2

1023 Words
Di dalam kamar, Livy duduk membelakangi Shane. Wajahnya bersemu merah lantaran malu melihat Shane sedang mengenakan pakaian. "U-udah, Shane?" tanya Livy, merasa gugup. "Coba lihat ini, Liv," jawab Shane dari belakang. "Enggak! Masak aku lihat kamu ganti baju!" seru Livy, mencebik. "Aku udah selesai, kok. Tapi coba deh kamu lihat." Livy menengok ke belakang. Melihat Shane memakai kaus pink dan celana di atas paha yang ketat, sontak membuat Livy tertawa terpingkal-pingkal. "Jiahahahahahahahaha! Kamu—jiahahaahhhahahahaha! So sweet bangeeeeet! Huahahahahhaha!" Shane pun menekuk wajahnya sambil manyun. "Kamu kan yang pinjemin baju ini ...." Livy mencoba menahan tertawa. "Sebenernyaaa aku ada baju warna lain, tapi motifnya bunga-bungaaaaa ... mendingan itu, kan?! Pink polos. Lagian cocok dipake kamu kok! Jiahahahahhahhahahaha!" "Hadeeuh ... ya udah, deh. Mau gimana la—" Suara perut Shane yang keroncongan, menginterupsi. "Ehe ... setiap habis berubah aku selalu lapar," terang Shane, tersipu. Livy tersenyum. "Ya udah. Aku masih ada pizza di lemari es." Ia berdiri kemudian berjalan ke Ruang Makan, diikuti Shane dari belakang. Setibanya di sana, Livy memanaskan makanan selama beberapa menit, sampai terdengar suara dari dalam oven. "Nah! Pizza-nya udah anget!" Diambilnya pizza dari dalam oven, lantas diletakkan di meja. Shane yang kelaparan, menyantap makanan dengan lahap. Sementara itu, Livy memandanginya sambil senyum-senyum. "Ceritain dong gimana kamu bisa jadi Papillon!" tukas Livy, merasa penasaran. "Jadi gini ...." Shane menelan pizza di mulutnya kemudian menenggak minuman soda. "Keluargaku adalah werepuppy." "Werepuppy? Maksudmu seperti werewolf?" tanya Livy lagi. Shane mengangguk. "Sebenarnya kami manusia, sama seperti kalian. Tapi gara-gara kesalahan kakek buyutku, ia dan keturunannya dikutuk seorang penyihir—Gilgallon—menjadi werepuppy. Dan kami akan berubah menjadi anjing setiap melihat bulan sabit." Livy manggut-manggut. "Terus?" Ia makin penasaran. "Kutukan itu akan hilang jika keturunan Gilgallon mencabut kutukannya," terang Shane. "Kalau gitu gampang, kan?! Tinggal cari saja keturunannya," celetuk Livy. Shane kembali menerangkan, "Kami memang sedang mencari. Masalahnya, setelah kami telusuri, ternyata keturunan Gilgallon hanya ada satu, dan sampai sekarang sulit ditemukan." Livy mengangguk repetitif. "Masak sulit?! Yang mencari kan bukan cuma kamu, tapi keluarga kamu juga?! Selain itu, kalian pemilik perusahaan, mudah saja meminta anak buah untuk membantu mencarinya." Shane menghela napas. "Sebetulnya werepuppy ada banyak. Tapi kami tidak tahu di mana mereka. Dan seperti yang kamu tahu, keluargaku hanya empat orang: papa, mama, dan Ruby—adikku. Kami juga tidak bisa meminta tolong anak buah karena terlalu berisiko." "Risiko?" Mata Livy melebar. Shane mengangguk. "Iya. Bisa saja keturunan Gilgallon sama gilanya, sehingga senang menyihir orang sesuka hati. Karena itu kami tidak bisa melibatkan orang lain dalam masalah ini. Meskipun kami bisa menemukan werepuppy yang lain, tetap tidak mudah mencarinya." "Kenapa? Bukannya justru makin gampang?" tanya Livy, heran. "Selain mengutuk kami, Gilgallon pun menyihir keluarga lain untuk melindunginya dan keturunannya. Keluarga tersebut berjumlah banyak, dan disebut 'werecat'. Kuku mereka lebih tajam ketimbang singa. Mereka semuanya kejam. Bahkan bukan hanya melindungi keturunan Gilgallon, mereka juga memburu kami. Makanya tadi aku takut berdekatan dengan kucing—" Shane terkejut manakala Miko berjalan kian dekat. "Jauhkan dia!! Cepat!!!" teriaknya. Wajahnya pucat pasi. Livy tertawa terbahak-bahak, lantas menggendong Miko. "Enggak usah takuuut. Miko itu kucing yang imut," ujarnya sambil mengusap-usap kepala Miko. Baru beberapa kali usap, tiba-tiba terdengar letupan kecil disertai asap yang menyelubunginya. Shane pun terperanjat, dan makin ketakutan. "Dia werecaaaaat!!!" Gigi-gigi Shane bergemeretak hebat. Tak lama kemudian, wujud asli Miko mulai tampak dari balik asap yang memudar. Rupanya ia seorang perempuan cantik berambut panjang dan berwarna ungu. Wajahnya yang oval membingkai sepasang mata lebar berpupil safir, hidung mancung, serta bibir merah dan seksi. Tubuhnya pun indah dan sangat elok bak gelas bertangkai, tetapi ia dalam keadaan .... "WOW!!" Ketakutan Shane mendadak sirna. Matanya melebar, air liur pun menetes dari bibirnya saat menyaksikan Miko yang tak mengenakan pakaian. "JANGAN LIHAAAAAAAAAT!" Livy melemparkan bantal ke muka Shane. "Tadi ketakutan, sekarang malah terbelalak!! Dasar mata keranjang!!" Buru-buru diambilnya pakaian dari dalam lemari. "Pakai ini!" serunya, melemparkan pakaian pada Miko. "Tidak usah pakai baju. Aku sama sekali tidak masalah ...," gumam Miko, yang diikuti anggukan cepat Shane. "MASALAH BUATKU, KARENA DIA COWOKKU!!" bentak Livy, kesal. Selang beberapa saat kemudian, setelah Miko mengenakan pakaian .... "Rupanya kamu werecat?" tanya Livy. Miko mengangguk. "Kalau tadi kamu tidak menyebutku 'imut', aku tetap dalam wujud kucing," ungkap Miko. "Aku pun begitu. Tadi kamu memanggilku 'lucu', jadinya aku kembali ke wujud manusia." Shane menimpali. "Oh, jadi begitu ...." Ia mengalihkan pandangan pada Miko. "Berarti harusnya kamu bermusuhan dengan Shane?" Miko menggeleng. "Aku tidak ikut campur dengan urusan keluargaku." "Kenapa tidak?" Livy penasaran. "Zzz ... kok kamu nanya gitu? Emangnya kamu mau lihat aku dicakar sama Mi—" "Ssst!" Livy menempelkan telunjuk pada bibirnya. "Diem dulu. Aku lagi kepo, niiih." Miko pun menjelaskan, "Sewaktu kecil aku memiliki sahabat bernama Willy. Aku tidak tahu kalau dia sebenarnya werepuppy. Setelah keluargaku tahu mereka melarangku berteman. Bahkan mengejar Willy. Untungnya Willy berhasil melarikan diri. Dan sekarang aku sedang mencarinya. Apalagi setelah barusan mendengar keluarga Shane mencari para werepuppy, aku pikir bisa bersama-sama mencari Willy." "Berarti kamu mengabaikan keluargamu?" "Bukan." Miko menghela napas. "Lebih tepatnya mereka mengusirku, lantaran bersikukuh ingin berteman dengan Willy." "Ceritamu cukup meyakinkan ...," ucap Shane, "tapi apa buktinya kalau semua yang kamu katakan benar?" Kedua sudut bibir Miko terangkat. "Terserah kalau tidak percaya. Yang jelas stempel tanda keanggotaanku sudah hilang." Miko mengangkat rambutnya, menunjukkan tengkuknya yang bersih tanpa stempel. "Sudahlah Shane. Miko sudah lama bersamaku. Dia manis sekali, jadi tidak mungkin kalau ia berniat menjadikanmu seperti pie—" Poof! Tiba-tiba terdengar letupan disertai asap yang menyelimuti Miko. Tak lama kemudian ia telah berubah wujud menjadi seekor kucing. Livy pun terkejut, tetapi tidak dengan Shane. "Kamu menyebutkan kata yang bisa mengubahnya," ujar Shane. "Kata apa?" Shane menghela napas. "Lihat baik-baik ... IMUT!" Poof! Miko pun kembali menjadi manusia. "PIE!" Shane berseru. Poof! Miko berubah menjadi kucing lagi. Shane menoleh pada Livy. "Liv, kamu lihat, kan?" Livy mengangguk. "Jadi begitu ya ... kalau disebut ... IMUT!" Poof! Livy bertepuk tangan antusias. "Yeaaa! Asyiiiiik!" Kemudian mengubahnya lagi. "PIE!" Pooof! "Waaaah kereeeen!" seru Livy riang. "Coba lagi, aaah ... IMUT!" Poof!! "PIE!" Saking antusiasnya, Livy mencoba berkali-kali. Miko menghela napas panjang. "IMUT!" Poof! Miko yang kini berwujud manusia terengah-engah seraya melirik Livy. "JANGAAAN MAAAAIN-MAAAAAAAAAIIIIIN!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD