“Jika kondisimu terus begini, kamu hanya punya satu pilihan, jalani operasi jantung secepatnya dan itu artinya…” Dokter Ani menarik nafas berat. “Kamu jelas sudah tahu apa yang akan terjadi.”
Dokter Ani lantas menyerahkan berkas pemeriksaan kondisi tubuh Anya dalam sepekan ini. Anya merasa tubuhnya tidak nyaman, terutama jantungnya. Anya tak berani membuka berkas itu.
“Tidak mungkin, Dok. Saya tidak akan melakukan itu.” Anya spontan meremas tasnya, kencang-kencang, buku jarinya memucat, tangannya menahan getar yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dokter Ani menatap ke Anya lekat, wanita paru baya itu tentu sudah menduga jawaban yang akan Anya katakan. Namun, sebagai dokter jelas dia tidak bisa menyembunyikan fakta yang ada hanya untuk membuat pasiennya bahagia semu.
“Kalau begitu, berhentilah melakukan hal konyol, Anya!” sahut Dokter Ani, kali ini tidak lagi menggunakan bahasa formal seperti biasanya.
Meski mereka baru saja bertemu, sejak awal, Dokter Ani sudah menganggap Anya seperti putrinya sendiri.
“Maafkan saya, Dok.” Ada getaran pada suara Anya. Anya makin meremas tas kecil di pangkuannya.
“Anya, kamu harus selalu ingat, jantungmu tak sama seperti yang lain. Jantungmu lemah dan sekarang kamu tengah hamil muda. Kamu tak bisa mengkonsumsi banyak obat.”
“Saya akan mengingat itu, Dok.”
“Dok, maafkan saya sudah membuat dokter cemas,” lanjut Anya lagi, kepalanya makin merunduk.
“Dok, tolong bantu saya mempertahankan kehamilan saya,” lanjutnya pelan.
“Anya, tolong jaga kesehatanmu.” Nada suara Dokter Ani melemah.
“Berhenti melakukan hal bodoh itu saja … bahkan demi cinta sekali pun!”
.
.
Begitu pintu rumah tertutup sempurna, tubuh Anya langsung luruh ke lantai, bahunya yang semula tegap seketika runtuh bersamaan dengan kantong kresek di tangannya, berserakan di lantai, dingin dan basah.
Anya merobek cepat kantong plastik, satu per satu cup es krim ia susun di meja, tutupnya sudah berkabut. Bahu Anya mulai bergetar, air matanya meleleh lebih cepat dari dugaannya.
Anya buru-buru menyendok semua es krim yang ada, rasa vanila, cokelat, stroberi, air mata, menjadi satu. Asin bertabrakan dengan manis. Tak mampu menambal kesedihannya.
Anya mengendus, napasnya pendek-pendek, seolah setiap sendok terasa berat, mulutnya tetap terbuka, ingatannya terus memutar kalimat yang Dokter Ani katakan,
“Jika kondisimu terus memburuk, tak ada pilihan lagi, kamu harus merelakan bayimu.”
“Dalam kondisimu ini, menyelamatkan nyawamu harus menjadi prioritas utama.”
“Kondisi jantungmu semakin memburuk, Anya.”
“Kenapa bisa begini?!” Anya histeris. Sendok di tangannya terlepas, es krim menetes memenuhi meja. d**a Anya naik turun cepat, napasnya tersangkut di tenggorokan.
“Jika kamu tidak bisa menjaga kondisimu, tidak ada pilihan lain, Anya …”
Anya menggeleng cepat, berharap semua ini hanya mimpi, rambutnya terayun, menutup setengah wajah yang basah. Tidak. Ini pasti mimpi. Harusnya mimpi!
Isak tangis terus terdengar pendek, pelan, patah-patah, tertahan, sendokan es krim kecil tak membantu, disusul sedokan terlalu besar. Dingin es krim membuat rahang Anya kaku, tapi ia memaksa menelannya, tangisnya terus muncul.
Baju Anya sudah tak karuan dipenuhi es krim dan air mata, tak lagi jelas, Anya memeluk lututnya, matanya kosong menatap lantai. Di sana, pantulan dirinya tampak asing, yang terlihat hanya wanita berantakan yang menyedihkan.
Anya terisak.
Entah berapa lama.
Anya kembali membuka mata begitu telinganya mendengar suara pintu terbuka. Adam masuk, sepatunya masih terpasang, tapi matanya terkunci pada Anya.
Anya balas menatap Adam, mata merah masih tersisa, tangisnya sudah reda. “Kenapa kamu pulang lebih awal?” tanyanya pelan.
“Karena kamu pulang lebih awal, sebaiknya ciuman malam ini dilakukan lebih awal juga,” putus Anya sepihak, mengabaikan tatapan bingung Adam.
Anya bangkit setengah langkah, menghapus kasar sudut bibirnya yang belepotan, mendekat, berdiri berjinjit, bibirnya maju ke arah Adam yang masih diam terpaku di tempatnya.
Bibir keduanya bertemu. Hanya 5 detik. Pandangan Adam turun ke meja pada deretan cup es krim. Ada yang kosong, ada yang masih setengah mencair.
“Kamu makan semua itu?”
“Tidak perlu khawatir, saya akan membereskan semuanya,” jawab Anya. Ia memaksa tubuhnya berdiri tegap, meraih kantong plastik yang sudah rusak, memasukkan sisa cup satu per satu. Tanpa suara.
“Apa kamu lupa kalau kamu tengah hamil?” Adam menahan pergerakan tangan Anya. Anya membeku, kantong plastik yang ia pegang jatuh, sampah cup kembali berserakan.
“Bagaimana bisa kamu makan es krim sebanyak itu? Apa kamu tidak pernah berpikir soal anak yang ada di perutmu?”
Anya menelan tangisnya, bibirnya bergetar, mata keduanya terkunci, lengan Anya bergerak kecil, memberontak dari genggaman tangan Adam.
“Saya pikir kamu hanya buruk sebagai seorang wanita, tapi ternyata kamu juga buruk sebagai seorang ibu!”
Adam langsung menghempas lengan Anya, secepat Anya menarik lenganny. Perut Anya tiba-tiba bergejolak, Anya segera menutup mulutnya dengan tangan. Namun terlambat. Ia muntah tepat di depan Adam.
Langsung.
Berkali-kali.
“Pergi!” teriak Anya lemas.
Dalam kondisi tak berdayanya, pikiran Anya masih hanya dipenuhi tentang Adam. Ia tak ingin Adam melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Namun, diluar dugaan, Adam menunduk, tangan lebarnya menyentuh punggung Anya, menepuk-nepuk pelan. “Jangan ditahan … muntahkan saja.”
02.00 WIB
Anya terbangun dari tidurnya. Aroma khas lilin aroma terapi menusuk hidungnya, tanpa membuka mata pun, Anya sudah tahu ia berada di kamarnya. Samar-samar, Anya mendengar suara berat Adam di sekitarnya.
“Apa ini normal, Bu?”
“Tapi .. muntahnya tadi banyak sekali, tubuhnya sampai lemas, untunglah sekarang dia sudah tidur.”
“Dia makan banyak es krim.”
“Entahlah, Bu ….”
“Iya …” Suara Adam sedikit mengecil. “Besok jika keadaannya masih kurang baik, Adam akan bawa ke rumah sakit.”
Lalu hening. Tidak terdengar langkah keluar atau pun derap pintu yang terbuka.
Kemana Adam?
Anya baru hendak membuka matanya, tapi terhenti, saat merasakan kain lembut setengah basah menyentuh wajahnya, digeser perlahan menyusuri wajahnya, lalu tangannya dan..
Anya berharap Adam tak mendengar detak jantungnya yang sepertinya sudah dipenuhi bass dan speaker.
“Ibu, meminta saya membersihkan wajahmu. Maaf jika itu mengganggumu.” Adam mengucapkan itu sebelum bangkit dari kasur, lalu disusur suara langkah lebar, derap pintu tertutup menjadi suara terakhir mengisi telinga Anya.
“Jadi dia tahu kalau saya sudah bangun?” Anya membeo. Wajahnya seketika menghangat, bibirnya mengerucut, kikuk.
Anya memaksa matanya terpejam, tubuhnya bolak-balik di kasur berharap perpindahan posisi dapat membantu. Sialnya, mata Anya tetap terjaga, pikirannya menerawang jauh, lebih tepatnya berharap bisa masuk ke dalam otak Adam dan menyingkirkan semua pikiran buruk Adam tentangnya.
“Kenapa harus pura-pura tidur sih?” sesal Anya, yang tentunya tak lagi bisa diperbaiki. “Entah apa yang sekarang Adam pikirkan, mungkin dia akan semakin menjaga jarak ….” simpulnya miris.
Anya menghempaskan kembali tubuhnya di kasur. Tidur! teriaknya pada otaknya yang masih sibuk.