"perjodohan? ayah nggak lagi bercanda kan?" nona masih tidak percaya dengan apa yang didengar.
"mana mungkin ayah bercanda. jaman sekarang banyak laki laki yang tidak bisa dipercaya. tapi setelah melihat bagaimana andra bersikap, ayah jadi yakin kalau dia akan jadi pendamping yang tepat untuk kamu" mata gavin sambil melihat ke arah dimana andra sedang berusaha makan dengan tenang.
seketika nafsu makan nona pun hilang. ternyata inilah tujuan gavin mengajak bertemu. dengan lesu nona pun berbicara, "tapi nona masih muda yah".
nona berpikir apakah ia tidak akan bisa menikmati masa mudanya terlebih dahulu. ia ingin melakukan dan merasakan banyak hal terlebih dahulu sebelum akhirnya gadis itu memasuki jenjang yang lebih serius.
ia ingin hidupnya lebih berguna bagi banyak orang. menjadikan dirinya bermanfaat apalagi sekarang ia berkecimpung di dunia pendidikan. banyak hal yang harus ia lakukan agar para generasi muda saat ini tidak ikut terjerumus dalam hal yang tidak berguna.
"ayah tidak meminta kamu untuk langsung menikah. kalian coba saling mengenal terlebih dahulu. nanti, berlanjut atau tidak ayah serahkan sepenuhnya kepada kalian berdu apakah tetap melanjutkan perjodohan ini atau tidak". kata gavin sambil tersenyum.
gavin juga sangat memikirkan perasaan puterinya. ia tidak ingin menjadi sosok ayah yang diktator, yang memaksakan kehendaknya kepada anak anaknya. walau dimananya nona masih terlihat sepert anak kecil yang butuh banyak bimbingan, tapi ia tetap memikirkan bagaimana perasaan gadis itu. karena tetap saja yang akan menjalankan kehidupan adalah nona sendiri, ia sebagai orangtua hanya bisa mengamati dan mengarahkan saja.
"bagaimana?" gavin meminta persetujuan nona atas permintaannya.
"nona akan pikirkan terlebih dahulu" kini nona sudah benar benar kehilangan nafsu makannya.
ANDRA POV
"anda sudah kembali pak?" aku bertanya ketika tahu pemilik perusahaan tempatku berkarier sudah kembali dari luar negeri.
kami secara tak sengaja bertemu saat memasuki sebuah lift. aku memang berusaha untuk selalu terlihat baik dimatanya. berharap dengan begitu aku akan memiliki pegangan ketika karier menyanyi yang aku jalani saat ini mengalami kemerosotan.
"hm, ternyata acaranya dipercepat" jawab gavin singkat.
"jangan bilang kalau bapak langsung ke kantor setibanya di indonesia" aku bisa menyimpulkan demikian karena melihat pakaian dan wajah yang terlihat kelelahan. mungkin karena habis perjalanan panjang di pesawat.
"begitulah".
"harusnya bapak jangan terlalu memaksakan diri. bukankah disini masih banyak yang bisa diandalkan" aku terus berusaha membuat atasanku menganggapku baik. dari awal karier, aku selalu mempertahankan image baik kepada semua orang terutama pak gavin.
"kamu benar. tapi ada hal penting yang harus ku kerjakan. jadi aku sama sekali tidak sempat untuk sekedar pulang ke rumah". mendengar aku terus memperhatikan keadaannya, pak gavin terlihat senang. mungkin karena merasa ada bawahannya yang perhatian dengannya.
"lalu apakah anda sudah mengabari keluarga anda pak? oh maaf sepertinya pertanyaanku terlalu lancang. lupakan saja pak" aku memukul mulutku sendiri.
"kamu benar. harusnya aku menghubungi mereka. terima kasih karena sudah mengingatkan" tak disangka pak gavin benar benar menjawab pertanyaanku.
"oh ya, hari ini kamu tidak ada jadwal manggung?" kini pak gavin yang bertanya.
"tidak pak. seminggu lalu aku habis menggelar roadshow di lima kota dan baru semalam tiba kembali di jakarta. aku kesini juga hanya ingin mengambil sesuatu di studio rekaman. setelah itu rencananya aku akan kembali beristirahat di apartemen" ternyata keputusanku untuk datang ke kantor pagi pagi sangat tepat. bisa bertemu dengan pak gavin walau sambil menahan kantuk. aku yakin pak gavin pasti menyadarinya
"kamu memang anak muda yang baik. sudah berbakat, bertanggung jawab pula" katanya memujiku. akupun tersenyum karena usahaku terlihat baik tidak sia sia.
"oh ya, apa kamu bisa datang ke ruanganku setelah urusanmu selesai? ada hal yang ingin ku bicarakan berdua denganmu" pak gavin bertanya.
"te, tentu saja pak. memang apa yang mau anda bicarakan?" aku benar benar penasaran.
ting...
tak terasa kami telah sampai di lantai dimana studio rekaman berada. sialnya pak gavin mengingatkanku dengan tujuan utamaku datang kesini.
"bukankah kamu ingin ke studio?".
"ah iya. kalau begitu saya pamit duluan pak" aku sedikit menundukkan tubuhku ketika berjalan melewati pria itu.
tak berselang lama setelah keluar, pintu lift pun tertutup. kini ada pertanyaan besar yan bergelayut di dalam pikiranku. ada apa sampai pak gavin memintaku datang ke ruangannya. apakah secara tidak sengaja aku melakukan kesalahan, tapi dari intonasi bicaranya tidak ada tanda sedikitpun jika pak gavin sedang merasa kesal.
'ah sudahlah' aku berjalan menuju studio karena ingin mengambil beberapa barang pribadiku yang tidak sengaja tertinggal disana.
ddrrrtt... ddrrtt...
saat berada di studio, ponselku tiba tiba bergetar. ada panggilan masuk dan kulihat ternyata michele yang menghubungiku. untung saja saat ini tidak ada siapapun sehingga aku bisa berbicara dengan bebas.
"hai sayang" aku berbicara dengan penuh cinta terhadap wanita yang menyandang posisi sebagai kekasihku beberapa bulan ini.
"kamu udah balik ke jakarta? kok nggak kasih kabar sama sekali sih" suara michele dari seberang telepon terdengar kesal.
"maaf, aku benar benar lupa" aku menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal.
"kamu dimana sekarang?".
"aku di studio. ada beberapa barang yang harus aku ambil. oh ya, kamu sudah makan belum?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan karena aku tahu michele pasti akan marah jika tahu aku lebih mementingkan kantor dibanding dirinya.
"belum. padahal aku baru mau ngajak kamu makan berdua sekarang" gerutu michele.
"ya sudah, kalau begitu kamu tunggu di apartemenku ya. kita bakal makan bareng. aku juga cuma sebentar kok disini" aku berusaha menenangkan kekasihku.
akhir akhir ini dirinya memang lebih manja dari biasanya. apa karena ia telah kehilangan calon anak kami. lebih tepatnya menghilangkannya. aku tahu jika michele merasa sangat bersalah tapi ini dilakukan demi kebaikan kami berdua.
"ya sudah, aku tunggu ya. love you honey".
"love you too" akhirnya pembicaraan kami telah usai. aku tenang karena tidak ada yang tahu tentang pembicaraan yang kulakukan bersama michele. selain karena tidak banyak orang yang mengetahui hubungan kami, aku juga tidak ingin menjadi pembicaraan banyak orang terutama kehidupan pribadiku.
setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, aku segera keluar dari studio dan berjalan menuju ruangan pak gavin. dalam perjalanan aku terus memikirkan apa yang akan pak gavin sampaikan.
aku menaiki lift untuk menuju lantai paling atas dimana ruangan pimpinan berada. tak berselang lama akupun tiba tepat didepan pintu ruangan pimpinan utama. setelah mengkonfirmasikan kedatanganku kepada sekretarisnya, wanita itu langsung mempersilahkan aku untuk masuk.
tok... tok... tok...
aku membuka pintu perlahan. di dalam sudah ada pak gavin yang sedang memeriksa beberapa dokumen. padahal sudah sering kali memasuki ruangannya tapi tetap saja aku merasa takjub.
beberapa gitar langka diletakkan dengan rapi di beberapa bagian ruangan. ditambah dengan buku buku yang tersusun rapi dan beberapa tanaman yang menghiasi membuat siapapun yang berada disana merasa nyaman.
"silahkan duduk. tunggu ya, saya ingin menyelesaikan ini sebentar" beberapa dokumen yang berada di atas meja menjadi saksi jika sang pimpinan memang sangat sibuk.
"baik. silahkan dilanjukan pak" aku melihat sekeliling ruangan sambil mengkhayal jika aku menjadi pimpinan perusahaan pasti aku akan sangat bahagia.
tak berselang lama, sekretaris pak gavin masuk untuk menyediakan minuman kepada kami.
"silahkan diminum" wanita cantik itu meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja.
"maaf sudah membuatmu menunggu. tapi ada yang ingin saya bicarakan denganmu" aku mulai tegang, menunggu apa yang akan dikatakan pak gavin terhadapku.
tak bisa berkata apapun, jadi aku hanya bisa menganggukkan kepala tanda mengerti dengan apa yang dibicarakan atasanku.
"aku memanggilmu kesini karena ingin meminta pendapatmu. aku ingin menjodohkan kamu dengan puteriku yang bernama nona. yah, memang pembicaraan ini terkesan terburu buru dan pasti kamu bingung kan".
aku masih mencerna kata kata yang diucapkan pak gavin, benarkah semua yang dibicarakannya untuk menjodohkan aku dengan puterinya. aku memang pernah bertemu walau sebentar, nona memang sangat cantik namun karena pribadinya yang pendiam sehingga tidak mudah untuk mendekati gadis itu.
aku memang langsung menyukai gadis itu ketika pertama kali bertemu, namun karena sepertinya nona membangun jarak sehingga aku kesulitan mendekatinya. entah kenapa kini justru aku menjalin hubungan dengan sahabat nona sendiri yaitu michele.
'tunggu, kalau dipikir pikir jika aku berhasil menikah dengan nona, otomatis perusahaan ini akan jatuh ke tanganku dong' batin andra bergejolak.
'tapi bagaimana dengan michele. tidak mungkin aku menduakan mereka berdua sedangkan mereka saja berstatus sebagai sahabat. bagaimana cara menyingkirkan michele tanpa harus ketahuan oleh semua orang ya?' andra jadi tak memperdulikan gavin yang sedang menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"andra" panggilan pak gavin mengagetkanku.
"ah maaf. aku jadi melamun. tapi apakah nona sudah tahu rencana bapak?" aku memastikan lagi jika rencana ini akan berhasil.
"dia belum tahu sama sekali. tapi jika kamu menyetujuinya, maka saya akan langsung membicarakan hal ini pada anak itu" betapa bahagianya. bagai mendapat durian runtuh, aku tak menyangka usahaku untuk terlihat baik dimata semua orang kini membuahkan hasil.
"aku sih setuju saja pak. apalagi bapak adalah sosok panutan bagi saya. pastinya bapak tahu betul apa yang terbaik bagi aku ataupun nona sendiri" kata kata manis yang selalu aku ucapkan dihadapan sang pimpinan.
"jarang anak muda seperti kamu. saya berharap kamu dan nona bisa cocok. oh ya, bagaimana kalau siang ini kita makan bersama sekaligus memberitahukan nona tentang rencana perjodohan kalian. bukankah makin cepat makin baik".
sebenarnya aku setuju dengan yang dikatakan pak gavin. hanya saja aku belum mendapatkan cara untuk segera berpisah dengan michele. alasan apa yang harus aku gunakan agar tidak mengganggu rencana perjodohanku dengan nona.