Rachel masih berdiam diri dikamarnya. Ia hanya keluar kamar pas makan siang saja. Rachel duduk dimeja belajar. Pikirannya sama sekali tak tenang.
Ia memikirkan kejadian tadi malam. Bisa bisanya ia melakukan hal menjijikan itu dengan seorang lelaki tanpa status.
Rachel semakin resah, bagaimana jika ia hamil. Apa yang akan ia lakukan. Menggugurkan kandungannya. Tapi ia sudah berbuat dosa tak akan ia menambah dosa lagi.
Ah rachel semakin dibuat pusing. Ia menyesal mengikuti pesta kecil kecilan itu dan meminum alkohol itu. Memang rasanya bikin ketagihan. Namun terasa aneh juga tapi nikmat jika diminum. Baru kali itu rachel menyentuh minuman laknat itu.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang!" Rachel meraba perutnya.
"Semoga enggak terjadi apa apa."
Rachel benar benar khawatir sekarang. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia meraih ponselnya dan disana banyak sekali chat masuk dari w******p.
Benua twin Caca
Gue minta maaf soal kejadian tadi malam.
Cacaaa
Hel, maaf karna kita nyuruh lo minum alkohol itu.
Viona
Rachel, lo marah sama kita ya?
Anna
lo kenapa bisa ada dikamar Benua?
Olimpiade sains nasional ?
Juan sedang mengetik...
Alumni angkatan 45 (SMP)
Dona : gila cantik sial!
Mbak mega
Salamin ke Bunda. Mbak ngga bisa kerumah hari ini ya.
Rachel kembali menaruh ponselnya. Ia melihat isi chat Benua. Percuma minta maaf kalo semuanya sudah terjadi.
Tak perlu ada penyesalan lagi kalo sudah terjadi begini. Ia sudah tak perawan lagi. Keperawanannya direnggut oleh kakak temannya sendiri.
Ia harus bagaimana ini. Bisa gila Rachel memikirkan ini semua.
"Gue bisa gilaaaa!"
Rachel beralih pada kasurnya. Ia memeluk boneka beruang putihnya itu. Menutup wajahnya dengan boneka nya sambil kaki yang ia tendang ke udara.
~ ~ ~ ~
"RACHEELLLL!" Rachel tetap berjalan meskipun temannya dari tadi memanggil dirinya.
Ia bukan marah. Cuman karna air sialan itu. Keperawanannya hilang. Aish! Kenapa harus memikirkan itu lagi.
Rachel berjalan cepat. Pikirannya entah kemana. Hingga ia tak sadar menabrak d**a bidang seorang lelaki. Saat akan terjatuh dengan cepat lelaki itu menarik pinggang Rachel. Rachel yang kaget pun langsung memejamkan matanya. Karna malu kalo jatuh.
Tapi ia tak merasakan sakit sama sekali. Rachel membuka matanya. Betapa terkejutnya ia melihat wajah datar lelaki itu lagi.
Gue benci sama lo!
Rachel langsung berdiri dan membenarkan bajunya. Ia menatap ke arah lain. Asalkan jangan menatap lelaki didepannya ini.
"Pagi Rachel," sapa Marvel.
"Pagi," balas Rachel.
"Yaallah, Hel. Lo kenapa sih. Kita manggil manggil nggak disahut. Lo marah karna kejadian pesta malam itu?" Tanya Anna.
"Oh iya, kenapa lo bisa ada dikamar Benua?" sahut Vinno.
Alfa yang tau permasalahannya pun memilih diam saja. Rachel pun diam, Benua menatap Rachel yang terdiam untuk beberapa saat.
"Gue ngga papa!" Rachel langsung mendorong tubuh Benua agar memberinya celah untuk melanjutkan perjalanannya menuju gedung ipa.
"RACHELLLL!" temannya pun kembali mengejar Rachel.
Caca memandangi Benua dengan mata yang menyorot tajam. "Bang Ben hutang penjelasan sama Caca!"
Caca pun pergi dari hadapan Benua. Benua merasa bersalah atas apa yang ia lakukan kepada Rachel. Ia berani sumpah, ia melakukan itu entah antara sadar atau tidaknya. Pikirannya linglung entah kemana. Terpengaruh minuman alkohol itu.
"Benua, kenapa Rachel bisa ada dikamar lo? Dan teriak teriak juga? Apa jangan jangan-"
"Bukan urusan lo," potong Benua dan melangkah pergi.
"Ini salah kalian juga! Awas aja!" ancam Alfa.
Vinno dan Marvel mengedikkan bahunya acuh dan memilih mencari Caca saja sobat karibnya itu.
~ ~ ~ ~
Marvel, Vinno, Anna, Caca, dan Viona sedang berada ditaman sekolah. Istirahat mereka lakukan untuk berdiskusi.
"Gue aneh sama sikap Rachel. Gue kan duduk sama Rachel nih. Gue ngga sengaja lihat lehernya kayak bercak merah yang udah pudar gitu. Kalo dilihat dari jauh nggak bakalan nampak. Tapi kalo lihat lebih dekat dan mata kalian, kalian tajamkan itu bakal kelihatan. Namun sayang ketutup rambut," jelas Caca.
"Obat perangsang lo. Lo bawa pulang?" tanya Anna.
Vinno menepuk jidatnya. "Gue tinggalin di atas kulkas rumah Benua!"
"Apa mungkin ada hubungannya sama obat itu?" Viona mengetuk ngetuk dagunya.
"Mana mungkin lah. Orang obatnya gue tutup. Mana bisa diminum sama Benua. Benua juga tau kalo itu obat perangsang!"
"Bakalan gue tanyain ini sama Bang Ben," kata Caca.
"Benar lo harus tanyain ini sama Benua," timpal Marvel.
"Eh luka kalian gimana?" tanya Vinno.
Anna dan Caca pun menunjukkan lukanya yang sudah mengering. Ia tersenyum bangga dengan hasil kenakalannya dan alhamdulillahnya pas Caca pulang. Mamanya ngga ada dirumah. Mamanya ke markas. Lebih aman sekali.
"Pulang sekolah jadikan kalian tanding basket sama Sma kerasakti?" tanya Anna.
"Jadi dong. Kalian pasti nonton kan?" balas Vinno.
"Pastinya kita nonton dong! Tenang aja lo! Kita cs kental!"
Mereka tertawa nyaring dan membahas kembali tentang basecamp nya bakalan ia pindahkan. Namun saat bertanya kepada Benua. Lelaki itu menolak jika basecamp pindah ke hutan. Lebih baik cari basecamp yang dekat warung. Biar nongkrongnya lebih enak sambil ngemil ataupun ngopi.
~ ~ ~ ~
Rachel menyusuri rak perpustakaan. Ia malas mengikuti teman temannya yang membicarakan hal tak penting. Padahal temannya sedang membicarakan dirinya. Ia tau temannya akan bertanya tentang pesta itu lagi.
Rachel mengambil buku di rak yang tinggi. Ia berjinjit dan berhasil mengambil buku yang berjudul HITUNGAN MATEMATIKA CEPAT.
Rachel membuka isi buku itu dan sedikit mempelajarinya. Hingga ia merasakan seseorang yang berdiri didekatnya. Ia melihat orang yang tinggi itu.
Benua mengambil buku asal asalan. Ia ingin berbicara kepada Rachel. Saat melihat jika orang itu adalah Benua. Membuat Rachel membuang mukanya dan kembali menatap bukunya.
"Rachel," panggil Benua.
Rachel tak pernah sedekat ini dengan Benua. Lelaki ini paling susah didekati perempuan. Baru kali ini Benua memanggil namanya duluan. Biasanya Rachel yang memanggil Benua karna perlu pertolongan saja.
"Soal kejadian malam itu. Gue minta maaf."
"Gue ngga sengaja dan ngga sadar ngelakuin itu."
Rachel mendongakkan kepalanya. Ia menatap Benua dengan mata yang berkaca kaca.
"Apa dengan lo minta maaf semua bisa baik lagi keadaannya? Enggak kan? Percuma lo minta maaf. Ngga guna!"
"Gue emang salah. Tapi kita ngelakuin itu semua karna terpengaruh alkohol!"
"Lo renggut mahkota gue! 17 tahun gue jaga. Untuk siapa? Untuk suami gue kelak! Tapi apa? Lo ambil itu semua hiks."
"Gue ngga sengaja."
"Lo bilang nggak sengaja? Udahlah jangan dibahas lagi. Gue minta lo jauhin gue!"
Rachel menyimpan bukunya kembali ke rak yang ia ambil tadi. Rachel pun pergi dari hadapan Benua. Namun langkahnya terhenti dan berbalik menatap Benua.
"Satu lagi, anggap aja kejadian itu tak pernah ada!"
Benua hanya terdiam. Ia tahu bahwa Rachel sakit hati padanya. Tapi jujur ia melakukannya karna terpengaruh alkohol, lagian Rachel membalas ciumannya juga dan mereka melakukan bersama sama dan yang paling utama karna alkohol itu.
"Rachellll! Kantin yuk," ajak Anna yang kini bersama Caca dan Viona.
"Kalian aja gue enggak mau," tolak Rachel secara halus.
"Seriusan nggak mau makan?" tanya Caca memastikan.
"Iya."
Mereka pun memilih pergi tanpa Rachel. Memang seperti nya ada yang salah dari merrka makanya rachel tidak mau bersamanya lagi.