Pagi yang indah, Devan merenggangkan badannya. Memandang keluar jendela. Sakura Sudah menghilang. Entah kemana perempuan itu pergi. Dengan rasa penasaran Devan bangkit dari duduknya. Dia mendengar suara air di kamar mandi. Ia tersenyum, Sakura pasti sedang mandi, pikirnya. Devan membuka tirai lebih lebar. Keluar teras belakang. Di bawah sana kemah masih berdiri kokoh. Kedua anak yang semalam membawa Devan dan Sakura dalam suasana yang menyenangkan pasti tertidur. Devan merenggangkan badan sekali lagi. “Mau minum teh?” Devan menoleh. Sakura berdiri dengan handuk piayamanya berwarna merah muda. “Ya.” “Tunggu disini.” Devan mengangguk. “Tunggu… air dingin?” “Ya.” Dengan berat Devan menghela napas. “Tenang saja, suhu air di dalam bisa diatur. Ini Malang, orang-orang pasti sudah

