Sore ini Livy berjanji bertemu dengan Editor sekaligus sahabatnya, Medy Precilly, di kafe yang terletak di jantung Kota Sydney. Sudah lima tahun mereka bersahabat, semenjak naskah Livy ditangani Medy. Medy adalah sahabat yang selalu siap mendengar keluh kesah dan obrolan enggak penting Livy. Sehingga tidak jarang mereka bertemu bukan untuk urusan novel. Seperti sekarang ketika mereka sedang duduk di tengah kafe yang cukup lengang.
Mata Livy berbinar usai menceritakan tentang Shane yang ternyata adalah werepuppy. "Gitulaaaah, Med! Lucuu kan pacarku?! Mana ada perempuan seberuntung aku yang punya cowok ganteng, CEO, sekaligus anjing kecil yang imut banget?!" tukas Livy, antusias.
Medy memutar bola matanya. Lucu? Tidak ada orang lain yang menganggap kekasihnya yang bisa berubah menjadi anjing kecil meupakan hal lucu. Begitulah yang dipikirkan Medy. Namun, ia tahu betul kalau sahabatnya tersebut memang unik dan nyentrik. Saking tahunya, ia juga paham kalau Livy sering tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan. "Mmm ... oh, itu cerita baru kamu? Tentang CEO yang bisa berubah jadi werewolf—eh, bukan ... were ... apa tadi kata kamu?" Medy memutar-mutar sedotan di dalam gelas sambil tersenyum geli melihat sahabatnya.
"Werepuppy, Medy ...." Livy menghela napas.
"Nah, iya! Werepuppy! Kamu mau kasih judul apa novel baru itu, Liv?" tanya Medy seraya tersenyum lebar.
"Dibilangin kalau itu bukan novel malah enggak percaya ... emangnya aku ngayal?!"
Medy tertawa kecil. "Memang biasanya enggak ngayal? Bukannya selalu halu, ya?!"
"Iya, iyaaaa ... tapi kali ini aku enggak ngayal. Nanti aku ajak lihat cowok aku pas beruba—" Tiba-tiba Livy ingat saat Shane berubah jadi manusia dalam keadaan tak berpakaian. "Eh enggak jadi, hehehe ...."
"Tuh, kaaaaaan ...."
"Aku enggak ngayal, Meeed ... enggak percaya banget sih ...," kesal Livy dengan wajah masam.
"Terus kenapa enggak mau nunjukin?"
"So-soalnya aku enggak bisa tunjukin," ucap Livy, gugup.
"Karena?" Medy mengangkat sebelah alis seraya tersenyum.
Livy menunduk, menyembunyikan semburat merah di wajahnya. "Soalnya dia telanjang," ujarnya lirih, tetapi masih terdengar jelas oleh Medy.
Sontak Medy pun terpingkal-pingkal. "Kalau emang bener, berarti kamu lihat pacar kamu telanjang, dong?"
"I-iya, tapi enggak seperti yang kamu pikir! Aku kan enggak sengaja!"
Medy menggeleng. "Enggak ... enggak ... aku enggak percaya."
Livy mencerna pikiran selama beberapa saat, kemudian berkata, "Gini aja, Med. Aku emang enggak bisa tunjukin pacarku berubah, tapi aku bisa tunjukin Miko berubah."
"Miko, kucing kamu?" Medy melebarkan mata, makin tak percaya.
Livy mengangguk-angguk. "Iyaaa. Miko, kucingku yang suka duduk di pangkuanmu pas kamu main ke apartemenku. Emangnya kucing mana lagi?! Aku kan cuma punya satu kucing."
Medy tergelak sampai keluar air mata. "Udah ah, candanya ... tadi werepuppy, sekarang wereca—eeeeeh! Mau ke mana? Liv, entar dulu ... eh, Liv ... Liv!" Tangan Medy ditarik paksa oleh Livy.
"Ke apartemenku."
***
Di apartemen Livy ....
"MIKOOOOOO! YUHUUUUU! MIKOOOOO!!" Livy baru masuk ke dalam apartemen sembari menarik Medy.
"Miaaaauw!" Begitu melihat Medy datang, Miko segera mengusapkan bulu-bulunya di kaki Medy.
"Hai, Mikooo!" Medy mengangkat Miko lantas mengelus bulu-bulunya. "Kamu serius sama yang tadi udah kamu ceritain ke aku?"
"Yeee ... dari tadi juga yang aku bilang bener. Entar aku tunjukin abis bikin minum buat kamu." Livy masuk ke dalam dapur. "Mau sirop, Med?" seru Livy dari dalam dapur.
"Mmm ... keluarin semua makanan dan minuman yang paling enak di sini." Medy tertawa kecil seraya duduk memangku Miko.
"Kamu pikir apartemenku kafe?" Livy tertawa.
Demikianlah persahabatan Livy dan Medy. Mereka sudah seperti saudara. Walau Medy berusia dua tahun lebih tua, Livy tak merasa canggung. Sebetulnya bukan hanya Medy yang sering berkunjung, Livy pun acap ke apartemen Medy.
Usai membuatkan minuman dan makanan kecil, Livy ke luar dari dapur. "Med, sambil dimakan, ada kue-kue juga, nih." Livy meletakkan gelas bertangkai dan dua stoples berisi makanan kecil di atas meja.
"Tenaang, entar juga aku habisin semua." Medy tersenyum. "Jadi ... gimana?" Ia mengingatkan Livy.
"Yakin mau lihat buktinya?" Livy melirik Miko yang berbaring di pangkuan Medy. "Beneraaan nih, enggak nyesel?"
"Ya, yakinlaaaah ... kan kamu yang ngajak aku—eh, bukan ngajak, tapi maksa aku ke sini buat buktiin omongan kamu," cibir Medy.
Livy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. "IMUT!"
Poof!
Terdengar letupan kecil disertai asap tebal yang membungkus Miko. Tak lama kemudian, Miko telah berubah menjadi manusia di pangkuan Medy.
Sontak, Medy menjerit karena kaget. "Kiaaaaaaaa!!! Oh my God!" Ia melirik Miko yang tak berpakaian. "Saaaa ... cepet ambiliin bajuuu!"
Livy tersenyum jail. "Enggak perlu ...."
Miko menghela napas. "Here we go agaaain ...."
Sedangkan Medy keheranan. "Kok, eng—"
"PIE!"
Pooof!
Miko berubah menjadi kucing. Melihat keajaiban tersebut, Medy bertepuk tangan kecil. "Wooow! Kayak Hari Kotter!"
Livy tergelak. "Kereeeen, kaaaan, Med?!"
Medy menganguk-angguk. "Cuma kamu yang bisa ya?"
Livy mengangkat bahunya. "Kayaknya semua orang bisa, deh. Coba aja ...."
Mata Medy berbinar antusias. "Boleh coba, please ...," pinta Medy sembari meletakkan Miko di lantai.
Livy mengangguk seraya tersenyum lebar. "Ya, dicoba aja. Boleh, kok."
"Miaaaaauw!" Miko melirik kesal pada Livy, tetapi sedetik kemudian ....
"IMUT!" seru Medy.
Poof!
Medy yang berhasil mengubah Miko menjadi girang. "Kalau gitu ... PIEEE!"
Poof!
Dan makin ketagihan ....
"IMUT!"
Poof!
Medy terus menerus mencoba sampai bosan. Itu pun setelah empat puluh kali. Miko yang marah segera pergi ke tempat tidurnya sambil menggeram, lantas melingkarkan badan di atas bantal.
"Waah! Seruuu!"
Livy mengangguk. "Bener, kan kataku?! Sekarang kamu percaya, kan?!"
"Iya, ya, aku enggak nyangka hal kayak gini ada di dunia nyata!" sahut Medy.
"Ya, emang. Aku juga awalnya ngerasa aneh. Eh, tapi pernah enggak kamu kepikir kalau kita ini bagian dari cerita novel?"
"Saa, Liv ... enggak mungkinlaaah ... kamj masih aja doyan ngehalu."
"Hahaha, iya juga."
Keduanya berbincang-bincang sampai petang hari. Saat itu Shane yang baru pulang dari kantor, datang mengunjungi Livy. Ia tidak terkejut melihat kehadiran Medy, karena Livy sudah memberitahu melalui pesan singkat.
Sambil mengendurkan dasi, Shane duduk sembari meluruskan kaki. "Ah, pegel banget hari ini. Aku habis keliling proyek seharian." Lantas menoleh pada Medy. "Udah dari tadi di sini, Med?" tanyanya basa-basi.
Medy mengangguk seraya tersenyum. Tebersit cerita Livy tentang cara mengubah Shane, sehingga memantik rasa ingin tahu Medy. Ia pun berjalan ke arah jendela.
"Lho, mau ngapain, Med?" tanya Shane, heran.
Livy pun berfirasat buruk. "Jangan-ja—" Belum sempat Livy selesai berucap, Medy sudah membuka gorden dan menampilkan bulan purnama, sehingga ....
Poof!
Shane berubah menjadi werepuppy.
"Wah! Asyik!" seru Medy antusias. Sekarang ...."
Tahu dengan yang akan diucapkan sahabatnya, Livy segera melarang. "Jangaaan!"
Terlambat, Medy telah mengucap, "LUCU!"
Poof!
Shane kembali dalam wujud manusia dan tanpa berpakaian, sehingga membuat Livy melempari Medy dengan bantal. "KELUAR DARI APARTEMENKUUUU!"
***