Aksa sibuk dengan beberapa soal matematika sesudah ia menyelesaikan tugas Fisika dan Kimia Raksa-abangnya, tapi satu kelas dengannya itu.
Aksa menatap soal-soal matematika tanpa beban, bahkan kertas putihnya yang tadinya kosong sudah penuh dengan beberapa angka, matanya menatap setiap rumus lekat-lekat.
"Woi Aksa!" Pekik Raksa membuat Aksa langsung melenguh, ia masih menulis dan sibuk mencari jawaban dari soal logaritma.
Raksa masuk dengan langkah kaki panjangnya, lelaki itu duduk santai pada atas tempat tidur Aksa yang empuk, kamar Aksa memang tempat ternyaman kedua selain gudang belakang sekolah bagi Raksa, kamar Aksa tertata sangat rapih, wangi. Berbeda jauh sekali dengan Raksa, yang pakaian sekolah saja ia lempar ke sembarang sudut kamar.
"Kenapa bang?" Tanya Aksa pada Raksa yang umurnya tua satu tahun dari Aksa, tapi karena Aksa yang cepat masuk sekolah dan cerdas akhirnya mereka sekelas.
Raksa memasang wajahnya penuh tanya, irisnya meniti wajah Aksa penuh penjelasan,"Lo pacaran sama ayam merah?"
Kedua alis Aksa langsung bertautan, dahinya nengernyit kebingungan.
"Ayam merah?" Aksa melepaskan pulpennya kemudian ia melirik Raksa sekilas,"Siapa bang?" Tanya Aksa tak mengerti.
Raksa mendengurkan napasnya kasar, ia berdiri pada akhirnya,"Itu loh yang bapaknya doatur terbesar di yayasan papa," lanjut Raksa lebih jelas.
Aksa mendecakkan lidahnya,"Nama dia Raya bang," protes Aksa.
Raksa tertawa kecil, baru kali ini melihat Aksa kembali berrkspressi lagi, setelah kejadian satu tahun yang lalu. Di mana saat ia meraskaan patah terdalam dalam perkara yang namanya cinta.
"Habisnya rambut cewek lo lucu ya, merah-merah. Boleh gue ganggu gak?" Goda Raksa menguji Aksa.
Mata Aksa langsung melotot pada Raksa,"Gak, siapapun gak boleh ganggu dia."
Lagi-lagi Raksa akhirnya menggeleng, melihat sikap adik satu-satunya itu,"Gak berubah yah possesive lo dari dulu ama pacar," ledek Raksa, ia berjalan mendekati Aksa.
"Hati-hati Sa, cewek cantik banyak yang suka."
"Gue juga ganteng dan banyak yang suka bang," balas Aksa tak kalah sengit.
Raksa hampir saja menyemburkan tawanya yang meledak-ledak,"Gila bro, akhirnya lo bisa pede juga jadi cowok. Padahal ya setau gue adek gue yang satu ini sangat-sangat tidak menyukai pujian, lah sekarang diri lo sendiri yang muji haha," Raksa memegang perutnya sakit karena tertawa terpingkal-pinggal.
Drrttr drtttt
Aksa melirik ponselnya yang berdering, tertera nama Raya di sana.
Kenapa Raya nelpon malam-malam?
Azka langsung menyambar ponselnya dari atas nakas, sedangkan Raksa mencuri-curi pandang, ingin mengetahui pembicaraan Aksa dan Raya.
Aksa! Aksa! Help me please!
Suara Raya yang terengah-engah membuat wajah Aksa langsung memerah, jantungnya sudah berpacu semakin cepat sekarang.
Ray lo kenapa? RAYA JAWAB!
Terdengar suara tangisan dari seberang sambungan.
Gue hiksss gue ta ... takut! AKSA TOLONGIN GUE!
Aksa semakin panik, ia langsung membuang teleponnya ke sembarang arah, lelaki itu langsung mengambil kunci motornya.
"Mau ke mana woy?!" Pekik Raksa.
Aksa tak menjawab ia langsung melangkah cepat menuju halaman rumah, kemudian mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Raksa hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sekarang.
Di sisi lain Raya sedang menutup pintu kamarnya rapat-rapat, gadis itu menangis seraya menekuk lututnya.
Ia menahan perih pada tangannya yang terdapat beberapa luka sayatan dari silet yang tajam, Raya merintih kesakitan.
"Kamu akan mati hahahha," suara berat dari luar pintu membuat bulu kuduk Raya meremang, ia bertambah takut. Atas dasar apa lelaki berjubah hitam serta bertopeng itu masuk dan menyerang Raya tiba-tiba di rumah.
"Jangan ganggu gue! Lo siapa! Jangan jadi pengecut," sentak Raya dengan emosinya yang kalap bersama rasa takut, kakinya bergetar. Buliran air hangat sudah terjun bebas membasahi kedua pipinya.
"Tidak perlu kau tau."
Syutttt....
Kedua bola mata Raya melotot saat sebuah pisau menembus pintu kamarnya, tepat di samping kepalanya dan nyaris melukai Raya.
Raya langsung saja mundur, bibirnya bergetar bertambah ketakutan.
"Siapapun tolong gue," tangis Raya pecah.
Tidak ada satupun orang di rumah, entah kenapa hari ini bi Rumi dan pak Ali yang bekerja di rumahnya tidak terlihat sedikitpun.
Dia siapa? Kenapa hendak melukai Raya?
"Huahhaaha buka Raya, jangan ketakutan seperti itu. Aku hanya ingin menikmati dagingmu saja," tawa menyeramkan dari asal suara tersebut membuat Raya tak tau lagi harus berbuat apa, ia benar-benar ketakutan.
Ia mengambil ponselnya kembali untuk menelepon Aksa, tapi ponsel Aska tidak aktif lagi. Jika Aksa tidak datang malam ini, maka ia akan lenyap. Ia teringat pada Kirana dan Mikaila, dan mencoba untuk menelpon sahabatnya itu. Hasilnya masih sama, tidak di angkat dan sibuk.
"Aku ingin kamu Raya, kamu. Kamu telah menghancurkan segala rencana saya, kamu harus mati. Kamu harus pergi selamanya."
"JANGAN JADI PENGECUT YANG BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG!" Pekik Raya.
"Pergi kamu! Atau saya akan melaporkan kamu pada polisi atas percobaan pembunuhan!" Usir Raya lagi.
Raya menutup tangannya dengan kedua telapak tangannya, rasa takut begitu mengusainya sekarang, ia memilih duduk di sudut kamar paling pojok.
Brukkk....
Terdengar suara pintu di dobrak, Raya terpelangak.
Brukkk.....
"Pergi kamu!" Usir Raya.
Brukkk....
Raya menegak salivanya susah payah, gadis itu langsung membulatkan kedua bola matanya. Ia berdiri dan berlari ke arah lelaki di depannya tersebut kemudian memeluknya erat.
"A ... Aksa! Gue ta ... takut," dengan rasa sedikit ragu Aksa membalas pelukan Raya.
Aksa mematap kedua mata Raya yang sembab, kemudian lelaki berwajah tampan, beralih tebas itu tersenyum tipis ia membersihkan sisa-sisa air mata yang masih membekas pada kedua pipi Raya.
Aksa membawa Raya untuk duduk di sofa kamar Raya, lalu Aksa memberikan Raya segelas air putih agar Raya merasa sedikit tenang.
"Ray apa yang terjadi? Apa yang buat lo takut?" Raya terdiam sejenak dengan kedua tangannya yang masih menggenggam gelas air putih itu erat.
"Ray tangan lo kenapa?" Pekik Aksa heboh, ia melihat pada tangan Raya terdapat beberapa bekas luka sayatan.
Air mata Raya jatuh lagi,"Gue gak tau Sa, tapi tadi begitu gue lagi mau keluar. Ada seseorang cowok tingginya gak jauh dari tinggi badan lo. Dia pake topeng sama jubah hitam, tiba-tiba nyayat tangan gue pake silet. Spontan gue langsung lari ke kamar. Dia bawa pisau."
Darah Aksa rasanya berdesir, emosinya tersulut.
"Dia ... dia bilang dia ingin gue mati Sa! Gue ... gue gak ngerti sebenarnya ada apa? Gue sebelumnya gak pernah di teror kayak gini, gue benar-benar ngerasa ada yang salah atas semuanya," lanjut Raya.
Aksa langsung menarik tangan kanan Raya, kemudian mengecup lembut luka sayatan pada pergelangan tangan Raya.
Lelaki itu langsung merobek kameja yang ia pakai, dan membalutkan sobekan kamejanya itu pada lengan Raya, Raya terpaku sesaat. Untung saja Aksa memakai balutan kaus putih di dalamnya.
"Gak papa, ada gue. Lo boleh tidur hari udah malam," kata Aksa lembut.
Raya menggeleng,"Gue takut Sa."
"Gue di sini Ray, gue gak pulang. Gue bakal jagain lo di sini."
"Tapi besok sekolah?"
Aksa menghembus napas kasar, ia mengacak rambutnya frustasi,"Raya pas pergi sekolah kan kita berdua bisa mampir ke rumah."
Akhirnya Raya mengangguk ragu,"Tapi lo jangan pergi yah, gue takut."
Aksa tersenyum samar,"Iya, sana lo tidur. Gue tungguin lo di sini."
Raya merasa sedikit tenang akhirnya, ia segera naik ke atas tempat tidur merebahkan dirinya, sedangkan Aksa berbaring di sofa. Lelaki itu terus saja memikirkan siapa dalang di balik semua ini?
Tak lama setelah itu Aksa berdiri ia mendekati Raya, kemudian menyelimuti tubuh Raya.
"Ray kenapa lo bisa buat gue sekhawatir ini tadi?" Gumam Aksa.
Aksa menghela napas pelan, ia menatap wajah Raya lekat-lekat.
"Sa ... gue takut, Sa jangan tinggalin gue."
Aksa memgernyit heran, sebegitu traumamya kah Raya? Aksa yakin, orang berjubah hitam itu sangat berbahaya.
Aksa meraih tangan kanan Raya, kedua mata Raya masih tertutup.
"Gue di sini Ray, lo tenang yah. I'm protect you."
"Sa jangan pergi dari gue."
Aksa lagi-lagi kebingungan, Aksa mengarahkan punggung tangannya pada dahi Raya. Suhu tubuh Raya terasa sangat panas, lelaki itu langsung cemas sendiri karena itu.
"Ray, lo udah makan?" Kedua tangan Aksa menepuk-nepuk pelan kedua pipi Raya.
Raya memgangguk mengiyakan.
"Gue ... gue takut Sa, dingin. Jangan pergi."
Aksa langsung tidur di sebelah Raya kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya, Raya merasakan tubuhnya sedikit menghangat sekarang.
"Sekarang lo tidur, gak ada lagi yang bisa buat lo takut."