Bab 2

1085 Words
"CACAAAAA!" Caca menoleh kebelakang dan menemukan teman Abangnya. Ia tersenyum senang. "Gimana boleh nggak pesta nya?" Marvel power nagel. Tipikal cowok gesrek, babdoy, urak urakan, jangan ragukan kegilaan Marvel. "Boleh dong Caca," bangganya. "Alfa ngga mau ikut nih! Ngga seru kan?!" Vinno gergio. Tipikal cowok gesrek juga ya sebelas dua belas lah sama Marvel. Sedangkan yang disebelah Vinno itu. Alfa yurlandia, dia ini sama seperti Benua. Orangnya bodo amatan. Alfa hanya mengedikkan bahunya acuh saja dan kembali berjalan. "Rachel mau nggak?" tanya Vinno. "Tenang dia bakalan mau kok. Ntar alkohol nya kita masukin kedalam teko dan bilang kalo itu air putih. Beli alkohol yang mahal dong yang bau nya ngga terlalu menyengat di hidung!" kata Caca. "Gampang masalah itu Ca! Semuanya bakal kita beresin." Vinno pun tersenyum. Ia menaruh tangannya dipundak Caca. Mereka berjalan bersama sama menuju kekelas. Kelas aja beda apalagi gedung. ~ ~ ~ ~ Caca dan temannya keluar dari ruang loker khusus perempuan. Hari ini jadwal mereka olahraga. "Ayo dong Hel, kan kita pesta untuk kemenangan lo olimpiade sains nasional kemaren." Anna alicia memohon kepada Rachel. "Iya Hel. Pesta nya juga di rumah Benua," timpal Viona arabella. "Rumah Benua," gumam Rachel. "Iya Hel, rumah Bang Benua" sahut Caca. "Lagian gue udah minta izin kok. Bang Benua bolehin tapi ngga boleh minum alkohol," tambah Caca. Rachel tampak menimang ajakan teman temannya ini. Ia memandangi satu persatu temannya yang mengeluarkan jurus puppy eyes. Helaan napas terdengar dari Rachel. "Janji nggak akan ada alkohol?" "JANJI!" seru mereka dengan semangat. Akhirnya Rachel menyetujui ajakan dari temannya ini. Jam pelajaran olahraga pun dimulai. Seperti biasa didahului dengan pemanasan. Selanjutnya pengambilan nilai. "Tepi yuk!" ajak Viona yang mulai kepanasan. Mereka berempat pun menepi. Rachel juga sudah mengambil nilai. "Malam ini kan dirumah Benua?" tanya Anna memastikan lagi. "Iya, Bang Ben bolehin kok tenang aja." Caca mengedipkan matanya penuh arti. Rachel itu paling susah diajak bersenang senang. Padahal ke club malam itu paling asyik menurut Caca, Viona, dan Anna. Apalagi mereka sering ke club malam ditemani dua kunyuk Marvel dan Vinno. Caca menoleh kebelakang bertepatan dengan bu Erna keluar kelas. Caca langsung menoleh kedepan lagi. "Jangan noleh kebelakang," bisik Caca. Ya kalian tau lah mereka menghindari suruhan Bu Erna. Bu erna ini sangat suka menyuruh anak muridnya. Rachel tersenyum dan menoleh kebelakang. Ia menyapa Bu Erna dan berdiri dari duduknya. "Rachel, boleh tolongin Ibu bawa buku?" pinta Bu Erna. "Yang didalam kelas kenapa Bu?" tanya Rachel. "Ini kelas pemalas semua. Tolongin Ibu ya." Rachel mengangguk. Memang Rachel dan teman temannya sedang duduk di koridor gedung ips. Ips disini dominan dengan anak nakal dan kebanyakan cowok. Tapi nggak semua juga nakal. Saat Rachel masuk banyak yang menggoda rachel terang terangan. Gadis itu hanya membalas dengan senyuman. Ia menyusun buku di atas meja guru dan mengambilnya. "Ada neng Rachel nih. Nyariin Bang Andre ya." "Aduh Rachel jangan senyum. Babang tampan nggak kuat nih." "Najis banget dengar kata tampan! Muka kayak blasteran sempak Ultraman aja sombong!" "Emang Ultraman pakai sempak ya?" "Rachel mau ditolongin nggak. Imbalannya minta cinta aja deh." Rachel menanggapi itu semua dengan senyuman saja. Ia membawa buku buku yang banyak ini keluar kelas biarpun sedikit kesusahan. "Yaelah Hel rajin amat nolongin guru!" ledek Caca. "Pahala mengalir." setelah mengatakan itu Rachel memilih pergi saja sambil membawa setumpuk buku ditangannya. Saking fokusnya dengan buku buku yang banyak ini. Rachel tak sengaja menabrak d**a bidang seseorang hingga buku bukunya jatuh kelantai. "Maaf gue ngga lihat tadi," ucap Rachel. Lelaki itu tak menjawab. Ia memilih membantu Rachel memungut buku buku yang berjatuhan tadi. "Ngga ada cowok?" tanya lelaki itu membuat rachel mendongakkan kepalanya. "Tadi Bu Erna minta tolong." "Biar gue bantu!" "Makasih." "Hm." Benua tak suka saja jika perempuan yang disuruh membawa buku sebanyak ini. Apa guna nya lelaki didalam kelas kalo tak mau membawa buku. Mending pakai rok aja dah. Tentunya sangat senang bisa ditolong oleh mostwantedboy sekolah SMA PANCASURYA. Suatu keberuntungan bagi Rachel. Benua memang baik Rachel akui itu. Cuman sayang Benua itu dingin dan datar. Kalo ngomong ngirit banget. Bakalan tak ngirit kecuali sama sahabat, keluarga atau orang yang ia kenal. Benua itu ramah. Benua dan Rachel pun masuk kedalam ruang guru tak lupa mengucapkan salam. Bu Erna tersenyum saat mereka berdua menyalami tangan Bu Erna. "Aduh kalian itu cocok banget tau nggak. Yang satunya pintar dibidang study yang satunya pintar di bidang olahraga," puji Bu Erna. Rachel yang dipuji seperti itu menjadi malu dan jantungnya berdetak tak karuan. Lain dengan Benua yang hanya menunjukkan senyuman tipisnya. "Saya permisi Bu," pamit Benua disusul rachel. Rachel segera mengejar Benua. Lelaki itu berjalan begitu cepat sekali. "Benuaaa!" Benua berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. "Jangan lari!" Rachel pun berhenti berlari. Ia berjalan dan menghampiri lelaki itu. "Makasih udah ditolongin tadi," ucap Rachel hanya dapat anggukan dari Benua. Setelah itu Benua pun pergi dari hadapan Rachel. Rachel mendengus sebal. Bilang sama sama kek apa kek. Rachel pun kembali ke lapangan. Disana teman temannya sudah berbaris. "Maaf pak tadi saya bantuin Bu Erna." izin Rachel saat ia terlambat. Pak Fadli tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa apa Rachel. Kamu bisa masuk ke barisan." Rachel pun masuk kedalam barisan teman temannya. Kini mereka berlari keluar sekolahan. Pak Fadli memang menyarankan berlari bersama sama keluar sekolahan agar tak bosan di dalam sekolah. Namanya juga anak SMA ya kalo ketemu jajanan di pinggir jalan ya beli. Pak Fadli pun menuruti keinginan mereka. Intinya jangan pisah saja. Mereka sangat suka diajari pak Fadli. Pak Fadli itu guru super baik banget. "Gue tadi lihat lo jalan sama Benua. Lo pacaran ya?" pertanyaan Viona membuat Rachel tersedak siomaynya. Caca langsung menyodorkan sebotol air mineral ke Rachel. "Mana mungkin pacaran. Kayak ngga tau Bang Ben aja," timpal Caca. "Gue setuju kata Caca. Benua itu susah banget didekatin," sahut Anna. "Dia nolongin gue bawa buku doang. Punya teman ngga ada yang nawarin tolongan," sindir Rachel. Teman temannya yang mendengar itu hanya menyengir dan meminta maaf saja. Ya, ginilah nasib punya teman pemalas dan isi otaknya contekan, clubbing, arena balap dan tawuran. Setelah melariskan dagangan tukang siomay. Mereka kembali melanjutkan larinya. Karena selesai makan ngga baik lari. Mereka disuruh Pak Fadli jalan santai saja. "Rachel, lo jadikan ke rumah Bang Ben?" Rachel memutar bola matanya malas. "Terus tanyain aja itu! Bosan tau nggak kalian nanyain itu dari tadi!" kesal rachel. "Ya gue takut lo ngga datang," cicit caca. "Gue datang Ca. Tenang aja lo." "Oke gue tenang." Caca pun memilih diam saja. Lagi lagi Rachel dibuat geram saat Rachel mengajak bicara Caca malah diam tak menjawab. Maksud Rachel tenang itu bukan kayak gini. Punya teman b**o semua. Aish menyebalkan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD