Pesan Singkat

1068 Words
09.00 WIB Mata Anya terbuka lebar. Sinar matahari yang menyelinap masuk dari balkon sudah setinggi kepalanya. Jam waker di atas meja yang Anya pasang, sudah tak lagi di posisinya, terkapar tak berdaya di lantai. Sial, telat! Anya hendak bangkit dari kasur, tapi tubuhnya sedikit oleng, terjatuh kecil. “Adam pasti sudah pergi,” gumam Anya. Tepat saat Anya hendak bangkit, Anya menoleh ke kanan ranjangnya, matanya mendapati sepucuk kertas yang ujungnya sedikit sobek, nampak asing, kontras dengan warna bantalnya yang mencolok. “Dari Adam ….” Dua kata yang langsung berhasil menarik sepenuhnya perhatian Anya pada kertas itu. Mata Anya bergerak pelan menyusuri kata demi kata, tak ada yang boleh terlewat, satu huruf pun! “Di dapur ada sup hangat, jangan lupa untuk memakannya. Jika kamu butuh sesuatu yang lain, bisa langsung hubungi w******p saya. 0831680××××” Sudut bibir Anya seketika terangkat, perasaan hangat menjalar di sekujur tubuhnya. “Saat kamu tidur, saya sudah menciummu. Saya tidak membangunkanmu karena kamu terlihat sangat lelap.” Wajah Anya menghangat. Adam menciumnya saat tidur. Bukankah itu terdengar manis? Mereka bak suami istri yang saling mencintai bukan? Atau lebih tepatnya, hanya Anya yang mencintai. “Ibu bilang, kamu harus banyak istirahat. Jika tidak ada halangan, ibu akan berkunjung ke rumah.” Sudut bibir Anya makin terangkat kala membaca kalimat terakhir yang ada di surat itu. “Sebagai buktinya, saya mengirim video ke w******p-mu.” Harapan liar Anya jadi kenyataan! Anya buru-buru meraih ponselnya, jarinya bergerak cepat, ponsel nyaris tergelincir kecil, ia sangat bersemangat dari yang ia duga. Anya yang lemah. Pernyataan yang terdengar seperti dongeng belaka, apalagi jika melihat Anya yang sekarang, ia duduk semangat di ujung kasur, mengulang-ngulang video berdurasi 3 detik di ponselnya, senyumnya kecil, melebar, lalu tertahan. Setiap video itu diulang, wajah Anya bersemu merah, tangannya bergerak memainkan ujung selimut, sesekali menggigit ujung kukunya yang tak panjang. Anya bersyukur Adam tidak tahu atau mungkin lupa menggunakan fitur video sekali lihat. “Nak … kamu dilarang lihat video ini!” Anya menutupi perutnya dengan selimut, seolah di balik perutnya, ada lobang yang bisa membuat janin di dalam perutnya melongong keluar, menjadi saksi bisu betapa Anya bahagia hanya dari sepenggal video yang tidak HD dan direkam seadanya. Flashback, Anya memeriksa jamnya, sekali, dua kali, berkali-kali. Jam kecil yang terlingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. “Sepuluh menit lagi …” Anya mengangkat jarinya, satu, dua, tiga … dari jauh, ia melihat Adam bangkit dari tempat duduknya, mengatakan kalimat yang Anya sangat hafal. “Saya harus kembali ke kampus,” gerakan mulut Adam sama persis dengan pergerakan mulut Anya. “Waktunya untuk ke sana.” Sudut bibir Anya terangkat, ia menarik nafas panjang, melangkah meninggalkan kursi reok yang jarang terjamah mata karena tertutupi pohon tinggi dan lebat, banyak orang enggan duduk di sana, karena cerita seram yang melekat atau karena malas bertemu beberapa burung yang bertengger dan buang kotoran. Tapi bagi Anya, kursi dan pohon adalah penyelamat. Burung-burung nampak mendukung aksi Anya yang sudah nyaris sepekan melakukan rutinitas yang sama, duduk di sana, melihat dari jauh, lalu tersenyum. Anya hanya ingin memastikan bahwa ia datang setelah Adam pergi. “Kenapa Kak Anya selalu datang tepat di jam ini?” tanya salah seorang anggota yang ada di forum literasi. Anya hanya tersenyum tips. Rahasianya hanya kursi, pohon dan burung yang tahu. Anya resmi bergabung di forum literasi, hari ini, tepat sepuluh buku telah Anya baca dalam sepekan. “Kak, ini hadiah yang Kakak dapat karena berhasil mengerjakan misi yang ada.” Senyum Anya seketika menggembang, yang ia nanti sejak tadi, ya itu hanya sebatang cokelat, yang bisa Anya beli sendiri, tapi bagi Anya itu bukan sekedar cokelat… “Seharusnya, Kak Anya datang lebih awal, biar bisa dapat cokelat ini langsung dari Kak Adam,” sahut salah seorang anak kecil, laki-laki, yang Anya tahu sangat dekat dengan Adam. Mendengar namanya saja membuat getaran halus memebuhi dadanya, Anya jelas tak bisa bertemu Adam. Anya tak tahu akan seperti apa berantakan hatinya jika langsung bertemu, berbicara arau sekedar di sapa. “Kakak bisa.dapat dua cokelat,” lanjutnya lagi sembari menunjukkan dua cokelat dari saku celananya. “Saat saya besar, saya ingin jadi pria kayak Kak Adam.” Lagi, Anya hanya tersenyum. Sejujurnya di sisi waras dirinya, move on masih jadi tujuan utama, meski kadang sisi gilanya, jauh lebih kuat, mendorong, memaksa waras untuk mengalah. Yang waras, ngalah sama yang gila …. Begitulah kira-kira yang selalu terjadi, kenapa Anya selalu kalah. Di hari biasa, kegiatan yang ada di forum literasi hanya diisi dengan membaca buku masing-masinh, sesekali beberapa anggota mengobrol, mendisuksikan buku yang mereka baca. “Kemarin saya sempet gak sengaja baca tulisan Kak Anya di buku yang Kakak bawa. Saya suka sekali sama pemilihan diksinya, menurutku Kak Anya cocok untuk ikut lomba literasi itu …” Seorang gadis dengan rambut kucir kuda, menghampiri Anya, tersenyum, lalu memperkenalkan diri singkat. Namanya Hanum. Anggota paling lama di forum literasi. Generasi pertama, meski umurnya baru menginjak 16 tahun. “Lomba literasi?” Anya membeo, kalimat itu terdengar tidak asing, Anya sepertinya pernah mendengar… buru-buru Anya menggeleng. “Ah, tidak, pengalaman menulis saya masih—” “Saya yakin, Kakak pasti bisa ikut lomba itu!” “Ah, saya—” “Kak, tolong … “ selanya cepat, matanya berkaca-kaca, napasnya mulai memelan. “Kalau Kakak gak ikut, semua usaha Kak Adam bisa sia-sia.” “Sia-sia? Memangnya … apa yang terjadi?” “Itu karena ….” Gadis itu menunduk, jarinya meremas kertas yang ada di tangannya. Sup tak lagi hangat, tapi sudut bibir Anya, menetap, tertahan naik hanya dengan melihat mangkuk kecil motif bunga yang ada di hadapannya, membayangkan Adam menyiapkan sup hangat dengan tangannya sendiri, sudah cukup menarik perasaan hangat di d**a Anya. Anya menikmati sup itu, bertekad menghabisikannya walau perutnya mual dan sup itu tanpa rasa, makin membuatnya mual. Entah Adam lupa menambahkan garam, atau sengaja memang meninggalkan garam, mengingat Anya semalam muntah-muntah. Tiba-tiba, ponsel yang Anya letakkan di atas meja bergetar. Anya tentu tahu itu bukan dari Adam, mereka tak seakrab itu untuk saling bertukar pesan. Pesan itu dari Maryam. Maryam membalas pesannya yang Anya kirim dua pekan lalu. Pesan berisi, bisakah kita berteman? “Tidak.” Disusul pesan selanjutnya, “Saya sudah memaafkanmu, tapi tidak bisa melupakan semuanya." Dan pesan selanjutnya, “Tolong katakan pada Adam untuk tak mencoba menghubungi saya lagi.” Anya memandangi teks terakhir yang tampil di ponselnya, tak ada getar lagi setelahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD