"Adrian, hentikan sebelum aku mematahkan tanganmu!" Adrian menoleh dengan wajah memerah karena marah. “Kek, dia tidak mau keluar. Aku harus bicara dengannya sebelum berangkat ke Medan.” Pria itu menghembuskan napas kasar menunjukkan jika dia tengah putus asa. “Kau membuat keributan tengah malam hanya karena istrimu tak mau menemuimu?” Pratama melangkah mendekat, suaranya mulai merendah, tetapi tatapan tetap tajam. "Otakmu di mana, Adrian?!" Adrian mengepalkan tangannya sambil menunduk. Nafasnya masih berat, tetapi amarahnya perlahan luruh. Yang tertinggal hanyalah rasa putus asa yang nyaris menenggelamkan dirinya pada pusaran rasa bersalah. “Kek, tolong bantu aku ... bujuk dia agar mau menemuiku." Adrian berucap lirih penuh permohonan. Pratama mengerjap. Matanya sejenak melirik pintu

