Istri Pertama dan Kedua

1785 Words

Andai bukan karena keguguran itu, ia sudah tahu pasti tubuhnya akan penuh luka malam ini. Ia bahkan tak perlu menebak. Sudah terlalu sering ia dihukum dengan cara-cara yang mengerikan hanya karena alasan kecil. Tapi kali ini, entah karena belas kasihan sesaat, atau karena ia masih terlihat lemah, suaminya hanya mendesis marah dan kemudian pergi. Pergi setelah menerima telepon—dan Dinda tahu persis siapa di balik panggilan itu. Ia tak butuh menebak. Ia hafal nada suara suaminya ketika berbicara dengan orang itu. Istri pertamanya. Perempuan pertama yang selalu membuatnya merasa tak lebih dari bayangan. Ia terduduk di sudut ruangan dengan punggung menyender ke dinding, tubuhnya masih bergetar, wajahnya basah oleh air mata yang terus menetes tak tertahan. Hanya isak lirih yang memenuhi ruang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD