"Willy ... tunggu, sepertinya aku pernah mendengar namanya ...." Shane berpikir selama beberapa saat dan teringat kalau Willy adalah teman yang selama ini dicari-cari Miko. "Dia adalah werepuppy yang dicari-cari temanku, sekarang di mana Willy?"
Inigha tak lekas menjawab seraya menatap Shane. "Maaf, aku tidak boleh memberitahu keberadaannya."
"Dengarkan aku, Inigha ... Willy adalah sahabat temanku, selama bertahun-tahun ia mencarinya. Karena kamu menceritakan kisah tadi, seharusnya kamu percaya padaku. Jadi kenapa tidak memberitahu di mana Willy sekarang?"
Inigha menggeleng. "Bukan tidak percaya, tetapi aku khawatir kamu dan temanmu akan terlibat dalam masalah, jika mencarinya."
"Namaku Shane. Keluargaku adalah Mallory, dan kami sedang berusaha mengumpulkan para werepuppy untuk menghadapi Gilgallon. Kamu pasti tahu ketangguhan keluargaku, kan?"
Inigha mencerna pikirannya. "Dia ke Paris, untuk bertemu keluarganya."
"Apakah kamu tahu alamat keluarganya di Paris?" tanya Shane.
"Sayangnya tidak."
"Baiklah aku akan mencarinya di Pa—"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. "Papaaa! Mengapa kamarnya terkunci? Aku ingin bermain dengan Pillow!"
Inigha terhenyak lalu menoleh pada Shane. "Cepat keluarlah melalui ventilasi."
"Tidak bisa jika aku dalam wujud manusia karena ukuran ventilasi terlalu kecil. Lagipula sekarang tidak ada bulan sabit, jadi aku tidak bisa beru—"
"Vertamoza." Inigha menjetikkan jarinya ke arah Shane.
Poof!
Shane pun berubah menjadi seekor Papillon. Ia menunduk—memberi salam—sebelum melompat ke luar melalui ventilasi. Mata Papillon menyapu ke bawah. Jarak dari tempatnya sekarang sampai jalanan, cukup jauh. Namun, itu bukan masalah bagi seekor werepuppy. Papillon kecil melompat ke bawah dari satu fasad ke fasad lainnya, sampai akhirnya tiba di jalanan.
Sementara itu di dalam kamar Inigha, setelah Inigha membuka pintu dengan menggunakan magis, istri dan anaknya pun masuk ke dalam. Inigha menceritakan kalau Papillon melarikan diri melalui ventilasi, sehingga Devon menangis keras-keras.
"Devon, nanti kita beli anjing yang lucu untuk menggantikan Pillow," tukas Inigha berusaha menenangkan Devon.
Sang ibu mengangguk. "Iya. Ibu akan membelikan anjing kecil yang sangaaaaat lucu."
Mendengar kata-kata orang tuanya, tangis Devon pun mulai reda. "Benarkah Papa, Mama?"
Sang ibu menguntai senyum. "Mama bisa belikan Puddle, asal kamu mau sabar menunggu bulan depan, karena pembayaran desain Mama dibayar saat itu."
"Tapi aku tidak mau Puddle, aku suka Papillon," ujar Devon merajuk.
"Oke, bulan depan kita beli Papillon." Ibu Devon tersenyum.
"Yeaaaaaa!!" Devon melompat-lompat girang.
"Jangan lupa siapkan nama untuk Papillon barumu, ya?!" tukas ibu.
Devon berhenti melompat, lantas termenung sesaat. "Mmm ... 'Pillow' ... tidak, tidak ... seharusnya setiap anjing memiliki nama berbeda ...."
"Bagaimana kalau 'Serena'?" usul ibu.
"Nama yang bagus, Ma. Tapi tidak cocok kalau akhirnya kita membeli anjing jantan."
"Muffin."
"Wah! Aku senang dengan nama itu! Jantan atau betina bisa menggunakan nama tersebut!"
Keluarga kecil Inigha memang terlihat ceria kendati berada dalam kondisi sulit. Inigha dan istrinya berusaha memberikan yang terbaik untuk satu-satunya anak mereka. Sayang, marabahaya sedang mengintai mereka ....
***
Papillon berlari sampai berhenti di persimpangan jalan. Hidungnya mengendus-endus jalanan, lalu mendongak dan melihat sekeliling. Tak lama kemudian ia kembali berlari dan berbelok ke kanan. Kakinya yang mungil mengayun cepat hingga akhirnya ketika sampai di depan papan iklan besar. Papillon berhenti lalu kembali mengendus jalanan. Namun, bau masakan di restoran-restoran sekitar menyulitkan pencariannya. Pandangan papillon mengedar sembari menggali memori tentang jalan tersebut. Cukup lama ia berada di sana, hingga akhirnya matanya menangkap petugas kebersihan yang sering terlihat di apartemen Liv. Papillon mulai mengikuti lelaki itu. Laki-laki tersebut berjalan ke area pertokoan, melintasi beberapa toko pakaian lantas masuk ke sebuah bangunan.
Meski tidak tahu maksudnya, Papillon tidak ada pilihan selain menuntit, atau kehilangan jejak. Papillon mengikuti sampai berjalan ke ruangan kecil kemudian masuk ke dalam bilik.
Saat pandangannya menyapu, ia melihat papan bertuliskan "toilet". Rupanya tadi papillon tidak sadar kalau telah masuk ke dalam toilet. Menunggu di dalam jelas bukan pilihan tepat. Apalagi bau tidak sedap menusuk penciumannya. Ia pun mencoba ke luar dari sana. Sayang, pintu toilet dikunci laki-laki tadi. Dengan tubuhnya sekarang, mustahil ia bisa memutar kunci lalu ke luar. Papillon tidak ada pilihan selain menunggu lelaki tadi selesai buang hajat. Baru lima menit, tiba-tiba ia mendengar lelaki itu mengerang.
"Engh!!"
Lalu diikuti suara letupan kecil beruntun.
PREEET ... PREeet ... preeet ... pretpretpretpret ....
"Aaaaah ... lega. Eit, ada yang tertinggal ...."
psss ....
Suara-suara itu tidak seberapa menjijikkan dibanding bau busuk yang menyertainya. Apalagi bagi Papillon, setiap bau yang tercium berkali-kali lipat baunya ketimbang ketika mencium bau yang sama saat berwujud Shane. Akibatnya sekarang kepalanya seperti berputar-putar dan merasa mual. Papillon berusaha menjauh dari bilik, tetapi tenaganya mengendur. Ia pun terhuyung ke samping dan membentur dinding. Lebih baik bersandar, begitulah mungkin pikiran papillon. Tak salah jika menduga seperti itu, sebab papillon memang bersandar dalam keadaan lemas.
Setelah tiga puluh menit, laki-laki tersebut keluar. Papillon bersusah payah mengikutinya lagi. Setelah menghirup udara segar, berangsur-angsur tenaganya kembali normal. Pandangannya terus tertuju pada laki-laki itu. Tak lama kemudian lelaki tersebut sampai di apartemen Liv. Kinilah saat berpisah dengannya. Ekor papillon bergerak-gerak menunjukkan kalau ia merasa senang lantaran sebentar lagi dapat bersama Liv. Ia berlari menuju lift kemudian menunggu pintu lift terbuka. Sayang, tak lama kemudian ada keluarga yang baru datang dan menunggu lift. Anak keluarga tersebut melirik papillon.
"Ayaaah! Aku mau anjing itu!" Si anak menunjuk papillon.
Bayangan ketika Devon membawanya pun terlintas. Papillon segera berlari ke tangga darurat sekaligus menghindari kemungkinan buruk. Beruntung pintu tangga darurat terbuka. Ia pun segera menaiki anak tangga demi anak tangga menuju lantai unit Liv berada.
Setibanya di lantai tujuan, papillon tak membuang waktu dan berlari ke unit Liv. Namun, di saat sampai di depan pintu, ia diam. Tak tahu bagaimana caranya masuk. Satu-satunya cara yang terlintas adalah dengan ....
"Wuuuf! Wuuuf!"
Papillon tak henti-henti menyalak selama setengah jam, tetapi tetap tak ada yang membukakan pintu. Papillon tak menyerah, lalu mengedarkan pandangannya, mencari akal agar dapat masuk ke dalam. Saat pandangannya mengedar, dilihatnya jendela apartemen terbuka. Ah! Inilah caranya! Itulah yang ada dibenak anjing kecil tersebut. Papillon pun ke luar dari jendela lantas menyisir tepi fasad bangunan perlahan-lahan.
Satu, dua, tiga ... enam unit telah dilewati. Sekarang ia sudah tiba di depan jendela unit Liv. Dilihatnya Liv sedang tertunduk sambil menangis tersedu-sedu.
"Ini semua salahku ... kalau saja aku tidak meninggalkannya, ia tidak akan hilang ... papillon ...," Liv terus terisak.
Hati papillon pun terenyuh. Ia segera menyalak. Sayang, hasilnya sama seperti ketika di depan pintu. Liv tidak mendengar suaranya sama sekali. Bagi anjing, suara papillon kecil memang terlalu lembut. Itulah nasib yang harus ia terima.
Papillon termangu di luar, tak tahu lagi harus berbuat apa. Namun, pandangannya terpaku pada gadis yang ia cintai. Sementara itu, tangisan Liv mulai reda. Tiba-tiba Liv bangkit sambil mengepalkan tangan ke udara.
"Kalau aku seperti ini terus, papillon tidak mungkin ditemukan! Aku harus berusaha mencarinya!" seru Liv, membulatkan tekad. "Aku harus berganti pakaian dan mencarinya di mal sampai ketemu!"
Liv membuka seluruh pakaiannya di hadapan papillon, sampai-sampai tubuhnya yang elok tampil utuh tanpa sehelai benang yang menutupi. Liv memang hanya manusia biasa; ia juga bukan papillon; bukan pula Medussa. Namun, tubuhnya yang molek mampu membuat beku laki-laki yang memandangnya. Itulah yang terjadi pada papillon. Bahkan bukan hanya itu, gairah papillon pun tersulut. Ia merasakan darah hangat berdesir dan merayapi tubuhnya.
"Kali ini aku harus menemukan papillon-ku yang 'lucu'!" Liv tak sengaja menyerukan mantra pengubah. Akibatnya ....
POOOF!!
Letupan papillon yang sedang b*******h lebih besar ketimbang dalam keadaan normal. Sontak, suara itu pun membuat Liv menoleh dan melihat Shane berada di sana. Sayang, karena terkejut ia tak menyadari kalau itu adalah sang kekasih. Liv berteriak sekencang-kencangnya.
"AAAAAAAAAAAAA! PENGINTIIIIP!" Tanpa pikir panjang, Liv membuka jendela lalu menendang Shane hingga jatuh.
"LIIIIV INI AAKUUUuuuuuuuu ...."
WHAAAAAM!!
***
"Kenapa tidak lihat-lihat sebelum menendang?" gerutu Shane sambil mengompres tubuhnya yang memar-memar.
Liv menunduk. "Ma-ma-maaf, Shane ...."
Shane menghela napas. "Sudahlah. Ah, iya aku ingin bercerita tentang kejadian yang menimpaku. Selain itu, aku ada informasi menarik tentang ... IMUUUT!"
Mantra yang diucapkan Shane mengubah Miko menjadi manusia ... yang telanjang ....
Mata Shane terpaku dan tidak berkedip memandang keelokan Miko di hadapannya.
"Shane ...," panggil Liv.
Shane bergeming dan terus memandang Miko dengan air liur menetes.
"SHANE ...." Liv mengeraskan suara, tetapi tetap tak dapat membuat pandangan Shane teralih.
Wajah Liv berubah merah padam. Tanpa berkata-kata ia berjalan ke jendela lantas membukanya. Setelah itu ia berdiri di dekat Shane dan menghadap jendela.
"SHANE!" Suara Liv bergetar sambil mengusap-usap tangannya yang terkepal.
"SHAAAAAAAAAAANEE!!!"
Kali ini suaranya berhasil membuat Shane terhenyak dan menoleh. "Eh, i-iya, Liv ... kenapa?"
Saat Shane mendongak, dilihatnya urat-urat wajah Liv berkedutan. Giginya pun terdengar bergemeretak keras.
"Li-Liv, ka-kamu sa-salah pa—"
"APANYA YANG SALAH PAHAM?! JELAS-JELAS AKU MELIHATMU MEMANDANGI MIKO DENGAN CARA MENJIJIKKAN!" Liv berteriak keras. Urat-urat wajahnya kian bertonjolan.
"Tunggu, Liv. Itu ti-tidak seperti yang kamu lihat ...."
"APAAAAAAAA?!" bentak Liv, sambil memutar tangannya.
"Ti-tidak se-seperti yang ka-kamu lihat, Sa-Sayang—"
"BICARALAH DARI NERAKAAAAAAAAAA!!"
BRAAAAAAAK!!
Tangan Liv mengayun deras dan melemparkan Shane ke luar jendela unitnya.
"TIDAAAAAAAAK! MALANG BENAR NASIBKU HARI INIIIIIIIIIIII!!!"
WHAAAAAAM!
***
Livy menghubungi Medy untuk turut membahas berita yang akan disampaikan Shane, dan memintanya agar datang ke apartemen. Setelah menunggu satu jam, akhirnya Medy pun tiba di sana. Seperti biasa, pikiran jailnya terlintas saat melihat Miko dan Shane.
"PI—hmmmmp ... hmmmmph ...."
Livy buru-buru membungkam mulutnya. "Jangan sekarang, Med! Kita harus rapat! Pen-ting!!"
Medy mengangguk-angguk dengan wajah merah, karena hidungnya tak sengaja tertutup tangan Livy.
Setelah terbebas, Medy pun menggerutu, "Kamu hampir saja membuatku pingsan."
"Hehehe ... sorry, Med." Livy tertawa kecil sembari duduk di Ruang Keluarga. "Nah, kita semua sudah lengkap. Ayo, sini kita berkumpul."
Medy, Shane, dan Miko pun mengambil tempat duduk masing-masing. Namun, saat melihat Shane duduk di sebelah Miko, Livy segera bereaksi.
"KALIAN JANGAN BERSEBELAHAN!!" bentaknya sembari menarik Shane berdiri. "DUDUK DI SEBELAHKU!"
"I-iya ...," ucap Shane, gemetaran.
"Kita semua sudah di sini. Ayo ceritakan, Shane," ujar Livy.
Shane mengangguk, wajahnya pun berubah serius. "Jadi begini. Ketika aku tiba di depan jendela apartemen ini, aku melihat Livy membuka baju dan tubuhnya pun tampil utuh. Memang sangat menggoda melihat sepasang da—"
"BUKAAAAAAN CERITA YANG ENGGAK PENTING ITUUUUU!!"
WHAAAAACK!
Livy meninju Shane sampai terjengkang sejauh satu meter.
"Eh, ya-yang mana?" tanya Shane, sembil tergopoh-gopoh kembali ke tempat duduk.
Bersambung ke chapter selanjutnya