Flora baru saja selesai bertemu dengan dosen yang menjadi dosen pembimbingnya, mengingat dia akan segera memasuki masa dalam pengerjaan skripsi, hari ini dia menyerahkan beberapa judul skripsi yang akan dia ambil dalam tugas akhirnya. Untung saja dosen pembimbingnya adalah tipe-tipe dosen yang tidak sulit ditemui dan dosen yang sangat mengayomi mahasiswanya sehingga Flora dapat bernafas lega sedikit, ini juga yang membuatnya berani mengajukan diri untuk mengikuti pameran seni tahun ini dengan mengandeng Javier sebagai partnernya.
Flora berjalan ke arah kantin fakultas dan memesan minum untuk dirinya sendiri kemudian dia memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian. Dia terlihat tenang dan santai, tetapi sebenarnya di dalam otaknya saat ini adalah memikirkan apa yang akan dia gambar dalam keramiknya nanti. Flora menghela nafasnya beberapa kali, saat hendak meminum kembali minumnya, seseorang menyambar minumannya dengan cepat dan dengan santainya meminumnya sambil duduk di hadapan Flora.
"Jeffran? Lo ngapain di departemen seni gue?" Ya, Jeffran. Orang yang mengambil minum Flora dan meneguknya sampai habis.
Jeffran menghela nafasnya. "Menurut lo gue kesini ngapain?"
"Kiara?" tebak Flora. Jeffran mengangguk. Flora tertawa remeh ke Jeffran. Lebih tepatnya meledeknya sebagai manusia bucin pada pacarnya. "Bucin boleh, bego jangan!"
Jeffran hanya mendecih menanggapi ucapan Flora. Obrolan mereka terhenti karena Flora mendapatkan telfon.
"Halo bu?" ujar Flora sesaat setelah mengangkat telfon dari ibunya. Ekspresi Flora berubah setelah mendengar tanggapan dari sang ibu di seberang telfon. Jeffran juga dapat melihat perubahan ekspresi Flora tersebut. Perasaan tak enak pun kini menyelimuti Jeffran. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Itulah yang Jeffran pikirkan.
"Flo? Kenapa?" tanya Jeffran usai Flora menutup telfonnya. Dia dengan buru-buru memasukan ponselnya ke dalam tasnya.
Ditatapnya Jeffran sebentar. "Ayah masuk rumah sakit." Ucapan singkat Flora membuat Jeffran bangkit dari duduknya.
"Ayo gue antar. Mobil lo biar nanti di bawa Javier. Itu urusan gampang. Sekarang lo sama gue. Ayo." Tanpa persetujuan dari Flora, Jeffran menarik tangan Flora menuju parkiran kampus dan mencari mobil miliknya. Jeffran mengantar Flora ke rumah sakit yang dimaksud ibunya di telfon tadi. Ini bukan kali pertama ayah Flora tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit. Memang sudah beberapa kali terjadi, usia yang tidak muda lagi dan memiliki beberapa penyakit membuat ayah Flora beberapa kali keluar masuk rumah sakit untuk dirawat. Ini juga bukan kali pertama Jeffran mengantar Flora ke rumah sakit, kejadian yang cukup sering membuat Jeffran dan Javier yang menjadi sahabat Flora sejak dulu terbiasa dengan kondisi seperti ini sehingga mereka tau apa yang harus mereka lakukan sekarang. Menemani dan menghibur Flora. Itulah yang harus mereka lakukan.
Flora berjalan cukup cepat di lorong rumah sakit diikuti Jeffran di belakangnya. Wajah Flora memang terlihat biasa saja dan tak terlihat raut panik, namun Jeffran paham betul jika saat ini Flora tengah menahan dirinya sendiri untuk meluapkan kesedihannya karena dia akan bertemu dengan ibunya. Tangan Flora memegang sebuah gagang pintu ruang rawat yang menjadi tempat ayahnya dirawat. Beberapa kali dia menghembuskan nafasnya sebelum dia membuka pintu tersebut. Setelah pintu tersebut terbuka, Jeffran dan Flora langsung disambut oleh ibunya Flora.
"Bu," lirik Flora kemudian mendekati ibunya. Ayahnya masih memejamkan mata di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangannya.
"Kenapa baru ngabarin Flora?" tanya Flora karena memang sebenarnya ayah Flora masuk ke rumah sakit dini hari tadi, tetapi ibunya baru menelfon Flora.
"Maaf ya? Ibu gak mau ganggu kamu, kamu lagi nyiapin pameran kan?"
Flora mendengkus. "Gak peduli sama pameran bu! Ibu harusnya tetep kabarin Flora. Disini cuma ada Flora anggota keluarga ibu. Harusnya ibu kabarin Flora!" Flora sedikit menaikan nadanya. Dia memang agak marah ibunya karena mengabarinya terlambat. Jeffran yang ada di samping Flora memegang satu tangan Flora dan mengusapnya pelan agar Flora mengendalikan emosinya.
"Bukan saatnya buat marah, Flo." Jeffran berkata cukup lirih pada Flora. Flora mengusap wajahnya kasar. Kepalanya terasa berat sekarang. Dia memutuskan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan meredakan emosinya. Jeffran menghampiri ibu Flora dan menyapanya dengan sopan.
"Flora pasti masih bingung, bu. Habis ini juga dia lebih tenang lagi," ujar Jeffran. Bukan lagi menjadi rahasia jika Jeffran dan Javier memanggil ibunya Flora juga dengan sebutan 'bu' karena mereka memang sudah sangat dekat, mungkim salah satu faktornya karena mereka bertetangga sejak Flora SMP dan rumah mereka berhadapan. Tak heran jika Jeffran dan Javier sedekat itu dengan keluarga Flora.
"Jeffran, makasih ya udah antar Flora kesini. Maaf ya ibu selalu ngerepotin kamu sama Javier." Jeffran menggeleng kemudian mengusap pelan bahu ibunya Flora.
"Bu, kalau ada apa-apa justru ibu harus bilang ke Jeffran atau Javier. Ibu punya anak laki-laki itu cuma aku sama Javier. Mungkin Flora emang sikapnya mendekati kaya cowok, tapi gimana pun juga dia perempuan. Jadi. Ibu jangan ragu-ragu minta bantuan ke Jeffran sama Javier. Kaya sama siapa aja sih, bu. Lagian mama sama papa Jeffran kan juga udah bilang ke ibu, kalau mau butuh apa-apa bilang ke Jeffran atau Javier. Termasuk masalah jagain Flora." Ibunya Flora tersenyum mendengarnya. Tak lama setelah itu Flora kembali ke kamar.
"Ibu pulang dulu aja, biar Flora yang jaga ayah. Ibu pasti butuh istirahat juga," pinta Flora.
"Gak usah, Flo. Kamu kan harus balik ke kampus?"
"Gak bu, Flora gak ke kampus. Kali ini aja ibu dengerin dan turutin Flora. Ibu pulang dulu, bersih-bersih badan, istirahat, biar Flora yang gantian jaga ayah. Kalau Flora tiba-tiba harus pergi karena ada urusan pasti Flora telfon ibu kok." Ibunya Flora hanya bisa mengangguk.
"Jeffran antar yuk, bu." Jeffran menawarkan diri untuk mengantar ibunya Flora namun di tolak oleh ibunya Flora.
"Gak usah Jeff, ada taksi. Kamu juga kan baru sampai disini," ujar ibunya Flora.
"Diantar Jeffran, bu. Harus sama Jeffran. Sama Jeffran lebih aman," ujar Flora tiba-tiba.
"Flo, jangan gitu, ngerepotin orang lain namanya."
"Jeffran yang nawarin," balas Flora singkat.
"Ayo bu sama Jeffran aja, sekalian Jeffran mau ambil barang kok di rumah," ujar Jeffran.
"Tuh kan? Bareng aja." Tentu saja Jeffran bohong perihal barang di rumah karena dia memang berniat untuk mengantar ibunya Flora dan Jeffran tau jika tidak berbohong begini pasti ibunya Flora tidak mau ikut. Akhirnya, ibunya Flora mengikuti Jeffran. Flora duduk di dekat ayahnya dan mengusap tangan ayahnya pelan. "Ayah cepet sembuh ya? Flora temenin," ujar Flora lirih kemudian dia duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Awalnya dia berniat untuk rebahan sejenak karena terlalu lelah, tetapi dia justru benar-benar tertidur di sofa yang ada di kamar tersebut.