"Cerita yang paling penting!" sahut Livy.
"Oke. Tolong kalian simak baik-baik." Shane mengedarkan pandangan pada Livy, Medy, dan Miko yang terlihat menantinya bercerita dengan wajah serius. "Saat pertama kali mengetahui kalau aku werepuppy, Livy mendekapku ke da—"
WHAAAACK!!
Pukulan Livy melontarkan Shane sejauh satu setengah meter.
"BUKAAAAAAAAAAAN JUGA YANG INIIIIIII!!!"
"Ka-ka-katamu yang paling penting ...," gerutu Shane seraya bangkit.
"AKU BILANG YANG PALING PENTING!! MASAK KAMU ENGGAK TAHU YANG PALING PENTING?!" bentak Livy, kesal.
Shane mencerna pikiran sejenak. "Aha!! Aku tahu yang kamu maksud!!"
Livy menghela napas seraya memijit-mijit keningnya. "Ya, ya, ya ... cepat ceritakan."
"Oke! Kali ini pasti tepat!" seru Shane, bersemangat. "Ketika pertama kali melihat Miko tanpa pakaian—"
WHAAAAACK!!
"APALAGI CERITA INI!!! APA HANYA PEREMPUAN TELANJANG SAJA YANG ADA DALAM PIKIRANMU?!!!"
Pukulan Livy kali ini melontarkan Shane ke luar dari jendela. Dengan begitu rapat pun tertunda selama lima belas menit. Setelah Shane kembali ke dalam unit apartemen Livy ....
"Jadi aku harus cerita apa?" tanya Shane, sambil mengusap-usap pipinya yang memar.
Livy mendengkus. "Ceritakan soal penculikanmu!"
Shane memandang Livy dengan wajah heran. "Penculikan? Aku tidak diculik. Aku hanya dibawa tanpa sepengetahuanmu."
"SAMA SAJA!" bentak Livy, kemudian mengeluh, "Ya, Tuhan, mengapa pacarku bodoh sekali?!"
"Baiklah, aku akan ceritakan. 'Willy ada di Paris.'"
"...." Livy tercenung.
"...." Miki mencerna pikiran.
"...." Medy bengong sambil ngupil.
Tak lama kemudian, Livy buka suara, "Shane ...."
"Ya?"
"Sudah selesai?" tanya Livy.
Shane mengangguk. "Sudah."
"KAMU TAHU, ENGGAK CARANYA BERCERITA? CERITAAAA DARI AWAL KAMU DICULIK!" Livy pun melinting lengan baju sembari mendekati Shane yang gemetaran.
"Eh ... iya, iya ... sabar, Liv ...."
Livy kembali menghela napas dan memutar bola matanya. "Aku sudah sangat sabar, ya Tuhan ...."
Pada akhirnya Shane menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Setelah mendengarkan cerita Shane, Miko mencoba memastikan.
"Benarkah apa yang kamu ceritakan barusan?" tanya Miko.
Shane mengangguk. "Begitulah yang kudengar. Benar atau tidak, kita harus memastikannya."
"Jadi besok harus ke Paris?" tanya Medy.
"Aku pikir sebaiknya begitu," jawab Livy.
Miko pun sepakat. "Supaya kita tahu kebenaran cerita tersebut."
Medy mencerna pikiran sejenak. "Mmm ... tapi tidak mudah mencari tiket pesawat kalau mendadak seperti ini."
Shane tersenyum lebar. "Jangan khawatir. Kita bisa menggunakan pesawat pribadi keluargaku. Tapi Liv, kamu dan Miko ikutlah menemui keluargaku dan bantu aku menceritakan soal ini, supaya mereka membantu kita."
"Kenapa tidak kamu sendiri yang bercerita pada mereka?" tanya Livy, heran.
"Karena kakakku." Shane menghela napas.
"Kakakmu?"
Shane mengangguk. "Kamu akan lihat sendiri seperti apa kakakku."
Livy berpikir sebentar. "Boleh. Tapi sebelumnya aku mau mampir ke mal."
"Untuk apa?" tanya Medy, heran.
"Lotion-ku habis, aku harus membeli yang baru untuk jalan-jalan di sana. Mmm ... aku juga harus membeli jaket baru, terus ak—"
"Liv, kita bukan mau pergi berlibur," sergah Shane.
"Ya sekalian saja. Ini Paris! PA-ARIS!! Kota impianku!!"
"Ya sudahlah." Shane menghela napas.
Tiba-tiba Medy berucap, "Maaf teman-teman, aku tidak bisa ikut."
"Med, kapan lagi kamu bisa ke Paris?!! Ikut saja," tukas Livy.
"Bisa kapan-kapan. Sebetulnya dari setahun lalu aku berniat berlibur ke sana. Tapi kamu tahu, kan, kalau banyak sekali naskah yang harus kutangani?! Apalagi ada lima naskahmu yang masing-masing sekitar lima ratus lembar."
Livy mengangguk repetitif. "Ya sudah kalau begitu."
"Apakah rapat ini sudah selesai?" tanya Miko.
Livy mengangguk. "Sudah. Memangnya kenapa?"
Miko menguap seraya merentangkan tangannya. "Aku ngantuk. Tolong ubah aku menjadi kucing lagi."
Livy menghela napas. "Hari ini kamu sudah tidur lebih dari enam belas jam. Masih kurang?"
"Aku kucing. Jadwal tidurku berbeda denganmu, Liv."
"Well, okay ... PIE!"
Poof!
Setelah berubah menjadi kucing, Miko berlalu ke tempat tidurnya.
"Ya sudah, aku pun mau pulang," tukas Medy sembari menyampirkan tasnya di pundak.
"Oke!"
Rencana sudah dibuat, besok mereka akan berangkat ke Paris. Namun, di tempat lain, informasi keberadaan Willy pun telah didengar keluarga Miko di London.
'Benarkah informasi yang kamu dengar Mier?' tanya Mena pada anak laki-lakinya.
'Aku yakin benar. Mereka tidak mungkin berani berbohong padaku,' jawab Mier, tampak yakin.
'Mungkinkah Miko juga ke Paris?' tanya Mel.
'Sangat mungkin kalau ia tahu Willy berada di sana,' jawab Mena, berpendapat.
Marok yang sejak tadi berpikir sembari menyimak akhirnya angkat suara, 'Kalau begitu besok kita harus ke sana.'
'Kenapa tidak hari ini saja?" tanya Mel.
'Hmm ... boleh juga. Berarti kita harus bersiap-siap sekarang.' Marok berlalu dan diikuti tiga keluarganya.
Setelah sekian lama tidak berjumpa, akhirnya Miko akan bertemu keluarganya di Paris. Pertemuan yanh diinginkan Miko, tetapi tak terhindarkan.
***
Di sebuah kawasan elit di Kota Sydney. Sebuah mansion berarsitektur Mediterania berdiri megah di antara mansion-mansion mewah di sekitarnya. Mansion tersebut memiliki luas dua kali lebih besar daripada mansion lain di kawasan tersebut—rata-rata berukuran sekitar tiga hektar. Di mansion itulah Shane dan keluarganya tinggal.
Baru saja tiba di mansion Shane, Livy berseru kagum. "Waaaaah!! Kamu kaya sekali!!! Bukan begitu, Miko?"
"Miaaaow!" Miko tampak tak terkesima dan melingkarkan tubuhnya dipelukan Livy.
Shane tersenyum lebar. "Ah, ayo, masuk."
Di dalam mansion, kemewahan pun tampak dari furnitur dan ornamen-ornamen yang menghiasi berbagai sudut ruangan: list atap, handle pintu, dan sebagainya. Hal itu makin membuat Livy terkagum-kagum.
"Shaaaaane, kapan kamu mau melamar supaya aku bisa segera pindah ke sini?" tanyanya dengan mata berbinar.
Shane mencerna pikiran sejenak. "Kalau sudah menikah berarti aku boleh melihatmu tanpa pakaian?"
Livy mengangguk-angguk cepat. "Ya, ya, ya, bo—" Sebelum akhirnya menyadari kekeliruannya. "AKU TARIK UCAPANKU!!"
WHAAAACK!!
Dan membenamkan tinjunya ke wajah Shane dan membuat wajahnya melesak beberapa milimeter.
"A-a-aku cuma bergurau ...."
Tiba-tiba terdengar suara yang membuat mereka menoleh ke belakang.
"LIHAT, SIAPA YANG SHANE BAWA KE SINI!" Seorang laki-laki berambut pirang, berwajah dan berperawakan mirip Shane menghampiri lantas menyalami dan mengecup punggung tangan Livy. "Welcome, Sweety Twitty."
Livy menoleh Shane dengan wajah heran. "Si-siapa orang ini, Shane?"
"Jimmy, kakakku yang playboy," terang Shane dengan rahang berkedutan melihat Jimmy belum melepaskan tangan Livy. "JIMMY, LEPASKAN TANGAN PACARKU!"
Jimmy menoleh. "Pacar? Ah, aman, aman. Selama Sweety Monkey ini belum menikah, siapa pun berhak mendekati—"
"JANGAN PANGGIL AKU ..."
"JANGAN DEKATI ..."
Livy dan Shane serentak melayangkan tinju pada Jimmy ...
"MONKEEEEY!!"
"PACARKUUU!!"
Dan melontarkannya ke luar rumah.
Livy menghela napas. "Kakakmu benar-benar ...."
"Ya, begitulah Jimmy. Makanya aku kemarin memintamu bantu menjelaskan. Dia tidak akan mau mendengar penjelasan siapa pun kecuali dari perempuan." Shane menjeda kalimatnya seraya berjalan melintasi Ruang Tamu, menuju ruangan bagian dalam. "Tapi kedua orang tuaku sedikit lebih baik. Ayo, kukenalkan."
"Sedikit lebih baik? Maksudmu?" tanya Livy, heran.
Shane menghela napas. "Lihatlah sendiri."
Setibanya di sana, Livy melihat seorang perempuan dan laki-laki sedang duduk sambil menonton TV. Perempuan itu wajahnya sangat mirip dengan Shane dan Jimmy, tetapi berambut kemerahan. Penampilannya cantik dan anggun dengan blouse putih yang dikenakannya. Sementara si pria bertubuh gemuk dan pendek serta berambut perak. Melihat kedatangan Shane dan Livy, keduanya menyambut dengan cara mereka masing-masing; cara yang tidak normal ....
"Miaaaauw ... rupanya Shane ...," tukas laki-laki itu lantas mengalihkan pandangan pada Miko. "Miaaauw!! Kucing!!" serta-merta laki-laki tersebut menghambur dan mengambil Miko dari Livy yang tercengang. "Miaaauw!! Aku akan mengajakmu bermain-main di taman belakang bersama Mondy."
"Ayah, dia bukan kucing biasa, tapi werecat."
Ayah Shane pun tergelak. "Tetap saja kucing. Miaaaauw!!" Ia pun bergegas ke taman belakang.
"Shane, kenapa ayahmu mengeluarkan suara kucing?" bisik Livy, heran.
"Dia selalu menganggap kucing yang tidak terperangkap dalam tubuh werepuppy," terang Shane.
"Maksudmu werecat?"
Shane menggeleng. "Bukan. Tapi kucing betulan."
"Mmm ...." Ibu Shane menyela perbincangan mereka. "Siapa gadis cantik ini, Shane?"
"Ini Livy, pacarku, Bu," tukas Shane.
"Pacarmu?" tanya Ibu Shane, mencoba meyakinkan kalau ia tidak salah dengar.
Shane mengangguk repetitif. "Ya. P, A, C, A, R. PACAR."
"Berarti dia akan memberikanku cucu?"
Shane mengangguk-angguk. "Benar, benar. Kalau sudah berhubungan intim."
"Lalu, sudahkah kalian melakukannya?"
Shane menggeleng lalu menghela napas sangat panjang. "Sayangnya, belum."
"Hah, belum?!! Kalau begitu kalian HARUS melakukannya SEKARANG!!" Ibu Shane menyeret Shane dan Livy ke dalam kamar, lantas mengunci mereka dari luar.
Livy menghela napas sembari duduk di ranjang. "Kenapa kamu berkata jujur? Mestinya bilang saja kita sudah melakukannya."
Shane menggeleng. "Tidak mungkin, karena setiap lima menit ia akan bertanya 'kapan bayinya lahir?'"
"Mmm ... tapi sama saja sekarang kita juga harus berbohong, kan?"
Shane terkejut. "Tentu saja tidak. Sekarang kita harus melakukannya, hehehehe ...."
WHAAACK!
Livy membenamkan tinjunya di wajah Shane. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
"Kenapa aku dengar kalian mengobrol?" seru ibu Shane dari luar kamar.
"Aduuuuh ... gimana, nih?" tanya Livy, panik.
"Sssst ... tenang ...." Shane menoleh ke pintu. "Ini sedang melakukannya, Buuuuu!"
"Masak? Kok, enggak dengar suara desahan?" jawab ibu Shane dari luar.
"Liv, cepat mendesah," ucap Shane, panik.
"O-oke ...." Livy menarik napas panjang, kemudian berseru, "OOOUUUUWH! NGUK! NGUK!"
"Itu suara monyet! Bukan begitu caranya!"
"A-aku belum pernah jadi tidak tahu ca—"
"Dengarkan, aku," sergah Shane lantas menghela napas dalam-dalam. "KAAAING!! KAIIIING!! KAIIING!!"
Sementara itu di luar ibu Shane sedang menguping, seraya menggumam, "Aneh sekali suaranya seperti di kebun binatang ... ah, mungkin tren anak muda zaman sekarang." Ia pun tersenyum simpul, lantas berlalu.
Seperempat jam kemudian ....
"NGOOOIK!! NGIIIIK!!
"AAAAAUUUUUUU!!!!"
Setengah jam sesudahnya ....
"MHOOOOOOOOO!!"
"WUUUUF!! WUUUFF!!"
Satu jam pun berlalu ....
"Eh, sudah boleh selesai?" tanya Livy.
Shane melihat jam tangan. "Seharusnya. Karena satu jam sudah lewat."
Livy menghela napas lega. "Ayo kita segera ceritakan ke keluargamu dan meminta izin menggunakan pesawat."
Setibanya di luar keluarga Shane telah lengkap: ayah, ibu, dan Jimmy. Selain mereka tentu saja ada Miko yang tertidur di pangkuan ayah Shane. Shane dan Livy akhirnya bercerita dan meminta izin menggunakan pesawat.
"Bagaimana, Ayah?" tanya Shane usai meminta izin.
"Miaaaw ... bagaimana menurutmu, Bu?" Ayah melirik ibu Shane.
"Paris ... kita tahu bagaimana keadaan Paris, kan?!" tukas ibu Shane dengam raut wajah khawatir. "Apalagi sebentar lagi kita dapat cucu ...."
Ayah mengangguk-angguk seraya berpikir. "Miaaaw ... begini saja. Biarkan Jimmy ikut ke Paris."
Mendengar hal itu, Jimmy langsung melompat senang. "Les filles m'attendent!! (Gadis-gadis tunggu aku!!)"
Begitulah. Akhirnya Shane, Livy, Miko dan Jimmy berangkat ke Kota Kota Paris yang dikenal indah. Namun, tidak bagi para were ....
"APAAAAAA?" Livy terkejut ketika di dalam pesawat diceritakan mengenai Kota Paris. "Benarkah Paris kota perang bagi para were?"
Keterkejutan Livy tak bisa disangkal. siapa pun pasti akan merasakan yang sama.
Bersambung ke chapter selanjutnya