Caca langsung masuk kedalam rumah Benua. Benua yang duduk disofa pun kaget karna pintu dibanting begitu keras. Hingga menimbulkan bunyi keras juga.
"Lo simpan dimana?" tanya Caca.
Caca sedang vidcall sama Vinno. Ia mencari obat perangsang itu. Soalnya Vinno mau kucingnya segera punya anak.
"Atas kulkas b**o!"
Caca pun mencari obat itu di atas kulkas. Namun tak ada apa apa disana. Ia mencari disamping kulkas juga tak ada.
"Nyari apa Non Caca?" tanya Bi Yumi yang datang dari arah belakang.
"Ada lihat obat botol kecil enggak?"
"Ngga ada Non. Bibi ngga lihat."
"Di atas kulkas. Udah Abang buang. Isinya habis masuk kedalam gelas minuman itu!"
Caca langsung mematikan sambungan vidcallnya. Ia berbalik dan menatap Benua dengan heran.
"Ruang televisi!" Caca meneguk salivanya susah payah. Ia akan ditanya Abangnya kali ini.
Benua berjalan ke ruang televisi dengan santai dan duduk disana. Caca duduk disebrang sofa benua. Lelaki itu menatap adiknya datar.
"Punya siapa obat itu?" tanya Benua dingin membuat Caca lagi lagi meneguk salivanya.
"Pu-punya Vi-Vinno."
"Abang bilang apa?"
"Ng-nggak boleh minum alkohol."
"Tapi apa?"
"Caca minumnya."
"Kenapa masukin kedalam gelas di dapur?"
"Airnya kelebihan."
Sumpah ini pertanyaan semakin membuat Caca panas dingin. Abangnya kalo marah ya gini. Setiap pertanyaan selalu dingin. Benua memang tak pernah membentak adiknya sama sekali. Palingan ucapan tegas aja yang keluar dari mulut Benua.
"Tau, apa yang kamu perbuat? Dan tau apa yang terjadi sama obat itu? Dan tau kenapa Rachel ada di dalam kamar Abang? Dan tau apa yang akan terjadi? Dan tau resiko dari ini semua?"
Caca menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Benua yang bertubi tubi itu. Helaan napas berat dari Benua yang Caca dengar.
"Pernah Abang bentak kamu?" Caca menggeleng.
"Pernah Abang pukul?" Caca menggeleng lagi.
"Pernah Abang nyeret kamu?" Caca menggeleng lagi.
"Enggak kan?" Caca mengangguk.
Benua tak habis pikir. Karna minuman itulah kejadian kenapa Rachel bisa ada dikamarnya. Salah Benua juga kenapa tidak mengambil minuman baru. Benua juga tak tau kalo itu alkohol karna warna nya sama seperti air putih biasa.
"Taukan hubungan suami istri apa?" Caca memgangguk. Ia tau arah pembicaraan Abangnya.
"Ya, Abang ngelakuin itu sama Rachel di kamar. Karna air minum kamu! Dan obat itu. Obat itu tumpah dan masuk kedalam minuman kamu. Dan Abang minumnya! Abang kira air putih. Tapi bukan. Siapa yang buat Rachel mabuk?"
Caca terkejut. Jadi ini kenapa Rachel selalu menghindarinya dan yang lain. Caca jadi merasa bersalah pada Rachel.
"Caca," jawabnya.
"Kenapa disuruh minum! Itu anak orang Ca. Dia nggak pernah minum itu. Tapi kenapa kamu suruh dia minum sampai mabuk? Dan kenapa dia bisa ada dikamar Abang?"
"Dia mau ke toilet tapi di toilet dapur ada Anna. Jadi Caca tunjuk kekamar Abang aja di atas. Rachelnya kesana. Abis itu Caca dan yang lain tertidur setelah alkohol satu teko besar itu habis."
"Punya siapa obat itu?"
"Punya Vinno. Katanya buat kucingnya biar punya nafsu dan bisa punya anak. Karna kata Vinno kucingnya nggak ada nafsu."
Benua pun terdiam. Sudah cukup pertanyaannya. Ia meraih ipadnya dan mengecek email masuk. Ia membalas satu persatu email itu.
Benua mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Gista, bisa cek kan saya pengeluaran pembangunan hotel di jalan cempaka."
"Baik Pak. Sebentar."
"Kirim ke w******p saja. Saya tunggu dan suruh Alfa chat saya."
"Baik Pak."
Benua mematikan sambungan teleponnya. Setelah itu ia fokus lagi pada ipadnya. Caca ragu, ia ingin bertanya kepada Abangnya tapi takut.
Caca menggigit bibir bawahnya. Kalo bertanya salah ngga ya. Itulah yang dipikiran gadis itu. Benua bisa melihat gerak gerik Caca lewat sorot matanya.
"Mau apa?" tanya Benua tanpa mengalihkan pandangannya dari ipad.
"Caca boleh tanya?"
"Hm."
"Kalo abang ngelakuin itu sama Rachel. Apa Rachel bakalan hamil? Terus Caca harus gimana kalo Rachel hamil? Apa Caca harus tanggungjawab dan nikahin Rachel. Gitu?"
Benua pun memandangi adiknya dengan datar. Caca hanya menunjukkan deretan giginya.
"Nggak bakalan terjadi!"
"Apa Bang Ben yakin?"
"Iya."
Caca hanya mengedikkan bahunya acuh. Kalo Rachel sampai hamil maka Caca akan terkena juga hukuman dari Papanya.
"Kalo beneran hamil gimana?"
"Caca harus jujur sama Papa! Bukan cuman Abang aja! Paham?"
"Paham Bang."
Caca pun pergi kedapur. Ia melihat Bi Yumi sedang membuat bakso. Bau nya sangat harum sekali membuat Caca menjadi lapar.
"Bang Ben suka makan bakso mihun ya Bi?"
Bi yumi menoleh ke Caca dan tersenyum.
"Iya Non Caca. Den Benua memang suka bakso mihun, apalagi kalo ada daging rebusnya."
"Caca mau dong."
"Bentar ya. Non Caca duduk dulu."
Caca dengan senang hati pun duduk di meja makan. Sambil menunggu masakan Bi Yumi matang.
Bi yumi menghidangkan mihun, mie kuning, kecap, saos, sambal, jeruk nipis dan teman temannya. *Malas nyebutin satu satu. Kalian juga tau kan.
Caca semakin menjadi lapar saat melihat bakso yang masih berasap dan daging rebus didalam mangkuk.
"BANGGG BENNN! MAKAN DULUUU!" teriak Caca.
Benua pun menghampiri adiknya di meja makan. Caca mengambilkan bakso untuk Abangnya. Barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri dengan porsi besar.
"Bi ayo makan," ajak Caca.
Bi Yumi pun ikut makan bersama mereka. Memang kalo Benua makan sendiri itu suka ditemani sama Bi Yumi dan terkadang ada anak dan keponakan Bi Yumi juga. Cuman lagi dikampung.
Anaknya Bi Yumi baik dan sopan. Tapi keponakan Bi Yumi ini selalu caper sama Benua. Anak dan keponakan Bi Yumi tak bersekolah lagi dan diam dikampung saja. Keponakan Bi Yumi ini ikut Bi Yumi karna sudah tidak memiliki orangtua lagi selain Bi Yumi keluarga satu satunya.
"Pelan pelan Ca makannya. Kayak nggak makan setahun aja," ucap Benua.
"Baksonya enak banget. Caca baru makan bakso disini. Padahal Bang Ben udah ninggalin rumah setahun."
Benua pindah saat ia menginjak kelas 1SMA. Ia memilih mandiri dan mengurus perusahaan Kakenya. Ia juga dibimbing dan baru kelas 2SMA ini ia tak dibimbing lagi dan menjalankannya sendiri.
Uhukk uhukk
Caca tersedak akibat makan dengan cepat. Benua memberikan Caca minum dan mengusap punggung gadis itu.
"Udah enakan?" tanya Benua.
"Udah Bang." Benua meletakkan gelas kosong diatas meja makan.
"Pelan pelan makan nya Caca!"
"Iya Bang."
Caca pun makan dengan menikmati baksonya. Yang awalnya makan cepat kini ia makan dengan perasaan takutnya tersedak mie kuning lagi.
Setelah selesai makan. Caca membantu bi yumi membersihkan meja makan. Sedangkan Benua berada di ruang kerjanya dilantai atas. Jam segini benua memang sibuk biasanya sih. Tapi ngga setiap hari juga.