Chapter 7 - Pertemuan Kedua

1161 Words
“ayah sudah balik ke indonesia? Katanya satu minggu lagi. Terus kenapa nggak langsung pulang ke rumah sih?” tanya nona dari seberang telepon. Pagi ini ia mendapat kabar kalau ayahnya sudah kembali dari jerman dan diminta menemui ayahnya di kantor. “nggak bisa, pagi ini aku kan harus mengajar. Atau nanti sepulang dari sekolah aku langsung ke kantor ayah ya. memang apa yang mau dibicarakan sampai aku harus datang kesana?” nona sedang bersiap untuk berangkat ke SMA Wira Buana. “sebegitu pentingnya sampai nggak bisa dibicarakan di telepon. Makanya kalau pulang tuh ke rumah dulu yah”. “ya sudah, kalau begitu nona berangkat dulu ya... jangan lupa sarapan juga. nona sayang ayah” nona pun mematikan sambungan teleponnya bersama ayahnya. Sementara itu di tempat lain, para siswa di SMA Candra Winata memulai aktifitasnya untuk di sekolah. “heh bar, kemana aja lo kemarin nggak masuk? Mana telepon gue nggak diangkat sama sekali” arzan bertanya kepada sahabatnya. Saat tiba di dalam kelas kebetulan barra sudah duduk di kursinya. “kemarin gue sakit terus handphone segala rusak. Lengkap sudah” barra menyandarkan kepalanya di meja, raut wajahnya terlihat tak bersemangat akibat handphonenya tidak bisa digunakan sama sekali. “uuh kasian. Tahu begitu gue minta rianti beli dua”. Mendengar jawaban dari arzan, dahi barra pun mengerut karena tidak mengerti apa yang arzan maksud. “maksud lo apa?” mendengar pertanyaan temannya, arzan pun memperlihatkan hanphone keluaran terbaru miliknya sambil menaik turunkan kedua alisnya. Niatnya untuk pamer. “anjrit, emang dasar buaya lo ya” refleks barra langsung menoyor kepala arzan. “ah elah, kemarin ady sekarang lo. Mainnya jangan kepala terus dong. Untung kepala gue buatan tuhan. Coba kalau pabrikan, udah keluar masuk toko service” arzan pun merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan akibat perlakuan barra. Tak lama kemudian, ady datang memakai tas ranselnya. Seperti biasa disaat pemuda itu melintas, banyak siswi yang mencuri pandang ke arahnya. Menikmati bagaimana memandang paras yang dapat membuat mata menjadi cerah kembali. padahal hanya melihat, namun rasanya seperti berada di sebuah pemandangan sekelas greenland. Baru saja ingin masuk ke dalam kelas, tiba tiba ada tangan seorang siswi yang merangkulnya. “kak ady, kemarin kenapa nggak masuk? Kemarin aku jadi nggak konsentrasi belajar karena mikirin kak ady loh” bukan hanya merangkul, gadis itu juga berani menyenderkan kepalanya tepat di bahu pemuda itu. Merasa risih dengan prilaku gadis itu, ady pun melepaskan dan menjauhkan dirinya. “apaan sih lo na, lepasin” gadis bernama ratna. Adik kelas ady yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Siswi yang berprofesi sebagai seorang model, sayang rasa sukanya tidak mendapat balasan yang sama. padahal dirinya sudah sering diperlakukan dingin oleh ady, namun sepertinya gadis itu tetap bersemangat untuk terus mendekati pemuda yang ia sukai. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan ratna, ady pun meninggalkannya dan berjalan masuk untuk menemui teman temannya. “parah lo dy, anak orang dicuekin terus. Padahal banyak cowok yang suka sama dia” barra mencoba menggoda. “kalau gitu sama mereka aja, kenapa harus gue” ady menempati kursinya yang ada di depan barra dan arzan. Kriiing... kriiing... Suara bel tanda masuk berbunyi, para siswa SMA Candra Winata pun segera memulai aktifitas belajar mengajarnya seperti biasa. Sesuai yang telah ady dan arzan rencanakan sebelumnya. Di jam terakhir sebelum pulang sekolah, mereka berdua diam diam kabur melompati tembok pembatas sekolah. Tak peduli jika besok mereka akan menerima hukuman dari guru BK. “emang gila lo dy. Hahaha” arzan tahu betul bagaimana watak temannya itu. Dibalik sikap konyol yang dimiliki, jika sudah berkehendak apapun akan dilakukan tak peduli halangan yang dihadapi. “gue nggak bakal berhenti kalau belum tahu siapa cewek yang gue lihat kemarin. Asli, tuh cewek udah ngacak ngacak pikiran gue sampai semalam gue susah tidur” kantung mata yang terlihat dikedua mata ady buktinya. Semalam pemuda itu merasa gelisah karena belum juga tahu identitasnya gadis itu sudah keburu menghilang. Sengaja, ady meletakkan sepeda motornya di gedung sekitar sekolah. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pergerakan mereka menuju SMA Wira Buana. mengendarai motor miliknya, mereka membelah padatnya jalanan ibukota. Tak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Mereka sampai tepat waktu karena sebentar lagi para siswa di sana akan mengakhiri jam pelajarannya. Ady dan arzan menunggu di tempat yang sama dengan yang kemarin ia tempati tepat dibawah pohon besar. Sambil menunggu, mereka pun memesan minuman kemasan yang dijual di warung milik bapak bapak bertubuh gempal. Benar saja, belum lama mereka menunggu terdengar suara bel menandakan jika jam pelajaran berakhir. Mata ady pun langsung awas memperhatikan setiap orang yang keluar dari gedung sekolah tersebut. Dari dalam sekolah, ghali, fathan dan fabian sedang berjalan keluar gedung sekolah. Namun tiba tiba langkah mereka terhenti karena melihat dua sosok musuh bebuyutan yang berdiri di tempat yang sama seperti kemarin. “ghal, coba lihat. Itu kan ady dan arzan. Ngapain mereka datang lagi kesini?” fathan menunjuk kedua orang siswa yang berdiri tepat di seberang sekolah. Ditambah tatapan ady yang sedang memperhatikan sekitar, sudah pasti jika pemuda itu sedang mencari seseorang yang ada di sekolah. “yang pasti nunggu kita lah” fabian tidak kalah panik. “tenang, mereka cuma berdua. Kita bertiga ditambah ini markas kita. Jadi nggak perlu takut mereka macam macam” ghali berusaha meningkatkan rasa percaya dirinya. “terus kenapa kemarin lo sembunyi?” dengan polosnya fabian bertanya. Kebodohan yang baru disadari belakangan. Benar juga, padahal kemarin ady hanya sendirian tapi malah membuat mereka bertiga tak berani menghadapi pemuda itu. “jangan dibahas lagi. Yuk kita balik” ghali dan teman temannya berjalan keluar gedung sekolah dengan percaya diri. Mereka bertiga sudah siap jika harus berkelahi. Toh ini adalah lingkungan kekuasaan mereka, kalaupun terjadi sesuatu banyak yang akan memihak mereka juga. Tepat di depan gerbang, mata mereka sempat bertemu. Namun ada yang aneh, kenapa ady tidak merespon dan justru masih mencari keberadaan lain dari dalam sekolah. “ghal, tadi lo sadar nggak. Ady dan arzan sempat melihat ke arah kita tapi kok mereka kayak nggak merespon ya” fabian bertanya. pertanyaan yang sama yang ada di benak ghali dan fathan. “iya gue juga bingung, sebenarnya siapa yang mereka cari?”. Tak lama kemudian, nona berjalan keluar dari gedung sekolah mendahului para guru yang lain karena janji yang telah ia katakan kepada ayahnya. Sambil melihat jam ditangannya, nona berjalan dengan langkah cepat. Ayahnya mengatakan kalau bisa mereka makan siang bersama karena ada hal yang ingin dibicarakan. “sebenarnya apa yang mau ayah katakan sampai beliau memintaku untuk kesana secepatnya” nona bergumam, kini dirinya telah berada di gerbang sekolah. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, tiba tiba ada suara lelaki yang memanggilnya. “tunggu”. Nona mengernyitkan dahinya sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Siapa yang dimaksud untuk menunggu. “hanya perasaanku saja” nona pun melanjutkan perjalanannya. “tunggu sebentar” seketika langkah nona terhenti karena ada seseorang yang memegang tangannya. “akhirnya ketemu” ady tersenyum senang, akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan gadis yang membuatnya gelisah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD