TAKDIRKAH?

884 Words
Gue ketemu lo itu takdir, kalau sekarang gue bilang gue cinta sama lo. Itu juga takdir. Raya menyesap jus orangenya, ia kini tengah duduk selonjoran di pinggir lapangan. Hari ini ada jam olahraga, seusai beemain volly bersama tim perempuan, Raya memutuskan untuk duduk di pinggir lapangan. Bulu matanya yang lentik itu tiada henti menatap beberapa anak perempuan yang sana sekakli tidak merasa capek jika berolahraga, beda hal-nya dengan Raya yang mudah letih. "Lo gak main?" Suara itu membuat Raya melirik ke sampingnya, siapaagi memangnya kalau bukan Aksa? Lelaki itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya, parfum-nya bahkan sekarang sudah Raya kenali. Tidak hanya itu, bau pomade-nya haduh. "Bukan urusan lo!" Ketus Raya, yang kembali menatap lurus arah lapangan. Aksa tersenyum tipis, ia beralih berdiri tepat di depan Raya, sampai gadis itu berdecak dan menggerutu kesal. "Mau lo apasih?" Omel Raya pasrah akhirnya. Aksa tersenyum tipis,"Gue mau ngomong sama lo, sama babu gue." Lagi-lagi gadis itu melenguh, astaga dia bilang apa? Babu? Enak aja! Tapi apa boleh buat, perjanjian itu memang belum selesai. Tapi apa wajar seorang babu di datangi terus sama majikannya? Raya memutar bola matanya malas, dalam sekejap Aksa sudah merampas jus milik Raya dan menegakna sekaligus, Raya tercenung sejenak. "What? Apa yang lo lakuin dasar majikan kurang ajar!" Sungut Raya. Aksa tidak peduli, lelaki itu langsung melemparkan cup  jus tadi, ke tempat sampah yang hanya berjarak beberapa meter dari posisi mereka. "Pulang?" Kedua alis Aksa saling bertautan. Raya memilih berdiri akhirnya, wajahnya merah padam, emosinya meledak-ledak sekarang. Tapi Aksa tetap saja masih memasang wajah sesantai mungkin. "Enggak!" Pelotot Raya tidak menyetujui, Aksa tersenyum kecil. Baru saja Raya hendak melangkah pergi, tangan Aksa langsung mencekal lengan gadis tersebut, kemudian menarik Raya kepelukannya, Raya terdiam sejenak. Posisi kepalanya sekarang sudah menempel pada d**a bidang milik Aksa, dapat ia rasakan bahwa jantungnya sudah berdetak kencang sekarang, ada apa ini? Aksa tersenyum lebar, matanya menatap lurus pada seorang gadis yang melihat keduanya dari kejauhan, gadis yang pernah Aksa temui di acara reuni. Aksa menyeringai, ia merasa puas. Saat gadis itu kini sudah pergi dengan langkah tergesa-gesa dan wajah muramnya. "ISS LO NGAPAIN SIH!" Sentak Raya pada Aksa seraya mendorong paksa d**a bidang lelaki itu, sampai keduanya kini sudah terhalau jarak beberapa senti meter. Aksa hanya mengacak rambutnya kasar sekarang,"Berisik!" Ketus Aksa galak, padahal baru saja tadi ia berbicara dengan nada lembut serta menggoda. Raya menjadi kesal akhirnya, ia melipatkan kedua tangannya di atas d**a. "Gue bingung ya, emang ada cowok yang sebegitu jahatnya sama cewek? Bisa gak sih lo bersikap manis sama gue? Gak usah galak, gue tau gue babu lo dalam dua bulan." Aksa tersenyum kecil, ia langsung mendekati Raya, kemudian mencium dahi gadis itu sekilas, tepat di lapangan. Semua yang tadinya tengah memerhatikan mereka langsung terdiam membeku, tidak menyangka apa yang sudah Aksa lakukan. "Sekarang, lo punya gue." Demi kecebong yang bantut dan gak jadi kodok, jantung Raya hampir copot rasanya, ia terdiam di tempat. Aksa memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana kembali, lalu berjalan santai meninggalkan Raya yang melomngos kasar karenanya. Kenapa hidup Raya begitu berubah saat bertemu dia? Apa yang harus Raya lakukan? Aksa membuatnya benar-benar terjebak, Aksa memang tampan. Tapi Raya juga tidak mau jika hubungan mereka terjadi hanya karena suatu unsur keterpaksaan. Ah sudahlah, memangnya Raya percaya cinta? Enggak. Raya pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi mencintai siapapun. Bel pulang menggema di seluruh sudut Cyber, Raya melangkah cepat keluar kelas untuk pulang bersama sahabat-sahabatnya. "Kai, gue pulang sama lo kan?" Tanya Raya pada Mikaila, Mikaila memasang wajah tidak enak. "Ray bukan apa-apa ya, tapi sorry ya gue hari ini pulang sama Rion." Raya mengangguk pasrah,"Oke deh Kai gak papa, gue pulang sama Kirana aja," kata Raya. Kirana menautkan sebelah alisnya,"Astaga Raya ban mobil gue kempes tau, kok lo lupaan." Raya langsung mendengus hebat,"Oke gue naik taksi aja deh." "Yaudah hati-hati yah Ray," kata kedua sahabatnya itu, Raya mengangguk dengan senyuman kecil. Hari yang sungguh sial, andai dia tidak mendapatkan surat panggilan, pasti mobilnya tidak akan di sita oleh papanya. Raya berjalan menuju depan gerbang sekolah, sesekali ia celingak-celinguk menunggu taksi, sampai tangan seseorang menarik Raya secara paksa kemudian memasangkan helm di kepalanya. "Apa ini?" Tanya Raya kaget. Aksa menatap gadis berambut ombre merah itu lekat-lekat. "Gue pernah bilang bakal antar jemput lo, lo lupa?" Kecam Aksa dengan wajah songongnya. "Heh! Lo siapa memangnya?" Balas Raya balik tajam. Lemparan pertanyaan itu membuat Aksa sedikit membungkuk, untuk menyeimbangkan tubuh Raya yang lebih kecil darinya, Aksa mendekatkan bibirnya pada telinga Raya. "I'm yours." "Hah? Apasih lo? Ngigau? Sakit ya lo?" Aksa langsung tergelak lucu. "Lo lucu ya, mending lo bersyukur karena cowok kayak gue mau pacaran sama cewek kayak lo, lo udah gak jadi babu gue. Lo cukup jadi pacar gue aja dalam tenggang waktu dua bulan," perjelas Aksa panjang lebar. Mulut Raya terbuka lebar,"Segampang itu ya lo ngomongnya? Pengen gue gampar nih wajah loh?" Ancam Raya kesal. "Gak boleh kasar ama pacar neng, dosa. Kalau dosa masuk neraka." Emosi Raya benar-benar sudah sampai ubun-ubun sekarang. "Lo dengar yah! Pertama gue terpaksa jadi babu lo karena gue udah terikat janji, dan gue bukan tipe orang yang ingkar janji. Kedua gue gak suka sama lo. Ketiga gue akuin lo emang tampan, tapi itu bukan berarti lo bisa maksa gue seenaknya buat jadi pacar lo!" Tukas Raya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD