Aksa menggenggam tangan Raya, mereka berdua berjalan memasuki Cafe yang sudah di booking khusus untuk acara Reuni SMP Aksa.
Raya menggerlingkan kedua matanya, lalu ia melepaskan paksa genggaman tangan Aksa,"Gue heran ya Sa, maksud lo itu sebenarnya apa sih? Lo jadikan gue pacar lo cuma buat manas-manasin mantan lo gitu? Aksa, gue cewek. Lo gak bisa mainin gue seenaknya kayak gitu.
Kedua bola mata Raya menatap Aksa intens, Aksa menyengir kecil. Ia membalas tatapan Raya serius, tangan Aksa menyentuh pucuk kepala Raya lembut.
"Lo babu gue."
Raya melotot, mulutnya mengaga lebar, semudah itukah Aksa mengganti persepsinya tentang Raya?
"Tapi barusan?" Raya hanya mendengus pada akhirnya, percuma. Ia pasti akan kalah, sial! Kenapa ia bisa terlibat dengan Aksa.
Raya melenguh, ia melipatkan kedua tangannya, wajah kecut dan menyemburatkan perasaan kesal.
"Aneh!" Cibir Raya terangan, Aksa tidak peduli matanya mengitari sesisi Cafe dengan kedua tangan yang ia selipkan pada kedua kantong celananya.
Sampai dua orang lelaki yang berjalan gontai mendekatinya membuat bola mata Aksa membulat, Aksa langsung berdiri di depan Raya, posisinya sekarang sudah membelakangi Raya.
Raya yang tidak tau apa-apa hanya diam saja dengan dahinya yang sudah mengkerut, aneh! Muka kaku! Spesial langkah! Dasar kepala batu! Aksa kampret!
Sepertinya umpatan jelek itu tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa kesalnya perasaan Raya sekarang.
Raze dan Rino, musuh bebuyutan Aksa menghampiri lelaki itu dengan senyum tipis menghiasi wajah mereka, Raya yang sedari tadi sudah kepo memunculkan kepalanya dari balik belakang Aksa.
Spontan tangan Aksa mendorong dahi Raya untuk tidak melakukan hal aneh apapun.
"Sehat Sa?" Keduanya tergelak meremehkan.
Rino melirik ke belakang Aksa,"Bawa pacar?" Goda Rino.
Tangan Rino berusaha untuk menyentuh Raya, dengan cepat Aksa menepisnya.
Aksa menyengir meremehkan,"Cuma seorang pecundang, yang selalu mencari kesempatan lewat kelemahan seorang wanita."
Kedua lelaki itu saling bertatapan, Raze langsung berdecih.
"Dan cuma anak lelaki bego yang setiap harinya selalu di bohongi oleh wanitanya," sinis Raze tak kalah sengit, tatapannya memnghusus Aksa.
Raya hanya diam tak mengerti, ada apa dengan Aksa? Di bohongi wanita? Dan yang tadi? Raya mencerna kata-kata dari mereka.
"Balapan?" Kedua alis Rino bertautan, Aksa menyengir.
"Cuma orang bodoh yang rela ngabisin bensin buat hal yang gak guna, dan lo salah satunya."
"Gue peringatin sama kalian berdua, tadi siang itu kejadian pertama dan terakhir kalian menyentuh wanita gue, selebihnya gue liat selangkah aja kalian berdua jalan di depan dia, bersiap-siap untuk menggali kuburan kalian sendiri," ancam Aksa yang berhasil membuat buku kuduk Raya meremang.
Aksa berjalan menarik Raya untuk mengikuti langkahnya.
"Aksa lo bilang gue babu lo tapi tadi ke----"
"Gak usah pede, di sini lo cuma ngikutin apa yang gue suruh, lo masih terikat janji sama gue, lo babu gue dan seorang babu harus patuh sama majikannya," cecar Aksa tajam.
Bibir Raya manyun, kenapa takdir begitu buruk memperlakukan Raya?
"Dasar muka kaku!" Omel Raya kembali.
Aksa tak peduli,"Pulang!"
Jadi maksud Aksa bawa Raya ke sini cuma buat manas-manasin doang? Astaga Raya, kenapa gadis itu sekarang merasa sakit hari karena Aksa menjadikannya pelampiasan saja? Gak punya hati memang! Maunya lelaki itu apasih? Banyak yang mau pacaran sama Raya, dan dia malah satu-satunya yang menjadikan Raya sebagai babunya.
Raya langsung naik ke mobil sport milik Aksa, keadaan mood-nya benar-benar turun, dasar! Bukannya senang-senang habis dari acara party Reuni. Malah Raya merasa sangat teramat kesal.
"Gak usah kesal, lo beruntung udah pernah gue ajak pergi, banyak cewek yang mau sama gue dan cuma lo yang gue pilih," celetuk Aksa seolah-olah tau semuanya tentang isi pemikiran Raya.
Raya memutar bola matanya malas, ia bersandarkan pada kursi mobil Aksa, matanya menatap lurus pada kaca depan mobil.
"Dipilih jadi babu ya percuma," cetus Raya.
Aksa tidak juga menjalankan mobilnya, ia memandangi wajah Raya sejenak.
"Jadi lo mau gue pilih lo sebagai apa untuk gue?"
Deg! Astaga apalagi ini? Jelas, wajah Raya berubah menjadi bersemu merah sekarang karena malu, Aksa mendekati wajahnya pada wajah Raya.
Gadis itu hanya diam menggigit bibir bawahnya, penasaran apa yang akan Aksa lakukan padanya, semakin lama jarak mereka semakin dekat sampai Raya bisa mendengarkan jelas helaan napas Aksa.
"A ... Aksa lo mau ngapain?" Raya panik sendiri akhirnya.
Melihat wajah Raya yang sudah berubah pucat pasi membuat Aksa tertawa geli.
"Lo bilang gue muka kaku? Lebih kaku mana sama wajah lo ketika salah tingkah?" Cibir Aksa.
Demi kodok terbang, kadal bisul dan juga mimi peri yang kawin sama Lucinta, rasanya Raya sudah pada puncak emosi sekarang.
"Aska maksud lo apasih? Gue males ya lo bercandanya gitu! Kesal gue tau gak?! Dasar kampret! Dasar umang-umang! Dasar muka kaku! Huahh pokoknya gue kesel ya sama lo!"
Raya memukul d**a bidang Aksa sekuat tenaga, namun tangan Aksa mampu memberhentikan pergerakannya, kedua mata mereka bertemu dan saling bertukar pandang.
"Ray, lo mau jadi pacar gue?"
Raya menegak salivanya kasar.
"Ma ... maksud lo apa Sa?"
Aksa memasang wajah serius mungkin,"Lo mau jadi pacar gue? Jawab Ray, jangan begong," desak Aksa.
Raya terpana sebentar, kedua bola matanya menatap Aksa berbinar.
"Lo ... lo serius Sa? Ta ... tapi bukannya kita baru aja saking kenal? Sa gue rasa setiap pasangan itu perlu masa pedekate Sa, kita gak bisa langsung ketemu tiba-tiba lo klaim gue sebagai pacar lo, tapi gue ... gue----"
"Muka lo kenapa tegang Ray? Gue cuma bercanda padahal HAHAHA!"
Dan Aksa tertawa puas, kedua tangannya memegang perutnya dan nasib Raya?
"GUE BENCI SAMA LO AKSA! KAMPRET DASAR POKOKNYA GUE MAU PULANG!"