Shane mengangguk repetitif. "Benar, sudah satu dekade para were berperang. Meski kami sedang mencari dan berniat mengumpulkan werepuppy, tetapi kami tidak berani mengusik werepuppy di Paris, karena kota itu membutuhkan perjuangan mereka. Apalagi jumlah werepuppy di sana makin sedikit."
"Memangnya berapa jumlah werepuppy di Paris yang kalian tahu?"
"Empat. Mungkin sekarang lima, jika ditambah Willy," terang Shane.
"Lalu werecat?"
"Seratus dua."
"ITU BUKAN PERANG!! TAPI p*********n!!" teriak Livy.
Jimmy tergelak. "Tenang, ada aku. Hahahaha!"
Melihat kepercayaan diri Jimmy, Livy berbisik-bisik pada Shane. "Memangnya Jimmy kuat?"
Shane mengangguk. "Sangat kuat. Tapi ada konsekuensinya."
"Maksudmu?"
Shane menghela napas. "Pokoknya hal itu yang akan membangkitkan kekuatannya."
***
Paris. Kota indah yang dikenal sebagai Kota Fashion; keramahtamahan penduduk; dan salah satu kota wisata tercantik di dunia. Namun, seperti yang diceritakan Shane, kota tersebut merupakan kota perang bagi para were. Livy pun menyaksikan kebenaran kata-kata Shane ketika baru tiba di Paris.
Belasan werecat sedang mengejar dua ekor werepuppy. Setelah berlarian mengitari ruangan, akhirnya due ekor werepuppy tersudut dan terpaksa berjibaku dengan para werecat tersebut. Pergulatan mereka tidak seperti kucing dan anjing, lantaran tiap pihak melancarkan cahaya-cahaya energi.
"Oh, Tuhan! Mengerikan! Kasihan dua werepuppy itu!" pekik Livy.
Shane tersentak lantas menoleh. "Kamu bisa melihatnya?"
"Tentu saja! Aku, kan, punya mata!" tukas Livy, kesal.
"Seharusnya manusia biasa tidak bisa melihat pertempuran magis."
"Apa maksudmu dengan 'pertempuran magis'?" tanya Livy, heran.
"Para were memang dapat dilihat manusia ketika tidak sedang bertempur, tetapi kalau sedang bertempur akan ada tirai magis yang menghalangi manusia dengan mereka." Shane menerangkan. "Tapi aku heran, bagaimana mungkin pandanganmu menembus tirai magis?"
Livy mengangkat kedua bahunya. "Entah. Yang paling penting sekarang, kalian lekas bantu dua werepuppy malang itu."
Shane menghela napas. "Aku tidak mungkin sanggup melawan belasan werecat, hanya Jimmy yang mampu." Shane melempar pandangan pada Jimmy yang sedang mengejar-ngejar perempuan.
"Attends-moi, Magnifique! (Tunggu aku, Cantik!)"
"Kyaaaaaaa!!"
Livy menyipitkan mata. "Aku benar-benar tidak yakin ...."
"Sebenarnya aku ingin kamu melihat kekuatannya, tapi perlu dibantu seorang perempuan agar dia bisa berubah menjadi werepuppy," tukas Shane.
"Aku saja."
"JANGAN KAMU!!"
"Kok, tiba-tiba marah," gerutu Livy. "Aha, Miko saja!"
Shane melirik Miko. "Dia tidak bisa berubah kalau dibantu werecat."
Ketika keduanya tercenung, tiba-tiba terdengar suara orang berseru memanggil.
"LIVYYYY!!"
Mereka pun menoleh, dan melihat Medy berlarian kecil menghampiri.
"Lho, Medy. Bukankah seharusnya kamu di Sydney?" tanya Livy, heran.
Medy tertawa kecil. "Aku berniat memberi kejutan. Bahkan aku memesan pesawat yang tiba lebih dulu. Tapi capek juga menunggu kalian di terminal kedatangan. Aku sempat berkeliling di sini mencari kalian, syukurlah akhirnya kita bertemu."
Shane memandang Medy dari atas ke bawah, lalu mencolek Livy. "Jadi membantu dua werepuppy itu?"
"Tentu saja."
"Coba bilang Medy."
Livy mengangguk. "Med, maukah kamu membantu dua werepuppy yang sedang di keroyok para werecat?"
"Hah? Aku tidak melihat ada perkelahian." Medy mengedarkan pandangan.
Shane pun menerangkan, "Karena mereka berada di balik tirai magis."
"Aku tidak mau membantu kalu tidak melihatnya langsung. Aku tidak percaya pada kalian yang jail!" Medy mendengkus.
Shane menghela napas. "Kalau kamu mau melihat, bisa saja. Tapi sesudahnya pandanganmu selalu daapt menembus tirai magis, dan kamu juga dapat merasakan dampak pertempuran."
"YEAAAAAAH!! AKU MAUU!! PASTI SERU!!"
Shane mengambil tablet dari kantung baju. "Minum ini."
Medy mengangguk lalu meminumnya. "Mana? Kok, sama saja?"
"Coba kamu lihat itu." Shane menunjuk pertarungan yang sedang berlangsung.
"Ya Tuhan! Bagaimana caranya aku membantu?"
Shane tersenyum lebar, kemudian mengalihkan pandangannya ke Jimmy. "Jiimmyyy!!"
Jimmy bergegas menghampiri. "Kenapa memanggilku?"
Shane mendekatkan diri ke Jimmy lantas berbisik-bisik sambil melirik Medy. Sementara itu, Medy yang melihat ketampanan Jimmy pun terkesima.
"Ssst ... siapa laki-laki tampan itu, Liv?" bisiknya.
"Dia kakak Shane."
Medy manggut-manggut. "Pantas tampan ... eh, kenalin, dong."
"Nanti juga kamu kenal."
Baru saja Livy berkata, Shane sudah memanggil Medy. "Med, ada yang mau kukenalkan."
"Iyaaaa!" Senyum manis Medy pun teruntai. "Ada apa?"
"Kenalkan ini kakakku."
Jimmy membungkuk seraya mengecup punggung telapak tangan Medy. "Bonjour, Belle. Je suis Jimmy. (Halo, Cantik. Aku Jimmy)"
"Aaaah, so sweeet ... aku Medy."
"Kamu jadi mau membantu, Med?" tanya Shane, dan dijawab anggukan Medy. Kalau begitu tutup matamu."
"Oke." Medy pun terpejam. Tak lama kemudian kedua tangan Jimmy meremas-remas super cup size Medy. Sontak, Medy pun terkejut. "KYAAAAAAA!"
Poff!
Asap tebal menyelimuti Jimmy. Setelah beberapa saat muncullah seekor anjing cokelat yang anggun.
"Ayo Basenji, selamatkan mereka!"
Basenji pun melesat secepat kilat. Kecepatan dan kekuatan Basenji sungguh luar biasa. Hanya dalam waktu singkat para werecat dibuatnya babak belur dan lari ketakutan.
Melihat itu, Shane pun tergelak. "Benar, kan, kataku?!"
Livy menghela napas panjang. "Kakakmu benar-benar yang teraneh di antara keluarga anehmu, Shane."
Pendapat Livy berbeda dengan Medy. "Aku sempat terkejut, tapi kalau dia yang memegang ... mmm ... no problem ...."
"Kamu lebih aneh lagi ...." Livy pun menoleh pada Shane. "Lantas bagaimana mengembalikan Basenji menjadi manusia?"
"Dia akan kembali menjadi manusia setelah satu jam, dan baru bisa berubah menjadi Basenji lagi satu jam kemudian."
"Oh, begitu. Jadi itu merupakan kelemahannya, ya?"
"Ya. Bisa dibilang begitu."
Dua ekor werepuppy yang baru diselamatkan menghampiri mereka. Keduanya berbincang dengan Shane selama beberapa menit, setelah itu berlalu. Livy dan Medy yang tidak paham pun bertanya.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Medy.
"Mereka mengucapkan terima kasih, dan mengatakan mengundang kita besok untuk makan malam di rumah mereka," terang Shane.
"Tapi aku tidak melihat mereka memberikan kartu nama, atau memegang ponsel, bagaimana caranya mereka memberikan alamat?" tanya Livy.
"Tadi mereka menyebutkan alamatnya," jawab Shane.
"Dan kamu harus mengingatnya?"
"Benar."
"Ingatanmu, kan, payah!" timpal Livy.
"Hahaha! Mau bagaimana lagi?! Ya sudah mari kita ke hotel."
Mereka pun berjalan ke luar dari gedung terminal kedatangan. Saat menunggu taxi pesanan datang. Medy menghampiri Shane.
"Shane, aku ingin sekamar dengan kakakmu," pinta Medy.
"Tidak masalah!"
"Hei, Med! Kamu baru saja mengenalnya!" seru Livy.
"Terus? Tidak masalah, kalau aku suka, kan?!"
"Lantas aku sekamar dengan siapa, Med?"
Medy pun tertawa kecil. "Tentu saja dengan Shane."
"APAAAA??? TIDAAAAAAAAAAK!!!!"
***
Sementara itu di tempat lain, keluarga Miko baru saja tiba. Mereka disambut puluhan werecat yang mengelu-elukan Marok. Ayah Miko memang dianggap pahlawan bagi werecat. Kehebatan dan kekuatannya sangat disanjung. Apalagi ia tak kenal rasa takut.
'Selamat datang di Paris, Tuan Marok,' ucap seekor werecat berbulu abu-abu.
'Hmm ... Drezel. Kamu tahu aku tidak suka basa-basi, kan?!'
'Paham, Tuan.'
'Lekas antar kami ke markas, dan kita segera membahas rencana.'
'Baik, Tuan Marok. Tapi ada kabar yang harus Tuan dengar,' ucap Drezel.
'Sebutkan!'
'Belasan anggota kita melihat Nona Miko bersama para werepuppy yang baru datang.'
Marok pun tergelak. 'Bagus! Rencana kita akan berjalan sempurna!'
Para werecat sudah bersiap menyusun rencana perang. Namun, Shane dan kawan-kawan bukan lawan mudah bagi mereka. Apalagi diam-diam Shane masih menyimpan kekuatannya. Tak lama lagi, kota peperangan Paris makin memanas dengan pertempuran werecat dam werepuppy. Sementara itu pencarian Willy pun tetap diupayakan.
***
Sesampainya di hotel Shane terpaksa memesan dua kamar, karena hanya itu kamar yang masih kosong. Namun, pembagian kamar seperti keinginan Medy, dan itu berarti malapetaka bagi Shane yang terus menerus diamuk Livy di dalam kamar.
"KENAPA KAMU MENGIKUTI KEMAUAN MEDY?" bentak Livy mengamuk.
"A-a-aku pi-pikir kamu setu—"
"SIAPA YANG SETUJU?! KITA BELUM ME-NI-KAH!!" Livy melemparkan bantal ke wajah Shane.
"Ta-ta-tapi orang lain melakukannya meski belum menikah ...."
"ITU ORANG LAIN, BUKAN AKU! KALAU A—"
"OUUUH!"
Tiba-tiba suara desahan keras Medy dan Jimmy terdengar dari kamar sebelah. Sontak darah Levy pun mendidih. Ia pun melinting lengan bajunya.
"Biar aku kasih pelajaran mereka!"
Shane buru-buru menahannya. "Jangan ... biarkan saja mereka. Sebaiknya kita keluar dari hotel dan mencari makan siang. Bagaimana?"
Livy mencerna pikiran sesaat. "Shopping juga?"
Shane mengangguk. "Iya, kalau itu maumu."
Livy menghela napas. "Tapi penjualan novelku belakangan menurun."
"Jangan khawatir soal itu. Aku yang akan membelikan," jawab Shane.
"Benarkah?"
Shane mengangguk-angguk. "Ya. Tentu saja."
"ASIIIIIK!!" Saking senangnya Livy menggendong Miko, lalu menggandeng tangan Shane. "Ayo!"
"Tunggu!" Shane melirik pakaian tidur Livy. "Apa kamu mau pergi dengan pakaian itu?"
Livy melirik pakaiannya. "Oh, iya ...."
Ia pun mengangkat pakaiannya dan hendak berganti, tetapi tiba-tiba ia sadar. "Kenapa kamu masih di sini?"
"A-a-a—"
"KELUAAAAR!!" Livy menendang Shane sampai ke luar dari kamar.
Sambil tergopoh-gopoh, Shane bangkit. "Kenapa bukan dia yang berganti pakaian di kamar mandi?!" gerutunya.
***
Setelah makan malam, Livy berjalan menyusuri toko-toko mewah sambil bersenandung. Sementara itu Shane membawakan belanjaan Livy yang bertumpuk.
"Apakah ini masih belum cukup?" tanya Shane.
"Ini Paris! Kapan lagi aku belanja di Paris?! Aku masih ingin membeli banyak," tukas Livy.
Shane menghela napas. "Terserah ... tapi sebentar lagi kita harus ke hotel dan bersama-sama pergi ke tempat para werepuppy. Jadi jangan lama-lama."
"Ya sudah, hanya satu toko lagi saja," ucap Livy.
"Ya sudah, tapi jangan minta aku membawakan barang-barangmu lagi. Berat sekali, lenganku sampai kesemutan," ujar Shane, menghela napas.
"Kenapa? Kamu werepuppy, jadi fisikmu lebih kuat daripada manusia biasa, kan?! Kalau aku letih, malah akan lama berbelanja."
"Ya sudahlah. Cepat, jangan sampai kita bertamu terlalu larut."
Setelah melintasi beberapa toko, Livy masuk ke sebuah toko pakaian dalam. Livy pun mencari-cari pakaian yang sesuai seleranya, sementara Shane duduk pada sofa di dalam toko.
"Saya mau mencoba yang ini." Livy menunjukkan pakaian di tangannya pada perempuan pelayan toko.
Pelayan toko tersenyum sembari menunjuk ruangan di balik dinding. "Silakan, ruang ganti ada di sebelah sana."
"Okay!"
Tiga menit kemudian ....
"Saya mau coba yang itu juga," tukas Livy pada pelayan toko.
Pelayan toko mengangguk. "Saya ambilkan sebentar."
Sementara itu, Shane berkali-kali mengecek jam. "Lama sekali," gumamnya, mulai khawatir.
Lima menit kemudian ....
"Saya mau mencoba baju kuning ini."
"Silakan."
Hampir setengah pakaian yang dipajang, dibeli Livy. Namun, perburuannya belum usai sehingga Shane makin khawatir akan terlambat. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali mengecek jam.
Tujuh menit kemudian ....
"Coba lagi yang merah."
Pelayan toko mengangguk, lalu mengambilkan baju yang diminta. Shane makin gusar. Wajahnya murung dan menggerutu terus menerus.
Sepuluh menit kemudian ....
Livy menunjuk pakaian hitam. "Tolong ambilkan lagi yang itu."
Lima belas menit berlalu, tetapi Livy masih belum selesai berbelanja, padahal sudah hampir seluruh pakaian diborong. Kecemasan Shane sudah tak dapat ditahan lagi. Ia menghampiri ruang ganti, lalu masuk ke dalamnya.
"Liv, kita harus pulang seka—"
Livy yang dalam keadaan tanpa busana pun terkejut. "KYAAAAAAAAAA!! KELUAAAAR!!" Dilemparkannya barang-barang ke arah Shane.
Bersambung ke chapter berikutnya