Mengantar Ivan

694 Words
Malam itu,setelah menempuh perjalanan lumayan lama.Kini akhirnya Ayanna berhasil mengantar Ivan sampai di Hotelnya. Kemudian Ayanna keluar dari mobil,dan memutari depan mobil untuk membantu Ivan. Ivan yang lemas pun Hanya diam dan menurut dengan segala tindakan Ayanna. Sampai di depan lobi,ternyata sang satpam mengenali kalo yang sedang di papah Ayanna adalah pemilik hotel. Kemudian Ia mendekat dan mencoba membantu untuk memapah Ivan. Karena selain pemilik hotel yang harus di hormati,sang satpam juga mencemaskan Ayanna yang terlihat sedang memapah Ivan dengan begitu kesusahan. "TIDAK PERLU! KAMU CUKUP MEMBUKAKAN LIFT DI DEPAN DAN KEMBALI BEKERJA.!" tolak Ivan di sertai sentakan. Sang satpam yang merasa takut pun hanya menurut saja,Ia lantas berlari mendahului dan segera membukakan Lift.karena memang satpam itu cukup tahu di mana kamar Tuannya,yang mana terletak di bangunan paling atas gedung ini. Banyak karyawan yang melihat keadaan Ivan saat ini,namun karena waktu bekerja.mereka hanya bisa melihatnya dengan disertai rasa penasaran, Mereka heran kenapa sang Bos menjadi begitu dan bla bla bla. Niat hati sang satpam yang hanya ingin membantu karena rasa tak enak,tapi sang bos justru tidak suka ya sudah.dia mencoba bersabar. Setelah membukakan Lift sang satpam langsung mengundurkan diri dan kembali bekerja. Setibanya di lante Atas,di depan sebuah kamar sudah terlihat seorang dokter dan suster yang ingin memeriksa Ivan. Dengan di papah Oleh Ayanna,Ivan berjalan menuju pintu dan langsung membukanya dengan kartu akses VVIP milik Ivan,karena tak seorangpun bisa masuk kecuali dengan ijin Ivan. Setelah pintu terbuaka,Kemudian dengan hati-hati Ayanna membantu memapah dan membaringkan Ivan di kasur king size yang berada di dalam ruangan itu. Entah rasa apa yang di miliki di hati Ivan saat ini,perasaan yang sulit di artikan. yang mana dia sendiri sedang terluka,tetapi dia juga merasa senang.senang karena di sisinya kini di temani wanita yang ia kagumi,dan tak lain gadis itu adalah adik pacarnya sendiri. tapi tentu saja Ivan tak mengetahui hal itu,begitu juga dengan Ayanna. Selama di periksa dokter,..luka tusukan di pinggang Ivan itu memang terlihat lumayan lebar, jadi Dokter menyarankan untuk menjahit beberapa jahitan di perut kanannya untuk menutupi lukanya. Selama di periksa,Ayanna tak pernah diam saja. karena rasa bersalahnya,dia juga tidak tinggal diam. selagi dokter dan suster menjahit luka Ivan,Ayanna juga turut membantu menyeka keringat di dahi Ivan,dengan sebelah tangan kiri Ayanna yang di cengkram Ivan kala Ivan merasa kesakitan ketika di jahit. Ivan memang merasa sakit tapi justru Ayanna yang terus saja terlihat menangis,entah kenapa air matanya meluncur terus tak bisa berhenti. Lain halnya dengan Ayanna yang terus saja menangis,hal itu malah membuat Ivan merasa sedih. "SUDAH...JANGAN MENANGIS LAGI,AKU TIDAK APA-APA." ucapan Ivan setelah dokter menyelesaikan jahitannya di sertai dengan senyuman yang Ivan tujukan pada Ayanna. "TIDAK APA-APA BAGAIMANA,INI SAKIT SEKALI PASTI RASANYA." jawab Ayanna di sertai bibir yang manyun cemberut. Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama,akhirnya dokter telah selesai menyelesaikan jahitan di luka Ivan, Kemudian dokter menyarankan agar Ivan beristirahat dalam beberapa hari ini. Tidak usah melakukan pekerjaan berat dulu,harus banyak istirahat. Dokter juga tak lupa memberikan resep obat yang harus di tebus di apotik,untuk di konsumsi Ivan agar cepat pulih. Setelah mengiyakan ucapan Sokter,Ayanna juga mengucapkan terimakasih,dan Mengantar Dokter keluar. "KAK...TERIMAKASIH SUDAH MENOLONGKU. KALO NGGA ADA KAKAK NGGA TAU AKU SEKARANG GIMANA. SEKALI LAGI TERIMAKASIH." ucap Ayanna tulus "TIDAK MASALAH...INI TIDAK SEBERAPA. KITA MANUSIA MEMANG SUDAH SEHARUSNYA TOLONG MENOLONG. APALAGI YANG AKU TOLONG GADIS YANG SANGAT CANTIK." balas Ivan sembari menggoda Ayanna Pipi Ayanna bersemu merah mendengar penuturan Ivan...pasalnya entah kenapa. mendengar ucapan Ivan itu membuat hangat hatinya. Ayanna juga heran,entah kenapa pujian dari laki-laki di depannya ini terasa berbeda. padahal tak jarang Ayanna mendapatkan banyak pujian dari orang lain,bahkan lawan jenis juga tak kalah banyak. Entah yang ini terasa Istimewa. "Kak...aku akan menebus obat untukmu dulu di apotik ya,nanti aku akan kembali ke sini lagi." Ucap Ayanna "Apa tidak merepotkan,lebih baik kamu pulang.aku sudah tidak apa-apa.untuk obat,nanti bisa aku suruh pegawai hotel untuk membelikan." balas Ivan "Tidak masalah kak...tidak perlu menyusahkan orang hanya karena keteledoran aku.Aku yang akan membelikan obat untuk kakak,karena ini tanggung jawabku." ~Ayanna "Ta...Tapi..." "Sssstttt...! belum sempat Ivan melanjutkan kata-katanya,Ayanna sudah lebih dulu mengacungkan telunjuknya di antara bibis dan mulutnya. "Aku akan menebus obat kakak dulu,kakak istirahat aja dulu.aku segera kembali." Ayanna kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan meninggalkan kamar Ivan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD