Halaman belakang.
Rayhan Adinata mengeluarkan kotak rokok, menunduk lalu mengambil sebatang keluar dan menyelipkannya di bibir. Evan Santoso dari belakang menyodorkan korek api untuknya.
“Terima kasih.” ucap Rayhan Adinata pelan.
Di gazebo halaman belakang, asap rokok berputar-putar di udara. Rayhan Adinata dan Evan Santoso duduk berhadapan, memandang tanaman dan bunga di luar sana.
“Kamu mau bagaimana?” tanya Evan Santoso dengan suara ringan.
Pandangan Rayhan Adinata yang semula tertuju pada ujung sepatunya perlahan terangkat. “Bagaimana apanya?”
Evan Santoso memutar mata. “Soal tunanganmu itu, Kirana Wijaya. Kamu benar-benar berniat mau menikah dengannya?”
Rayhan Adinata terdiam, menundukkan kepala sambil menggoyangkan kaki yang disilangkan. Setelah lama hening, ia baru mengangkat kepala. “Aku masih tidak tahu.”
Evan Santoso menghela napas. “Jangan salahkan aku kalau terlalu ikut campur untuk hal kamu ini. Aku harus mengingatkanmu lebih dulu. Kirana Wijaya kelihatannya punya riwayat keluarga yang sama seperti ibunya—emosinya tidak stabil, jarang bicara. Dilihat dari mana pun, itu tidak normal.”
Rayhan Adinata menatap Evan Santoso. Rokok di mulutnya sudah padam di asbak.
Evan Santoso melanjutkan, “Ray, kalau memang Kirana Wijaya pernah mengalami trauma psikologis, masa depannya pasti akan bergantung sepenuhnya padamu.”
“Keluargaku tidak kekurangan uang makan untuk tambah satu orang.”
“Ini bukan soal uang. Intinya, seluruh masa depan Kirana Wijaya harus bergantung padamu. Pakaian, makanan, tempat tinggal, semuanya mengikutimu, bergantung padamu, termasuk perawatan medisnya di masa depan.”
“Terapi psikologis itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang. Kamu harus menemaninya, membantunya sedikit demi sedikit kembali ke jalan yang seharusnya.”
Rayhan Adinata tidak menjawab, hanya menatap mata Evan Santoso.
“Ray, sebagai seorang psikolog, aku sangat berharap kamu bisa membantu Kirana Wijaya keluar dari keterpurukannya, karena aku bisa melihat dia sangat bergantung padamu. Tapi…sebagai sahabatmu, aku merasa menjauh diri darinya adalah pilihan terbaik dan paling ideal untukmu.”
Setelah Evan Santoso selesai berbicara, suasana kembali membeku. Evan Santoso menatap Rayhan Adinata dengan pandangan tenang.
“Evan, apakah penyakit mental seperti itu benar-benar bisa diturunkan?”
“Bisa saja. Trauma psikologis itu seperti bom waktu. Awalnya tersembunyi, lalu perlahan menyebar dengan cepat. Kirana Wijaya adalah contoh yang jelas. Waktu kecil dia lincah dan ceria, tapi setelah mengalami beberapa kejadian yang memicu, penyakit yang tersembunyi di dalam hatinya pun terpicu.”
Kepala Rayhan Adinata semakin tertunduk. Ia memutar-mutar kotak rokok di tangannya, lalu melirik Evan Santoso. “Aku mengerti.”
Rayhan Adinata berdiri dan meninggalkan gazebo, menyisakan Evan Santoso seorang diri di sana. Ia memandang bingung ke arah Rayhan Adinata yang berjalan menuju vila di dalam kompleks perumahan mewah itu. “Kamu paham apa sih?”
Rayhan Adinata tidak menjawab sepatah kata pun. Langkahnya cepat kembali ke tepi vila. Ia berdiri diam di depan pintu, mencoba menghilangkan bau rokok dari tubuhnya.
“Klik—”
Pandangan Clarissa Halim bertemu dengan Rayhan Adinata sejenak. Ia menatap putranya dan berkata lembut, “Ray, Ibu juga tidak ingin memaksamu lagi dengan kondisi Rana seperti gini. Kamu putuskan sendiri saja apakah masih ingin menikahi Rana. Tentu saja, Ibu juga sudah memikirkannya, kalau kamu tidak mau, aku akan menganggap Rana sebagai anak angkatku dan merawatnya seumur hidup.”
Rayhan Adinata terdiam lama, menunduk. “Lakukan saja seperti yang Ibu inginkan.”
Clarissa Halim mengangkat kepala, menatap alis dan mata Rayhan Adinata, lalu menghembuskan napas panjang. “Baiklah kalau begitu.”
“Ding dong—”
Alis Bibi Wulan berkerut saat melihat ke arah Clarissa Halim . “Nyonya, orang keluarga Wijaya datang.”
Clarissa Halim melirik Rayhan Adinata di sampingnya, bibirnya mengerucut. “Bagaimana caranya kamu membawa pergi anak orang?”
Rayhan Adinata mengangkat alis, mengalihkan pandangan ke arah Evan Santoso yang berlari dari halaman belakang. “Aku… langsung membawanya ke sini.”
“Kamu!” Clarissa Halim menoleh, menatap Rayhan Adinata dengan mata membelalak.
Clarissa Halim duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. “Bik Wulan, buka pintu. Persilakan orang keluarga Wijaya masuk.”
Ren Wijaya berdiri di belakang Amara Amalia, memandang sekeliling vila dan tak bisa menahan seruan kagum. “Wow! Ibu, kekayaan Keluarga Adinata memang pantas jadi keluarga nomor satu di Ibu kota. Rumah ini hampir sebesar satu kompleks perumahan.”
“Jangan bicara dulu!” Amara Amalia berbisik, matanya melirik ke sekeliling, tangannya mencengkeram erat lengan Adrian Wijaya.
Wajah Adrian Wijaya tetap dihiasi senyum standar, kedua tangannya saling digosok. “Nyonya Clarissa.”
Clarissa Halim menoleh, cangkir teh di tangannya diletakkan perlahan di meja. Ia menahan amarah yang naik, menjaga senyum di wajahnya saat memandang Adrian Wijaya. “Tuan Adrian, Anda datang.”
Adrian Wijaya melangkah maju sambil membawa sebotol Maotai, menyerahkannya ke hadapan Clarissa Halim . “Nyonya Clarissa, putri kecil saya sudah merepotkan Anda.”
Clarissa Halim melirik barang di tangannya sekilas. “Heh, Tuan Adrian lain kali tak usah segini repotlah.” Ia melirik Bibik Wulan di sampingnya, dan Bik Wulan segera mengerti lalu menerima barang itu.
Amara Amalia tersenyum di samping sambil menggandeng lengan Adrian Wijaya. “Nyonya Clarissa, soal Kirana…”
Clarissa Halim mengerutkan kening melihat kemesraan mereka. Dalam benaknya terlintas sosok lama. Senyum di bibirnya perlahan memudar. Belum sempat Amara Amalia menyelesaikan kalimatnya, Clarissa Halim sudah menyela, “Rana mulai malam ini dan seterusnya akan tinggal di sini saja.”
Sorot mata Adrian Wijaya menegang. “Ini… sepertinya kurang pantas… gadis itu bisa merepotkan Anda…”
Ren Wijaya juga melangkah maju. “Benar, Nyonya Clarissa. Gadis sialan itu kan punya penyakit di kepalanya…”
Belum sempat Ren Wijaya menutup mulutnya.
“Gedebuk—” cangkir teh kali ini jatuh keras di atas meja.
Wajah Clarissa Halim dan Rayhan Adinata sama-sama mengeras. Bahkan ekspresi Evan Santoso di samping pun tampak tidak enak.
Ren Wijaya sedikit bersembunyi di belakang Amara Amalia. Amara Amalia segera mengalihkan topik. “Nyonya Clarissa, Kirana Wijaya masih gadis kecil yang belum menikah keluar. Tinggal di rumah orang lain seperti ini rasanya tidak sesuai adat dan tata krama.”
Clarissa Halim berpura-pura mengangguk. Saat Amara Amalia mengira tujuannya tercapai, ucapan Rayhan Adinata langsung mematahkan senyum mereka.
Rayhan Adinata melangkah maju dengan senyum mengejek tiga bagian. “Soal itu tidak perlu membuat Nyonya Zhao repot. Waktu kecil, Rana entah sudah berapa kali menginap di rumah Keluarga Adinata.”
Wajah Adrian Wijaya berubah. Mulutnya membuka lalu menutup lagi. “Rana pernah datang ke rumah Keluarga Adinata sebelumnya?”
Clarissa Halim melirik Adrian Wijaya sekilas tanpa berkata apa pun. Rayhan Adinata dan Evan Santoso pun duduk santai di sofa, menyilangkan kaki.
“Krakk—”
Sosok Arissa Mahendra muncul di koridor lantai dua. “Hari ini ada tamu ya.” Ia menuruni tangga dengan langkah tenang, pandangannya menyapu Adrian Wijaya dan rombongannya.
Adrian Wijaya segera membungkuk hormat. “Nyonya Tua Arissa.”
Arissa Mahendra melirik Amara Amalia di belakangnya, wajahnya sedikit mendingin. Ia duduk santai di samping Clarissa Halim , lalu memandang Rayhan Adinata. “Ray, bantu atur suatu hal. Aku mau mengadakan jamuan makan malam.”
Rayhan Adinata menoleh. “Jamuan makan malam?”
“Jamuan pengakuan keluarga. Aku akan menerima Rana sebagai cucu angkatku.”