Bab 8

1185 Words
Rachel, Anya, dan Juan sedang berada di perpustakaan bersama guru pendamping Pak Ferry dan Bu Mursanah. Mereka akan melakukan olimpiade internasional di london. Sekolah mereka memang selalu mengikuti olimpiade internasional. Mereka bertiga ini orang yang sama dengan orang yang mengikuti olimpiade sains nasional. Juan ini sedikit ke perempuanan. Ia lebih duka berteman sama perempuan. Ya bisa disebut kek b*****g gitulah. Jika ia menjadi lelaki maka akan dijuluki mostwantedboy. Cuman sayang Juan lebih suka menjadi perempuan. "Kertas lakmus biru akan berubah menjadi merah, bila dimasukkan ke dalam larutan?" tanya Pak Ferry. "Asam klorida," jawab Juan. "Masih tau kan tentang teori pembahasan pelajaran kimia?" tanya Bu Mursanah. "Tau bu," jawab mereka kompak. Pak Ferry berdiri dari duduknya. Ia menuju ke rak buku khusus anak IPA. Ia mengambil 3 buku paket tebal itu dan memberikan kepada Rachel, Anya dan Juan. "Pelajari materi dan pembahasan dibuku ini. Sebulan lagi kalian akan ke london. Persiapkan diri kalian. Bahasa inggris kalian lancar kan?" "Lancarrr dong Pak, selain olimpiade sains kita juga pernah ikut lomba pembahasan materi jerman belanda," bangga Anya. "Yasudah, kalian boleh istirahat. Kalo kurang paham bisa tanyakan ke Bapak atau ke Ibu Mursanah diruang guru ya. Bapak dan Ibu pamit dulu." Mereka menyalami punggung tangan Pak Ferry dan Bu Mursanah. Juan bersorak girang karna di perpustakaan hanya mereka bertiga tak ada penjaga perpus. Jadi mereka aman buat membuat keributan di perpus. "Yesss, ke london!" pekik Juan girang karna sudah lama ia ingin ke london. Anya dan Rachel hanya menggelengkan kepalanya saja. Setelah itu mereka memilih masuk kedalam kelasnya untuk menyimpan buku bukunya itu. ~ ~ ~ ~ "Rachel lo dari mana? Nih kita beliin makanan." Anna memberikan sebungkus nasi kuning kepada rachel dan diterima baik oleh gadis itu. Rachel duduk bersama Caca dibelakang Anna dan Viona. Anna dan Viona memutar kursinya kebelakang untuk makan bersama. "Hel, maaf ya soal kejadian di rumah Bang Ben," ucap Caca tiba tiba. "Udah Ca, ngga usah dibahas lagi," kata Rachel. Anna dan Viona sudah tau kejadiannya dari Caca. Begitupun teman Benua, Vinno meminta maaf kepada Benua dan tak akan mengulanginya lagi. Tapi Benua tetap tak percaya. "Lo bakalan nonton kan tanding basket pulang sekolah ini Hel?" tanya Viona disela makannya. Rachel memilih mengunyah makanannya terlebih dahulu. Sebelum menjawab pertanyaan Viona. "Bukannya kemarin?" "Kemarin rapat dulu. Nggak jadi tanding," jelas Anna membuat Rachel mengangguk. "Jadi, lo ikut nonton kan Hel?" sahut Caca. Rachel sebenarnya malas menonton pertandingan basket ini. Karna kapten basketnya adalah Benua dan otomatis Benua akan ikut tanding. "Ayolah Hel," mohon teman temannya dengan jurusan andalan puppy eyes. Rachel hanya memutar bola matanya malas. "Iya," jawabnya malas. ~ ~ ~ ~ Lapangan indoor penuh dengan anak SMA PANCASURYA dan SMA KERASAKTI. Caca dan temannya memilih duduk paling depan. Agar bisa melihat pertandingan ini dengan jelas. Sedangkan Rachel sibuk dengan gadgetnya. "Woy Hel, nonton juga lo?" Anya datang bersama Juan. Lelaki itu tak lepas dari bando pink bergambar pita. Mereka berdua duduk disamping Rachel. "Hai Anya, hai Juan," sapa Caca. "Hai Caca," balas mereka. "Gilaaa! Nggak lama lagi mau ke london nih! Selamat ya." Anya dan Juan dengan senang hati menjabat tangan Anna dan Viona. Mereka ini beda kelas. Rachel dan temannya kelas Xl ipa3 sedangkan Anya dan Juan kelas Xl ipa5. Mereka akrab hanya gitu gitu saja tak terlalu akrab benar. Kecuali Rachel karna mereka satu grup. Benua dan lawan mainnya pun keluar menuju lapangan indoor. Rachel bisa melihat Vinno dan Marvel yang sedang bersenda gurau dan Benua yang terdiam dengan ekspresi datarnya. Rachel memilih berbicara kepada Anya saja. Anya kurang suka melihat pertandingan ini. Karna Juan lah yang mengajaknya. Juan ingin melihat kekasihnya. Oh tidak lebih tepatnya pengagumnya. Juan menyukai Tama dafandra kapten basket SMA KERASAKTI. Tama memang tampan seperti dengan Benua. Rachel tertawa lepas bersamaan dengan suara riuh dari tribun disini. Sorot mata lelaki menatap Rachel dengan lembut dan tersenyum. "BABYYY BENUAAAA SEMANGATTT SAYANGGG!" pekik Glowy. Caca menatap Glowy malas yang berada disampingnya ini. Ia pikir Benua masih bayi dipanggil baby. Glowy menoleh kesamping. "Eh ada adik ipar. Kita semangatin Benua sama sama ya," ajak Glowy. "Nggak mau!" ketus Caca dan memilih sedikit menjauh dari Glowy. Kalau bukan adiknya Benua. Glowy tak mau menyapa Caca yang ketus ini. Caca sangat rese bagi Glowy. Benua menatap lawannya. Tama memperhatikan tribun membuat Benua ikut menatap apa yang dipandang Tama. Ternyata lelaki itu memandangi Rachel yang sedang mengobrol dengan temannya. Benua hanya bodo amat. Setelah itu pertandingan dimulai. Rachel tak fokus dengan pertandingan. Ia memilih mengobrol dengan Anya saja. "AYANGGG TAMAAAA SEMANGAT!!" "NANAAAA AKAN SELALU ADA UNTUKMUU!" "Juna berisik!" kesal Anya saat lelaki itu berteriak. "Gue mau nyemangatin Tama doang!" "Jijik tau nggak! Lo itu cowok suka sama cowok! Mau adu pedang lo!" "Serah gue dong!" Anya memilih diam saja. Juna tetap meneriaki nama Tama biarpun ditatap sinis sama teman sekolahnya. Apa salahnya ia menyukai Tama dan menyemangati Tama. Terserah dia dong. Masalahnya lo itu cowok masa suka sama cowok. Pertandingan pun selesai. Rachel memilih pergi bersama Anya dan Juan. Karna caca dan temannya akan menghampiri anak basket dari sekolahnya. Rachel malas berhadapan dengan Benua. "Boleh kenalan?" tanya Tama yang menghadang Rachel jalan. Juan sangat bahagia sekali. Bisa melihat Tama lebih dekat seperti ini. Ia hanya mengagumi lelaki ini dan sedikit memiliki rasa sih. "Gue?" tanya Rachel. Tama mengangguk. "Rachella rainbow." "Tama dafandra." Tama langsung menjabat tangan Rachel. "Emm, boleh minta nomor ponsel lo?" "Buat apa ya?" "Kontekan aja gitu biar lebih dekat." "Maaf privasi ya." Setelah mengatakan itu Rachel memilih pergi saja. Ia tak akan memberikan nomor ponselnya kesembarang orang. Apalagi ia baru mengenali lelaki ini biarpun ia sering melihat lelaki ini keluar masuk sekolahannya. "Wow, gilaaa dia ngajak lo kenalan," girang Juan. "Apasih! Kenalan doang," ketus Rachel. "Gue rasa dia suka sama lo. Patah hati dah si Juan," ledek Anya. "Nggak masalah. Gue bisa cari yang baru lagi. Juannn gitu loh," ucapnya sambil mengibaskan rambut pendeknya itu. Apa yang mau dikibaskan kalo rambut pendek gitu. Dasar! "Kalo dia suka sama lo gimana Hel?" tanya Anya penasaran. "Ya biarin lah. Rasa suka kan banyak. Bisa dalam bentuk mengagumi, hobi, berteman, berkenalan dengan orang lain, atau yang lainnya," jawab Rachel. "Emang dia tau hobi lo?" Rachel hanya mengedikkan bahunya acuh saja. Mana ia tau. Tama tersenyum senang. Setidaknya ia tau nama gadis yang selama ini ia incar. "Woyyy ngapain lo disini?" tanya Arion kepada Tama. "Gue abis kenalan sama cewek yang menang olimpiade sains lawan sekolah kita," jawab Tama sambil tersenyum dan membayangkan wajah Rachel yang sangat cantik dan manis itu. "Oh, Rachel." "Kok lo tau namanya Rachel?" heran Tama. "Ada deh. Rahasia!" kata Arion sambil meninggalkan Tama. Tama mengejar Arion menanyakan kenapa lelaki itu mengenal Rachel. Namun Arion tetap tak mau menjawabnya. Biarkan Tama tau sendiri siapa Rachel dan siapa dia. Masa teman sejati nggak tau sih. ~ ~ ~ ~ Rachel menuruni anak tangga. Ia menuju kedapur untuk makan malam bersama Bundanya. "Jangan lupa istirahat. Jangan belajar mulu. Kamu kan mau ke london. Otaknya harus lebih fresh," pesan sarah. "Iya, Bun." Sarah mengambilkan makanan untuk Rachel. Gadis itu pun makan malam hanya berdua. Ayahnya jarang pulang karna urusan TNI. Kalo pulang palingan seminggu dirumah dan paling lama sebulan doang tapi pulang sebulan pun harus meninggalkan rumah selama 7 bulan. Waktu yang lama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD