Pemutusan Ikatan Darah

1326 Words
Arissa Mahendra membuka mulutnya dengan sangat perlahan. Setiap kata terucap jelas dan sempurna, masuk satu per satu ke telinga Adrian Wijaya dan Amara Amalia. Di sampingnya, alis Ren Wijaya langsung terangkat, lalu ia berteriak keras, “Nyonya Tua Arissa, Anda tidak pikun, kan? Gadis seperti Kirana Wijaya juga pantas jadi cucu angkat keluarga Adinata? Lucu aja kamu?!” “Ren Wijaya!” Adrian Wijaya segera memotong dengan suara tegas. Arissa Mahendra mengangkat pandangan matanya, melirik Ren Wijaya sekilas, lalu berkata dengan tenang, “Sepertinya kalian punya banyak pendapat tentang keputusanku. Tidak ada salahnya kok kalau mau diutarakan, bilang saja.” Adrian Wijaya tersenyum kaku, sudut bibirnya terangkat. “Tidak, tidak. Tentu saja keputusan Nyonya Tua Arissa adalah yang terbaik.” Amara Amalia mencubit pinggang Adrian Wijaya pelan, lalu berkata, “Tapi, Nyonya Tua Arissa, sebagaimanapun Kirana tetap adalah anak keluarga Wijaya. Apa hal ini tidak sebaiknya dipikirkan lagi secara matang antara dua keluarga?” “Benar juga.” Arissa Mahendra meletakkan cangkir teh di tangannya dengan lembut, lalu menimpali, “Kalau begitu, kalian buat saja satu perjanjian. Mulai sekarang, Rana tidak ada hubungan apa pun lagi dengan keluarga Wijaya.” Adrian Wijaya dan Amara Amalia sama-sama mundur beberapa langkah. Arissa Mahendra melangkah maju dan melanjutkan, “Menurut kalian usulan ini bagaimana?” “Ini…” Amara Amalia melirik Adrian Wijaya, tangannya yang mencengkeram lengan pria itu tanpa sadar semakin menguat. Adrian Wijaya menyeka keringat di dahinya, tersenyum kecut. “Nyonya Tua Arissa, janganlah bercanda seperti itu.” “Kirana itu anak kandung saya. Mana mungkin dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya, iya kan…” Adrian Wijaya menunduk, menghindari tatapan Rayhan Adinata. “Haha.” Clarissa Halim meliriknya dingin. “Jadi ternyata Tuan Adrian juga tahu kalau Rana adalah anak kandung Anda ya.” Wajah Adrian Wijaya langsung berubah drastis. Amara Amalia di sampingnya bahkan pucat pasi dan mundur beberapa langkah berturut-turut. Rayhan Adinata sedikit mengangkat kepala, memperhatikan ekspresi kedua orang tua itu, lalu berdiri dan berkata, “Kalau begitu semuanya sudah diputuskan dengan bijak ya. Kontraknya akan saya minta orang untuk menyiapkannya, lalu segera saya kirim ke Tuan Adrian. Mohon Tuan Adrian menunggu dengan sabar.” Tanpa memberi waktu Adrian Wijaya untuk bereaksi, Rayhan Adinata langsung berkata ke arah Bibi Wulan, “Bik Wulan, antar tamu keluar.” Bibi Wulan berdiri sopan di samping Adrian Wijaya. “Tuan Adrian, silakan.” Adrian Wijaya melirik ke arah Arissa Mahendra dan Clarissa Halim, lalu menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Ia membawa Amara Amalia dan Ren Wijaya meninggalkan kediaman keluarga Adinata. “Keluarga Wijaya ini gila semua, ya! Orang sudah mereka buat menderita sampai begini, masih juga tidak mau membiarkannya hidup dengan tenang!” Evan Santoso memaki dengan kesal di samping. Rayhan Adinata mengangkat alis, menoleh ke arahnya. “Kamu kenapa sih?” Evan Santoso melirik sekeliling, menyadari tatapan orang-orang. “Tidak apa-apa, cuma…” Rayhan Adinata langsung merebut ponselnya. Begitu melihat isi layar, kerutan di wajahnya semakin dalam. “Ray, ada apa?” Clarissa Halim memperhatikan perubahan wajah Rayhan Adinata dan bertanya dengan tenang. Rayhan Adinata menatap Evan Santoso, suaranya datar. “Ini info beneran?” “Delapan atau sembilan dari sepuluh kemungkinan, sih,” suara Evan Santoso mengecil. “Kalian sebenarnya sedang membicarakan apa?” suara Clarissa Halim perlahan meninggi. Rayhan Adinata menatap ibunya, suaranya agak berat. “Ma, di kalangan mereka beredar kabar kalau keluarga Wijaya dan keluarga Saputra mau berkerja sama.” “Keluarga Song? Bukankah keluarga Saputra hanya punya anak laki-laki?” wajah Clarissa Halim makin pucat. “Mereka mau menikahkan Rana ke sana?” “Mm.” Rayhan Adinata mengeluarkan dengusan rendah dari tenggorokannya. Suasana ruang tamu langsung membeku. Tidak ada satu pun yang bersuara, masing-masing hanya menatap benda di tangan mereka. Setelah lama menunduk, Rayhan Adinata berdiri sambil mengambil ponselnya. “Aku ke kantor sebentar.” Melihat langkah Rayhan Adinata yang cepat, Evan Santoso juga segera berdiri dan mengikutinya. “Ehm… Tante, Nenek, saya pamit dulu. Lain hari saya datang menjenguk kalian lagi.” Keduanya pergi tergesa-gesa meninggalkan vila keluarga Adinata, menyisakan dua orang tua yang saling menatap dalam diam. Arissa Mahendra menghela napas. “Andai sejak awal aku tahu keluarga Wijaya akan memperlakukan Rana seperti ini, mengabaikan ikatan darah, seharusnya waktu Vea meninggal aku langsung membawa Rana pergi. Kalau dulu aku lebih tegas… apakah Rana tidak akan jadi seperti ini…” Clarissa Halim menggeser tubuhnya mendekat ke Arissa Mahendra, menepuk pelan bahunya. “Tidak apa-apa, Bu. Semua akan baik-baik saja.” Di luar kompleks vila. Rayhan Adinata berjalan menyusuri jalan, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya dalam, tertuju pada jendela kamarnya. “Ray.” Evan Santoso berlari kecil menyusulnya, ikut menatap ke arah jendela. “Kamu lihat apa?” “Tidak ada apa-apa.” Rayhan Adinata menarik kembali pandangannya, lalu masuk ke kursi pengemudi. Evan Santoso dengan santai duduk di kursi penumpang depan. Ia menatap Rayhan Adinata dan bertanya, “Ada apa sih sebenarnya?” Rayhan Adinata tidak menjawab. Ia menggenggam kemudi erat-erat, lalu menginjak pedal gas dengan kuat. “Sial!” Evan Santoso langsung mencengkeram sabuk pengaman, tubuhnya terdorong ke belakang menempel sandaran kursi. Ia melirik Rayhan Adinata beberapa kali diam-diam. Tatapan Rayhan Adinata lurus ke depan, tekanan kakinya di pedal gas tidak berkurang sedikit pun. Mobil melaju kencang dan tak lama kemudian sampai di tujuan. Rayhan Adinata memarkir mobil dengan singkat di tempat parkir khusus direktur utama, lalu langsung turun. Evan Santoso turun dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia bersandar pada kap mobil, menatap langkah Rayhan Adinata yang mantap, lalu menggeleng pelan. “Masih sehebat dulu.” Dengan langkah agak goyah, Evan Santoso cepat-cepat menyusul Rayhan Adinata. Begitu masuk kantor, ia langsung menjatuhkan diri ke sofa di ruang kerja. Ia berbaring sambil menatap asisten direktur yang berdiri di samping—Marco. Rayhan Adinata duduk di kursi kerjanya, membolak-balik map dokumen di hadapannya. “Marco, nanti siapkan satu kontrak.” Marco mengangguk patuh. “Baik, Boss. Apakah untuk penandatanganan lahan ini?” “Bukan.” Rayhan Adinata menjawab dingin. Ia menutup map di tangannya, mengangkat kepala menatap Marco. “Kontrak pemutusan hubungan ayah dan anak.” Marco mengerutkan kening. “Hubungan ayah dan anak?” Dalam hatinya bertanya-tanya, zaman sekarang masih ada kontrak seperti itu? “Antara Adrian Wijaya dan Kirana Wijaya.” Mendengar dua nama itu, bibir Marco bergetar sedikit. “Baik, Boss.” Ia menunduk lalu keluar dari ruangan. Evan Santoso mengangkat kepala, melirik Rayhan Adinata. Suaranya terdengar panjang dan berat. “Ray.” Rayhan Adinata mengabaikannya dan mengganti topik. “Belakangan ini kamu sangat santai ya?” Mendengar itu, Evan Santoso langsung duduk tegak. “Biasa saja. Perlu bantuanku?” Rayhan Adinata menatap matanya dalam-dalam. Setelah beberapa detik, ia menjawab pelan, “Iya.” “Masalah Kirana Wijaya, kan?” Evan Santoso kembali berbaring di sofa. “Kalau soal dia, aku akan bantu sebisaku. Kamu tidak perlu banyak bicara.” Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Bagi Evan Santoso, ini hanyalah bantuan kecil. Lagipula selama bertahun-tahun Rayhan Adinata sudah banyak membantunya di klinik. Seorang pasien saja tidak sebanding dengan persahabatan mereka selama ini. Mendengar itu, Rayhan Adinata kembali fokus pada pekerjaannya. Malam perlahan menyelimuti seluruh Imperial City. Lampu-lampu di luar jendela menyala satu per satu, membentuk kotak-kotak cahaya putih. Evan Santoso menguap di sofa, menatap langit yang sudah gelap, lalu menoleh ke Rayhan Adinata yang masih tenggelam dalam pekerjaannya. Ia merapikan pakaiannya dan berdiri di depan meja Rayhan Adinata. Ia berdiri cukup lama, namun tetap tidak mendapatkan perhatian. “Gedebuk—” Evan Santoso menepuk meja dengan keras. Rayhan Adinata meliriknya sekilas, lalu kembali menunduk menatap kontrak yang baru saja diserahkan Marco. Ia membaca setiap pasal dengan teliti, lalu mengangguk puas. Rayhan Adinata berdiri, menggenggam map kontrak di tangannya, menatap Evan Santoso dan berkata datar, “Aku pergi dulu.” “Hei, kamu…” Evan Santoso hanya bisa menatap punggung Rayhan Adinata yang menjauh. “Tidak bertujuan pergi makan malam dulu ya…” Yang menjawabnya hanyalah cahaya lampu yang sunyi. Evan Santoso mengerucutkan bibir dengan kesal, lalu bersandar lemas pada sudut meja kerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD