Chapter 5 - Bromance

1158 Words
“dy, ada bokap lo nggak di rumah?” arzan berbicara melalui sambungan telepon. Kebetulan ady yang sedang tiduran santai di kamarnya karena tidak memiliki kegiatan apapun. bingung harus melakukan apa karena ia bukan tipikal pemuda yang suka berselancar di sosial media. biasanya dia dan teman temannya selalu berkeliling untuk hanya sekedar nongkrong di pinggir jalan untuk menghabiskan waktu. Percuma ada di rumah tapi tak menemukan siapapun yang bisa diajak bicara. Apalagi setelah tragedi penangkapan dirinya dan teman temannya saat mengikuti tawuran, ia jadi di pantau ketat oleh pihak ayahnya sehingga dia tidak bisa berkutik untuk sementara waktu. “ngapain lo tanya dia ada atau nggak heh? Pasti mau numpang tidur lagi kan lo” ady sudah tahu bagaimana kebiasaan sahabat satu gengnya tersebut. “hehehe. Ah lo dy jangan langsung to the point gitu dong” arzan tak bisa mengelak karena tentu saja tujuan utamanya bisa langsung ketahuan. “nggak usah tanya tanya, bokap gue mana pernah ada di rumah. Ya udah sini langsung dateng aja” arzan menelepon di waktu yang tepat. Saat ini ady memang butuh teman bicara perihal pertemuannya dengan gadis misterius di SMA Wira Buana tadi siang. “ya udah bukain gerbangnya. Gue udah di depan rumah lo ni”. “eh, seriusan lo? Emang temen nggak ada akhlak lo. Hahaha. Kalau lo udah di depan rumah langsung masuk aja sih, ngapain telepon segala” ady segera bangkit untuk melihat keluar rumah dari jendela. Dan benar saja satu sosok sahabatnya telah berdiri dengan setia menunggu dibukakan gerbang untuknya. “ya udah cepet. Gue udah mau kering nih . Panas banget di sini” terlihat arzan sedang mengipas ngipas wajahnya dengan sebuah buku. Bisa ditebak jika pemuda itu belum pulang ke rumah sama sekali, bisa dilihat dari pakaiannya yang masih memakai seragam sekolah lengkap dengan tas ransel miliknya. “iya sabar. Gue kesana” ady pun mematikan sambungan teleponnya dan segera meluncur ke luar untuk membukakan gerbang untuk temannya. Baru saja gerbang terbuka sedikit, tanpa menunggu izin dari yang punya rumah arzan segera meluncur ke dalam. Sepertinya ia sudah tidak tahan untuk segera berteduh dan menikmati sejuknya pendingin ruangan yang ada di rumah tersebut. Melihat tingkah temannya, ady pun tersenyum. Begitulah sahabat, tak pernah ada rasa sungkan ataupun sesuatu yang dirahasiakan. Saling melengkapi walau masih banyak kekurangan di masing masing pribadi. Tempat berbagi suka duka dan menjalani semuanya bersama. “lo mau minum apa?” tanya ady setelah mereka berdua memasuki rumah. “apa aja yang penting dingin. Yang banyak ya, gue udah haus banget” arzan memegang lehernya menandakan jika ia memang benar benar butuh asupan air dalam jumlah yang banyak. “dasar lo. Ya udah lo tunggu aja di kamar, nanti gue biarin” celoteh ady membuat temennya langsung mengerucutkan bibirnya. Ady pun langsung berjalan menuju dapur. Disana ia menemukan salah satu asisten rumah tangganya yang sedang melakukan pekerjaan rutinnya. “mbok minah, minta tolong buatkan jus jeruk tiga ya. nanti langsung bawa ke kamarku aja” berbeda saat berbicara dengan temannya, saat berbicara dengan orang yang lebih tua darinya ady menggunakan bahasa yang sopan. “siap mas. Pasti lagi ada mas arzan dan barra ya?” saking seringnya mereka berdua bertandang ke rumah hingga semua asisten rumah tangganya kenal dengan kedua pemuda itu. “nggak, Cuma arzan aja yang kesini”. “loh, tapi mas ady pesan minumnya sampai tiga gini” ekspresi mbok minah bingung. “iya. yang dua untuk si tarzan. Haus katanya. Kalau bisa aku mau kasih galon aja sekalian” mbok minah langsung dibuat tertawa. Mana ada tamu diberi air galon saking hausnya. “bisa aja mas ady. Ya sudah nanti mbok bawakan ke kamar ya”. “terima kasih mbok” ady langsung berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Saat membuka pintu kamarnya, arzan terlihat sudah dalam posisi tiduran di kasur sambil berselancar melihat beberapa sosial media miliknya menggunkan smartphone keluaran terbaru. “kayaknya ada yang punya handphone baru ni” kedua alisnya naik turun untuk menggoda temannya. “iya. gue habis dibeliin sama rianti. Parah emang tuh cewek, gampang banget dibohongin” arzan berbicara sambil terus menjelajah di beberapa akun miliknya. “oh, selegram yang ngejar ngejar lo itu? Gue heran, emang apa yang dilihat dari lo sampai rela beliin handphone mahal itu” ady mengejek, namun anehnya tidak pernah ada rasa kesal dalam hati arzan. “sialan lo. Harusnya sebagia temen dukung dong, bukannya malah ngehujat”. “justru itulah gunanya temen”. “mas ady, tolong bukain pintunya. Tangan mbok nggak bisa digunain buat buka pintu” suara mbok minah memotong pembicaraan antar pemuda di dalam kamar. Akhirnya ady segera bangkit dan berjalan menuju pintu dimana mbok minah sedang menunggu. Setelah membuka pintunya, pemuda itu pun mengambil nampan berisi tiga gelas jus jeruk yang telah dibuatkan. Selanjutnya membawa semua minuman itu masuk dan tanpa diduga, arzan segera menghampirinya lalu mengambil salah satu gelas dan meminumnya sampai habis. “lo haus atau apa? minum udah kayak habis dari gurun. Pelan pelan, nanti tersedak baru tahu rasa” ady terkejut dengan perilaku unit bin langka yang diperlihatkan arzan. Tidak hanya arzan, masih ada satu lagi temannya yang juga memiliki tingkah tak kalah ajaib. “ngomong-ngomong barra nggak ikut?” ady bertanya tentang keberadaan temannya satu lagi. “dia nggak masuk hari ini. gue kira kalian janjian tanpa sepengetahuan gue. Makanya pulang sekolah gue langsung datang kesini”. “eh, barra juga nggak masuk. Kemana tuh anak?”. Ady terkejut karena tidak mendapat info apapun terkait absennya barra dari sekolah. “mana gue tahu”. “lo udah coba kontak dia?”. “jangan ditanya. Gue udah berulang kali sampai riwayat panggilan di handphone gue isinya dia doang”. “kok gue nggak ditelepon juga? Wah pilih kasih lo” ady menggelengkan kepalanya. Disaat arzan sangat perhatian kepada barra, tapi tidak untuk dirinya. “ya elah, kalau lo kan gue datengin langsung nggak pake ditelepon lagi. Masih iri aja lo fernando”. Pletak... “aduh, sakit” arzan mengusap kepalanya yang dipukul oleh ady. “lo sendiri kenapa hari ini nggak masuk? Jangan bilang kalau lagi dipingit sama bokap lo. Hahaha” lanjut celotehan arzan membuat ady semakin jengkel. “tadi gue pergi ke SMA Wira Buana” jawab ady singkat. “hah, serius? Asli, udah nggak waras ni orang. Lo kesana sama siapa?” arzan benar benar terkejut mendengar jawaban dari temannya. Dari yang awalnya ia sibuk mengutak atik gadgetnya kini sampai meletakkan benda itu ke kasur untuk mendengar cerita lengkap dari temannya. Akhirnya ady pun menceritakan alasan kenapa ia bisa nekat datang sendirian ke SMA Wira Buana mulai dari menunggu ghali sampai pertemuannya dengan sosok gadis yang sukses mencuri perhatiannya. arzan hanya bisa terkejut sambil terus menggelengkan kepalanya sambil menyeruput jus jeruk miliknya. Tak terasa gelas kedua sudah tandas tak tersisa. “lo emang ketua geng idaman dy. Salut gue sama lo” arzan bertepuk tangan untuk keberanian yang dimiliki ady.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD