Chapter 6 - Satu komplek

1995 Words
“besok gue mau balik ke SMA Wira Buana. lo mau ikut nggak?” tanya ady membuat arzan yang sedang menenggak minumannya seketika tersedak. “mau ngapain lagi? Ingat, hari ini aja lo udah bolos sekolah. Kalau sampai besok bolos lagi, gue nggak jamin apa yang bakal dilakuin bokap lo nanti” arzan mengelap sisa minuman yang juga tumpah ke pakaiannya. “gampang. Yang penting lo mau ikut atau nggak?”. ‘kalau ikut, berarti gue ikut bolos juga. Tapi kalau nggak, gue penasaran sama cewek yang udah buat ady kepikiran’ arzan berpikir dalam hatinya. Menimbang nimbang apakah besok dia akan menerima tawaran dari temannya atau tidak. “ya udah gue ikut. Barra gimana, tuh anak diajak juga nggak?”. “lihat nanti. besok kita ketemu di sekolah aja”. “eh, gue pikir kita bakal bolos”. “lo udah berapa lama temenan sama gue? Masih nggak ngerti aja”. Arzan pun tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang kebetulan agak sedikit gatal. Tanpa ady sadari, tujuan utamanya telah terlupakan berganti dengan tujuan lain. apalagi kalau bukan mencari tahu siapa gadis misterius yang langsung membawa pergi hatinya. Hati yang tidak pernah bergetar saat melihat banyak gadis yang ingin mendekatinya. Anehnya tanpa melakukan apapun, gadis itu sukses membuat tidak hanya hati tapi pikirannya untuk terus memikirkannya. Ady pun merasa gila karena baru pertama kali ini ia merasakan perasaan seperti ini. “udah sore aja. Ya udah gue balik dulu ya” Tak terasa sore menjelang, arzan pun pamit dari rumah temannya. “gue kira lo mau numpang tidur disini”. “ish, dah gue cabut”. “nggak perlu gue antar kan? Nggak nyasar kan?” Lagi lagi ady meledek arzan karena rumahnya memang sangat besar sehingga butuh beberapa waktu hanya untuk keluar dari kediaman tersebut. “paling nanti gue kirim sinyal SOS. Tolooong, tolooong” setelah itu arzan langsung keluar dari kamar ady. Ia tahu kalau lebih lama berada disana, ia akan semakin di bully. Saat datang ke rumah ady, arzan mengendarai motor miliknya. Kini dirinya masih melaju santai di jalanan komplek elite. Menikmati pemandangan yang tersaji disekitarnya. maklum, berbeda dengan komplek biasa, komplek yang ady tinggali memiliki pemandangan yang indah diseluruh lingkungannya. “emang beda kalau komplek elite. Bisa sekalian dibuat piknik sambil bawa karpet dan rantang” ditengah gumamannya, perhatian arzan terpecah saat melihat seorang gadis sedang berolah raga di lapangan yang ada di sekitar komplek. Tak hanya sendiri, gadis itu ditemani oleh seorang lelaki yang tak kalah tampan. Pemandangan tersebut membuat arzan merasa iri. Bagaimana tidak, sepasang lelaki dan perempuan itu sama sama memiliki wajah good looking. Setelah puas memperhatikan interaksi kedua orang itu, arzan melanjutkan perjalanannya sambil terus bergumam. “nggak cuma pemandangannya yang bagus, penghuninya juga glowing semua. Apa gue harus pindah kesini biar ikut ketularan ganteng?” ia juga mengakui jika ady memiliki wajah rupawan hanya saja ia tidak mau mengakui langsung dihadapan temannya itu. “lempar bolanya dek” seorang lelaki yang sedang berolah raga meminta adiknya untuk melemparkan bola basket ke arahnya. Ya, sepasang lelaki dan perempuan yang dilihat arzan tidak lain adalah nona dan kakak lelakinya yang sedang berolah raga. Mereka berdua memang dikenal dekat satu sama lain sehingga tidak heran hanya untuk berolah raga saja dilakukan bersama. Tidak setiap hari mereka bisa berkumpul seperti ini dikarenakan kesibukan yang dijalani kakak lelakinya. Oleh karena itu setiap ada kesempatan seperti ini, mereka selalu memanfaatkannya dengan berbagai cara sederhana. Mulai dari makan di pinggir jalan sampai berolah raga bersama seperti saat ini. walau status mereka sebagai ‘anak sultan’, dengan didikan yang baik dari kedua orangtuanya tidak membuat prilaku mereka menjadi sombong. “ish, mas dion. Sudah dibilang jangan panggil aku dek. Aku kan bukan anak kecil lagi” dengan kesal, nona tetap melempar bola basket tersebut. “tapi dimata mas, kamu tetap anak kecil” senyum teduh yang diperlihatkan oleh lelaki tampan itu membuat siapapun yang melihat pasti terkesima. Dalam hati nona, ia merasa sangat beruntung mendapatkan keluarga yang sangat perhatian. Ingin selamanya seperti ini tapi itu tidak mungkin karena ada waktunya nanti mereka akan terpisahkan karena harus memiliki kehidupan masing masing. Apalagi kalau bukan dunia pernikahan. Oleh karena itu, nona ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk terus bisa dekat dengan keluarganya. Setelah mulai lelah, mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menenggak minuman yang mereka bawa di dalam botol. “ayah masih di jerman?” tanya dion. “hm. Rencananya minggu besok ayah baru balik ke indonesia. Mas dion nggak kepikiran untuk ganttin ayah diperusahaan? Kasian ayah sudah tua” nona bertanya karena saat ini dion tidak bekerja untuk perusahaan keluarga. Melainkan membuka usaha sendiri di bidang lain dan kebetulan usahanya kini berkembang sangat pesat. “mas nggak ada bakat dek. Mana ada perusahaan rekaman tapi punya pimpinan yang sama sekali nggak ngerti tentang dunia musik. Makanya kamu saja yang meneruskan usaha ayah ya” memang diantara mereka berdua, nona lah yang mewariskan bakat bermusik dari ayahnya. “tapi kan...”. “sudah, jalani saja. lagi pula sebentar lagi juga perusahaan mas akan menyamai perusahaan besar yang lain. jadi nggak mungkin kalau mas harus pegang dua perusahaan sekaligus” dion mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Memang benar, kini perusahaan yang dirintis dion sedang membutuhkan perhatian khusus karena usahanya mulai diperhitungkan sebagai perusahaan ternama. Sehingga waktu yang ia miliki untuk keluarga semakin berkurang. *** “andra, aku hamil” michele berbicara dengan wajah sedikit pucat sambil memperlihatkan tespack bergaris dua yang terpampang nyata. Di dalam sebuah apartemen mewah, wanita itu berbicara berdua dengan kekasihnya yang tak lain adalah sesama penyanyi yang namanya sedang melambung. “kamu yakin hasilnya sudah akurat?” andra tak percaya jika hubungannya dengan michele sampai membuahkan hasil seperti ini. “aku sudah cek berkali kali dan hasilnya tetap sama. Terus gimana dong? Kamu kan sudah janji bakal nikahin aku” michele takut jika orang orang mengetahui tentang kehamilannya apalagi hasil hubungannya di luar nikah. “iya, emang aku udah janji bakal nikahin kamu. Tapi nggak sekarang juga. Kamu tahu sendiri, karier aku lagi bagus bagusnya, nanti kalau fans tahu aku mau punya anak apalagi diluar nikah gini. Bisa hancur semua hasil kerja keras ku selama ini” andra mengacak rambutnya dengan kasar. ia langsung pusing mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya. “terus aku harus gimana dong? Masa kamu nggak mau tanggung jawab sih. Ini anak kamu loh” michele mulai geram karena kelakuan kekasihnya yang terlihat tidak mau bertanggung jawab. Tak ingin masalah ini berlarut larut, andra segera memeluk kekasihnya. “bukan gitu maksudku. Aku cuma kaget aja tiba tiba dengar kamu hamil” andra melepas pelukannya lalu memandang michele dengan penuh cinta. “kamu tenang aja, aku bakal tanggung jawab kok. Tapi sekarang aku masih sibuk, nanti kalau jadwal manggung ku udah longgar kita bakal nemuin orangtua kamu ya” kata kata yang keluar dari mulut andra membuat michele tenang. “benar ya”. “iya sayang” andra pun mengecup kening michele. Flashback on Alunan musik yang memekakkan telinga ditemani oleh lampu yang berkelap kelip di sebuah club malam membuat semua pengunjung disana hanyut akan suasana yang membuat tubuh mabuk kepayang. Lautan manusia yang datang mulai untuk melepas stres akibat kesibukan sehari hari sampai yang hanya bersenang senang menikmati minuman atau sekedar mencari pasangan one night stand. Tiga orang wanita yang sering datang sedang menikmati suasana di tempat itu dan menjadi perhatian beberapa orang lelaki karena memakai pakaian serba kekurangan. Ditambah mereka bertiga memiliki wajah yang rupawan. “nona nggak kumpul bareng kita?” tanya mona kepada kedua temannya. “mana mau dia datang ke tempat beginian. Ditambah dua heldernya. Fix, nggak bakal datang dia” jawab pretty. Mereka sangat tahu bagaimana satu temannya itu berada di jalan yang benar, tidak seperti mereka yang suka menikmati dunia malam. Maklum saja, mereka bertiga bekerja di dunia entertainment. Michele sendiri berprofesi sebagai penyanyi sedangkan pretty dan mona bekerja sebagai model. “hai, boleh kenalan? Nama gue boy” salah satu pengunjung pria mengulurkan tangannya kepada michele. “michele” wanita itu menjawab uluran tangan pria itu. “penyanyi pendatang baru itu kan? Pantas kayaknya gue nggak asing sama wajah lo” tak lama kemudian, mereka berdua berbicara dengan akrab. “aduh, gue jadi nggak enak. kenalin, ini temen gue. Pretty, mona” michele mengenalkan kedua temannya kepada boy, pria yang baru saja dikenalnya. “boleh gue gabung disini?”. Michele langsung melihat ke arah kedua temannya meminta persetujuan apakah boy boleh bergabung atau tidak. kedua temannya menganggukkan kepala dengan semangat, karena kebetulan pria itu memiliki wajah yang tampan. “boleh aja, tapi emangnya nggak apa apa? disini cewek semua loh”. “nggak apa apa lah, justru gue merasa terhormat bisa diizinkan gabung sama kalian”. “ish ish ish, buaya sekali” mona berbisik di telinga pretty. “nggak tahu aja, calon mangsanya juga sudah punya buaya” pretty menjawab dengan berbisik pula membuat kedua wanita itu tertawa. Sedangkan michele tidak tahu sama sekali apa yang sedang temannya tertawakan. Ddrrtt... ddrrtt... Ponsel michele bergetar, setelah ia memeriksanya ternyata ada telepon masuk dan nama yang tertera di layar ponselnya adalah andra kekasihnya. Michele tersenyum saat mengetahui kekasihnya menelepon. “sayang, kamu di mana?” tanya andra dari seberang telepon. “aku ditempat biasa. Kenapa?”. “aku kangen. Kamu bisa nggak datang ke apartemen ku? aku takut...”. “takut fans kamu ngenalin kamu kalau datang kesini” michele memotong perkataan andra dengan cepat. Ia tahu benar alasan apa yang akan andra bicarakan. “hehehe. Kamu emang paling ngertiin aku deh”. “dasar gombal. Ya sudah aku kesana sekarang” michele segera menutup teleponnya bermaksud untuk meminta izin untuk pergi terlebih dahulu. “pasti dari andra” mona sudah bisa menebak siapa yang menelepon sahabatnya. Michele hanya tersenyum, tak menjawab apapun karena jawabannya sudah pasti iya. “kalau gitu aku duluan ya” menatap kedua temannya lalu beralih kepada boy yang terkejut, ternyata wanita incarannya sudah memiliki pasangan. “dari pada sama michele yang udah punya cowok, mending sama kita” goda pretty namun langsung mendapat penolakan tak langsung dari lelaki bernama boy itu. “terima kasih, tapi aku udah ditunggu teman temanku disana” boy menunjuk sekumpulan lelaki yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Sementara itu, micele yang sudah tiba di apartemen milik andra segera membuka pintu tanpa menunggu dibukakan pintu oleh pemilik ruangan. saat michele masuk, ia dikagetkan karena tiba tiba andra memeluknya dari belakang. “aku kangen sama kamu” lebih dari sebulan mereka hanya berkomunikasi via telepon karena andra sedang menjalankan tour ke beberapa kota di indonesia. “aku juga. Gimana tournya, sukses?” tanya michele sambil beranjak ke kursi yang ada di ruang tamu. “sukses dong. Tapi tetap saja ada yang kurang” andra bergelayut manja, kepalanya disenderkan di bahu kekasihnya. “jangan diterusin. Aku tahu kamu bakal ngomong apa”. “sayang, kita kan sudah pacaran beberapa bulan ini. boleh nggak kalau...” andra memutus kalimatnya. Ia berpikir kata apa yang tepat untuk diungkapkan kepada kekasihnya. “kalau apa?” michele menatap kedua mata andra, ada kabut yang tak bisa dijelaskan saat mata mereka bertemu. “aku sayang sama kamu. Jadi aku mau miliki kamu seutuhnya” akhirnya andra mengungkapkan apa yang sedari tadi terlintas dibenaknya. “tapi kita kan belum nikah” walau mereka saling mencintai, namun michele tetap ragu untuk mengiyakan ajakan andra. “aku tahu. Makanya aku pasti bakal tanggung jawab kalau sesuatu terjadi sama kamu. Aku sayang banget sama kamu yang. Aku nggak mau kehilangan kamu” berbagai macam kata manis dikeluarkan oleh andra demi meluluhkan hati kekasihnya. Mendengar kata kata yang membuat hatinya luluh, akhirnya michele pun penyetujui ajakan andra untuk melakukan hubungan yang sebenarnya tidak boleh mereka lakukan sebelum resmi menikah. Malam itu mereka habiskan untuk saling berbagi rasa cinta dan kasih sayang, tak peduli apa yang akan terjadi ke depannya. Entah setan apa yang masuk ke dalam diri sehingga mereka berdua melupakan nasihat dari orangtua untuk menjaga kesucian sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD