Chapter 10 - Good Bye Michele

1349 Words
ANDRA POV aku mengerutkan kening, aku pikir apa maksud pak gavin yang mengatakan bahwa akan segera memberitahu nona tentang rencana perjodohan kami. ternyata tak menunggu beberapa hari, ia pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi puterinya yang saat ini pasti masih berada di rumah. ya, pak gavin menelepon nona tepat dihadapanku. disaat ia sedang berbicara dengan nona untuk menyuruhnya datang menemuinya siang ini, aku memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan michele. apalagi saat ini ia sedang menungguku di apartemen. setelah berbicara dengan nona melalui sambungan telepon, ia pun mengajakku untuk ikut makan siang bersama mereka sekaligus memperkenalkan secara resmi bahwa aku adalah calon tunangannya. "ikutlah makan siang bersama kami. sekalian saya ingin mengenalkan kamu padanya. bagaimana? bukankah kamu bilang tidak ada kegiatan hari ini" suara pak gavin menginterupsi lamunan ku. "benar. namun tidak mungkin aku ikut makan siang bersama kalian hanya menggunakan pakaian seperti ini" aku memperlihatkan pakaian yang sedang ku pakai. hanya memakai kaus, jaket baseball dan celana jeans, sungguh tak pantas untuk mengikuti acara penting seperti mengenalkan diri di depan calon tunangan. "bagaimana jika aku pulang sebentar untuk mengganti pakaian ku dan datang kembali nanti siang?" jangan ditanya bagaimana perasaanku saat ini. tentu aku sangat bersemangat apalagi sebentar lagi aku akan bisa memiliki gadis yang pernah ku sukai. tidak hanya itu, otomatis nanti impianku menjadi seorang pemilik perusahaan akan jadi kenyataan. "kamu benar. baiklah kalau begitu. nanti siang langsung temui saya di restoran seberang gedung ini". "baik pak. aku pamit dulu". aku keluar dari ruangan pak gavin dengan hati gembira. senyum tak dapat dipisahkan dari kedua ujung bibirku. tak peduli jika banyak karyawan yang memandangku dengan tatapan heran. aku mengendarai mobilku menuju apartemen. aku yakin pasti michele sudah berada di sana dan menggunakan alasan sarapan hanya untuk bertemu denganku. satu jam perjalanan ditempuh, akhirnya aku sampai di apartemen. tanpa menunggu lama, akupun langsung meluncur ke lantai atas dimana unitku berada. saat membuka pintu, aku langsung melihat keberadaan michele yang tengah duduk di ruang tamu sambil menonton siaran televisi. "akhirnya kamu pulang. aku sudah lama menunggumu" michele berdiri lalu berjalan ke arahku. tadinya michele ingin mengecupku, namun aku pura pura tidak tahu apa yang mau ia lakukan sehingga aku langsung berjalan masuk untuk menghindarinya. "maaf. tadi aku di panggil pak gavin ke ruangannya". "kenapa? tumben beliau memanggilmu secara langsung" michele mengikutiku untuk kembali duduk di sofa. "tenang saja. pak gavin memanggilku untuk membicarakan perpanjangan kontrak ku disana" tentu saja alasan tersebut telah ku persiapkan sebelumnya. "oh ya, kamu sudah sarapan?" aku bertanya karena sama sekali tidak melihat adanya sisa piring bekas makan di atas meja. "tentu saja belum. aku kan menunggumu datang" aku tahu sebenarnya michele adalah gadis yang penuh perhatian, tapi sayangnya aku tidak bisa menyia nyiakan kesempatan besar yang telah hadir di depan mata. "ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita makan dulu" aku berbicara. "oh iya, aku sampai lupa" michele berjalan menuju dapur lalu mengeluarkan makanan yang tadi ia bawakan. kami pun makan bersama dalam diam. entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu, yang pasti saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan keinginanku untuk berpisah darinya "sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan" aku membuka percakapan setelah kami menghabiskan makanan tersebut. "ada apa?" michele menunggu aku melanjutkan perkataanku. "aku pikir sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini. aku ingin fokus menjalani karier ku, aku yakin kamu juga masih harus berusaha agar namamu bisa naik mengingat kamu masih penyanyi pendatang baru" akhirnya aku mengeluarkan yang ingin ku katakan sedari tadi. "maksud kamu apa hah? setelah apa yang telah kita lakukan sekarang kamu ingin kita mengakhirnya begitu saja? sekarang saja aku masih merasa sangat bersalah dengan keputusanku menggugurkan kandunganku. tapi apa yang barusan kamu katakan hah?" kedua mata michele menunjukkan adanya bulir air mata yang siap keluar kapan saja. "aku juga sangat menyesal tentang hal itu. tapi kita harus melihat kenyataan jika karier yang kita jalani sekarang masih membutuhkan fokus. jadi kupikir ini adalah jalan berbaik bagi kita berdua". "nggak. kamu nggak bisa membuat keputusan seenaknya. bukankah kamu sudah berjanji akan menemui orangtua ku dan menikahiku hah?" suara michele makin meninggi. aku bisa memahami itu. "terserah apa yang kamu pikirkan tentangku. yang jelas aku tidak bisa meneruskan hubungan ini" aku meninggalkan michele yang masih duduk mematung di sofa. aku berdiri berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaianku. mengingat waktu sudah semakin dekat, akupun mempercepat gerakanku. setelah berganti pakaian, akupun keluar dari kamar. masih ku lihat michele masih duduk di sofa sambil menangis. sebenarnya hatiku tak tega melihat wanita yang pernah mengisi hatiku menangis seperti itu. tapi jika aku menghampirinya, aku pasti akan semakin sulit untuk meninggalkannya. maafkan atas keegoisanku ini. maaf untuk segalanya. mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk diucapkan atas semua yang pernah ku perbuat padamu. tapi hidup harus tetap berjalan bukan? kini aku telah siap untuk melangkahkan kaki ku menuju masa depan yang lebih cerah. "tunggu" saat aku ingin membuka pintu, michele tiba tiba berbicara. hal itu membuat aku langsung menghentikan gerakanku dan melihatnya lagi. "aku tidak tahu alasanmu yang sebenarnya. tapi yang jelas kamu akan menyesal telah membuatku seperti ini" tatapan mata michele yang tadinya sangat berduka kini penuh dengan amara saat memandangku. "kamu mau mengancamku hah? aku ingatkan sekali lagi, jika orang orang sampai tahu apa yang sudah terjadi antara kita berdua, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup" emosiku sedikit terpancing dengan kata katanya. aku bisa melihat keterkejutan di mata michele karena tak pernah satu orangpun yang mengetahui bagaimana perangai asliku. tak ada jalan lain selain mengancamnya. aku tidak ingin semua orang sampai tahu hubunganku dengan michele. terutama gavin, aku tak ingin rencana perjodohan ini sampai batal. setelah mengucapkan ancaman terhadap michele, aku keluar lalu menutup pintu apartemen dengan kasar. segera kulangkahkan kaki untuk kembali ke kantor. ralat, ke restoran yang tadi telah ditunjuk oleh pak gavin. sepertinya alam mendukung pertemuan ini, buktinya jalanan yang biasanya macet kini tak menunjukkannya sedikitpun sehingga waktu yang kutempuh hanya sebentar. walau sekarang masih belum waktunya pertemuan, tapi aku telah siap. aku mengecek kembali penampilanku. setelah dirasa cukup, aku pun segera keluar dari mobil dan bergegas untuk memasuki restoran. ternyata pak gavin memang orang yang sangat menghargai waktu. ia datang sebelum waktu janjian. untungnya aku telah lebih dulu datang. "kamu sudah sampai?" pak gavin menyapaku. "iya pak. aku tidak ingin anda yang menunggu duluan" aku mempersilahkan lelaki itu mengisi kursi tepat di hadapanku. "kamu memilih posisi yang bagus" aku memang sengaja memilih tempat yang tepat berada di samping jendela. selain suasananya menjadi lebih nyaman, aku juga bisa tahu kalau pak gavin sudah hampir tiba. "syukurlah kalau pilihanku cocok dengan anda... maaf pak, apa aku boleh bertanya suatu hal?" aku memberanikan bertanya. "apa itu?". "kenapa anda memilihku untuk dijodohkan dengan puterimu?" bukankah aku harus tahu alasannya agar dapat mempertahankan sisi yang ia sukai dariku. pak gavin tersenyum sebentar sebelum menjawabnya. "dasar anak muda jaman sekarang. aku pikir kamu adalah pemuda yang baik dan cocok disandingkan dengan nona. perilakumu selama ini tidak pernah menunjukkan hal negatif seperti kebanyakan yang dilakukan pemuda seusiamu". "tapi aku berasal dari keluarga biasa pak. kadang aku merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping puterimu". "aku tidak pernah melihat seseorang hanya dari mana keluarganya berasal. yang aku lihat murni pribadinya. tapi ingat, jika aku melihat hal yang tidak baik, aku tidak akan segan segan untuk segera menyingkirkannya" kata kata pak gavin membuatku menelan saliva. mulai saat ini aku harus lebih berhati hati dalam bertindak. "baik pak. aku akan mengingat semua yang anda katakan. ah, bagaimana kalau kita langsung memesan makanan. jadi saat nona datang, ia tidak menunggu lama". "kamu benar". tak lama setelah memesan makanan, nona pun datang. walau menggunakan pakaian sederhana namun aku tetap terpesona dengan kecantikannya. kecantikan alami yang ia miliki membuat banyak pria yang memandangnya. namun aku tidak takut karena sebentar lagi gadis itu akan menjadi milikku. ya, setelah makan pak gavin langsung mengatakan tujuannya untuk menjodohkan kami berdua. aku tidak bisa berkata apapun saat ia berbicara. aku hanya bisa mendengarkan sambil berusaha makan dengan tenang. walau ku lihat nona tidak terlalu suka dengan keputusan ayahnya, namun ia tak bisa menolaknya. pak gavin pun tidak memaksanya untuk menerima perjodohan ini. tapi minimal ia telah membuka jalan ku untuk mendapatkan gadis itu. tinggal bagaimana usahaku untuk mendapatkan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD