"Tu-tuan ...." Suara Aira tercekat. Napasnya tertahan dengan jantung berdegup kencang saat melihat sang suami berdiri di hadapannya. Matanya yang tajam menusuk bak mata pisau seolah siap mengulitinya hidup-hidup. “Oh, kirain benda butut ini sudah kamu buang, ternyata masih kamu simpan.” Suara Adrian terdengar pelan, tapi penuh ancaman. Dia menatap sejenak ponsel di tangannya, sebelum akhirnya melemparkan benda itu ke lantai hingga terbelah menjadi dua bagian. Suara retakan benda pipih itu menggema di kesunyian malam. Kedua mata Aira membelalak melihat ponselnya telah rusak. Tidak banyak yang bisa dia lakukan selain pasrah, meskipun ada rasa marah di hati. Tidak hanya sampai di situ, Adrian tampak mencari sim card di antara kepingan ponsel itu. Setelah menemukannya dia langsung membaka

