Bab 5

1028 Words
"Ma, panasss!" keluh Caca. Apa gini nasibnya punya orangtua TNI. Papanya TNI, Kakeknya TNI dan Mamanya mafia. Caca tau kalo Kella itu mafia. Lebih bagus diancam pake senapan andalan Kakeknya yang sekali tembak langsung mati. Lah ini pake meriam cuyy. Meriam memang ada didepan rumah Caca. Meriam ini bukan hanya pajangan tapi bisa digunakan juga. Tak jauh dari itu berdiri Kella ditempat teduh. "Kenapa mabuk mabukan dirumah abang kamu?!" Seketika Caca hanya bisa bungkam dan menundukkan kepalanya. Mau pura pura pingsan itu cara waktu dia masih kecil. Udah ngga mempan lagi untuk sekarang. Kella yang merasakan tak ada jawaban dari anaknya. Menatap Caca tajam. Biarpun bebas tapi Caca harus dihukum juga. Tapi mana ada kata jera' bagi Caca. "Ini jam 11 kamu boleh masuk kalo udah jam 5 sore!" Caca membelalakkan matanya. Kering dong dianya kalo dijemur gini. Caca berdecak sebal saat mamanya masuk kedalam rumah. Ponselnya pun berdering. Tengkorak ☠️ Marvel CACAAAAAAA!! Tawuran yokkk Anak Sma mandiri nyoret basecamp kita! Vinno WOYYY KETUAAAA! CACAAAAAA! Anna Dihukum lagi lo Ca? Viona Cepetan Caaaaa! Gema WOYYY CACAAAA! GUE OTW ANJENGGGG! SIAPKAN SENJATA BAWA PASUKANNN GUE MIMPINNN! Marvel Okeee Vinno Okeee Gema Okeee Setelah membalas pesan digrup Caca pun melihat situasi. Sudah biasa memanjat pagar tinggi rumahnya. Dalam hal permonyetan alias manjat memanjat Caca lah juaranya. Caca langsung manjat tembok rumahnya. Saat ia melihat satpam rumahnya sedang tertidur pulas. Tak butuh waktu lama Caca sudah mendarat mulus diluar tembok. Ia pun langsung berlari keluar komplek mencari ojek disana. Karna tak jauh dari komplek Caca ada ojek. Alamat ia akan ditambah hukumannya. Tidak masalah harus bonyok dulu kalo pulang. "Mang Udinnnn! Ojek!" teriak Caca dari jauh. Orang yang bernama Udin pun langsung mengeluarkan motornya. Caca adalah pelanggannya yang selalu membayar dirinya dengan jumlah yang banyak. Caca langsung naik ke atas motor. Mang Udin sudah tau kalo Caca mau ke basecamp nya. Mang Udin memang biasanya mengantar Caca ke basecamp. ~ ~ ~ ~ Kini anak basecamp PETIR sudah siap dengan senjatanya tak lupa pakaian serba hitam. Caca memang kebanyakan mengambil garis dari Kella dan Alby yang sifatnya bar bar. Kalo Benua hanya mengambil garis sifat dingin Kella. Caca sudah memimpin didepan bersama Gema. Gema adalah wakil ketua PETIR saat Caca dan yang lain tak berada di basecamp. Kalo Mamanya punya gangster kalo Caca punya geng. Ia tak mau menjadi seperti Mamanya yang harus ikut campur urusan dunia terlalu jauh. Kalo tak ada Benua dan Alfa maka Caca yang turun tangan. Tapi pun mengharapkan dua lelaki itu susah sekali. Kecuali sudah marah benar dan sudah tak bisa dikendalikan lagi emosinya baru turun tangan. "Dimana?" tanya Caca. "Jalan merbabu 17. Jalan itu tak pernah dilewati siapapun dan kiri kanan berhamparan sawah yang meninggi." "Jalan!" Mereka pun pergi menggunakan motor sportnya masing masing. Caca memang tak boleh membawa motor. Ia cukup bilang kepada Dinda saja. Maka wanita itu akan mengabulkan keinginannya. Kalo minta sama Qailla atau Mamanya ya alamat bakalan dapat wejangan. Caca membawa motor sendiri. Jangan tanyakan kenapa tak ada Rachel. Anak itu terlalu alim bagi Caca. Bukan Rachelnya alim Caca nya aja bar bar. Caca pun sampai ditempatnya. Ternyata anak SMA MANDIRI sudah menunggu dirinya. Mereka juga membawa senjata seperti samurai, balok kayu, celurit, pisau lipat, dan golok. Tawuran mereka memang begini. Luka bagi Caca hal biasa. Ditangkap polisi ya bodo amat. Mana ada takutnya sama polisi. "Wah bawa 3 cewek dia. Mungkin buat jaminan kali ya kalau takut sama kita kita." seorang lelaki berbadan tinggi dan berwajah tampan itu menatap Caca, Anna dan Viona meremehkan. "Nggak bawa bom lo? Senjata itu itu doang!" sinis Caca sambil tertawa bersama anggotanya yang cukup ramai. Dari anak SMA MANDIRI ada 50 orang dan dari Caca ada 45 orang. Beda 5 aja sih. Biasa lah. Tapi dari kejauhan mereka diawasi beberapa pasang mata yang sudah siap keluar dari persembunyian. "Daripada lo! Apaan bawa balok kayu sama sapu mau nyapu jalanan lo!" Memang anggota Caca hanya membawa sapu dan balok kayu. Memang sedikit aneh sih. "Mau lo apa ganggu anak Sma pancasurya?!" tanya Marvel to the point. Mereka tersenyum sinis sambil menatap 3 gadis yang tak lain adalah Caca dan temannya. Memang Caca dan temannya memakai pakaian ketat. Ya sudahlah. "Gue ngga suka aja. Sekolah lo menang basket lawan gue! Karna sekolah lo curang! Alfa udah buat Jordan cedera dan sampai sekarang Jordan nggak bisa jalan!" "WOYYYY! hubungannya apa sama basecamp kita kita! Basecamp kita kita bukan hanya anak Sma pancasurya tapi Sma lain juga!" anggota mengangguk setuju dengan ucapan Gema. "Gue ngga suka karna basecamp lo itu sok paling jago! Kalo berani kita lawan sekarang!" "SERANGGGG!" pekik Caca. Mereka pun mulai tawuran. Caca melawan lelaki yang berbadan tinggi itu tak lain tak bukan adalah Alex. Alex anak basket Sma mandiri. Tawuran terjadi. Beberapa kali anak PETIR mengelak dari senjata anak Sma mandiri ini. Mereka bermain senjata tajam. Pukulan demi pukulan mereka layangkan. Tersungkur dan bangkit lagi untuk melawan. Srekk "Sial!" umpat Anna saat lawannya menggoreskan samurai dilengan Anna hingga darah mengucur disana. Bugh Anna memukul lawannya yang sudah berani melukai lengan cantiknya ini hingga lawannya tersungkur. Anna membabi buta lawannya. "JANGAN BERGERAK!" keluar lah beberapa polisi dari persembunyian membuat mereka gelagapan. "Kaburrrr!" intruksi Alex. Semuanya pun mundur dan kabur. Caca dengan cepat mengambil motornya. Mereka kabur luntang lantung. Dorr "Anjimm!" lengan Caca terkena tembakan polisi itu. Mereka pun menjadi main kejar kejaran dengan polisi dijalanan. Karna mereka mencar membuat polisi bingung harus mengejar yang mana. ~ ~ ~ ~ Marvel mengobati luka dilengan Caca sedangkan Gema mengobati luka dilengan Anna. Ketika gadis ini sama sekali tak ada takutnya dengan senjata tajam ataupun polisi. "Tuh polisi sialan banget sih! Lengan gue lecet jadinya!" umpat Caca kesal. "Kita harus pindah basecamp. Polisi akan ngincar basecamp kita!" ucap Vinno. "Mau pindah kemana?" tanya Viona yang sedang meminum soda dan duduk di atas meja. "Dalam hutan. Lebih aman sedikit!" "Cari aja. Sekalian cari bangunan kosong. Ntar kita renovasi," sahut Caca. "Nggak takut lo ada hantunya?" Rizwan bergedik ngeri. "Takut sama hantu. Mending mati aja lo!" sungut Anna. Mereka pun masih mengobati lukanya. Caca sedikit luka dibagian bibirnya. Dan pelipisnya lebam. Ia tahu kalo pulang akan dimarahi Mamanya. Ambil aman ia akan pulang ke apartemennya tapi tak enak juga karna Mamanya sendiri dirumah hanya ditemani pembantu dan satpam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD