Bab 4

1164 Words
Rachel keluar dari mobilnya. Ia gugup kalo nanti dapat pertanyaan dari Bunda atau Ayahnya. Rachel menarik napasnya panjang. Ia berjalan senormal mungkin. Menahan rasa nyeri dibawah sana sesekali ia meringis. Rachel membuka pintu rumahnya. "Rachel, Bunda nyariin kamu. Kamu kemana aja," panik Sarah dan langsung memeluk Rachel. "Maaf Bun. Rachel ketiduran di apartemen Caca," bohongnya. Sarah langsung melonggarkan pelukannya. "Ayah mana?" tanya Rachel. "Setelah panik karna kamu tidak pulang. Ayah ditelpon kantornya. Ada anak training disana." Rachel sangat bernapas lega. Ia tak bisa membayangkan wajah ketegasan Ayahnya karna ia pulang pagi hari. "Rachel kekamar dulu Bun," pamitnya. Sarah pun mengangguk. Rachel berjalan dengan perlahan. Sarah yang menuju kedapur aneh dengan anaknya. Kenapa jalannya pelan dan mengganjal sekali. "Rachel kamu kenapa?" Rachel yang menaiki tangg tersentak kaget dan langsung membalikkan badannya. "Ini Bun kaki Rachel sakit. Jatoh di kasur Caca," bohongnya dengan tersenyum paksa. "Yasudah, jangan lupa kasi obat merah biar cepat sembuh." Rachel hanya mengangguk. Lagi lagi gadis itu bernapas lega. Rachel langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya. Ia terduduk lemas dilantai kamarnya. Maaf Bun udah Rachel udah bohong sama Bunda. Rachel memejamkan matanya. Ia menyingkap bajunya. Dadanya masih memerah. Disana banyak sekali bercak merah. Untung saja bajunya ini menutupi lehernya. Jadi Bunda nya tak akan curiga dengan bercak merah dilehernya juga. ~ ~ ~ ~ Bi Yumi membereskan kekacauan dibawah. Bi Yumi datang lebih awal sekali. Benua menyingkap selimut kasurnya. Disana ada bercak merah. Yang ia yakin itu adalah darah keperawanan gadis yang tadi malam ia renggut mahkota nya. Benua menghela napasnya panjang. Ia tak pernah terpikir sampai kesini. Karna pengaruh obat itu Benua menjadi liar sekali tadi malam. Ia Benua menemukan obat perangsang di atas kulkas. Ia pun membuang obat itu. Ia tak bertanya dulu siapa yang membawa obat itu. Benua masa bodo lah orangnya. "Apa yang gue lakukan." "Kalo Papa tau, pasti Papa marah besar." Benua terduduk disofa kamarnya. Ia menjambak rambutnya dengan kasar. Ia tak bisa membayangkan wajah kekecewaan Mamanya. Ia sudah berjanji akan menghormati wanita baik itu tua maupun muda. Tapi karna satu malam itu. Ia malah mengambil mahkota seorang gadis dan darah dikasur Benua juga tidak sedikit. Ia benar benar merenggut mahkota gadis itu. Benua jadi merasa bersalah kepada Rachel. Hari ini adalah tanggal merah. Ia memilih kekantor saja menenangkan pikirannya. Benua memakai baju kerja nya. Ia langsung mengambil kunci mobil dan turun kelantai bawah. "Bi, jangan siapkan makan siang ya. Saya pulangnya malam. Buatkan bakso saja untuk saya makan malam." "Baik Den." Bi Yumi sudah tau kalo Benua sangat menyukai bakso dengan mihun saja tanpa mie kuning atau mie tiaw. Benua langsung menuju kekantornya. Ternyata Alfa sudah menunggu dirinya dikantornya. "Lo nggak ingat kalo hari ini pelatihan meeting biar bisa menghadapi klien besar!" ucap Alfa. "Gue lupa, udah dimulai belum?" "Satu jam lagi." "Ke ruangan gue dulu." Kantor Alfa dan kantor Benua bersebelahan. Mereka memang bekerja sama. Karna ini adalah kantor kakeknya. Benua pun masuk kedalam ruangannya bersama Alfa. Karyawan Benua masuk tanpa mengetuk pintu dan menangis membuat pertanyaan besar oleh dua lelaki itu. "Ada apa Aira?" tanya Benua. "Pak saya minta keadilan perempuan hiks." Benua masih tak mengerti maksud karyawan yang bernama humaira ini. "Maksudnya gimana?" "Saya hamil." Benua dan Alfa terkejut. Alfa pun mendekat ke Benua. "Lo hamilin dia?" bisik Alfa. Perkataan Alfa membuat Benua kembali mengingat Rachel. Kenapa kejadian ini bertepatan dengan Humaira bertanya. "Siapa yang menghamili kamu dan bagaimana bisa?" "Duduk dulu Aira." Alfa mempersilahkan Aira duduk. Mereka berdua masih menunggu penjelasan dari wanita didepannya ini. Aira masih menangis. Ia masih terluka karna sekarang ia sedang mengandung. "Pak saya dihamili oleh Arya. Karyawan pak Alfa." Alfa membelalakkan matanya. Kenapa bisa ini. Bawa bawa karyawan dia. "Kejadiannya?" tanya Benua masih penasaran. "Jadi gini Pak, saya ikut pesta ke club malam bersama teman saya. Saya ketemu dengan Arya di club malam. Kami berdua salah minum Pak. Yang kami minum itu alkohol kadar tinggi dengan obat perangsang. Kami engga tau kalo itu minuman orang yang mesan. Karna terletak di meja bar jadi kami minum aja. Dan malam itu kami melalukan hal hal yang jauh dari pikiran kami. Setelah kejadian itu Arya menjauh Pak hiks. Keperawanan saya direnggut sama dia Pak. Dulunya dia baik sama saya, tapi semenjak melakukan hal itu dia menjauh. Saya hamil Pak, saat saya memberitahu dirinya. Arya tidak mau bertanggung jawab hiks. Memang saya melakukannya sekali. Tapi hanya dengan dia karna kecelakaan juga Pak." Benua langsung terdiam. Apa setelah kejadian tadi malam Rachel akan hamil anaknya. Benua langsung membuang pikiran yang tidak tidak. "Sabar Aira. Kita berdua yang akan meluruskan kejadian ini. Kamu jangan menangis. Sebaiknya pulang saja jangan bekerja, jaga anak dalam rahim kamu itu baik baik. Kalo perlu apa apa telepon sekretaris Gista. Bilang perintah dari saya. Periksa kandungan kamu dulu. Ajak Gista aja pergi ke rumah sakit bersama kamu." Aira mengangguk. Ia beruntung sekali memiliki bos baik dan perhatian seperti Benua ini. Setelah kepergian Aira. Benua langsung menyenderkan tubuhnya dikursi. Ia tak bisa membayangkan jika tadi adalah Rachel yang meminta pertanggungjawaban terhadap dirinya. "Benua, lo kenapa?" tanya Alfa. Alfa tau Benua sedang ada masalah yang ditutupinya. "Gue ngga papa!" "Alfa mana yang mau lo bohongin alfamart apa alfamidi?" disaat seperti ini masih aja bercanda. Tapi sayang candaan Alfa garing. "Gue ngga tau mau mulai dari mana," kata Benua dan menegakkan duduknya. "Dimulai dari awal lah. Yakali dimulai dari nol kayak SPBU!" Benua dan Alfa memang terbuka satu sama lain. Karna hanya Alfa yang waras sedangkan kedua temannya itu gesrek. Marvel dan Vinno memang lebih suka berteman dengan Caca yang barbar. Makanya Benua tak begitu khawatir dengan Caca karna ada Marvel dan Vinno yang selalu berada disamping Caca kemanapun gadis itu pergi. "Tadi malam mereka pesta dirumah gue." "Gue udah tau," jawab Alfa cepat. "Gue larang buat minum alkohol. Tapi mereka malah minum alkohol dan sialnya didalam gelas yang berisikan air putih itu ternyata alkohol dan obat perangsang!" "Lo tau darimana kalo itu dimasukkan obat perangsang?" "Gue ambil air itu disamping kulkas dan di atas kulkas itu. Obat perangsang terbuka dan otomatis masuk kedalam minuman gue. Karena gue merasa ada gejolak aneh." "Terus lo main solo gitu di kamar mandi?! Ngga guna banget cerita lo!" Benua langsung menoyor kepala Alfa. "Gue belum selesai b*****t!" "Lanjutin babi!" Benua pun melanjutkan ceritanya tentang kejadian tadi malam. Alfa terkejut bukan main. Inilah yang menjadi pikiran benua. "Baru sekali masuk juga. Udah lah, nggak bakalan hamil ini." Alfa masih terlihat tenang. "Lo ngga dengar cerita Aira tadi?" "Dengar gue! Mungkin Aira masuk berkali kali. Lo kan sekali. Eh lo keluar didalam?" tanya Alfa langsung menegakkan duduknya. "Hm." Alfa terkejut. "Gilaaa lo! Doa aja semoga nggak hamil. Kalo hamil gue ngga bisa bayangin wajah Om Alby marah! Karna gue sering lihat Caca dijemur Om Alby didepan rumah dengan menghadap tiang bendera." "Rumah orang TNI itu beda ya. Selalu ada benderanya," kagum Alfa. "Nggak semuanya juga. Itu Papa nerapkan dari Kakek Sergio sama Kakek Fedrik." Alfa mengangguk paham. Mereka pun masuk keruang meeting. Pikiran Benua sedikit jernih. Tak mungkin jika Rachel hamil. Ia hanya melakukannya sekali saja. Bukan berkali kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD