4

1675 Words
Di pinggir Kota London empat ekor kucing melintasi jalanan. Tiap kali bertemu anjing dan kucing lain, semua menyingkir ketakutan. Wajar, karena dua di antara mereka berpenampilan seram. Keempat kucing tersebut berbelok ke gang kecil lalu melompat ke atas tutup bak sampah. Mereka pun bercakap-cakap dalam bahasa kucing. 'Kita sudah melintasi setiap penjuru Britania selama beberapa tahun belakangan, tetapi tak juga menemukan Miko,' miauw kucing berbulu hitam. Menilik dari penampilannya, kucing tersebut merupakan kepala keluarga dari gerombolan kucing tersebut. Kucing itu berbadan besar. Matanya berwarna kuning terang, tetapi sebelah matanya terdapat bekas luka. Bulunya yang hitam dan tebal makin membuatnya terlihat besar. Ia bernama Marok, kucing yang dikenal kejam. 'Ia tidak pernah bepergian ke luar dari London. Ini aneh.' Kucing berbulu putih menimpali. Mena, itulah nama kucing betina tersebut. Ia merupakan istri Marok dan juga ibu dari tiga anaknya: Mier, Mel, dan Miko. Bulunya tak setebal Marok, dan berperawakan langsing. Matanya berwarna biru gelap dan berhidung pipih. Ekornya lebih panjang ketimbang ketiga anggota keluarga lainnya. 'Selain kita berusaha mencarinya sendiri, teman-temanku juga akan memberitahu jika melihat Miko. Tapi sampai sekarang tak ada satu pun yang melihatnya,' miauw Mier, kakak laki-laki Miko. Mier hampir seseram sang ayah, tetapi berperawakan langsing seperti Mena. Matanya berwarna hijau terang. Bulunya selebat Marok dan berwarna abu-abu. Panjang ekornya sedang. Kaki belakangnya sedikit bengkok ke dalam. 'Mungkinkah dia tetap di Britania dan ada yang membantunya bersembunyi?' miauw Mel, bertanya. Mel, kakak perempuan Miko memiliki kecantikan yang hampir sama dengan adiknya. Namun badannya sedikit lebih gemuk dan berbuli campuran putih-coklat. Matanya berwarna biru terang. Sementara ekornya hampir sepanjang sang ibu. 'Mungkin saja ... tetapi firasatku dia tidak berada di Britania Raya,' miauw Mier. 'Kalau sampai Miko berada di luar Britania Raya, entah bagaimana kita mencarinya," miauw Mena. 'Apalagi kalau berada di benua lain. Aku sama sekali tidak memiliki teman untuk membantu mencari Miko,' miauw Mier. 'Terus terang aku sudah putus asa mencari adik kecil kita yang nakal itu, Mier ....' 'Semua ini gara-gara werepuppy itu! Seandainya Miko tidak berteman dengannya, semua ini tak akan terjadi. Aku bersumpah akan mencabik-cabik Willy kalau bertemu dengannya!' miauw Mier, marah. Kekesalan keluarga Miko pada Willy memang makin menjadi-jadi. Ia dianggap menjadi penyebab sikap Miko menjadi pemberontak dan lari dari keluarga. Namun, baik Willy maupun Miko sampai sekarang belum berhasil ditemukan. Mereka seolah hilang tanpa meninggalkan jejak. Marok menggeram. 'Tidak ada gunanya berspekulasi. Sebaiknya kita jangan berhenti mencari Miko sampai dapat. Kalau tidak penting untuk rencana kita, aku tidak peduli dengan keadaan anak nakal itu.' Mendengar kalimat yang diucapkan Marok, Mena pun memandang nanar. Hatinya bersedih karena sang suami dan anak bungsunya selalu tidak akur. Namun, ia lebih terluka sebab tak bisa menemukan Miko sampai sekarang. *** Sementara itu di sebuah mal yang berada di tengah Kota Sydney. Livy sengaja mengubah Shane menjadi Papillon, agar tidak menyebalkan ketika diajak berbelanja. Shane memang sering cemberut, dan menggerutu tiap kali diajak berbelanja, sebab Livy selalu butuh waktu berjam-jam hanya untuk memilih satu baju. Mereka keluar-masuk dari satu toko pakaian ke toko yang lain, tetapi belum ada satu pun yang dibeli. Bukan karena tidak ada yang menarik, hanya saja Livy selalu plin-plan dalam memutuskan. Papillon kecil yang sudah merasa bosan, berkali-kali menyalak. Namun, Livy sama sekali tidak menghiraukan, dan tetap melanjutkan berburu pakaian. "Sssst ... diamlah, Papillon mungil. Aku masih mau ke toko ini," tukas Livy, menunjuk toko pakaian besar di samping mereka. Sambil menggendong Papillon, ia masuk ke toko tersebut. Setibanya di dalam, Livy segera mencari-cari pakaian dalam. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya ia mengambil tiga pasang pakaian dalam untuk dicoba di ruang ganti. Saat-saat seperti inilah yang membosankan Shane. Bagi Livy tak cukup mencoba beberapa pakaian, bahkan nyaris semua pakaian di dalam toko ia coba. Setelah satu jam berlalu, tetapi Livy belum memutuskan akan membeli pakaian yang mana. Akhirnya Papillon kecil memutuskan untuk mencari dan memaksanya pulang. Namun, bukan perkara mudah menemukan sang kekasih, karena ada belasan ruang ganti di sana. Meskipun memiliki penciuman tajam, saat ini Shane sedang pilek sehingga mengurangi kemampuan penciumannya. Ia pun mencoba memeriksa ruang ganti satu demi satu. Apalagi dalam bentuk Papillon, tidak akan ada orang yang marah jika ia salah masuk ruang ganti. Sudah empat ruangan diperiksanya, tetapi Papillon belum menemukan Livy. Ketika masuk ke ruangan kelima, dilihatnya seorang perempuan kurus dan anak laki-lakinya. Anak kecil tersebut melihat kehadiran Papillon mungil. "Mama, lihat ada anjing!" seru si anak laki-laki menghampiri Papillon. Papillon mau berlari, tetapi anak kecil telah menangkapnya lebih dulu, lantas menghampiri ibunya. "Ma, sepertinya anjing ini tersesat. Bolehkah aku pelihara?" "Tidak, Sayang. Kamu tahu kalau papa sakit, kan?!" Sang ibunda mengingatkan. "Aku janji, anjing ini tidak akan mengganggu papa." "Tidak, Devon. Ja—" "Please ...," pinta anak kecil bernama Devon dengan wajah memelas. "Devon ... tidak boleh ...." Devon terus merajuk, "Mama ... ayolah, kumohon ...." Ibu Devon menghela napas panjang. "Baiklah, tapi dengan syarat." "Apa syaratnya?" "Mama akan bertanya pada penjaga toko, kalau ternyata tidak ada yang mengenal pemilik anjing kecil ini, maka kita akan membawanya pulang," tukas mama Devon. "Berarti kita tidak bisa membawanya pulang kalau ternyata ada yang memiliknya, Ma?" "Tentu saja tidak boleh, Devon." "Tapi, Ma—" "Itu persyaratan Mama. Kalau kamu tidak setuju, berarti kita tidak perlu bertanya dan tinggalkan anjing kecil ini di sini." Sang ibunda menegaskan. Devon mencerna pikirannya sesaat sebelum mengangguk kecil. "Baiklah, Ma." Sudut bibir sang ibunda terangkat. "Ya, sudah. Ayo, kita keluar." Keduanya pun bergegas menuju kasir. Setelah membayar beberapa pakaian yang dibeli, sang ibunda bertanya pada pelayan toko, tetapi pelayan toko tidak mengetahui pemilik Papillon kecil. "Nah, kalau begitu kita boleh membawanya pulang, kan?" tanya Devon, berusaha memastikan ibunya tidak berubah pikiran. Sang ibunda mengangguk. "Boleh, Sayang," jawabnya sambil menggandeng Devon ke luar dari dalam toko. Sementara itu, setelah cukjp lama memilih pakaian, akhirnya Livy memutuskan membeli tiga pasang pakaian yang baru selesai dicobanya. Namun, ia terkejut manakala tak mendapati Papillon kecil di luar. "Papillon! Jangan bermain-main! Ayo kita pulang!" seru Livy, memanggil-manggil sambil mencari ke setiap sudut ruangan. Melihat Livy kebingungan, pelayan toko pun menghampiri. "Maaf, apakah Anda mencari anjing kecil berwarna hitam?" Livy mengangguk. "Apakah Anda melihatnya?" Pelayan toko merasa tidak enak hati, dan menceritakan kalau Papillon telah dibawa pergi oleh pembeli. "Maaf ... saya pikir tidak ada yang memilikinya. Saya terlalu ceroboh ...." Meskipun kesal, Livy tidak meluapkan kemarahannya karena menganggap ia turut andil karena membiarkan Papillon kecil di luar terlalu lama. "Apakah Anda melihat mereka pergi ke arah mana?" Pelayan toko mengangguk. "Tadi mereka ke kanan. Mungkin masih sempat kalau Anda mengejarnya sekarang." "Terima kasih." Livy mengangguk lantas bergegas pergi dari toko. *** "Papaaa! Aku pulaaaaang membawa Papillon kecil!" seru Devon ketika baru masuk ke apartemen. "Ssst, Devon ... mungkin papa sedang tidur." Apartemen mereka berukuran kecil dan sederhana. Dinding-dindingnya yang berwarna putih, tampak kusam dan terdapat banyak coretan anak kecil. Ruangan pun makin terlihat kecil dengan barang-barang yang berserakan di mana-mana. Jelas sekali kalau pemilik apartemen tak peduli dengan keadaan di sana. Mungkin lebih tepatnya karena ada hal lain yang lebih menuntut perhatian ketimbang kenyamanan tempat tinggal mereka. Sudah setahun ibu Devon menggantikan peran ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bekerja online sambil mengurusi Devon dan suaminya yang sedang sakit. Tidak mengherankan jika keadaan rumah menjadi terbengkalai. Pakaian dalam yang baru dibeli sebetulnya bukan untuk menghamburkan uang, melainkan untuk keperluan bekerja sebagai desainer pakaian dalam yang harus mengkreasi dari mulai bentuk sampai bahan pakaian. Devon dan ibunya masuk ke dalam kamar. Sang ayah berbaring lemah di ranjang. Ia tersenyum manakala melihat Devon dan sang istri tiba di sana. Di antara semua ruangan, hanya kamar tersebut yang tampak resik dan tertata. "Papa! Lihat ini!" Devon menunjukkan Papillon kecil. "Sayang, Hugo sudah lari dari rumah. Kalau ia tahu aku membawa teman, pasti ia gembira!" Sang ayah kembali tersenyum. "Papillon ini berbeda dengan Hugo, ya?!" Devon mengangguk. "Hugo berbulu putih, dan memiliki bekas luka di matanya. Meskipun begitu aku sayang Hugo," ujar Devon sambil memandang lantai ruangan dengan nanar. "Jangan sedih, Devon. Sekarang kamu sudah memiliki penggantinya." Ibu mengusap kepala Devon. "Mau kamu kasih nama apa Papillon ini?" Devon termenung beberapa saat. "'Pillow'. Lihatlah bulu-bulunya lembut seperti bantal." Ibu Devon mengangguk repetitif. "Pillow ... nama yang bagus." Ibu melihat ke arah pintu. "Sebaiknya kita keluar Devon. Biar papa beristirahat. Lagipula Mama harus bekerja." Devon mengangguk, tetapi saat hendak berjalan ke luar, ayah menahannya. "Nak, bisa kamu tinggalkan Pillow bersama Papa?" Ibu dan Devon bertukar pandang. Sangat jarang ayahnya meminta hal seperti itu. Namun, Devon menuruti permintaan ayah karena tak ingin membuatnya kecewa. "Iya, Pa." Devon meletakkan Papillon di atas ranjang. "Nanti kita main, ya," ucapnya mengusap kepala Papillon lantas keluar bersama ibu. Setelah tidak ada orang lain di dalam kamar, ayah melirik Papillon. "LUCU!" Poof! Berubahlah Papillon menjadi Shane. Shane terkejut karena jati dirinya diketahui ayah Devon. "Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" Ayah Devon tersenyum seraya menunjuk tumpukan baju di atas meja. "Kunci pintunya dan pakailah bajuku. Setelah itu akan kujelaskan." Shane pun menuruti kata-kata ayah Devon, lalu kembali mengulang pertanyaannya. "Bisa kamu jelaskan?" Ayah Devon mengangguk. "Namaku Robert, tetapi di dalam dunia sihir mereka menyebutku Inigha." Shane tersentak mendengar nama tersebut. "Inigha sang Penyihir Kelabu?" "Iya. Tidak ada Inigha yang lain selain Penyihir Kelabu." Shane mengangguk-angguk. "Pantas ... penyihir sepertimu memang dapat melihat aura yang terpancar dari werepuppy dan werecat." Shane menyelisik Inigha yang terbaring lemah. "Apa yang terjadi denganmu?" "Seperti yang diketahui. Ada lima penyihir di dunia ini: Penyihir Putih, Penyihir Biru, Penyihir Kuning, Penyihir Merah, dan aku. Salah satu di antara mereka ada yang berkhianat dan menyerangku dalam keadaan tidak siap. Sayangnya aku tidak dapat melihat dengan jelas orang yang menyerangku." "Kenapa kamu bisa menduga kalau yang menyerangmu adalah salah satu di antara mereka, sementara kamu tidak bisa melihatnya?" tanya Shane. Inigha mencerna pikiran. "Ia menggunakan magis kami. Magis kami sangat mirip sehingga sulit membedakannya." Ia menjeda ucapan seraya menghela napas. "Kalau tidak diselamatkan Hugo, mungkin aku tidak akan selamat. Tapi, setelah itu, aku, Hugo, dan keluargaku pindah ke apartemen ini agar keberadaan kami tidak terlacak oleh orang yang menyerangku." "Hugo? Anjing peliharaan anakmu juga seekor werepuppy?" Inigha mengangguk. "Namanya yang sebenarnya adalah Willy. Dan ia merupakan werepuppy yang tangguh." Bersambung ke chapter selanjutnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD