya balas budi ke kamu kan?" Jeffran tak menjawab. Dia hanya tersenyum.