Suasana di depan ruang operasi masih dipenuhi ketegangan. Adrian bersandar di dinding dengan tangan mencengkeram rambutnya sendiri, sementara Aira duduk di kursi tunggu, menunduk dalam diam. Tidak ada yang berbicara setelah kepergian Amara dan Rallin. Hanya suara langkah kaki petugas medis yang sesekali melintas, serta dengungan lemah dari lampu-lampu lorong rumah sakit. Setiap detik terasa begitu lambat. Adrian terus menerus melirik pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Sesak semakin memenuhi rongga dadanya. Penyesalan menghantamnya dari berbagai sisi. Kenapa dia tidak tahu kondisi Nadine seburuk ini? Kenapa dia tidak ada di sampingnya sejak awal? Aira menatap pria di sebelahnya dengan perasaan yang tak menentu. Adrian sangat mencintai Nadine, sangat jelas terlihat dari raut wa

