Aira tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara Alex. Jantungnya masih berdegup kencang akibat kejadian barusan. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap Alex, tidak tahu harus berkata apa. "Ai?" Alex mengibaskan tangannya di depan wajah Aira, mencoba menarik kesadarannya. "Kamu nggak apa-apa, kan?" Aira mengangguk pelan. Dia menjauh, mencoba menciptakan jarak saat menyadari jika dirinya masih berada dalam dekapan pria itu. "Aku baik-baik saja … makasih, Kak. Lain kali aku akan lebih hati-hati." Namun, Alex tidak begitu saja mempercayai ucapan Aira. Tatapannya tetap melekat pada wajah wanita itu. Mulut Aira mungkin berkata tidak, tetapi sorot matanya berkata lain. "Lagi-lagi kamu berbohong, Ai. Apa begitu sulit bagimu untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan?" Tangis yang sejak ta

