TELAT?

881 Words
Mentari menyingsing, kelas Aksa hari ini tengah melaksanakan pelajaran olahraga, untuk anak IPS seperti Aksa, Saka, Dzulfan, Aroon dan juga Zano, pelajaran adalah satu-satunya pelajaran yang mereka sukai. Semua anak lelaki sibuk bermain bola kaki, sama hal-nya dengan Aksa yang di percayai untuk menjadi kapten sektor sayap kiri, dan Aksa juga cukup pandai dalam permainan bola kaki, dari dulu Aksa memang sangat menyukai olahraga ini. Beda hal-nya dengan kaum hawa, yang hanya menyaksikan mereka melalui tribun lapangan, keringat Aksa dan yang lainnya sudah mengucur, tapi hal tersebut tak akan membuat ketampanan mereka pudar. Alis Aksa yang tebal, matanya yang indah bibir tipisnya, membuat mata kaum hawa makin jelalatan. Buk! Raya meringis sebentar, kepalanya langsung celingak-celinguk memerhatikan keadaan sekitar. Sekiranya merasa aman, gadis itu berjalan pelan penuh hati-hati, kedua tangannya terpaut pada kedua ujung ransel biru langit bergambar doraemon miliknya itu. Raya tersenyum lebar, tidak sia-sia jika Raya mempunyai hobi memanjat tembok, akhirnya ia bisa terbebas dari suara bu Indah yang pastinya memekakan telinga, guru BK yang galak dan berisik itu sangat menyebalkan, Raya jenuh juga terus berhadapan dengan bu Indah, walau itu sudah menjadi kebiasaan Raya sebelumnya. Gadis itu melangkah santai, menuju lorong-lorong sekolah, dan Raya terus berjalan santai sampai melewati pinggir lapangan, entah apa dan kenapa pandangan Raya kini beralih pada Aksa yang tengah bermain bola kaki. Raya tersenyum kecil, ia memandangi Aksa lekat, keringatnya membuat Aksa tampak lebih keren dari sebelumnya, duh! "RAYA!" Gadis itu langsung terperanjat kaget, ia memutar tubuhnya menghadap wanita yang mempunyai postur tubuh tinggi dan ideal, tapi berdandam menor itu. Raya meringis kelas, duh kenapa harus ada bu Indah? "Kamu pasti terlambat?!" Tebak bu Indah mengintimidasi. Raya menggigit ujung kukunya yang baru saja ia cat menjadi warna merah menyala, ia memutar otak mencari alasan. "Tadi itu Raya ... Raya cuma gak sengaja jalan ke belakang, gak telat kok," balas Raya, namun sia-sia hal ini sering ia lakukan bu Indah menatap dia dengan rasa tidak percaya. Bu Indah memeletkan lidahnya pada Raya,"Emangnya saya sebodoh itu bisa terusan kamu bohongi? Sorry ya ini bukan lirik lagu yang selalu bilang kamu berbohong aku pun percaya, kamu lukai aku tak peduli." Raya melenguh, pada saat mendengarkan suara bu Indah yang kini malah bernyanyi, mending kalau suaranya bagus dan tidak memalukan jika di publish, lah ini? Cempreng iya. suara Giant di film doraemon saja kalah. "Sekarang kamu ikut saya!" Perintah bu Indah, Raya akhirnya mengikuti langkah Indah menuju kantor BK. Raya pastikan ia akan mendapatkan surat panggilan lagi kali ini, huh! Seperti yang di perkirakan Raya telah duduk sebagai tamu di ruang BK sekarang, guru yang berada di sekitar sana juga mulai menggosip Raya, tapi Raya tidak peduli. "Sudah berapa kali kamu selalu telat?" Raya menghitung menggunakan jemarinya,"Satu dua empat, cuma 20 kali dalam sebulan kok buk," jawab Raya seadanya. Mata Indah melotot tajam,"Cuma?" Wanita berusia cukup muda, Sekitar dua puluh empat tahun tersebut langsung mengelus dadanya agar tetap sabar menghadapi perlakuan Raya. Indah langsubg menyodorkan amplop putiu di depan Raya. "Kali ini kamu harus benar-benar kasih ke orangtuamu, sudah banyak surat panggilan yang saya kirim tapi orangtua kamu tidak pernah datang," kata Indah. Raya mengangguk,"Oke bu," lalu gadis itu berdiri,"Saya pergi!" Raya berjalan menuju luar pintu. "Astaga!" Hampir saja Raya rasanya ingin jantungan, matanya menyala-nyala melihat hadirnya Aksa di depannya sekarang, Aksa yang bahkan masih memakai seragam olahraga miliknya dan juga keringatnya saja masih membanjiri tubuhnya. "Lo di skors?" Tanya Aksa spontan tanpa basa-basi. Raya mendorong tubuh Aksa yang berada di depannya dengan kasar. "Minggir! Gue masih inget ya kejadian tadi malam!" Sinis Raya. Tapi Aksa tak juga bergeser dari tempatnya, ia mendorong Raya ke tembok, kemudian mengunci gadis itu dengan sikunya, sampai Raya tertegun atas wajah tampan yang Aksa punya membuatnya selalu saja terpanah dan terdiam sesaat. "Gue nanya!" Aksa memusatkan tatapannya pada manik mata Raya. "Lo di skors?" Raya memutar bola matanua malas,"Gak! Memangnya apa hubungannya sama lo? Gue di skors atau gak itu bukan urusan lo," tukas Raya. Aksa membuang pandangannya sebentar, lalu ia kembali fokus pada Raya. "Lo bisa gak sih jadi cewek manisan dikit? Lo pikir dengan penampilan lo kayak gini lo keren? Cuma orang gak punya otak yang selalu melakukan kesalahan yang sama, salah satunya terlambat kayak lo," omel Aksa. "Kalau lo ke sini cuma buat ngomelin gue mending lo pergi deh, gue lagi gak butuh pencerahan. Simpan aja pencerahan lo itu untuk gebetan lo!" Sinis Raya, ia mendorong tubuh Aksa kemudian gadis itu berjalan meninggalkan Aksa. Tapi untungnya Aksa langsung mencekal pergelangan tangan Raya, hingga langkah Raya terhenti. Mata Raua tertuju pada tangan mereka yang saling berpautan juga kulit mereka yang saling bersentuhan. "Lepasin!" Sentak Raya secara paksa hingga cekalan Aksa terlepas. "Gue mau lo gak usah telat lagi mulai besok," titah Aksa tegas, wajahnya menatap Raya serius. Raya memasang wajah masa bodoh. "Lo gak ada hak ngatur gue." "Lo babu gue, gue majikan. Gue bilang lo gak boleh telat lagi mulai besok," ulang Aksa lebih jelas lagi. Raya menggeram kesal, ia ingin mencabik wajah Aksa sekarang juga rasanya. "Tapi gue----" "Gue yang bakal bangunin lo besok," potong Aksa. Raya tertawa geli,"Gue susah buat di bangunin, percuma lo telepon gue berkali-kali soalnya handphone gue dalam mode silent," kekeh Raya. Aksa menyeringai,"Gue ke rumah." Aksa langsung pergk setelah meninggalkan kalimat tersebut pada Raya, kerumah? Astaga! Ini yang di namakan jomblo berasa ada pacar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD